MENGGAPAI RIDHA ALLAH DENGAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, December 29, 2014

Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala
(Link 1 Nanda)

Hari / Tanggal : Senin, 29 Desember 2014
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al-Bantani Lc
Materi : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. 


Jalan yang benar dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Seperti tersurat dalam surat al-Israa' ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa' ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisaa' : 36]

Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut (29): 8] Lihat juga surat Luqman ayat 14-15.

ANJURAN BERBUAT KEPADA KEDUA ORANG TUA BAIK DAN LARANGAN DURHAKA KEPADA KEDUANYA

Yang dimaksud ihsan disini adalah berbakti kepada kedua orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan kepada keduanya. Menurut Ibnu ‘Athiyah, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan syari’at), dan harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang (selama tidak melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla).

Sedangkan durhaka dan tidak berbakti ('uququl walidain) adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap keduanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan berupa perkataan, yaitu mengucapkan “ah” atau “cis”, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci maki dan lain-lain. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar, seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak mempedulikan, tidak bersilaturrahim, atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang miskin.

KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN PAHALANYA

1. Merupakan Amal Yang Paling Utama

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), Muslim dalam Kitabul Iman (no. 85), an-Nasa-i (I/292-293), at-Tirmidzi (no. 173), ad-Darimi (I/278), Ahmad (I/351, 409, 410, 439)]

2. Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua

Sesuai hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2).]

3. Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami

Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.

Haditsnya sebagai berikut:

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا

“ ...Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata: ‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit..”[ Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma]

4. Akan Diluaskan Rizki Dan Dipanjangkan Umur

Sesuai sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan di-panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyam-bung silaturrahimnya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5985, 5986), Muslim (no. 2557), Abu Dawud (no. 1693), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.]

Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak di antara saudara-saudara kita yang sering berkunjung kepada teman-temannya, tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang, bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil, dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apa pun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua, karena dekat kepada keduanya -insya Allah- akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umurnya.

5. Akan Dimasukkan Ke Surga Ooleh Allah ‘Azza wa Jalla

Berbuat baik kepada orang tua dan taat kepada keduanya dalam kebaikan merupakan jalan menuju Surga. Sedangkan durhaka kepada orang tua akan mengakibatkan seorang anak tidak masuk Surga. Dan di antara dosa-dosa yang Allah ‘Azza wa Jalla segerakan adzabnya di dunia adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian, jika seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, Allah akan meng-hindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla dan akan dimasukkan ke Surga.

BENTUK-BENTUK DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
  1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua, baik berupa perkataan atau pun perbuatan yang mem-buat orang tua sedih atau sakit hati.
  2. Berkata “ah” atau “cis” dan tidak memenuhi pang-gilan orang tua.
  3. Membentak atau menghardik orang tua.
  4. Bakhil atau kikir, tidak mengurus orang tuanya, bahkan lebih mementingkan yang lain daripada mengurus orang tuanya, padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
  5. Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, “kolot”, dan lain-lain.
  6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi, jika si ibu melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri, maka tidaklah mengapa, dan karena itu seorang anak harus berterima kasih dan membantu orang tua.
  7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
  8. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat musik, mengisap rokok, dan lain-lain.
  9. Lebih mentaati isteri daripada kedua orang tua. Bahkan ada sebagian orang yang tega mengusir ibunya demi menuruti kemauan isterinya. Nas-alullaahas salaamah wal ‘aafiyah
  10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

BENTUK-BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
  1. Bergaul bersama keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita
  2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan adab ber-bicara antara kepada kedua orang tua dengan ke-pada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
  3. Tawadhu’ (rendah hati). Tidak boleh kibr (som-bong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir, kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan, kita diberi makan, minum, dan pakaian oleh orang tua.
  4. Memberi infaq (shadaqah) kepada kedua orang tua, karena pada hakikatnya semua harta kita adalah milik orang tua. Oleh karena itu berikanlah harta itu kepada kedua orang tua, baik ketika mereka minta ataupun tidak.
  5. Mendo’akan kedua orang tua. Di antaranya dengan do’a berikut:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا

“Wahai Rabb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.”

Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali kepada Tauhid dan Sunnah. Bagaimana pun, syirik dan bid’ah adalah sebesar-besar kemungkaran, maka kita harus mencegahnya semampu kita dengan dasar ilmu, lemah lembut dan kesabaran. Sambil terus berdo’a siang dan malam agar orang tua kita diberi petunjuk ke jalan yang benar.

APABILA KEDUA ORANG TUA TELAH MENINGGAL

Maka yang harus kita lakukan adalah:
  1. Meminta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat dur-haka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup.
  2. Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
  3. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
  4. Membayarkan hutang-hutangnya.
  5. Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
  6. Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.

Semoga dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam tersebut, kita dimudahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin.

[Diringkas dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]

Gurindam

"Laa ilaaha illallah Memiliki 7 Syarat"

*Kutuliskan untukmu risalah singkat,
 Bentuk cintaku berupa nasehat.

*Ketahuilah olehmu sebaik-baik kalimat,
 Rukun Islam tertinggi kalimat syahadat.

*Pelajarilah kandungannya sebelum wafat,
 Kalimat syahadat memiliki tujuh syarat.

*Bila ILMU kau tuntut dengan semangat,  
 Lepaslah kebodohan yang lama terikat.

*Bila YAQIN kepada Allah terus diperkuat,
 Hilanglah KERAGUAN lenyaplah syubhat.

*Bila ikhlash Pondasi setiap berbuat,
 SYIRIK dan RIYA tak mampu memikat.

*Bila JUJUR berucap tanpa tujuan khianat,
 DUSTA menjauh tiada kesempatan mendekat.

*Bila CINTA kepada Allah semakin melekat,
 Tidaklah mungkin KEBENCIAN hadir berserikat.

*Bila kau TUNDUK terhadap perintah syariat,
 Mungkinkah dirimu meninggalkan Sholat?.

*Bila kau MENERIMA  perintah yang maha melihat,
 Keinginan MENOLAK terbentengi akal yang sehat.

*Inilah ketujuh syarat yg wajib kau ingat,
 Semoga dirimu termasuk golongan yg selamat.

*Semoga kalimat syahadat ucapan akhir hayat,
  Bagi setiap yang beriman terhadap hari Akhirat.

*Semoga tulisan ini memiliki manfaat,
  Bagimu yang tercinta,wahai sahabat.

Muka Kuning,7 Rabiul Awwal1436 H,29 des 2014 M
Abu Rojwa Anshar.

TANYA JAWAB


Pertanyaan M101

1. Assalamu'alaikum. Ustadz saya mau tanya, bagaimana cara kita menyikapi ibu tiri yang tidak suka dengan kita. Apa yang kita kerjakan selalu salah dan selalu mencari-cari kesalahan yang kita lakukan. Bagaimana menyikpainya ustad? Mohon penjelasannya.
Jawab 
Bersabar dan coba komunikasi baik-baik denganya. Tanya kenapa tidak suka. Dengan akhlak mulia semua bisa selesai.

2. Bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang jauh dari kita?
Jawab  
Mematuhi semua perintahnya yang tidak bertentangan. Menjaga nama baik keluarga dan mendoakan Beliau disetiap saat.


3. Ada teman ana yang punya ibu angkat yang sudah merawatnya mulai dari SD,  bahkan menyekolahkannya sampai SMA. Mana yang lebih didahulukan dalam berbakti, ibu yang melahirkan kita atau ibu yang sudah merawat tadi?  Jazakallah ustadz
Jawab
Kedua duanya jauh lebih baik. Jika ada rezeki setiap bulan 100 ribu, bagi 2 saja yaaa

4. Assalamualaikum ustadz mau tanya, bagaimana caranya memposisikan diri dimana orang tua meminta anaknya untuk terbuka terhadap masalah anaknya sedangkan si anak tidak mau membebani pemikiran orang tua dengan menceritakan masalah tersebut. Jazakallah ustadz
Jawab
Filter saja masalah yang ada. Yang ringan diceritakan ke Ibunda, yang berat jika khawatir disimpan sendiri saja yaa.


5. Bagaimana kalo sudah bakti sama orang tua, tapi orang tuanya kayak keenakan, ga pengen anaknya ngurusin hal pribadi? Gimana membangun keikhlasan atas sikap orang tua yang seperti pertanyaan di atas. Thank jawabannya 
Jawab
Cobalah untuk khusnudzon karena biasanya orang tua lebih tau apa yang terbaik untuk anaknya. 

Pertanyaan M102

1. Mengenai infak/sedekah kepada orang tua dulu sebelum orang lain. Menafkahi dan sedekah apa berbeda?
Jawab
Sama saja tinggal diniatkan saja yaaa.

2. Dan jika penghasilan kita pas pasan tapi ingin banyak bersedekah, namun hanya mampunya bersedekah kepada orang tua. Dan tidak bisa bersedekah kepada anak yatim misalnya, padahal dalam hati ada keinginan. Itu bagaimana?
Jawab
Boleh.... Atau diselang seling.


3. Ustadz, kedua orang tua saya sudah tiada dan akhirnya saya memutuskan untuk merawat mertua saya yang  saya anggap bagai ibu kandung saya sendiri. Kami sangat dekat sampai akhirnya beliau sakit dan dipangil oleh kakak sulung dari suami saya untuk kembali ke kampung dan berobat setelah lama berobat dikampung tidak ada reaksi keberhasilan dari obat herbal yang dia konsumsi akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membawa kembali ibu mertua saya 3 tahun kami merawat beliau dan alhamdulillah beliau sekarang sehat walafiat kembali namun tadz setelah beliau sembuh malah terjadi perubahan yang sangat besar  ternyata dibelakang saya tadz beliau bercerita jelek tentang saya kepada teteangga dan keluarga suami saya tapi saya tetep sabar dan akhirnya karena saya tidak tahan dengan cerita miring soal saya akhirnya saya cerita ke suami dan terjadilah cekcok antara saya dan suami berlangsungnya cekcok tiba-tiba mertua perempuan saya ikut-ikutan dalam percekcokan dan berakibat saya lagi yang ngalahh.. saya cuman mampu nangis pak dan akhitnya memuncaklah kemarahan saya pada mertua dan saya mengembalikan beliau kerumah kakak ipar saya. Saya sudah tidak mampu untuk berbicara pada mertua saya pak jadi saya hanya bisa diam ketika bertemu dengan mertua saya. Apakah saya termasuk menantu yang durhaka? mohon solusinya pak untuk menghadapi orangtua seperti itu...
Jawab
Tidak Bunda... Perlu kiranya suatu waktu meluruskan pengertian yang salah dikedua belah pihak. Untuk kondisi sekarang colling down dan jaga jarak sudah pilihan yang paling tepat.


Pertanyaan M103

1. Bagaimana perlakuan kita terhadap orang tua jika mereka tidak merespon atau senang terhadap kebaikan yang kita lakukan terhadap mereka? Apakah pandangan baik itu harus sesuai dengan yang orang tua pandang baik?
Jawab
Apapun pandangan orang tua kepada kita, lillahi Ta'ala sajaaa. Ingaatt... Kita berlaku baik kepada orang tua juga merupakan Ibadah. Ikhlaskan hasilnya kepada اللّهُ Ta'ala.

2. Mau tanya bagaimana ya cara kita menyikapi ketika kita sedang proses berhijrah menggunakan hijab syar'i dan sedangkan orang tua kurang menyetujuinya. Cara berdakwah kepada orang tua yang baik tapi tidak menggurui gimana ya? Jazakillah khair ustazd.
Jawab
Ajak ke kajian sekali sekali, dengerin radio dakwah, belikan buku sesuai materi dllnyaaa. Jadi jangan dipaksa dari mulut kita sendiri. Kadang-kadang kita perlu meminjam kekuatan mulut orang lain.


3. Cakupan orangtua itu apakah hanya ayah dan ibu saja? Kalau misalkan tinggal dengan nenek sejak lahir dan tidak tinggal dengan kedua orang. Kemudian perlakuan yang lemah lembut terhadap pembantu yang sudah tua, sama jugakah seperti kepada kedua orangtua?
Jawab 
Sama yaaa. Semuanya kita harus bersikap baik

4. Kalau seorang akhwat anak terakhir usia orang tuanya sudah cukup lansia. Sementara biasa setelah menikah seorang akhwat ikut sang suaminya. Di satu sisi kita ingin bersama kedua orang tua kita di akhir usianya yang senja. Tapi di sisi lain kita tidak bsa memaksakan keinginan kita kepada suami (hanya bisa menyampaikan). Bagaimana ustad?
& ketika seorang anak d perantauan jauh dari keluarga juga orang tua bagaimana cara berbakti kepada mereka tad?
Jawab 
Kunjungi jika ada rezeki, buat komunikasi intens dan doakan mereka.

Pertanyaan M104

1. Bagaimana menjelaskan kepada orang tua kita tentang pentingnya berhijab secara syar'i karena sebenarnya si anak berhijab syar'i semata-mata ingin melindungi orang tuanya kelak di akhirat? dan apakah benar anak perempuan itu tabungan untuk orang tuanya kelak di akhirat? 
Jawab
Memang menjelaskan dan memahamkan orang tua tentang islam harus sabar dan perlahan apalagi perkara yang "tidak biasa" dimata mereka. Jelaskan dengan bukti cukup efektif seperti tunjukkan orang-orang berhijab syari yang berhasil dalam pandangan dan versi mereka. Benar bila orang tua memelihara dan mendidiknya dengan benar dan bagus


2. Apa yang harus saya lakukan sekarang ustad, ceritanya gini beberapa bulan lalu ditawari pekerjaan sama teman tapi di luar kota, tapi orng tua ga setuju, maunya aku jadi peneliti cpns. Akhirnya aku tolak tawaran pekerjaan tersebut, dengan berharap akan dapat kerjaan yang lebih baik yang di restui dan ridhoi orang tua. Tetapi orang tua pengen anaknya mandiri (punya kerjaan) dulu baru boleh nikah, orang tua juga ntar lagi pensiun, saat ini masih pengangguran, cpns belum ada jawaban. Apakah saya salah menolak pekerjaan yang sempat ditawarkan ke saya dulu?
Jawab 
Itu masa lalu dan sudah terjadi takdirnya demikian. Nda usah disesali, keep forward aja yaa.


Pertanyaan M105

1. Assalamualaikum tanya, Misal ada orang tua yang suka suudzon sama apa yang dilakukan si anak, bagaimana si anak harus menyikapinya?
Jawab
Tunjukkan kebalikan dari apa yang disuudzhon kan oleh orang tua.

2. Misal ada orang tua yang suka bicara kasar kepada anaknya? suka memaki dan menyebut anaknya dengan kata-kata yang tidak baik, apa yang sebaiknya dilakukan oleh si anak?
Jawab
Diam sajaaa yaaa. Walaupun beraatttt. Doakan untuk Beliau dan diri sendiri.

3. Mau bertanya? kan katanya, apa yang kita ucapkan itu doa. Nah misal ada orang tua yang mengucapkan kata tidak baik untuk anaknya (maaf, ada orang tua yang mengatai anaknya bodoh, pemalas, dll) apakah itu juga akan menjadi doa untuk anaknya?
Jawab
In sha اللّهُ tidakk. Tunjukkan kebalikan apa yang menjadi tuduhan orang tua yaa.

4. Bagaimana caranya mengajak ibu agar mau memakai khimar ya? Sementara anaknya memakai khimar panjang dan ibunya menginginkan anaknya memendekkan khimarnya (khawatir gak menarik)
Jawab
Kasih saja bukti bacaan yang tematik yaaa. Tentang hijab syari yang disyariatkan. Atau nasehat nasehat dari orang yang disegani agar disampaikan ke orang tua.


Pertanyaan M106

1. Tanya ustd, Ibu saya itu dah pelupa banget beliau kebetulan serumah sama bapak dan kakak tertua tapi tiap hari beliau selalu menganggap mereka musuh, kakak saya itu kadang-kadang jadi agak sedikit keras sama ibu saya karena beliau suka berbuat semaunya (faktor pelupa tadi). Pertanyaanya apa sikap kakak saya ini bisa dikategorikan durhaka? terus bagaimana seharusnya kami bersikap?
Jawab:
Dikategorikan terlarang. Seharusnya bersikap lemah lembut dan sabar. Memang demikianlah keadaan orang lansia banyak membuat jengkel. Maka Allah berikan pahala besar atas kesabaran anak-anak hadapinya. Berkata yang lembut dan menyenangkannya dan tidak boleh marah-marah padanya.

2. Mau tanya.. ibu teman saya tidak berhubungan baik dengan ibu kandungnya, karena ibu kandungnya membenci ibu teman saya karena menurut cerita teman ibu kandungnya di cerai kan suami saat mengandung ibu nya. Nah saat ini ibu teman saya tidak ingin lagi berurusan dengan ibu kandungnya karena sikap ibu kandungnya yang memang tidak baik pada ibu teman saya. Itu bagaimana hukumnya ustadz?
Jawab 
Tidak boleh dan berdosa memutus hubungan dengan ibu kandung walaupun kurang disukainya

3. Mau tanya ustdz. Jika seorang wanita atau anak terakhir pergi meninggalkan ibunya untuk merantau itu gimana ? Apa boleh?
Jawab
Boleh asal tidak melanggar syariat.


4. Dari kecil sudah diurus sama kakak karna ibu pergi merantau sedangkan bapak sifatnya keras jadi kakak aku lebih paham betul bagaimana saya yang jadi pertanyaan rasa sayang saya lebih besar kepada kakak dari pada orang tua sendiri apa saya termasuk durhaka?gimana caranya ustad supaya cinta saya bisa tumbuh untuk mereka? Sejauh ini hanya bisa beri materi saja.
Jawab
Jangan menunggu disayangi baru menyanyangi. Sayangilah dulu Beliau, niscaya Beliau pun akan berbalik. Dan rasa sayang kita akan semankin besaarrrr.

5. Ustadz mau tanya, bagaimana dengan orang tua yang selalu memaksakan kehedaknya kepada  anak-anaknya. Misalkan disuruh terus bekerja, tanpa memikirkan kemauan dan masa depan sang anak. Apahkah boleh kita membantah.
Jawab
Membantahnya dengan bahasa yang halus dan lembut yaaa

6. Pak ustad, apakah boleh kita berbohong pada orang tua agar tidak menyinggung atau membuat merka tersakiti atau khawatir.
Jawab
Boleh-boleh saja asal jangan keseringan ya.

7. Ana mau tanya.. Apakah seorang anak berdosa jika orang tuanya yang sudah bisa kita katakan ingatannya mulai berkurang (pikun) marah pada anaknya padahal anaknya tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya saja tidak setiap hari bisa menjenguk beliau..2 atau 3 hari sekali selalu menyempatkan mengunjungi karena beliau dirawat oleh anak yang lain tapi orang tua tersebut marah dan mengatakan anaknya dengan kata-kata kasar..
Jawab
Lakukan pendekatan kepada beliau. Lansia pada umumnya memang seperti itu, jadi sebagai anak, kita coba untuk memaklumi dan tetap berlaku lembut.

8. Ustadz mau tanya bagaimana menyikapi orang tua yang terkadang menyeleweng dari norma kemanusiaan, seperti kurang menghargai hak orang lain sudah kita peringatkan tapi beliau merasa benar atas apa yang dia kerjakan karena beliaunya terlalu kaku dengan pendirian orang dulu. syukron
Jawab
Hadirkan orang yang beliau segani untuk berbicara dengan beliau perihal perilakunya. Dan jangan pernah bosen untuk doain orang tua tersebut ya.

9. Ustad saya mau tanya jika anak tunggal perempuan menikah sebaiknya nanti ikut suami atau tetap tinggal di rumah orang tua
Jawab
Tinggal dengan suami jika suami telah mampu membeli rumah

10. Assalammualaykum pak ustadz ana mau bertanya? Jika ana menikah dengan calon anak terakhir saya juga anak terakhir bagaimana kita berbuat baik dengan orang tua? Sedangkan sama-sama orang tua mengingikan kita tinggal bersama orangtua masing-masing? Syukron
Jawab
Tunjukkan pada orang tua kalau antum bisa mandiri. Dan anak bungsu tidak selamanya harus ngandelin orang tua, apalagi status dengan status 'udah berkeluarga'

Pertanyaan M107

1. Seorang anak perempuan yang sudah menikah bolehkah memberikan gajinya kepada ibu kandungnya secara sembunyi-sembunyi? (tanpa sepengetahuan suami) dan bolehkah menjadikan ibu/mertua sebagai pengasuh anak-anak?
Jawab
Diperbolehkan seorang wanita menggunakan uang atau harta milik pribadinya untuk kebaikan seperti bantu orang tuanya walau tanpa izin suami sebagaimana juga suami boleh melakukannya tanpa izin istri. Yang wajib izin adalah harta suami yang diserahkan buat nafkah dan keperluan lsinya. Diperbolehkan nenek mengasuh cucunya apabila dengan sukarela tapi tetap diperlakukan sebagai ibu dan bukan sebagai pembantu dan pengasuh anak.

2. Kalo seandainya orang tua minta diantarkan ke suatu tempat dengan jarak yang jauh sedangkan kita sedang lelah habis pulang bekerja cara penolakan yang benar menurut Islam gimana ya?
Jawab
Tolak yang baik dengan alasan yang benar serta berikan solusinya sehingga orang tua memakluminya.


Pertanyaan M108

1. Misal orang tua kita memberikan syarat. Saat kita menikah nanti kita harus tetap wajib bekerja, walaupun seoran wanita. Sedangkan misal ada yang melamar mengajukan syarat tidak boleh kerja setelah menikah. Bagaimana menyikapinya?
Jawab
Iyakan saja dahulu yaaa. Setelah menikah kan menjadi tanggung jawab suami. Nanti bisa becanda ke ortu, aku berhenti kerja atau diceraikan Mam...? 

2. Apa setiap yang di ridhai orang tua selalu bisa terkabul keinginnannya?
Jawab 
In sya Allah

3. Apa di dalam islam mengatur setelah perceraian anak ikut ibu atau ayahnya?
Jawab 
Diatur. Jika bayi memang disarankan ikuti Ibunya. Jika sudah bisa memilih, usia berkisar 6-7 tahun silahkan anak yang memilihnya.

Penutup
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT