Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENGHINDARI PENGGUNAAN KATA "JANGAN" PADA ANAK

Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Senin, 29 Desember 2014
Narasumber : Ustadzah Dianda Azani
Tema : Parenting
Notulen : Ana Trienta


Assalamualaikum.. 
Hari ini materi saya yaa? Masih lanjut yang minggu lalu yaa.. hehehe. 
Saya mau mengundang diskusi umi abi ustadz dan ustadzah sekalian disini, aasif minggu lalu mandek yaa..

Assalamualaikum umi dan abi melanjutkan materi minggu lalu yang belum sempat terbahas.. aasif yaa..

Mengenai kata "jangan", banyak info beredar mengenai himbauan agar orang tua tidak menggunakan kata ini (lebih sedikit melarang) dan disusul info balasan mengenai bahaya-nya tidak menggunakan kata ini. #lieur euy.. hehehe. Saya jadi tertarik membahas ini. Umi abi dan para ustadz/ustadzah, mohon masukan nya yaa..

Bismillah..
Kenapa kabarnya psikolog (dan cukup banyak ahli parenting) menganjurkan untuk menghindari penggunaan kata "jangan" dalam pengasuhan anak? Ada beberapa hasil kajian seputar ini. Pertama cara kerja otak. Otak bekerja otomatis dalam mengolah informasi yang diterima, namun hanya hal-hal yang nyata, bukan hal yang sebaliknya". Contoh ya...
"Jangan bayangkan badut gendut berhidung merah dan berbaju polkadot sedang mancing ikan"
Apa yang muncul di pikiran umi abi?
Nah coba sekarang perintahnya kita ganti:
"Sekarang, bayangkan badut gendut berhidung merah dan berbaju polkadot sedang mancing ikan" ..

Coba ceritakan hasil kedua tugas di atas? Apakah ada bedanya yang muncul di bayangan?
Nah, jadi hasil kajian itu adalah bahwa otak tidak mengenal kata negatif (tidak, jangan, dst). Atas dasar ini pula berkembang kata-kata hipnosis (seperti self hypnosis dan hypno-parenting) itu seluruh kata harus positif. Hemat saya: tidak-melakukan sesuatu itu adalah ranahnya perilaku.. bukan ranah pikiran.

Baiklah.. itu kan teorinya ya.. prakteknya gimana? Apa memang bisa dipraktekkan full? Menurut saya sih, tidak juga.. hanya saja, memang untuk anak usia dini, kita baiknya seleksi mana yang dilarang dan mana yang tidak.

Kalau melihat tipe pengasuhan konvensional indonesia, terlihat sekali banyak orangtua yang melarang hampir semua hal. Misal.. "eeh jangan lari-lari, aduh jangan panjat-panjat. Buah jangan berisik. Wash itu gelas nenek, jangan dipegang! Awas nanti kepeleset. Aduh jorok jangan main di halaman! Jangan coret-coret teknologi kotorr. .."

Kira-kira begitu. Apa akibatnya bagi anak? Tentu sangat membatasi, yaa ini terutama anak yang di bawah usia sd ya. Karena perkembangan motorik sedang super pesat, dan ini terkait erat dengan perkembangan kecerdasan mereka. Jadi saat dilarang,maka stimulasi mereka juga kurang..

Ini yang sangat saya anjurkan untuk tidak dilarang. Sebagai contoh, nabi Muhammad saw, suka sekali mengajak anak-anak berlari-lari, selalu menyapa anak-anak yang sedang main, suka bersenda gurau dengan mereka, bahkan saat sedang salat cucu-cucu nabi dibiarkan memanjat punggung dan bermain kuda-kudaan. Kalau kita, mungkin anak-anak akan dihardik, dipelototi supaya jangan ganggu orang yang sedang salat. Kesimpulan saya: nabi tidak melarang hal-hal yang sifatnya fisik bagi anak. Bermain, lari, panjat beliau biarkan.

Contoh lain, nabi pernah melarang cucunya dari mengambil kurma kumpulan sedekah, dan mengatakan "keluarga nabi tidak memakan sedekah" (mohon koreksinya para ustadz disini..) Kesimpulan saya, nabi memberi larangan dalam hal perilaku dan akhlak. Tapi bagaimana cara beliau melarangnya? Apakah menggunakan kata jangan? Ini juga.. mohon koreksi para ustadz, tapi dari yang saya baca, saya simpulkan cara menegur dengan lembut, hikmat, memberi contoh dan perilaku (kalau tidak salah, beliau menahan tangan cucu dari mengambil kurma tsb).

Lalu ketiga, contoh juga dalam qur"an terdapat 500 kata ;jangan" salah satunya perintah untuk "jangan menyekutukan Allah", nah.. Ini juga tampaknya pada hal-hal prinsipil ditekankan kata jangan. Hal-hal yang sifatnya darurat/syarat utama.

Demikian dulu dari saya selanjutnya saya ingin mengajak diskusi, terutama untuk mencari tauladan dari alqur'an dan marketing nabawiyah, karena disitu ilmu saya terbatas. Jazakallahu khoir, wassalam..