Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENIKAH TANPA PROSES PACARAN

Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala
(IBNU 202 & 203)

Hari / Tanggal : Rabu,17 Dessmber 2014
Narasumber : Ustadz Rudianto Surbakti
Admin : Irvan Reza Fahrezi & M. Ridho
Editor : Ana Trienta

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillahirrohmanirrohim

Ikhwafillah Rahimakumullah, hari ini kita akan coba bahas mengenai suatu fenomena yang sering kita temui dalam masyarakat kita dimana kita semua tahu kalau perbuatan tersebut berdosa, namun banyak yang tidak mampu atau sangat sulit menghindarinya, bahkan banyak dari mereka menikmati perbuatan dosa tersebut. Perbuatan tersebut adalah Pacaran sebelum Menikah. Agar menarik mari kita ubah statementnya menjadi “Menikah tanpa melalui proses pacaran. Apa mungkin?

Pertanyaan tersebut muncul ketika seseorang memutuskan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Segera ketika berita lamaran merebak di kalangan keluarga beberapa pihak bertanya-tanya kepada orangtua mereka. Kapan kenalnya? Di mana? Bagaimana? Koq bisa memutuskan menerima lamaran jika belum kenal? Nanti kalau orang jahat atau berpenyakit gimana? Seolah kita terjebak pada stigma Negatif di masyarakat bahwa mengenal seseorang itu harus dari proses pacaran terlebih dahulu.

Perkenalan (ta’aruf) adalah salah satu tahapan ukhuwah islamiyah, oleh karena itu tak heran jika orang banyak mempertanyakan keputusan menerima lamaran sebeum “kenal”. Pepatah mengatakan: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak dilamar.

Apakah sebelum menikah seseorang harus saling kenal? Jawabannya saya tegaskan  YA HARUS!!, meskipun seberapa “kenal”nya, dan apa yang perlu dikenal masih bisa didiskusikan. Jangankan dalam urusan memilih istri/suami, memilih teman-pun perlu mengenal lebih dahulu sebelum cukup percaya untuk pergi bersama.

Sayangnya, dalam kebiasaan zaman sekarang yang namanya ajang saling kenal antara dua orang anak muda yang akan menikah adalah lewat HUBUNGAN PALSU yang namanya PACARAN. Mengapa palsu? Sebab seringkali ketika berpacaran kedua insan tersebut tidak memperlihatkan sifat-sifat asli mereka, serba setuju dengan apa kata pasangannya. Seseorang yang sedang kasmaran cenderung berubah dari kebiasaan aslinya. Biasanya tidak hobi nonton Bola jadi hobi, tidak suka warna Pink jadi suka. Biasanya cuek sama yang namanya boneka jadi hapal mana boneka Teddy Bear, Kodok Hijau, Hello kitty dll.

Pacaran dalam istilah sekarang adalah: sebuah bentuk hubungan antara sepasang anak manusia lain jenis yang mempunyai ketertarikan HUBUNGAN SEX. Pacaran dengan aktivitas pergaulan fisik tanpa norma Islam (sejak pegang-pegangan tangan sampai seterusnya) bukan hanya tidak perlu, bahkan juga tidak boleh atau haram dalam Islam. Sebab Islam melarang zina dengan arti sejak zina hati (melamun, bermimpi dengan sengaja, melihat foto dll tanpa pertemuan fisik), zina mata (melihat langsung, berpandang-pandangan dll) sampai zina badan (sejak pegangan tangan sampai hubungan sex sebenarnya). Meskipun untuk setiap perbuatan tersebut jenis dosa-nya berbeda, tetapi tetap saja semua adalah dosa. Zina badan dalam arti sampai hubungan sex terjadi jelas merupakan dosa besar. Di sinilah letaknya masalah pacaran.

Jika saling mengenal merupakan sesuatu yang penting, itu tidak berarti pacaran menjadi boleh. Bahkan pacaran dengan sejumlah bahaya dosa jelas merupakan perbuatan yang harus dihindari sebab mengandung ancaman dosa besar. Lalu bagaimana cara saling mengenal yang diperbolehkan?

Islam Mengajarkan Proses ta’aruf dalam mencari pasangan hidup. Zaman sebelum ada teknologi canggih, para pendahulu kita biasa mengirim utusan ke pihak calon mempelai. Pihak pria mengirim seorang wanita terpercaya untuk “melihat” si wanita yang akan dilamar dan sebaliknya pihak wanita juga mengirim pria terpercaya untuk menyelidiki pria yang akan melamarnya. Untuk batas tertentu keduanya dibenarkan untuk saling melihat fisik. Batasannya adalah sejauh batasan aurat yang boleh dilihat umum (semua tertutup kecuali muka dan telapak tangan). Jika ingin melihat lebih jauh, harus mengirim utusan seperti di atas (wanita melihat wanita dan pria melihat pria). Aspek fisik bukan hal terpenting untuk dikenal. Aqidah, akhlaq dan fikroh jauh lebih penting sebab itu semua adalah hal-hal yang bersifat lebih menetap dan lebih berpengaruh dalam sikap sehari-hari.

Untuk mengenal dan memahami isi pikiran, aqidah dan akhlaq haruslah dengan cara peninjauan yang berbeda dengan mengenal hal-hal fisik. Untuk ini, selain mengenal langsung, juga lewat referensi. Misalnya dengan mengirim utusan untuk menyelidiki isi pikiran tersebut, atau dengan cara bertanya secara langsung. Mengapakah Fit and Proper Test tentang isi pikiran, aqidah dan akhlaq jauh lebih penting daripada perkenalan fisik? Jika ada seseorang yang dengan serius menganggap bahwa hidup ini adalah untuk beribadah, beramal manfaat dan menggapai akhirat, maka ia akan sangat peduli untuk berteman dan apalagi berpasangan hidup dengan yang baik akhlak dan ibadahnya.

Disamping semua hal diatas yang paling penting adalah mempersiapkan diri menjadi suami yang ideal untuk wanita muslimah yang hendak akan kita pinang dan bawa ke syurganya Allah. Apa saja kriteria calon Suami Ideal tsb?

1. Agamanya baik
Nampaknya menjadi harga mati untuk yang satu ini. Agama dan sekaligus akhlak yang baik. Karena agama Allah turunkan agama ini sebagai acuan untuk bimbingan manusia. Untuk itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan para wali, agar segera menerima pelamar putrinya, yang baik agama dan akhlaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberpesan,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Apabila ada orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, yang meminang putri kalian, nikahkan dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Turmudzi 1084, Ibn Majah 1967, dan yang lainnya. Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani).

2. Lugu dengan keluarga dan tidak keras
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan wanita seperti al-Qawarir (gelas kaca). Fisiknya, dan hatinya lemah, sangat mudah pecah. Kecuali jika disikapi dengan hati-hati. Karena itu, tidak ada wanita yang suka disikapi keras oleh siapapun, apalagi suaminya. Maka sungguh malang ketika ada wanita bersuami orang keras. Dia sudah lemah, semakin diperparah dengan sikap suaminya yang semakin melemahkannya. Sebaliknya, keluarga yang berhias lemah lembut, tidak suka teriak, tidak suka mengumpat, apalagi keluar kata-kata binatang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan menyertai sesuatu maka dia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan semakin memperburuknya.” (HR. Muslim 2594, Abu Daud 2478, dan yang lainnya).

3. Berpenghasilan yang cukup
Ketika Fatimah bintu Qois ditalak 3 oleh suaminya, dia menjalani masa iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum – seorang sahabat yang buta –. Usai masa iddah, langsung ada dua lelaki yang melamarnya. Yang pertama bernama Muawiyah dan kedua Abu Jahm. Ketika beliau meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ

Untuk Abu Jahm, dia tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Muawiyah orang miskin, gak punya harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid. (HR. Muslim 1480, Nasai 3245, dan yang lainnya).

Diantara makna: ’tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya’ adalah ringan tangan dan suka memukul. Anda bisa perhatikan, pertimbangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyarankan Fatimah agar tidak menikah dengan Abu Jahm, karena masalah sifatnya yang keras. Sementara pertimbangan beliau untuk menolak Muawiyah, karena miskin, tidak berpenghasilan.

4. Tanggung jawab dan perhatian dengan keluarga
Tanggung jawab dalam nafkah dan perhatian dengan kesejahteraan keluarganya. Bagian ini merupakan perwujudan dari perintah Allah untuk semua suami,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

”Pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19)

Demikian pengantar materi hari ini. Mungkin sudah sangat panjang. Mohon maaf. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua..

DISKUSI DAN TANYA JAWAB

IBNU 202
1. Untuk kriteria istri bagaimana ustadz?
Jawab
KRITERIA ISTRI IDEAL :
a. Shalehah
Rasulullah bersabda :
"Setelah ketaqwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang lelaki daripada istri shalehah, jika ia melihat istrinya, istrinya itu menyenangkannya; jika ia menyuruhnya, ia mematuhinya; jika ia memberi, ia beterimakasih; dan jika ia pergi, istrinya menjaga diri dan hartanya" (HR. Ibnu Majah)
Sifat terpenting yang dicari lelaki pada wanita adalah mulia, menjaga diri dan beragama.
"Wanita dinikahi karena 4 hal; harta, kecantikan, kehormatan, dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama maka engkau akan beruntung" (HR. Bukhari dan Muslim)
Istri shalehah adalah penenang dan penolong masalah agama dan dunia

b. Akhlah Mulia
Sabda Rasulullah ketika ditanya :
"Apakah hal yang terbaik yang Allah anugrahkan pada Manusia? Beliau menjawab "akhlak yang mulia" (HR. Ibnu Hibban)
Akhlak mulia tidak akan membuat istri takkan menyakiti suami, karena mereka tahu akhlak yang mulia pada suami adalah ibadah paling utama dihadapan Allah

c. Keturunan
Sabda Rasulullah:
"Cermatlah dalam memilih istri yang akan menerima nuthfah-mu sebab sifat orang tua sangat berpengaruh pada Anak" (HR. Ibnu Majah)
Beliau melarang kita terpikat pada wanita cantik berasal dari keluarga buruk. Beliau bersabda 
"Jauhilah khadaraa' ad-diman", para sahabat bertanya "apa khadaraa' ad-diman? Beliau bersabda "Wanita cantik dari kelurga yang buruk" (HR. Ad-dailami dan ad-daruquthni)
Selain dari keluarga yang kurang baik, maka dihindari wanita yang dididik secara buruk. Terkadang ada wanita shalehah dan berakhlak baik, padahal orang tuanya tidak terhormat. Apakah tidak boleh dipilih jadi istri?
Allah berfirman : "Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain" (An-Najm : 38)

d. Hendaklah seorang Gadis.
Rasulullah Bersabda:
"Carilah istri yang masih Gadis, sebab rahim mereka lebih subur, mulut mereka lebih lembut, tipu daya lebih sedikit, dan lebih ridha pada penghasilan yang sedikit" (HR. Ibnu Majah dan At Thabarani"
Wanita (istri) ada 3 macam, ada yang menyenangkan, ada yang menyusahkan, ada juga yang tidak menyenangkan dan tidak menyusahkan. Yang menyenangkan adalah gadis yang tidak punya pengalaman selain darimu, jika melihat kebaikanmu dia bersyukur pada Allah. Yang tidak menyenangkan adalah janda yang punya anak dari suami terdahulu. Sebab dia akan menimpakan keinginan anaknya padamu, dan lebih mengikuti anaknya. Yang diantara kedua itu adalah janda yang belum memiliki anak, sebab melihat kebaikanmu ia akan berkata ini pantas untukku, jika ia melihat keburukanmu ia akan merindukan suaminya yang pertama

e. Cantik dan menyenangkan bila dipandang
Kecantikan itu relatif. Karena semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kecantikan. Namun jangan sampai kecantikan menjadi prioritas utama dalam pernikahan. Karena pasti akan menemukan kegagalan.

f. Cerdas dan pandai mengurus rumah tangga.
Seorang istri harus cerdas dalam mengelola rumah tangga, menentukan masa depan anak, dan memanajemen rumah. Imam Ahmad pernah berkata: "Sifat kewanitaan ada pada setiap wanita, tetapi kecerdasan tidak ada pada setiap wanita"

2. Kalo si akhwatnya sudah pengen nikah tapi ibunya meminta untuk menyelesaikan kuliah dulu. Apakah harus menuruti perintah ibu ato memberikan menjelaskan tentang keinginannya menikah?
Jawab
Seperti yang dijelaskan di hadits diatas, jika ada orang soleh datang melamar maka tidak boleh ditolak. Hadits tersebut ditujukan kepada orang tua, bukan si Gadis, karena anak gadisnya masih boleh menolak. Tapi sebagai orang tua jika ada datang pria sholeh melamar anaknya, maka tidak ada alasan menolak jika anaknya juga ternyata mau menikah. Jadi disini, orang tuanya perlu diberikan pemahaman dan keyakinan. Yakinkan ke beliau walapupun menikah nanti, si anak gadis akan tetap bisa menyelesaikan kuliah, buat komitmen dengan orang tuanya..

Tanggapan
Terus jelasin ke akhwatnya biar bisa mau lagi untuk segera menikah bagaimana? Soalnya dia sudah menurut ke perintah ibunya untuk menyelesaikan kuliahnya.
Jawab:
Akhwat itu butuh bukti bukan janji. Jika hanya sebatas kata dan ucapan mereka takut niat antum hanya untuk pacaran dan tidak serius. Datangi langsung orang tuanya, sampaikan niat baik antum. Akhwat itu suka pada lelaki yang gentlemen. Datangi orang tuanya langsung.

Tanggapan
Permasalahan, Si akhwat sudah trauma yang sebelumnya sudah dikhitbah ikhwan dan setelah beberapa bulan, ibunya menyarankan agar nikahnya setelah lulus kuliah. Akhirnya si ikhwan mundur dan buat si akhwat trauma, sampai sekarang dia jdi pengen nikah setelah lulus. Nah, setiap hari ketemu kecuali sabtu dan minggu soale temen kantor,hehe. Bahkan sdah deket. Kalo saya ngomong langsung ke orang tuanya, nanti akan jadi canggung ato pekewuh bila ketemu dikantor. Walaupun sekarang saya tau si akhwat belum membukakan hatinya untuk orang lain. Saran terbaik untuk saya gimana tadz?
Jawab
Karena kondisi antum sangat dekat dengan bliau, sangat rawan kalau sampai ada masalah atau parahnya malah pacaran. Solusinya hanya 2. Nikahi atau hindari. Kadang memang menikahi wanita sholeha itu butuh usaha ekstra, antum kan belum mencoba. Coba dulu ke orang tuanya, yakinkan bahwa kuliahnya akan tetap jalan. Jika orang tunya tetap menolak, sampaikan ke beliau. "Karena niat saya tulus karena Allah, saya juga tidak akan menjerumuskan anak bapak ke maksiat. Saya tidak akan mengajaknya pacaran atau sejenisnya, tapi in syaa Allah setelah beliau lulus saya akan melamar bliau." Jika memang niat antum tulus, maka jaga beliau jangan ajak pacaran. Jodoh tidak akan kemana-mana. Orang tua manapun jika melihat lelaki yang tulus karna Allah dan baik akhlaknya melamar anaknya, tidak akan sanggup menolak. Karena setiap orang tua ingin anaknya berada ditangan orang sholeh. Kalau perlu, ketika kerumah beliau bawa orang tua antum atau ustadz yang baik. Minta beliau yang sampaikan niat baik antum. In syaa Allah akan ada jalan keluar, namun jika bukan jodoh jangan dipaksakan juga. Siap diterima dan siap untuk ditolak. Baru namanya lelaki..

Tanggapan
Sampai sekarang dia ndak tau kalo saya suka dengannya. Si akhwatnya sekarang baru semangat-semangatnya pengen segera selesai kuliah dan mungkin selesai itu terus menikah. Nah, rencana saya memang mau menunggu yang pas untuk menanyakan apakah si akhwat mau ato ndak dengan saya via sedulurnya ato kakak ponakannya yang saya juga kenal. Menurut ustadz bagaimana dengan langkah saya seperti itu?
Jawab
Boleh akhi, langkah antum tidak mengungkapkan dengan alasan agar tidak terjerumus ke pacaran atau hal-hal negatif lain sudah benar. Jika suka pada akhwat, sebaiknya ungkapkan saat memang mau menikahinya. Jangan katakan "Aku Mencintaimu" tapi katakanlah "Aku Ingin Menikahimu karena Allah".

IBNU 203
1. Kenapa ya di sekeliling kita banyak ditemukan mertua yang tidak akur sama menantu?
Jawab:
Yang harus kita tekankan sebelum menikah adalah pernikahan itu bukan menggabungkan 2 insan saja, namun 2 keluarga besar. Jadi calon menantu harus siap punya orang tua baru (mertua), dan mertua juga siap punya anak baru (menantu). Masalah terjadi ketika keduanya (mertua dan menantu) masih hidup dibayang-bayangi keluarga sendiri. Si menantu menuntut mertua harus seperti ayah ibunya yang selalu mengerti keinginannya. Si mertua juga ingin menantu penurut seperti anak-anak yang dia didik. Jika keduanya tetap seperti itu, maka tidak akan ada titik temunya. Jika sudah begini, solusinya sebaiknya setelah menikah jangan menumpang di rumah mertua atau tinggal di dekat rumahnya. Bangun rumah sendiri dengan aturan berdua (suami istri). Namun silaturahmi ke mertua tetap harus terjalin baik. Wallahu'alam..

2. Apa yang harus dilakukan kekasih saya? apakah boleh dia mengabaikan orang tuanya (dalam arti di satu sisi dia tetap menghormati orang tua & disisi lain dia tetap lanjut sama saya)
Jawab:
Orang tua biasanya punya pandangan lebih luas, sehingga seorang wanita tidak boleh mengabaikan pertimbangan orang tua. Mungkin sebaiknya beliau tanya baik-baik alasan orang tuanya, mungkin bisa dibantu dengan kehadiran antum datang kerumahnya, utarakan berdua dengannya. Mengenai hubungan kalian, jika yang antum maksud itu adalah pacaran. Saran ana Nikahi bliau segera, jika tidak bisa maka jangan dilanjutkan. Beliau juga tidak bisa mengabaikan orang tuanya. Semuanya ada di antum, bisa atau tidak meyakinkan orang tuanya. Karena jika alasan orang tuanya benar, lalu dia tidak mau jadi wali nikah kalian, maka pernikahannya tetap tidak sah.

3. Apakah suami istri yang bertobat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat saat mereka masih berpacaran dulu apakah masih bisa menuju ke keluarga samara ustad? Karena awalnya mereka mengawali kehidupan bersama dengan jalan yang gak di ridhoi Allah..
Jawab:
Setiap yang bertaubat akan Allah ampuni, itu janji Allah. Namun keluarga samara tidak hanya ditentukan oleh faktor pacaran. Masih banyak hal-hal lain. Kesamaan sifat, karakter, pemikiran dll. Itu biasanya akan bisa disamakan seiring berjalannya waktu dalam berumahtangga.

4. Ustad, mau nanya.. suatu waktu saya pernah memberitahu seseorang tentang larangan berpacaran tapi mereka membantah dengan pernyataan : "orang tuaku aja dulu awalnya pacaran, buktinya sampe sekarang masih langgeng". Itu gimana cara menyikapinya ya ustad?
Jawab:
Pacaran itu bukan indikator keluarga akan jadi tidak samara. Namun yang harus kita tekankan adalah perbuatan Pacaran itu adalah Dosa yang Allah benci. Seperti yang dijelaskan diatas. Membangun keluarga harus dari dasar/pondasi yang benar dan sesuai syariat Allah. Agar kita mendapat keberkahan. Allah berfirman di surah Al Isra' : 32
"Jangan dekati Zina. Sesungguhnya perbuatan zina itu adalah perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk".
Mendekati zina saja kita dilarang, apalagi melakukannya..

5. Ustadz mau tanya. Gimana cara memantapkan hati bahwa dia jodoh kita dan gimana cara kita agar dapat membangun keluarga yang samara?
Jawab:
Jodoh itu baru bisa dikatakan dia jodoh kita setelah selesai akad dan SAH, kalau belum, beliau belum milik siapa-siapa kecuali orang tuanya. Untuk meyakinkan itu gampang, minta pada Allah di setiap sholat istikharah, in syaa Allah akan diberikan petunjukNya. Selain itu carinya hal-halnya menyenangkan hati kita untuk menikahinya, jika banyak kesamaan kemungkinan bisa bahagia dengannya. Namun tidak boleh dimirip-miripkan ya. Untuk membangun keluarga samara, dimulai dari Niat menikah karena Allah, lalu memilih jodoh yang taat pada Rabbnya. Pilih mereka yang menjaga hijabnya, jangan yang mengumbar auratnya. Masa' istri kita kecantikannya dinikmati banyak orang. Kalo milik sendiri harus dinikmati sendiri. Apalagi bekas pacar orang, enggak ridho lah kalau istri kita "bekas" dipegang-pegang orang. Kalau itu sudah dapat, in syaa Allah keluarga samara akan terwujud..

6. Ustad ana mau tanya gimana untuk membangun keyakinan untuk bisa segera menikah, karena niat sudah ada tapi melihat kondisi dan kriteria yang ustad sampaikan tadi itu masih jauh, gimana ya?
Jawab:
Menikah itu hanya membutuhkan Niat dan Tekad, karena rezeki sudah Allah jamin. Namun, sebelum kesana. Karena lelaki adalah pemimpin rumah tangga dan juga kelak akan menanggung beban ibadah dan nafkah anak istri. Maka sebaiknya perbaiki diri dulu. Parbaiki iman dan ibadah. Biasanya kita enggan menikah karena beberapa hal:
1. Karena banyak berbuat maksiat.
2. Karena tidak baik dalam ibadah.
3. Karena Kejantanannya dipertanyakan.

Mereka yang baik dalam ibadah, akan meyakini surah An Nur : 32.
"... Jika mereka miskin, Allah akan mampukan mereka dengan karunianya.."

Pertanyaan di luar materi
Hukum nya donor darah dalam islam gimana? Percampuran darahnya gak masalah sama orang lain?
Jawab:
Pertama: Hukum donor darah diperbolehkan dengan 3 syarat:
a. Dalam keadaan darurat 
Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ) .البقرة:173)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.

Berkata Syeikh Bin Baz:

لا بأس في ذلك ولا حرج فيه عند الضرورة

“Tidak mengapa (donor darah) ketika darurat.” (Majmu Fatawa Syeikh Bin Baz 20/71)

b. Tidak memudharati pendonor darah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh memudharati diri sendiri dan memudharati orang lain.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Berkata Syeikh Al-Utsaimin:

فالتبرع بالدم إذا كان لا يضر الإنسان ما به بأس؛ لأن الدم يعوض سريعاً بخلاف التبرع بالأعضاء، فالأعضاء لو تبرعت بها ما عوضت مرة ثانية

“Donor darah kalau tidak membawa mudharat maka tidak mengapa, karena darah itu cepat diganti, beda dengan anggota badan karena dia tidak ada gantinya.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb)

c. Keterangan dokter yang terpercaya.

# Mengajak pacaran itu lelaki cemen, mengajak menikah itu lelaki gentlement..
Kita tutup dulu ya..
Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Amiin....

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum...