Ketik Materi yang anda cari !!

PENTINGNYA MINDSET (POLA PIKIR)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, December 5, 2014

Kajian Online BBM Hamba الله Ta'ala

Hari / Tanggal : Kamis, 04 Desember 2014
Narasumber: Ustadz Ivan Ahda
Notulen : Ana Trienta

Assalamu'alaykum wr. wb...
Selamat sholat ashar semuanya, in sha Allah saya akan mulai sebentar lagi ya

Bismillah..
Pada kesempatan sore ini saya akan sharing mengenai mindset, bahasa sederhananya adalah pola pikir. Saya akan sharing betapa pentingnya mindset ini, sampai-sampai dalam beberapa studi terbaru, banyak yang menguatkan fakta bahwa kesuksesan dalam hidup ini banyak dipengaruhi oleh mindset. Banyak sekali saat ini training motivasi yang mengatakan pentingnya mindset positif (baca: berpikir positif).

Kita dulu mungkin bertanya-tanya, kemana teman-teman yang dulu sering menjadi juara kelas? Kemanakah mereka yang sering menjadi kebanggaan guru? Bukan yang saat ini kita lihat di media massa, televisi. 

Mereka yang sering muncul di media massa, menjadi ilmuwan terkemuka,seniman berpengaruh, ekonom atau bahkan CEO cemerlang, ternyata banyak sebagian besar dulunya bukan siswa yang paling pintar di sekolahnya. Malcolm Gladwel dalam bukunya the outliers (2008) menemukan bahwa para penerima hadiah Nobel ternyata bukanlah orang-orang yang ber-IQ tinggi seperti yang diduga banyak orang.

Berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaru, sekaran ditemukan orang-orang yang melewati sekalahnya dengan mudah lebih berpotensi menjadi seorang ‘passenger’, penumpang kehidupan. Mereka sudah puas dengan apa yang dicapai masa lalu dan percaya ‘pintu’ masa depan akan datang dengan sendirinya menemui mereka. Apa yang ditemukan oleh Carol Dweck dalam Mindset (2009) sangat mengejutkan, anak-anak yang menemukan sesuatu dengan mudah atau mendapatkan kemudahan di sekolah atau cepat mendapat nilai A di kelasnya mempunyai tendensi memiliki fixed mindset.

Fixed mindset adalah cara berpikir yang terbentuk saat seseorang mendapatkan kemudahan yang membuatnya ingin berlindung dalam kemudahan itu. Akibatnya mereka terpatri dalam pikiran mereka bahwa hidupnya akan selalu mudah. Lalu mereka duduk manis di kursi penumpang. Hidup yang sudah selesai dan kurang menghargai proses belajar yang harus dilewati dengan kerja keras dan perjuangan.

Michalko dalam buku Creative Thinkering (2011) menyebutkan fixed mindset cenderung terbentuk pada orang-orang yang memiliki karakter high self-monitors. Orang-orang seperti ini perhatian utamanya adalah ‘terlihat hebat dan cerdas’. Mereka sangat peduli terhadap bagaimana orang lain melihat (baca: mengevaluasi) diri mereka. Bagi mereka, kemampuan adalah sesuatu yang tetap, statis, bawaan lahir atau bawaan sekolah. Mereka tidak percaya kalau orang lain yang tak secerdas mereka bisa berubah atau mengalahkannya.


Dan tentu saja orang-orang ini berada pada pusat perhatian dan lama beradaptasi pada keadaan itu, karena kecerdasan melekat pada mereka, mereka harus bisa ditunjukkan. Masalahnya orang-orang seperti ini menurut Dweck punya kecendrungan membentuk cara pandang orang lain agar mereka terlihat hebat. Mereka punya kecendrungan atribusi eksternal, dalam arti tidak mampu melakukan sesuatu, mereka akan menyalahkan orang lain dan tidak mau mengakui kesalahannya.

Mereka menjadi seperti seorang looser dan beranggapan mengakui kekurangan adalah sebuah penghinaan terhadap kehormatan dan berarti mengakui dirinya tak berharga. Dan bila suatu tidak mudah, menuntut kerja keras atau bahkan terlalu lama proses yang harus dilalui maka ini mengancam citra diri, yang berarti bisa dianggap tidak cerdas, tidak berbakat. Mereka hanya ingin terlihat hebat, sekalipun sudah tidak belajar hal-hal baru lagi. Maka bila orang-orang seperti ini diburu organisasi/perusahaan/komunitas/masyarakat/, maka hal ini sama seperti berburu passengers.

Passenger akan menjadi beban, sama seperti obesitas yang tubuhnya dipenuhi lemak. Adapun lemak adalah suatu pilihan, akan dibuang atau dikonversi menjadi energi. Menurut Dweck, mindset adalah sebuah belief, yang berarti, meski tidak mudah, ia dapat diubah menjadi growth mindset.

Gimana sih karakter orang dengan fixed mindset?
  • Memiliki belief “saya adalah orang cerdas, hebat. Ingin terlihat berkinerja dan pandai.” tetapi utk menjaga citra ini, mrk tdk menyukai tantangan2 baru, dan hanya berbuat apa yg dikuasai saat ini
  • Kurang tekun menghadapi rintangan dan enggan menghadapi kesulitan
  • Terbiasa mendapatkan quick dan perfect performance. Tidak gigih berjuang.
  • Tidak terbiasa menghadapi umpan balik negative. Bagi mereka kritik terhadap hasil kerja atau kapabilitasnya adalah kritik terhadap pribadi. Cenderung mengabaikan kritik negative dan mengisolasi dari orang-orang kritis.
  • Tidak dapat menerima keberhasilan orang lain, karena dianggap keberuntungan. Lebih dari itu keberhasilan orang lain adalah ancaman bagi dirinya.
Berbeda dengan karakter fix mindset, berikut adalah karakter growth mindset:
  • Bukan didasarkan external attributions sehingga kalau mengalami kesulian (setbacks) tidak menyalahkan orang lain atau membuat alasan, melainkan siap mengoreksi diri, mengambil inisiatif
  • Rela mengambil resiko, tidak takut gagal sebab kegagalan bukan untuk orang lain. Kegagalan adalah hak kita untuk menghadapi tantangan, dan bila terjadi selalu berpikir ada yang bisa dijadikan pelajaran
  • Mereka percaya kecerdasan dapat ditumbuhkan karena otak memiliki kesamaan dengan otot, yaitu dapat dijadikan kuat dan besar asalkan dilatih. Latihan ditujukan untuk mendapatkan kemajuan
Lantas, bagaimana melatih mindset kita agar menjadi growth mindset?

> Pertama hadapi dan selalu miliki tantangan. 

Hidup yang tak berarti adalah hidup yang tak ada tantangan sama sekali. Dengan adanya tantangan, kita akan menjadi lebih kuat

> Bertahan dalam menghadapi rintangan dan ujian.  

Jangan biarkan ujian kecil menciutkan hati. Citra diri kita tidak ditentukan oleh keberhasilan atau kejatuhan, tetapi oleh kehormatan. Kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, demikian juga untuk kemenangan

> Usaha dan kerja keras

Di zaman serba teknologi ini, kerja keras bukanlah hal yang harus ditinggalkan atau diganti oleh kerja cerdas. Tidak ada kerja cerdas tanpa kerja keras. Kerja keras adalah mutlak untuk menggembleng ketrampilan dan keunggulan

> Kritik orang lain adalah sumber informasi
Tentu tidak semua kritik baik untuk didengar, namun jangan ambil kritik sebagai serangan terhadap pribadi. Jangan pula bekerja untuk menyenangkan orang yang mengkritik. Terimalah kritik sebagai konsultasi gratis

> Datangilah orang-orang yang sukses dan bergurulah pada mereka. Semua orang berhak untuk berhasil


Demikian yang bisa saya sampaikan, mari berbagi pandangan dan pendapat
Waasalamu’alaykumwrwb..

TANYA JAWAB DAN DISKUSI

1. Mimin
Nanya boleh ustadz? Bagaimana cara menghilangkan pikiran-pikiran negatif? Saya seringnya berpikiran macam-macam sebelum ketemu sama orang takut salah ngomong dsbnya, misal diawal sudah yakin tapi dipertemuan kedua jadi ragu. syukron
Jawab
Pertama-tama kita harus menyadari kalau mindset yang tertanam dalam diri kita bukanlah produk satu atau dua malam. Ini juga menjelaskan kenapa sebanyak apapun kita ikut training motivasi terus berharap mindset negatif kita hilang itu agak salah kaprah.

Mindset merupakan hasil dari produk parenting orang tua kepada kita, interaksi kita dengan dunia luar, bahkan dengan apa yang kita baca, lihat, diskusikan tiap harinya. Makanya agak jarang, generasi yang di asuh dengan kebencian, ketakutan, dan hal negatif akan melahirkan generasi yang sama. Menghilangkan mindset negatif bisa jadi memakan waktu selama ketika proses internalisasi mindset itu dalam diri kita. Misalnya kita di usia 30, mindset kita saat ini adalah hasil bentukan semua variabel tersebut selama 25thn lebih.

Dalam psikologi, katanya perubahan itu akan efektif dengan menggunakan berbagai cara. Salah satunya ada pendekatan cognitive and behavior therapy, artinya selain kemudian kita memperoleh asupan kognitif (baca: pemikiran/pengetahuan) yang mengarahkan kita ke mindset positif, kita perlu mengupayakan treatment yang mengubah perilaku kita. Karena pada dasarnya otak dan perilaku manusia bisa berjalan reversible. Maksudnya pikiran bisa mempengaruhi tubuh, begitu pula sebaliknya. 3 hal yang bisa dilakukan:

a. Membangun keterdesakan: 
Carilah situasi dimana mau gamau kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, atau kita takuti. Misalnya terkait pekerjaan, nafkah, dll. Kalo kata banyak orang the power of kepepet. Dulu mindset saya gak bakal bisa nyetir mobil, tapi karena ada situasi kalo gak bisa nyetir gak bs makan ya akhirnya kepaksa belajar walau takut.

b. Rutin cari tantangan, keluar dari zona nyaman. 
Mindset negatif itu timbul karena biasanya kita berpikir masih ada yang akan bantu kita, ada yang bisa kita andalkan. Jadi daripada salah mending nunggu orang lain deh. Kadangkala kita harus menghadirkan hiu-hiu kecil dalam hidup karena dengan begitu setiap ada mindset negatif kita akan terus bertindak untuk menyelamatkan diri kita.

c. Carilah mentor, atau lingkaran dekat yang bisa memicu kita agar senantiasa melatih mindset dan behav kita. Dengan demikian ada partner diskusi yang bisa ingetin dan evaluasi. Syukur-syukur mentor itu orang yang kita hormati, sehingga kita akan terlatih. Demikian mba mimin

2. Dedes
Ustad, mindset itu apa juga bisa mempengaruhi perilaku seseorang?
Jawab
Justru iya mba dedes. Memang paradigma di dunia ini umumnya terbagi melihat bahwa manusia itu pasif atau aktif. Manusia aktif maksudnya, dialah yang menentukan perilaku dan ekspresi lingkungannya. Dan mindset merupakan variabel enabler perilaku seseorang. Bagaimana perilaku di lapangam bisa digali dari bagaimana mindset seseorang tersebut

Tanggapan 
Untuk melatih mindset apa bisa di latih sejak masih kecil ust?
Jawab
Intervensi paling baik ya sedari dini memang. Mungkin nanti bisa dieksplorasi dengan ustadz/ustadzah parenting, bagaimana sirah mengajarkan kita mendidik anak-anak. Secara umum, sudah banyak juga ilmu psikologi populer yang memberikan referensi bagaimana melatih mindset dar kecil. Salah satu yang bisa dicari, silahkan googling. Ada 7 skill esensial mendasar yang harus dipelajari seorang anak  yang akan membuatnya memiliki growth mindset

PENUTUP
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).


wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru