Ketik Materi yang anda cari !!

RIBA, MAKNA DAN LARANGANNYA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, December 2, 2014

Kajian Online Telegram Akhwat Hamba الله Ta'ala

Hari / Tanggal : Senin, 01 desember 2014
Nara sumber: Ustadz Syaikhul Murobin
Notulen : nduk iis
Editor : Ana Trienta

Riba dari segi bahasa berarti tambahan. Ia juga bisa berarti tumbuh, atau membesar. Adapun para ulama mendefinisikan riba sbb:
Imam Malik meriwayatkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdullah ibn Mas’ud pernah berkata, “Jika seseorang membuat pinjaman, mereka tak boleh menetapkan perjanjian lebih dari itu. Meski hanya segenggam rumput, itu adalah riba.” (Al-Muwatta Imam Malik : 31.44.95)
Imam Mujahid berkata : “(Riba yang diharamkan pada masa jahiliyyah) adalah seseorang berutang pada orang lain, lalu si peminjam berkata, ‘Bagimu (tambahan) sekian dan sekian, dan berilah aku tempo’. Maka dia diberi tempo” (Tafsir at-Thabari, III:101)
Imam Qatadah berkata: “Riba jahiliyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo (kredit) hingga waktu tertentu. Apabila telah jatuh tempo dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran atas penangguhan” (Tafsir at-Thabari, III:101)

Yang disampaikan di atas adalah apa yang disebut dengan Riba Nasiah. Selain itu ada yang disebut pula dengan Riba Fadhl. Yaitu menjual alat tukar sejenis dengan adanya tambahan. Contoh pada musim lebaran suka ada calo yang menukarkan uang receh, 100 ribu ditukar pecahan 5rb tapi total nilainya hanya 95rb. ini termasuk transaksi ribawi.

Benda yang dilarang dalam riba fadhl dibatasi dalam hadits shahih sbb: emas dan perak (uang), dan bahan makanan pokok. Benda-benda tersebut hanya boleh diperjualbelikan secara konta.
"Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)
Haramnya riba sudah jelas disebutkan dalam alQuran dan asSunnah.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa yang datang kepadanya peringatan dari Allah. Lalu ia berhenti maka baginya adalah apa yang telah berlalu dan urusannya adalah kepada Allah dan barang siapa yang kembali lagi, maka mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Allah akan menghapus riba dan melipat gandakan sedekah dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir lagi pendosa”. (QS. Al-Baqarah : 275- 276)

Orang-orang yang kembali mengambil riba padahal peringatan telah datang kepada mereka, diancam dengan kekekalan di neraka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba. jika memang kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melakukannya, maka terimalah pernyataan perang dari Allah dan rasul Nya dan jika kalian bertobat maka bagi kalian adalah modal-modal, kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi”.
(QS. Al-Baqarah : 278- 279)

Orang-orang yang tidak mau meninggalkan riba, maka akan menjadi musuh (diperangi) Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
“Jauhilah tujuh hal yang merusak.” Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman.” (HR. Muslim)
Dari hadis ini jelas bahwa riba adalah dosa besar, karena dikelompokkan dengan syirik, membunuh, sihir, dan lainnya.
"(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri." (HR. Ath-Thabrany dan lainnya serta dishahihkan oleh al-Albani)
“Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat daripada 36 pelacur” (HR. Ahmad, disebutkan dalam Naylul Authar)
Dua hadits di atas menjelaskan keburukan riba yang jauh melebihi zina. Seseorang yang benci menjadi pelacur untuk mengumpulkan harta, maka hendaknya lebih benci bertransaksi riba dalam mengumpulkan harta. Dan diriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, pembayarnya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, “Mereka itu sama saja”. (HR. Muslim)
Hadits ini sesuai dengan firman-Nya,

ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Mâidah: 2)

Maka jelaslah bagi orang-orang beriman, bahwa tidak ada pilihan bagi mereka, kecuali berusaha sekuat tenaga, dengan sesungguh-sungguhnya, agar riba tidak duduk m
anis di samping akad-akad muamalah mereka, dan agar riba tidak menyelinap dalam lembaran-lembaran kontrak keuangan mereka.

Memang, Nabi shallallahu 'alayhi asallam telah meramalkan kedatangan zaman di mana riba sulit dihindari.
“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,” (HR Ibnu Majah dan Abu Dawud)
Tapi tentu saja, yang tidak peduli bahkan menikmatinya dengan yang berusaha mati-matian menghindarinya, keduanya memiliki kedudukan yang sangat, sangat berbeda di hadapan Allah.
“Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman yang pada waktu itu orang tidak memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari jalan halal atau dari jalan haram.” (HR. Bukhari)
Yang menarik adalah, pengharaman riba ternyata juga ada dalam agama-agama maupun pemikiran lain. Agama yahudi mengharamkan secara tegas baik dalam Perjanjian Lama maupun Undang-Undang Talmud. Hal ini disebutkan dalam Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25, Kitab Deuteronomy (Ulangan) 23:19, dan Kitab Levicitus (Imamat) 25:36-37.

Dalam agama Nasrani, pelarangan riba dianggap tidak terlalu tegas sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan pendeta kristen. Ayat yang mengecam praktik riba namun dianggap multitafsir ada di Lukas 6:34-35.

Di India Kuno hukum yang berdasarkan Weda, kitab suci tertua agama Hindu, mengutuk riba sebagai sebuah dosa besar dan melarang operasi bunga (Gopal, 1935: Rangaswani, 1927)

Dalam pemikiran filsafat, riba mendapat kritikan keras. Meskipun riba ada di masa Yunani dan Romawi, prakteknya dikecam oleh para ahli filsafat seperti Plato, Aristoteles, Cato, dll. Para ahli filsafat tersebut mengutuk orang-orang yang mengambil riba.

Dari sana kita bisa melihat bahwa riba adalah sesuatu yang bertentangan dengan fitrah ilahiyah. Karena memang riba, secara logika dan fakta dapat merusak keadilan dan kestabilan ekonomi. Sejarah telah membuktikan, setiap krisis ekonomi besar yang terjadi, maka sumbernya adalah transaksi ribawi. Maka, tidaklah para penyeru sistem riba itu memiliki landasan yang sebenarnya, kecuali hawa nafsu belaka. Wallahul musta'an
Wallahu a'lam

TANYA JAWAB
1. Katanya kredit motor sama aja kaya riba ya tad? kpr pemerintah juga riba donk kan bank pemerintah not syariah?
2. Ustad kalo bunga di bank itu hukumnya apakah riba juga, baek yang bank syari /tidak? Kalo non syariah jatuhnya riba ya tadz?
Jawab
mba Mae, mb Iis, bunga bank adalah riba, ini telah menjadi fatwa ulama-ulama di penjuru dunia. dan berdasarkan dalil-dalil yang shahih dan jelas. Bank syariah tidak ada bunganya. mereka memakai margin, untuk akad jual beli/murabahah. dan bagi hasil untuk akad mudharabah. perhitungannya berbeda, syarat-syaratnya juga berbeda. tentu saja, hukumnya berbeda.

3. Kalo belum tau sewaktu berhutang kalo itu termasuk riba.apa bisa di maafkan tadz atau dijual saja?
Jawab
Jika tidak tahu lalu terlanjur bertransaksi riba, maka sebaiknya segera lunasi (walopun terkadang mempercepat pelunasan dapat terkena denda). Kalo dijual ke orang lain, nanti orang lain yang jadi bertransaksi riba atau bisa jadi over kredit jual beli utang ini juga tidak boleh

4. Ustadz kalo saya membeli barang dari pihak pertama terus saya jual lagi kepada seseorang dengan untung yang lumayan banyak, pada sistem penjualan saya da yang tunai dan kredit tapi harga tetap sama gak da tmbahan terus saya mengambil keuntungan yang agak banyak itu bisa tergolong riba gak tad?
Jawab
Keuntungan dalam jual beli tidak dibatasi dalam Islam, agak banyak boleh, lumayan banyak juga boleh asal penjual dan pembeli sepakat harganya 

5. Ustad kalo sudah terlanjur menabung di bank selain syariah karena dulunya tidak paham. Semisal sekarang sudah paham bahwa bunga di bank itu riba terus waktu pengambilan uang semua bunga yang di dapat kita tinggalkan di bank dan tidak mengambil sepersen pun apakah masih dapat dosa tad?
Jawab
Terkait tabungan di bank konven, yang terbaik adalah memindahkannya ke bank syariah. Terkait bunganya, ada perbedaan pandangan di kalangan ulama, namun yang lebih kuat, menurut saya adalah, bunganya juga kita ambil dan disalurkan sebagai infaq atau sedekah. Hal tsb karena;
1. bunga tersebut juga bukan hak bank, sedangkan kalo kita tinggalkan di rekening, bank akan mengambil manfaat darinya.
2. ada riwayat dari Nabi saw, bahwa beliau menyuruh sahabat menyedekahkan kambing yang terlanjur didapatnya secara tidak halal, untuk diberikan pada tawanan perang

6. Ustad kalau seperti pegadaian kita menggadaikan barang dalam jangka waktu 4 bulan ada uang administrasinya dan kalau belum kita tebus dan diperpanjang lagi kita bayar lagi uang administrasi, apakah itu termasuk riba juga ustad?
Jawab
Pegadaian konvensional memakai sistem riba karena itu, ada yang disebut pegadaian syariah

7. Kalo masih menunggu agak lama memindahknya ke bank syariah karena terkait  tempat tinggal beda negara ustad masih bolehkah?
Jawab
Kalo di negara tempat tinggalnya hanya ada sistem konvensional, maka tidak mengapa menunda pemindahan rekening ke bank syariah namun lebih cepat lebih baik

8. Ustad mau tanya terkait alat timbangan yang ada pada penjual sembako pada alat timbangan tersebut ada benjolan yang menempel di bawahnya  seperti penambah berat barang yang di timbang, bagaimana itu ustad termasuk penipuan dalam berdgang  / tidak? karena sekarang kebanyakan alat timbangan ada semua
Jawab
Terkait timbangan, jika memang benjolan itu benar-benar untuk mencurangi timbangan maka hukumnya haram dan penjual berdosa yang pasti perlu diperjelas dulu statusnya, jangan hanya berdasar dugaan

9. Ustadz misal saya penjual baju kalo beli cash harga 100 kemudian kalo beli bayarnya bulan depan dengan harga 150 itu jatuhnya gimana ustadz? tapi kedua belah pihak sepakat dengan harganya.
Jawab
Boleh menjual barang dengan harga yang berbeda untuk tunai dan non-tunai dengan syarat:

  • sebelum akad, penjual dan pembeli menyepakati salah satu dari 2 harga tersebut (tidak boleh menggantung)
  • harga yang sudah disepakati tidak boleh berubah setelah akad berjalan

10. Yah tadz kalo mau lunasi semua uangnya belum ada. piye tadz?
Jawab
Kalo belum ada, maka termasuk kategori terpaksa maka kita memperbanyak istighfar pada Allah, berjanji tidak mengulangi, dan juga memperbanyak sedekah karena sedekah adalah LAWAN   riba.


يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Al Baqarah 276

11. Ustadz karena ibu saya sendiri penjual daging di pasar itu timbangnya ada benjolan tapi memang asli dari pabrik saya sudah lihat berbagai timbangan laennya sama seperti punya ibu saya jadi saya punya rasa takut juga soal sistem timbangan tersebut
Jawab
Ya kalo cuma benjolan, tidak bisa dihukumi sebagai apa pun, harus dilihat langsug prakteknya

12. Afwan sedikit keluar dari tema ustad. Saya pernah di nasehati untuk tidak ikut MLM ustad karena hal itu dzholim. Tapi banyak saya baca, beberapa sistem MLM  katanya halal.
Bagaimana itu hukumnya ya ustad?
Jawab
MLM ada perbedaan di kalangan ulama yang menghalalkan pun memasang syarat-syarat tertentu. Saya sendiri melihat, hal itu harus dihukumi kasus per kasus.wallahu a'lam

13. Ustadz mohon izin bertanya mungkin sedikit diluar tema ustadz, kalo ingin buka usaha / bisnis tapi tidak punya uang tabungan untuk modal misal butuh 100jt meminjam ke bank adalah satu-satunya pilihan, baiknya gimana ustadz? ga usah aja mulai usaha atau tetap mulai usaha dengan minjam modal ke bank?
Jawab
Pakai akad mudharabah ke bank syariah atau yang lebih baik, usahanya dicari yang cukup dengan uang yang dimiliki kalo hanya punya 10jt, mulailah dengan usaha yang modalnya cukup 10jt. Saya dulu bisnis herbal, mulai dengan modal 2 juta, ga pake toko walhamdulillah, membesar dengan omset puluhan juta per bulan. Usaha tidak harus selalu pakai toko, apalagi di zaman sekarang.

14. Jadi pinjam uang dbank buat modal usaha juga kurang baik ya tad?
Jawab
Kalo pinjam uang dengan akad ribawi, bukan hanya "kurang baik", tapi haram, sesuai dalil-dalil riba yang telah disebutkan dalam materi

15. Ustadz afwan kurang paham soal akad mudharabah dan akad ribawi mohon djelaskan lagi tad? soalnya kata-kata tersebut masih asing belum saya dengar? ada bank bumn yang syariah
Jawab
Mudharabah itu akad kerja sama bagi hasil. Akad ribawi itu akad yang mengandung riba makna riba sudah disebutkan dalam materi 

Jika sudah tidak ada yang akan didiskusikan, kita akhir saja ya..
Pas di sebelah juga lagi kajian
Mohon maaf jika ada kekurangan
Wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh
Jazakallah untuk jamaah semuanya yang sudah aktif menyimak kajian hari ini
Semoga menambah ilmu untuk kita semua aamiin. Kebenaran datangnya dari Allah, dan janganlah kita menjadi orang yang ragu.


PENUTUP
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment