Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

SEBERAPA BESAR CINTA ANAKMU KEPADAMU

Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ  SWT 
(All Grup Ummi)

Hari / Tanggal : Rabu, 17 Desember 2014 &
                                    31 Desember 2014
Narasumber : Ustadzah Endria Sari Hastuti

Notulen : Ana Trienta



 بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silahkan seluruh jama'ah majelis ini mengawali ta'lim on line ini dengan membaca Basmallah ditempat masing-masing ya..

ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا..ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ؛ ﻟﻪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻭ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ، ﻳﺤﻴﻰ ﻭ ﻳﻤﻴﺖ ﻭ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﺊ ﻗﺪﻳﺮ ﻭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻤﺮﺟﻊ ﻭ ﺍﻟﻤﺼﻴﺮ ..ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﺑﻠﻎ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﻭ ﺃﺩﻯ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ ، ﻭ ﻧﺼﺢ ﺍﻷﻣﺔ ﻭ ﻛﺸﻒ ﺍﻟﻐﻤﺔ ، ﻭ ﺟﺎﻫﺪ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺭﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﺎﻩ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ..أما بعد.

Apa kabar bunda wa akhwatofillah ...
Semoga nikmat dan rahmat Allah subhanahi wa ta'alaa tetap terlimpah kepada kita semua. Pagi saya ingin mengajak kita semua untuk bincang-bincang sersan yaaah. Ni saya sambil nunggu di ruang tunggu RS di bilangan Kuningan Jakarta nih. Nunggu sahabat datang mau periksa dokter.

Bunda.. In sya Allah hari ini saya ingin ajak bunda untuk bincang-bincang tentang anak kita. Tema kali adalah adalah "SEBERAPA BESAR CINTA ANAKMU KEPADAMU"

Hhhmm semoga dari tema tersebut akan banyak yang bisa mengambil manfaatnya. Setidaknya segera melakukan introspeksi diri dan menata ulang strategi dan taktik untuk memperbaik kondisi yang ada. Setidaknya jika kita bicara sebagai orang tua, wa bil khusus peran ibunda. Maka kita tidak boleh lengah. Harus selalu up date situasi, kondisi bail didalam maupun dari luar keluarga kita.

Tema ini sengaja saya angkat setelah saya begitu sedih melihat berita dan fenomena saat ini bagaimana anak-anak memperlakukan ibundanya. Sungguh perasaan hancur ketika saya mendengar seorang ustad pemerhati pergaulan anak-anak remaja, yang sedang menunjukkan bagaimana perilaku beberapa orang anak di statusnya di sosial media yang mengungkapkan kata-kata kotor yang ditujukan kepada ibundanya. Saya banyak berfikir dan sesekali menengok kepada diri dan anak saya seraya berdoa agar Allah senantiasa menjaga kami. Menyempurnakan kasih sayang kami dan mengekalkannya.

Bunda.. Materi kajian saya kali ini sengaja saya buat dengan nuansa bincang-bincang sederhana namun saya sangat menghayati apa yang akan saya sampaikan sebagaimana saya sangat memperhatikan hal ini dalam kehidupan saya sehari-hari. Tentang diri kita dan anak kita. Ini adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang sangat kental dengan situasi yang fluktuatif antara bahagia, sedih, cemas, gemes, khawatir, harap, bangga, kesal dan juga tak jarang rasa kecewa. Rasanya perasaan itu selalu datang silih berganti menemani hari-hari kita bersama anak-anak kita. Betul nggak bunda?

Kedekatan diri kita bersama anak-anak kita terutama mereka yang masih usia dibawah 14 tahun sebenarnya adalah saat-saat berharga yang terindah sekaligus saat menentukan hasil bagi seorang ibu dalam pendidik anaknya. Bagaimana jadinya mereka? Bagaimana corak Kepribadian mereka? Bagaimana tingkat kematangan mereka? Dan juga bagaimana feedback berupa cinta serta penghargaan mereka kepada kita sebagai ibundanya?


Memang bukanlah balas jasa yang kita harapkan dari anak-anak kita atas pengasuhan kita kepada mereka, akan tetapi ukuran rasa penghargaan dan rasa cinta seorang anak adalah bagian dari buah yang menjadi hak kita setelah mendidiknya. Dan tentang hal  ini kita harus mengajarkan kepada anak kita. Jadi jangan sampai lupa ya bunda kita mengajarkan anak-anak kita untuk berterimakasih dan berbakti kepada kita. Dalam Al Qur'an disebutkan :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al Isro' : 23)

Artinya bahwa selain kita diperintahkan untuk pandai bersyukur kepada Allah, kita juga harus pandai bertrimakasih dan berbakti kepada kedua orangtua. Dan ini juga yang wajib kita ajarkan kepada anak-anak kita.

Sekali lagi bunda...
Untuk urusan pembinaan dan pengajaran bagaimana menjadi anak yang padai berterimakasih kepada orang tua harus menjadi perhatian kita sebelum urusan ini justru terlelan masalah yang lain yang juga kita perlu segerakan.  Hanya saja untuk masa modern seperti saat ini pendidikan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang tua menjadi sangat urgent untuk diutamakan sebelum perhatian anak-anak kita tersita oleh hal-hal yang lain seperti dagdet , sarana games, social media dll.

Pendek kata sebagai orang tua kita harus segera memikirkan bagaimana kita bisa menerapkan pola didik dimana anak-anak bisa maju dalam bidang yang bermanfaat dan sesuai dengan syari'at Islam dan juga mereka memiliki karakter cinta yang kuat kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya. Dan hasil dari pendidikan tersebut bisa jadi akan ditentukan oleh proses pendampingan kita sejak pengasuhan di usia dininya hingga mencapai 14 tahun.

Jika usia  antara nol tahun sampai 14 tahun itu kita benar-benar maksimalkan dengan memberikan pola pengasuhan prima baik dari segi fisik, mental maupun spiritualnya, in sya Allah pada usia selanjutnya kita akan lebih ringan dalam memantaunya. Karena  pada range usia diatas adalah benar-benar bagaikan kita sedang menata batu bata, layaknya seorang arsitek yang hendak membangun sebuah bangunan yang kokoh. Adapun pada kenyataannya  bagaimana jadinya bangunan itu tentu ada beberapa faktor yang menjadi penentu bagaimana jadinya rupa dari bangunan itu. 

Demikian pula halnya dalam mendidik anak. Kita harus mendesign sedemikian rupa hingga kelak anak-anak kita menjadi seorang yang lebih baik dari apa yang kita bayangkan atau harapkan darinya. Tanpa suatu planning atau rencana dan strategy yang matang sulit kita mengharap memiliki hasil didikan yang baik. Yang ada adalah mereka tumbuh kembang apa adanya. Atau yang mengerikan jika mereka akan menjadi bagaimana lingkungannya (yang kurang baik) mendidiknya, bisa lingkungan pergaulannya baik di sekolah maupun diluar sekolah dan juga bisa jadi lingkungan pergaulan dunia maya yang dia akrab dengannya. Jika terjadi demikian, sungguh ini musibah yang sangat besar terutama bagi seorang ibu.

Untuk menghindari musibah tersebut kita sebagai seorang ibu bisa mulai menata ulang darimana dan bagaimana bentuk strategy yang kita terapkan untuk anak-anak kita. Kita mulai dari yang sederhana saja. Tanamkan rasa cinta anak kepada Allah, kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, kepada Al Qur'an dan kemudian kepada kita sebagai orang tuanya.

Konsep penanaman rasa cinta diatas adalah sangat mutlak bunda. Sebagai peletakkan fondasi pertama dan yang utama. Jika nilai-nilai diatas sudah kita terapkan dan membuahkan hasil yang maksimal maka selanjutnya bunda bisa dengan sangat mudah membentuk karakternya menjadi pribadi yang Robbani penuh kasih sayang kepada kita dan saudara serta orang-orang disekitarnya. Sifat Rahiim ( penyayang ) ini merupakan  sumber dan dasar kepribadian yang kharimah bagi seorang anak. Karena darinya akan berkembang ahlaq-ahlaq kharimah yang lain.

Sekarang sesuai dengan tema kita pada kajian kali ini. Saya ingin bahas detail bagaimana kita membangun rasa cinta anak-anak kita kepada diri kita sebagai ibunya. Maaf jika topik ini tampak seolah berlebihan, karena seorang anak tentu akan mencintai ibundanya. Betul...!  Bisa jadi bunda, akan tetapi sampai seberapa jauh kita bisa mengetahui rasa cinta itu tertanam dihati anak-anak kita. Saya sarankan agar sebaiknya kita bersikap waspada terhadap situasi perkembangangan tehnology dan sistem informasi saat ini. Sangat mungkin distorsi dan intervensi arus modernisasi yang dahsyat saat ini  telah menggerogoti nilai-nilai kasih sayang yang seharusnya secara alami terbangun pada hati anak-anak kita. Sehingga (na'udzubillah) jika sampai terjadi alih fungsi diri kita dimata anak-anak kita. Yakni dari fungsi sebagai ibunda harusnya dia selalu melekat dalam dirinya betapa besar keutamaannya, menjadi sebatas sosok seorang wanita yang hanya sekedar sebagai tumpangan atas kelahiran dirinya. Hilangnya rasa penghormatan, musnahnya rasa santun dan belas kasih serta lenyapknya kepekaan terhadap apa yang dirasakan ibundanya. 

Ini sungguh sebuah distorsi (atau penggerogotan) nilai-nilai yang seharusnya. Dan hal ini bisa terjadi dan dimulai dari tidak adanya suatu perencanaan yang matang dan tepat dalam pola pendidikan dan pengasuhan anak kita. Kembali pada penanaman rasa kasih sayang anak kita kepada diri kita. Bisa kita mulai dari hal-hal sederhana yang in sya Allah sangat efektif, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sering-seringlah kita menyiapkan waktu khusus bersamanya.  
Jika anak berjumlah lebih dari satu maka masing-masing harus diberi jatah yang sama walaupun situasi yang diciptakan bisa jadi antara anak yang satu dengan yang lainnya berbeda. Ciptakan suasana yang kondusif, kedekatan yang sangat dekat, baik dengan memberi sentuhan-sentuhan secara fisik maupun secara psikologis yang hangat dan membuat dirinya merasa special bagi bundanya. 

Lontarkan sebuah tema pembicaraan yang menyenangkan tetapi penuh dengan muatan-muatan yang mendidik. Jika bunda kesulitan memulai atau mencari topik pembicaraan, bisa dicoba mulai dengan menanyakan kepada anak kita, kira-kira apa yang ingin sekali anak kita ketahui tentang sesuatu hal. Dari sana kita harus siap menjawab dengan tepat dan benar serta bahasa yang mudah dia mengerti. Pada saat itu bisa jadi pertanyaan akan muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. 

Apa saja topiknya selalu ambil kesempatan untuk memasukkan pengenalan terhadap Allah, Rasulullah dan juga Al Qur'an. Angkat nilai-nilai kebaikan dari Agama kita. Juga sesekali lemparkan pancingan agar mereka memiliki sebuah atau beberapa pertanyaan lanjutan. Disini seorang bunda haruslah pandai-pandai mengatur kata-kata dan menciptakan suasana yang benar-benar nyaman bagi anaknya. Sehingga pada saat-saat intens seperti inilah inilah bunda bisa memasukkan pula kesan bahwa kita sebagai ibundanya sangat mencintai dirinya dan berusaha memenuhi segala kebutuhannya dan juga siap membimbing dan mendidiknya. Bangun image bahwa bundanya adalah tempat yang paling tepat untuk bertanya dan meminta bantuan sesuatu apa pun itu darinya. Dan dalam moment seperti ini pula bisa mulai kita tanyakan kepadanya apakah dia mencintai kita? Tentu dia akan menjawab : "ya" atau "tentu"

Naaah giring ke arah alasan. Mengapa dia mencintai kita?
(maaf) walaupun kita tentu sudah tahu jawabannya, sekali lagi ini hanyalah sebuah tehnis ya bunda. Begaimana kita menggali sebuah potensi rasa cinta dari anak kita kepada diri kita, sehingga rasa itu hidup dan exist tidak terkikis oleh arus pergaulan dan pergeseran gaya hidup yang semakin berwarna saat ini.Ungkapan-ungkapan seperti ini (tentang cinta anak kepada ibundanya) hendaknya sering kita lontarkan kepada anak-anak kita walaupun dalam situasi yang santai disaat kita menikmati waktu-waktu bercengkerama dan bisa menciumi mereka.

Bunda rohimakumullah ...
In sya Allah ini sungguh akan sangat berharga  bagi diri kita dan juga bagi anak-anak kita, terutama terkait dengan membangun memory / kenangan yang bisa jadi akan tersimpan dan juga terungkap kembali dalam masa berapa belas atau puluh tahun yang akan datang. Bagi diri kita. Sebagai bunda lakukan semua itu dengan hati yang tulus, hendaknya kita bisa benar-benar memberi sentuhan kasih sayang itu dan juga ungkapan cinta kepada anak-anak kita ini, karena kita ingin mengharapkan  Ridhonya Allah semata. Dengannya in sya Allah bunda akan dapat merasakan betapa bertinya rasa cinta yang ada dihati anak-anak kita dari kasih sayang dan perhatian yang berkwalitas yang kita berikan kepada anak-anak kita.

2. Lakukan perencanaan pola asuh yang penuh keteladan dari kedua orang tuanya.
Lakukan diskusi bagaimana membekali anak dengan nilai-nilai agama. Jangan hanya bergantung pada Sekolah yang bunda. Guru-guru disekolah tidak bisa menjadi tumpuan utama bagi perkembangan kepribadian anak-anak kita. Mereka sungguh telah mengupayakan hal yang terbaik untuk anak-anak kita dari amanah yang mereka terima. Akan tetapi pengaruh yang paling efektif adalah bagaimana pola didik dirumah, bagaimana keteladan yang ada dirumahnya. Bagaimana nilai-nilai Islam dan kedisiplinan dalam penerapannya dirumah benar-benar ditekankan.

Tentu dalam berbicara tentang pola asuh ini hal yang tidak kalah penting adalah menjauhkan anak-anak dari faktor-faktor penghambat terbangunnya kepribadian yang berkwalitas penuh  nilai-nilai karimah yang agamis. Diantaranya adalah penampilan bentuk komunikasi yang harmonis antara ayah dan ibu. Juga orang-orang yang ada disekitarnya. Serta perlunya pengaturan dan pengawasan interaksi anak dengan tehnologi informasi seperti : handpone, laptop, sarana-sarana game dan berbagai macam gadget yang saat ini lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya terutama untuk anak-anak diusia dibawah 14 tahun ini. Mengapa hal diatas saya kaitkan dengan rasa cinta anak kepada kita, orang tuanya?

Yaaa, jelas. Seperti yang sudah saya singgung diawal pembicaraan kita, bahwa sarana / fasilitas tehnologi informasi dalam hal ini berbagai macam bentuk gadget dengan segala kecanggihannya sangat berpotensi merenggut dan mengikis rasa cinta dan kepekaan anak kita kepada kita. Karena dengan berbagai aksi kemudahan anak dalam berinteraksi dengan gadget sangat memungkinkan anak mendapat informasi atau masukan nilai-nilai yang sejatinya merugikan dirinya. Tetapi mereka tidak tahu dengan hal ini dan apa pula jadinya jika kita ibunya juga tidak ngeh.. Tidak faham... Tidak peka, dengan ancaman yang tidak kentata tetapi sangat berbahaya ini.

Bunda mari kita raih hak kita untuk dicintai oleh anak-anak kita. Bagi yang memiliki anak-anak yang masih belia. Tanamkan dan didik rasa cinta mereka kepada kita. Bagi yang memiliki anak remaja. Ketahui segera seberapa besar cinta mereka kepada diri kita? Mengapa pembahasan urusan perasaan cinta ini jadi begitu penting bunda? Karena dengan cinta mereka kepada kita. Maka mereka akan cenderung hantinya mendekati daripada orang lain. Mereka akan mendahulukan kita dari pada orang lain. Dan juga mereka akan taat kepada arahan-arahan kita. Pendek kata insyaAllah mereka akan menjadi anak yang berbakti kepada kita. Dan inilah kunci mereka mendapatkan SyurgaNya Allah dubhanahu wa ta'alaa. Waallahu a'laam

Demikian bunda kajian kita hari ini ...
Billaahi taufiq wal hidayah
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
Endria🌴

TANYA JAWAB

Pertanyaan HA 01
1. Ustadzah bagaimana kalo anak sudah terlanjur asyik dengan tehnologi, sehingga dia tidak peduli dengan lingkungannya, dia tidak aneh-aneh, tapi kepedulian hilang, akhirnya di warning jika tidak berubah sarana yang ada mau diambil? berapa lama kasih waktu untuk bisa berubah setelah ada nasehat-masih?
Jawab
Kalo gajala seperti yang bunda ceritakan saya kira anak tersebut  bisa jadi perlu therapy bunda. Beberapa minggu yang lalu saya juga ada yang curhat dari anggota keluarganya ada yang demam games. Kalo sudah main games dia tenang tidak mengganggu yang lain sih. Tetapi tidak juga memenuhi kewajiban-kewajibannya yang lain. Seperti sholat dll. Jika bunda tidak keberatan, silahkan coba tips seperti yang saya berikan kepada seorang bunda yang saya ceritakan diatas ya. Juga untuk bunda yang lain silahkan mencoba jika ada anggota keluarganya yang mengalami hal yang serupa. Caranya : Ambil segelas air putih, bacakan surat Al Fatihah 3x dan surat Al Falaq 10x - kemudian tiupkan ke air tadi - setelah itu atur sendiri bagaimana caranya agar dia meminum air putih tersebut. Lakukan hal seperti ini selama 10 hari berturut-turut. Amati perkembangannya - jika ada perubahan atsu reaksi - silahkan japri saya untuk langkah penanganan selanjutnya.

Pertanyaan HA 02
1. Saya mau tanya bagaimana anak-anak sekarang yang sudah dari dasarnya mengenal alat komunikasi kita jadi sulit untuk melarangnya dan bagaimana dengan pola asuh anak yang baik menurut usia? makasih salam
Jawab
Sebaiknya harus segera dihentikan ketergantungan pada alat komunikasinya bunda. Karena jika anak bunda masih berada di usia dibawah 14 tahun maka pengaruh negatif  hampir-hampir tidak bisa dihindarkan. Saya beberapa waktu yang lalu membaca sebuah info bahwa pemilik apple dan goggle tidak memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk mengenal alat komunikasi untuk mendapatkan informasi bebas sebelum mereka menginjak usia setara dengan kelas II SMP. Hal ini menguatkan indikasi bahwa para pelopor tehnology informasi modern mengetahui betapa buruk berbagai pengaruh alat komunikasi jika dikenalkan pada usia yang tidak tepat.

Bagaimana jika sudah terlanjur? Ya kita harus mengupayakan untuk menghentikannya bunda. Walapun secara bertahap. Karena banyak penelitian yang menyatakan bahwa alat telekomunikasi dengan segala fasilitas yang menarik yang ditawarkan sangat berpotensi menciptakan ketergantungan kepada penggunanya. Jadi sangat tidak bijak jika seorang ibu memberikan kesempatan kepada anak-anaknya yang masih belum dewasa leluasa menggunakan alat telekomunikasi tanpa pengawasan dan pendampingan yang ketat.  Adapun tentang pola asuh yang baik adalah tentu yang seimbang dalam segala subyek asuhan yang akan diberikan dan selalu mengaitkan dengan pembinaan keimanan dan keyaqwaannya kepada Allah subhanahu wa ta'alaa.

Pertanyaan HA 03
1. Bunda kalo menurut bunda gimana ya. Sikap yang diambil harus bagaimana ini ada lansia, seorang ibu yang sudah tidak bisa apa-apa dulu dia bekerja sebagai IRT sekarang udah lansia dipulangkan tapi dititipkan dirumah ibuku, beliau tidak ada ikatan keluarga dengan kami hanya tetangga karna anaknya tidak mau merawat, sekarang dirumah ibuku. Makan minum kalo tidak diambilkan tidak bisa minum dan makan sendiri, apapun dikerjakan sambil baring. Pup pipis (pake pampers) tapi sikapnya kadang bikin emosi tidak mau anteng ditempat yang disediakan, dikasur dia turun, ditaruh tiker dia muter-muter dilantai sampai badannya kotor karena kena debu makan disuapin dilepeh. Tiap hari ada aja yang diomong tidak bisa diem, anaknya juga ikut ngerawat tapi langkah bijak yang bagaimana ya biar emosi kita tidak meledak ketika melihat dan mendengar tingkahnya tiap hari kaya gitu. Jujur saya sering emosi ketika dengan bahasa yang halus diomongin tetep saja, kasar malah makin jadi kadang ibuku mau istirahat tidak bisa karena berisiknya
Jawab
Bunda penanya yang dirahmati Allah. Saya lihat ini tampaknya ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian anti.
1. Jika kondisi memang benar demikian, sungguh ini adalah ujian bagi diri anti dan keluarga anti. Ini dulu yang harus dicamkan. Bahwa ini adalah ujian Allah ta'ala. Bisa jadi Allah titipkan wanita lansia yang malang itu ke diri anti untuk menguji kesabaran anti dan jika anti sabar dan lulus ujian ini maka kelak diwaktu yang akan datang Allah akan memberikan hikmah yang sangat besar kepada diri anti dan keluarga anti. Mungkin kepada anak anti kelak.Kita tidak tahu. Yang jelas jika anti bersabar in sya Allah selain pahala kelak di syurga maka rahmat kebaikan di duniapun sudah Allah siapkan.

2. Sembari menguatkan terus keihlasan hati dan kesabaran anti kepada Allah ta'alaa. Sebaiknya coba mulai mencari solusi dengan mengumpulkan keluarganya dan mendiskusikan bagaimana baiknya. Karena saya rasa anti dan kel anti juga berhak punya privasi. Jika keluarganya dilibatkan untuk mencari solusinya dengan hati yang lapang dan penuh keridhoan insyaAllah nanti juga akan ada jalan keluarnya bunda. Berdoa, Memohonlah pentunjuk dan pertolongan atas persmasalahan ini. Baarokallahu fiikum.

Pertanyaan HA 04
1. Bunda bagaimana cara kita mendekatkan anak pada ayahnya? Sebab mereka selalu bentrok jika bersama. Masalahnya saya telah pisah dengan ayahnya. Dan sekarang anak sangat membenci ayahnya. Sebab si anak tau sifat buruk ayahnya dari orang lain. Saya telah berusaha mengajak si anak mencintai ayahnya tapi anak tetap keukeuh benci ayahnya? 
Jawab
Bunda penanya yang dirahmati Allah. Kewajiban kita adalah mendidik anak untuk mengikuti fitrahnya dengan landasan iman dan taqwa. Sedangkan kewajiban anak kepada kedua orang tuanya adalah cinta, hormat dan berbakti. Naah ketika hal ini tidak dimiliki oleh anak kita - berarti pasti ada yang salah ketika kita mendidiknya. Saran saya :
  1. Ibu banyak-banyaklah istighfar. 
  2. Lakukan penyadaran kepada anak terus menerus 
  3. Sadarkan bahwa ayahnya adalah tempat dia berbakti dan nenemukan kunci syurganya. 
  4. Doakan dia agar tidak terpengaruh dari bisikan syetan kepada hatinya sehingga memecah belah hubungan antara anak dan bapak. 
  5. Bacakan bagaimana ancaman seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya.
  6. Ajari dia untuk memberi maaf kpd orang lain apalagi ini kepada ayahnya. 
  7. Bacakan terjemahan QS. Ali Imron : 133 - 136
Pertanyaan HA 09
1. Ustadzah, bagaimana cara untuk pengenalan cinta kepada Allah, Rasul, Alqur'an & orang tua di usia batita (yang memang anak belum terlalu fasih berbicara atau diajak bicara 2 arah)? Metodenya seperti apa? 
Jawab
Pengenalan cinta kelada Allah dan Rasulullah saw adalah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan oleh pendidik, dalam hal ini seorang ibu kepada anaknya. Cara pengenalan ini tentu tidak bisa disamakan caranya. Semua harus disesuaikan dengan level usia, situasi dan kondisi. Sehingga apa yang ingin kita sampaikan benar-benar bisa sampai kepada anak kita. Untuk anak level paling dini yakni usia batita mungkin kita perlu tehnik dan keterampilan yang khusus ya bunda. Mungkin bunda bisa lakukan dengan cara membacakan sebuah buku bacaan cerita pendek yang isinya tentang shiroh nabawi atau tentang shiroh sahabat. Yang didalamnya ada kalimat-kalimat yang menyebut nama Allah, Nabi Muhammad. Bacakan setiap sebelum tidurnya. Dan lakukan berulang-ulang dengan membacakan buku yang sama (jangan berganti-ganti ya bun). Selain itu sering-masing perdengarkan Murrottal, dan bunda sendiri juga harus istiqomah dalam melakukan dzikir dan tilawatil Qur'an sehingga yang terekam anak adalah aktivitas-aktivitas ketaatan sehingga in sya Allah akan menjadi modal yang sangat berarti ketika si anak sudah mulai tumbuh dan mengalami perkembangan pemahamannya. Setidaknya sudah banyak memory yang tersimpan tentang Allah, nabi Muhammad dll.

Pertanyaan HA 10 & 07
1. Anak saya 2 tahun 8 bulan di penitipannya karena memang fokusnya ke penitipan jadi belum banyak hal yang diajarkan untuk anak-anak, tapi anak saya justru menangkap kebiasaan teman-teman atau gurunya dan kebetulan yang diceritakan atau diadopsi ke rumah itu hal-hal negatif, contohnya tiba-tiba nyanyi 'sakitnya tuh di sini', terus sikap ga mau berteman dan ngambek, terus kata-kata 'masalah buat lo'. Meskipun di rumah langsung kami ajarkan atau kami luruskan pemahaman yang kurang pas, mengajak hafalan surat pendek, membacakan buku, dll. Yang kami khawatirkan bagaimana sikap kami untuk mengatasi sikap-sikap negatif dari lingkungan atau teman dan treatment apakah yang dibutuhkan untuk anak kami?
2. Ustadzah, baca kajiannya bikin saya nangis, sebagai anak terhadap ibu saya  jauh dari kata sempurna, pun sebagai ibu dari anak-anak saya. Saya agak 'keras' dalam membatasi pergaulan anak-anak dari lingkungan rumah, karena melihat banyak hal yang kurang pas dengan cara saya mendidik anak-anak terutama berkaitan dengan sopan santun, sehingga boleh dibilang anak saya jarang sekali saya kasih ijin main diluar rumah kecuali saya dampingi, salahkah cara saya yang menjaga jarak anak-anak dari lingkungan
Jawab 
Bunda penanya yang dirahmati Allah. Seorang manusia itu diciptakan Allah ta'alaa dalam keadaan memiliki kebutuhan dengan sesamanya. Inilah yang dinamakan sebagai fungsi sosial. Tidak terkecuali anak-anak kita bunda. Mereka punya kebutuhan untuk berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya. Punya teman sebaya dan mengekspresikan kebutuhannya sebagai makhluk sosial, walaupun hanya sekedar dalam bentuk aktivitas bermain. Sehingga kurang bijaksana jika kita melarang anak-anak kita untuk bersosialisasi dengan lingkungan dan terutama teman sebayanya tanpa alasan yang tepat. Sebaiknya kita sebagai orangtua berusaha menanamkan fondasi iman dan ketaqwaan yang kuat sehingga kedua hal vital tersebut mampu membentuk  kepribadian anak kita. Sehingga ketika dia berada di lingkungan yang kurang baik maka dia memiliki daya tahan dan kemampuan untuk menempatkan pada posisi yang aman dan tepat. Demikian juga ketika berada pada lingkungan yang baik maka dia sudah memiliki semacam sistem penyerap sehingga mampu merespond dengan baik dan mengambil nilai-nilainya untuk diterapkan pada dirinya.

Jadi saya rasa tak perlu kita over protect bunda tetapi jadikan anak kita imun. Ini penting! Kita harus berfikir juga bahwa  anak-anak kita kelak juga akan menjadi manusia dewasa seperti kita. Mereka juga akan terjun di masyarakat bukan? Nah jika mereka tidak punya ketrampilan dan keluwesan dalam bergaul dimasyarakat maka tentu dia akan sulit untuk ditrima oleh masyarakat dimana dia berada. Memberi pendidikan ketrampilan dalam bersosialisasi / bermasyarakat adalah bagian dari hak anak-anak. Seorang ibu sebaiknya tidak terlalu apriori (ketakutan) dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Ada pengalaman pribadi kami yang mungkin bisa menjadi inspirasi bunda.

Anak saya yang bernama Ibrahim Muhammad, saat ini usianya 8 tahun. Sejak usia 5,5 tahun saya sudah biasakan dia berjalan menuju ke Masjid sendirian untuk melaksanakan sholat subuh dan juga sholat wajib waktu yang lain. Awalnya saya hanya nemantau dari jauh selanjutnya dia selalu berangkat sendiri (karena kebetulan ayahnya tugas di luar negeri). Yang saya lakukan setiap melepas keberangkatannya hanya menatap ke langit dan berdoa kepada Allah agar Dia muliakan ananda dan banyak doa-doa utama yang saya panjatkan untuknya mengiringi kepergiannya. Selama beberapa tahun ini saya perhatikan apa kira-kira hikmah yang bisa kami rasakan? Subhanallah! Banyak sekali ternyata keajaiban waktu Subuh itu. Diantaranya adalah ketika setiap adzan terdengar maka dalam keadaan apa pun ketika sedang asyik bermain dengan teman-temannya baik didalam maupun diluar rumah dia tidak malu-malu minta izin kepada teman-temannya itu untuk sekedar pamit kepada saya akan berangkat ke Masjid, menunaikan Sholat. Alhamdulillah wa lillaahilhamd. Dia juga pintar memilih teman, mana yang baik dan manfaat dan mana yang akan membawa pengaruh buruk bagi dirinya. 

Bagaimana kecerdasan dalam menyeleksi ini bisa terjadi bunda? tentu pertama hal ini kami terima dengan penuh kesyukuran dan meyakini sepenuhnya bahwa ini semua sebagai karunia dari Allah semata. Akan tetapi kita tentu bisa menganalisa bunda, apa kiranya sebuah rahmat Allah anugrahkan ( Allah turunkan ). Ada suatu hal tentu yang harus dilakukan yang akan menjadi penyebabnya, yakni adanya niat, amal dan doa! Tiga serangkai yang tak boleh terpisahkan. Dan penentu kesuksesan tertingginya ada pada istiqomahnya. Bangunlah dengan sekuat tenaga ketaatan itu untuk diri kita sendiri dan juga kita ajarkan sedini mungkin kepada anak-anak kita, bagaimanapun beratnya perjuangan itu...! Ibu bisa bayangkan anak usia itu yang sangat aktif, harus bangun pagi (sebelum subuh) kemudian dia berjalan / bersepeda di gelapnya waktu subuh.  Untuk mendatangi Masjid. Saya berharap dia setiap hari melihat dan bersama-sama orang-orang sholih yang sedang berjama'ah subuh. Melihat bagaimana ciri-ciri dan kebiasaan orang-orang yang beriman dan tanpa dia sadari akan menjadi semacam sistem filter bagi dirinya untuk berkaca dan melakukan seleksi dari berbagai bentuk pergaulan yang mendatanginya kelak.
Walaupun kadang  dia harus dibangunkan seorang bapak-bapak jama'ah sebelahnya karena dia sempat tertidur ketika sujud.

Naaah ini proses bundaa. Lakukan upaya yang terbaik untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita. Jangan kasihan tidak pada tempatnya. Artinya kadang kita kasihan melihat anak kita tampak berat melakukan, padahal itu hanya awalnya saja bunda. Jika dia sudah terbiasa maka dia akan ringan melakukannya. Dan kelak akan merasakan manfaatnya. Demikian jawaban yang bisa saya sampaikan atas pertanyaan diatas. Semoga dengannya banyak yang dapat diambil pelajarannya. Waallahu a'laam bishowwab.

Pertanyaan HA 11
1. Assalammualaikum, bagaimana caranya untuk menjauhkan gadget dri anak, sedangkan kita ngaji online pake gadget?
Jawab
Kalo saya :
1. Harus bersikap tegas. 
2. Beri pengertian kepada anak. 
3. Beri contoh kepada anak ; bahwa ibunya konsisten.
4. Tetapkan aturan. 
5. Usahakan tilawah menggunakan mushaf karena keutamaannya tentu jauh berbeda jika dengan gadget walaupun tidak dilarang. Waallahu a'laam bishowwab

Pertanyaan HA 13
1. Ustadzah anak saya usia 14 tahun, hasil psikotes dia termasuk ekstrovert. Tapi kok dikit sekali ngombrolnya sama saya ya?  Bagaimana cara menggali cerewetnya? Terimakasih
Jawab
Cari kesempatan berduaan dan lemparkan topik-topik yang membuat dia nyaman dan mau berbicara. Kemudian puji dia dengan sikapnya. Setelah itu ajak bikin diskusi dan kesepakatan bagaimana anti berdua bisa memulai menjalin keakraban. Karena hal tersebut adalah kebahagian anti. Dengan begitu in sya Allah semoga bisa cair dan saling membahagiakan.

Pertanyaan HA 14
1. Bunda, anak saya laki-laki umur 16 th, Alhamdulillah selama ini kami dekat dan dia cukup terbuka dengan saya. Tapi kalau ada perlu sama ayahnya harus melalui bundanya. Misal minta uang jajan lbh atau ada keperluan di sklhnya bilangnya sama bundanya dan harus bundanya yang menyampaikan ke ayah. Padahal tidak ada kendala hubungan dia dengan ayahnya. Bagaimana mendorong dia agar lebih terbuka sama ayahnya? Hhhmm itu hanya karena kebiasaan yang sudah biasa dekat dengan ibunya saja. Tetapi ini juga perlu menjadi perhatian ya agar dia bisa menjadi laki-laki dewasa yang berani ketika memang harus melakukan sesuatu. Ayahnya saja coba ibu minta untuk mulai berkomunikasi lebih dekat dengannya.
Jawab
Hmm..itu hanya karena kebiasaan yang sudah dekat dengan ibunya saja. Tetapi ini juga perlu menjadi perhatian ya agar dia bisa menjadi laki-laki dewasa yang berani ketika memang harus melakukan sesuatu. Ayahnya saja coba ibu minta untuk mulai berkomunikasi lebih dekat dengannya. 

31 DESEMBER 2014


Pertanyaan HA M9
1. Assalamu'alaikum ustadzah. Ana memiliki tiga jagoan usia 14,9 dan 5 th. Sifat dan karakter nya sangat jauh berbeda. Si sulung cendrung tertutup sehingga ana harus memancing terus agar si anak bercerita. Berbeda dengan dua adek-adeknya. Saya wanita bekerja dari jam 7-16 ustadzah. Quality time saya itu dari jam 16-21 dan memang saya usahakan tidak di selingi oleh kegiatan lain kecuali "melayani" mereka. Tidak seperti anak perempuan. Anak laki-laki agak "ego" untuk menyatakan cintanya kepada saya. Setiap saya ke sekolah mereka, anak-anak terutama sulung tidak seperti anak perempuan yang datang menghampiri bundanya terus menggelayut manja. Kalo si nomor dua dan nomor tiga masih "happy" dan bangga kalo saya datang. Yang ingin saya tanyakan ustadzah, apakah rasa cuek nya itu bentuk dari ketidak peduliannya terhadap saya atau memang masa tumbuh kembang nya seperti itu? Klo boleh tau saya ingin ada sedikit penjelasan tentang tahap perkembangan sifat anak-anak dan remaja termasuk mengantisipasi ketika mereka mulai lebih mengutamakan teman dari orang tua nya..
Jawab
Tugas orangtua yang utama adalah :

  1. Menjaga fitrah anak agar menjadi hamba yang Robbani, yang mengenal Allah sebagai Robb nya. Dan taat kepadaNya.
  2. Menjaga fitrah yang kedua yakni berbakti kepada kedua orangtuanya.

Kita sedikit bahas tentang bagaimana  mendidik anak berbakti kepada diri kita selaku orangtuanya. Bunda, Anak itu ketika masih kecil biasanya dekat dengan kita dan sangat mudak kita atur. Namun pada sebagian kasus mengapa yah ada yang si anak yang tadinya sangat manis dan hangat menjadi sangat tertutup ataupun menjauh dan apatis, cuek tak perduli dengan orangtua. Kondisi seperti ini harusnya segera kita deteksi dari awal bunda agar tidak berlarut. Saya cendurung menilai ini sebuah hal yang kurang wajar jika terjadi fenomena seperti ini kepada anak kita. Mengapa? Karena berarti penjagaan kita sebagai orang tua kurang mekekat dan intensive.

Bunda.. Sebaiknya kita menyadari bahwa anak kita itu jika masih berada pada usia sekolah dasar terutama klas 1 - 4 SD mungkin masih sangat dekat dengan kita ibundanya. Tetapi jika mereka kelas 5 SD ke atas yakni SMP dan SMA maka situasi akan sangat berbeda. Lingkungan mereka sudah terbuka, pola pikir mereka berkembang dan sangat berpotensi untuk terpengaruh lingkungannya, sehingga pada usia ini sangat agressive menyerap segala apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Naaah jika pada usia ini kita orangtua tidak sukses membangun fondasi pada usia kecilnya, maka kondisi yang ekstrim sangat mungkin terjadi pada anak ini. Terkait dengan pertanyaan bunda diatas. Saran saya lakukan pendekatan yang baik, yang cerdas dan menyenangkannya. Sampai terdeteksi apa kira2 yang terjadi padanya. Karena harusnya dia tidak bersikap seperti itu. Jika kejadian ini berlarut dan semakin parah segera lalukan investigasi atau pengamatan yang intensive dari seluruh aktivitas dia bunda harus tahu persis apa kira-kira yang membuatnya berubah. Jangan lupa berdoa. Mohon ampunlah kepada Allah dan mintalah tolong kepadaNya agar bisa menyelamatkan anak-anak ini agar kembali hangat dengan keluarga. Jangan sampai keasyikannya di lingkungan luar keluarga lebih dia sukai daripada di keluarganya. Dan terutama bagaimana dia pandai berbakti kepada kedua orangtuanya.

2. Kalo kita merasa punya kesalahan kepada orang tua yang sudah meninggal, selain shalat taubatan nasuha apalagikah amalan.yang harus dikerjakan?
Jawab
  • Doakan mereka. 
  • Shodaqoh atas nama mereka.
  • Mensilaturahimi saudara-saudara mereka dan sahabat-sahabat mereka ketika mereka masih hidup. 
  • Tingkatkan ibadah anti kepada Allah baik dari kwalitas maupun kwantitasnya. Bermamal sholih yang banyak. Karena sesungguhnya kesholihan seorang anak itu kedua orang tuanya yang sudah meninggal akan dikirim pahalanya. 
Waallahu a'laam bishowwab

Pertanyaan HA M10

1. Jazakillah khoir Bunda Endira. Afwan bunda... sebagian ibu sudah berusaha adil (sesuai kebutuhan) terhadap anak-anaknya, tapi tetap saja ada anak yang merasa ibunya ini tidak adil dan merasa ibunya lebih sayang kepada saudaranya yang lain. Bagaimana caranya agar tidak ada perasaan tersebut di antara anak-anak kita? Dan adakah doa yang dicontohkan Rosululloh untuk itu? Syukron Jazakillah khoir bunda 
Jawab
Beri anak-anak waktu untuk berduaan dengan bunda untuk sekedar berbincang-bincang dan membangun kedekatan. Anak jika merasakan hal seperti itu bisa jadi itu benar. Tetapi sebaiknya orangtua segera menetralisirnya.


Pertanyaan HA M11
1. Assalamu'alaykum ustadzah. Bagaimana kita mengkomunikasikan dengan orang tua/mertua tentang perbedaan pola asuh? jazakillah
Jawab
Sampaikan kepada orangtua kita bagaimana pendidikan yang diajarkan Rasulullah saw dan sampaikan bahwa anti ingin menerapkannya. Ajak orangtua untuk terlibat didalam strategi pendidikan ini.


Pertanyaan HA M12

1. Kenapa yaa, mendidik anak yang masih kecil lebih mudah dibanding dia sudah dewasa? kalau masih kecilkan dia masih nurut dengan kita,  tapi ketika sudah dewasa dia agak susah untuk di kasih tau um? walaupun sudah berusaha kita ajarkan yang baik baik dirumah, dari kecil sudah mengaji dan kita didik dengan yang baik-naik, apa karena dia sudah besar dan sudah sibuk bekerja, jadi mungkin sudah asyik dengan dirinya sendiri ya um? Bagaimana cara agar mendidik anak agar untuk curhatan pertama tetapi kepada kita dan cara mempertahankan hal tersebut ust?
Jawab
Jawaban sudah sama dengan jawaban pada pertanyaan no awal-awal



2. Assalamu'alaikum wrwb., Ustadzah, dalam mendidik anak, saya menerapkan sistem tarik ulur. Dalam keseharian kami masih membolehkan anak-anak dan temen-temen kadang dengan sepupunya pergi ke bioskop dengan pendampingan kami. Demikian juga saat ulang tahun, saya membuatkan sendiri tart yang diinginkan anak-anak. Saya tau ini tidak ada d dalam Islam (merayakan ultah). Tapi saya khawatir di luar sana, temen-temen cowok sekolahnya justru memberikan kado, bunga, tart di saat anak saya ultah. Jadi saya buatlah yang istimewa, sehingga apabila ada teman cowok yang memberikan kado etc, anak saya sudah gak merasa istimewa lagi karena di rumah kami sudah memberikan yang lebih istimewa untuk anak kami, ini salah satu cara agar anak merasa lebih dekat dengan kami. Mohon koreksi Ustadzah tentang hal tersebut. Serta bagaimana caranya agar anak tidak terpengaruh lingkungan di luar rumah yang kurang baik, walau di rumah sudah dididik dengan baik?
Jawab
Bunda yang dirahmati Allah... 
Beginilah cara dan kondisi yang saya ingin koreksi pada kebiasaan orangtua dalam mendidik anak. Kita bersikap moderat, toleran dan sedikit melakukan upaya modifikasi pada cara dan sistem mendidiknya untuk memasuki gerbang islami. Jujur saja saya kurang sependapat dengan cara-cara seperti ini karena kita tahu bunda kondisi zaman saat ini sangat berbeda dengan kondisi kita saat kecil dulu. Ini yang harus kita sadari. Dan fahami bagaimana pengaruhnya kepada pertumbuhan arah pola pikir anak kita. Perkembangan IT dan masukkan nilai-nilai globalisasi serta misi-misi pelenyapan nilai dan syiar-syiar Islam di negera kita ini sangat dahsyad bunda. Ketika anak kita keluar rumah dan jauh dari pengawasan kita tentu kita tidak akan bisa kendalikan mereka.


Inilah perlunya pembentukan karakter islami yang kokoh sehingga anak sudah memiliki sistem filter dalam dirinya, dan bisa membawa ketaqwaannya dimanapun dia sedang berada.  Sedangkan pembentukan karakter ini tidak bisa jika kita tangani dengan setengah-setengah atau sambi lalu alias ala kadarnya. Perlu kesungguhan, strategi, disiplin, dasar pijakan yang kuat dan ketegasan. Saya perhatikan jika orangtua menerapkan cara didik yang moderat seperti yang digambarkan diatas maka hal ini akan masih sangat jauh dari hasil yang sempurna pencapainnya. Katena intinya bukan di terompetnya atau kue tartnya bunda. Tetapi bagamana kita bisa meluruskan aqidah mereka. Saran saya sebaiknya rubah cara dan pola didik yang moderat seperti itu karena Allah dalam urusan Agama mengajarkan agar kita tegas dalam nenerapkan kepada siapa kita wala' ( loyal ) dan kepada siapa kita harus barra' berlepas diri. Tentu penanaman loyalitas dan kecintaam anak kepada Agamanya haris dikokohkan jangan justru anak dibuat bingung dan bodoh karena tidak mampu membaca mana aqidah dan mana tasyabuh

3. Bagaimana membangun komunikasi dengan putri kita yang kebetulan punya kesukaan, karakter, sifat yang sama? Jadi sering 'benturan'..
Jawab
Ajak kembali untuk sama-sama mempelajari Agama sehingga punya rasa takut dan tunduk kepada Allah. Karena dalam islam setiap kedudukan dari sebuah keluarga semua memiliki keutamaan masing-masing dan Agama sudah mengaturnya. Sedangkan bagi anak maka kedudukan seorang ibu itu lebih utama 3 kali lipat dibanding ayahnya, lha apa lagi dari dirinya ya? Yang jelas lunakkan hatinya dengan ihtiar mengajaknya kembali pada Agama dan ibunya selain introspeksi diri, banyak istighfar dan doakan dia.

Pertanyaan HA M13

1. Tanya ustadzah, seandainya kita sudah menanyakan alasan cinta/sayang anak kepada kita, lalu langkah apa yan harus kita lakukan? dan Apakah normal jika seorang ibu merasa rindu/kesepian ketika anaknya sudah mulai sekolah? Takut jadi ibu dengan rasa memiliki anak terlalu besar ustadz. Jazakillah ustazdah
Jawab
Apa yang bunda rasakan juga saya rasakan dan juga mungkin sebagian besar dari ibunda yang lain juga merasakan hal yang serupa.

Pertama : Pada saat-saat kedekatan saya dengan anak-anak kita sering saya menanyakan (walaupun dalam bentuk pertanyaan yang sifatnya hanya penguatan keyakinan bukan karena kita tidak tahu jawabanya yaSaya tanyakan ; misal : "sebenernua tuh adik tuh sayang gak siiih sama mama ?" (ntar dia kan dia pasti jawab ; "sayaaang ") Naaah lanjutkan pertanyaan : " sampai kapan niih kangenya ?" (mungkin dia akan jawab ; sampai ini dan itu). Baru kita masukkan pemahaman. Bahwa kita harus saling menyayangi sampai kelak di akhirat  dll. Maka masukkanlah konsep-konsep tentang visi, misi dan tujuan hidup kita. Selanjutnya arahkan agar anak-anak memahami visi keluarga sejak dini nya. Kalau mereka sudah sepakat maka ajak diskusi bagamana cara mencapainya?  Tentu begini dan begitu - mulai ajak untuk terbiasa me diskusikan ilmu-ilmu agama karena hanyak berbekal ilmu agama dan ajak untuk konsisten dan bahu membahu saling menolong dan mengingatkan dalam membangun ketaatan dan kesholihan keluarga. Hal seperti diatas harus dilakukan sedini mungkin. Jangan tunggu mereka besar. Biasakan berkumpul dengan keluarga untuk membiacarakan amal sholih dan ilmu Agama sebagai bahan diskusi yang hangat dan in sya Allah akan sangat bermanfaat.

Banyak istighfar
Banyak mohon ampun kepada Allah
Banyak belajar Islam
Banyak amal sholih
Banyak bersedekah
Banyak minta maaf dan ridho orang tua kita
Banyak puasa sunnah, sholat Tahajud dan Doa

Pertanyaan HA M14

1. Pola asuh yang sangat berharga ketika umur 0-14 th. Pertanyaan bagaimana jika setelah sd kemudian anak belajar dipesantren. Bagaimana membangun kedekatan sedangkan berkumpul saja 6 bulan sekali.
Jawab
Sebaiknya untuk anak anak yang dipesantrenkan tetap diberi perhatian baik saat-saat bersua maupun saat berjauhanya. Ketika berjauhan selalu doakan dan mintakan perlindungan kepada Allah agar Dia selalu menjaganya. Juga lakukan penguatan ibadah diri kita agar apa yang kita ihtiarkan terkait dengan perjuangan anak kita yang dipesantren dimudahkan oleh Allah ta'alaa. Seperti puasa sunnah senin kamis, sholat sunnah, sedekah dll.

Pertanyaan HA M15

1. Assalamualaikum, saya dari HA 30.. Alhamdulilah, walopun basic keluarga saya tidak islami tapi saya berusaha mendidik anak dengan cara yang islami, mencintai agama dan keluarga. Yang mau saya tanyakan, bagaimana menghindari pergaulan dengan saudara seperti ponakan sepupu bahkan sama eyangnya sendiri yang selalu memberi pengaruh yang agak bertentangan dengan agama. Contoh anak saya dibelikan terompet, kembang api untuk tahun baru padahal saya ingin anak saya tidak ikut-ikuan . Afwan terlalu panjang dan syukron atas pencerahannya
Jawab
Inilah hal yang sulit kadang kita hadapi. Jika terjadi seperti ini bisa jadi kita belum menerapkan nilai-nilai dasar islam dengan kokoh kepada anak-anak sejak dininya. Sehingga pengaruh lingkungan bisa menerobos pola pikirnya. Jika lingkungan kondusif dengan nilai-nilai islami mungkin ini tidak masalah ya. Hanya saja jika lingkungan tidak islami maka sulit membendungnya jika diri anak sendiri tidak memiliki batasan yang jelas dan kuat menggigit kepribadiannya. Walaupun kadang anak sendiri akan mengalami sebuah kebingungan mengapa kita harus berbeda dari apa yang lazim diluar sana? Ini harus dijelaskan secara detail sampai masuk dan mendarah daging kepada anak-anak kita, hingga dia bisa tegas dalam mengambil sikap. 

Dalam suatu kasus pengalaman kami, yang semoga bisa memperjalas jawaban saya ini... 
Suatu ketika anak gadis saya waktu masih kelas 5 SD. Ceritanya diajak liburan ke Singapore bersama keluarga besar kami, sepupunya sepulang dari sana dia bercerita kepada saya bahwa ada beberapa saat yang membuat dia sangat tertekan. Ketika saya tanya apa itu ? Jawab dia, @saat kaka harus mencari waktu dan tempat untuk menjama' sholat kakak dan saat kakak harus mencari tempat duduk ketika makan atau sekedar minum."


Bunda .. Diatas adalah sebuah gambaran yang ingin saya bagi, bagaimana sebaiknya kita menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak kita, usahakan agar sampai dia merasa gelisah ketika dia tidak bisa taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Perhatikan bagaimana seorang anak yang belum baligh sudah sangat kuat memegang teguh nilai-nilai yang telah dia terima dari pendidikan dasarnya, sehingga dia sudah punya batasan mana yang boleh mana yang tidak. Mana-mana hak Tuhannya dan mana-mana yang dibolehkan dirinya dalam mengisi aktivitasnya dimanapun dia berada. Semoga sedikit pengalaman ini cukup bisa memberi inspirasi kepada bunda penanya dan yang lain. Dan tentu masih banyak lagi nilai-nilai yang utama yang harus kita berikan kepada anak-anak kita dari tangan-tangan kita sendiri sehingga kita tidak didahului oleh lingkungan luar mereka , pergaulan yang bisa jadi sudah banyak terkontaminasi dengan nilai-nilai modern yang jauh dari islam. Sehingga justru ketika islam masuk ke mereka, mereka akan merasa asing dan menganggap sebagai nilai-nilai yang terbelakang. Na'uszubillahi mindzalik.  
Waallahu a'laam


2. Bunda tanyaa. Kalo tontonan TV pada anak bagaimana ya? Bocil saya 14 bln, biasanya saya liatkan kartun Upin Ipin, Adit & Sopo Jarwo, Pada Zaman Dahulu, kalo masha & the bear waktu kondisi darurat (misal saya harus segera beberes ini itu ato pas saya tinggal sebentar biar dia anteng gak ngriwuhi). Kami tinggal bertiga saja di rumah (saya,abinya&bocil)
Jawab
Itu salah 1 contoh cara mendidik yang salah dan sangat berpotensi menghasilkan anak susah untuk dididik dengan cara nasihat yang langsung dari mulut kita. Dan juga sulit menerima nilai-nilai kebenaran islam.  Mengapa ?
a. Karena kita sudah membiasakan anak kita menikmati didikan yang tidak menerkukan dirinya untuk berfikir. Dengan kebiasaan nonton tv mereka sudah enjoy. Tak perlu menjawab ataupun berfikir. Ini sungguh cara yang disayangkan. Mungkin akibatnya tidak serta merta tetapi  kelak ketika pada usia sekolahnya mereka biasanya akan sulit menerima nasihat-nasihat dari orang tuanya.

b. Kita tahu bagaimana kira-kira nilai pendidikan dari suguhan tv saat ini. Penuh dengan pembodohan dan pengacauan aqidah. Sepertinya sebuah hiburan padahal sistem pembodohan yang dirancang secara sistematis oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan mental generasi. Terkadang saya lihat adanya penyusupan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Tetapi sayang banyak ibunda yang tidak menyadarinya. Kalau saya jujur saja sangat cemburu kalo anak-anak saya nonton tv karena saya tak ingin hak saya untuk didengar  dan diikuti nasihatnya direbut oleh tv ataupun orang lain. Saya nanti yang akan bertanggungjawab dihadapan Allah subhabahu wa ta'alaa. Bukan mereka.


3. Bunda ini soal terompet tahun baru, tadi malam anak saya yang ke 2 minta dibeliin terompet terus saya jawabnya kita gak usah beli terompet ya nak kata anak saya kenapa gak usah kalau gitu beli kembang api atau petasan, jawabanku tetap tidak bisa, jadi anak saya itu merajuk terus ngomong gini semua tidak boleh anak orang tuch bisa ada terompet sama kembang api jadi saya bingung bun sebagai ibu nurani seorang ibu pasti kasihan sama anak kalau udah ngomong gitu tapi disisi lain saya ingin anak saya tidak mengikuti tradisi yang bukan tradisi agama kita, cuma anak-anak sekarang kita kasih tau tentang hal pertayaan diluar idul fitri dan idul adha mereka belum bisa faham meskipun sudah berulang kali saya terangkan ke anak saya, syukron bunda
Jawab
Ya itu berarti kita sudah kalah setengah dengan pendidikan luar. Anak kita lebih mudah menerima nilai-nilai diluar islam daripada nilai-nilai islam. Apa yang terjadi ini? Kalo masalah pemahaman bukankan jika dia bisa menerima nilai diluar islam harusnya secara naluri dia lebih mudah menerima nilai-nilai islam bukan? Artinya bisa jadi ada sebuah sistem yang salah kita terapkan selama ini. Apa kira-kira itu? Mudahnya kita mempersilahkan masuk arus informasi kedalam rumah kita. Melalui apa kira-kira? Tentu banyak, seperti Televisi , Komputer - internet , Games dll. Segera perbaiki sistem. Diskusikan dengan imam keluarga antum sebelum semua ini bertambah buruk. Sebelum pergaulan teman-temannya menjadi pilihan terbaik menurutnya. Na'usdzubillahi mindzalik.

Bunda ..Memang tidak mudah mendidik anak dijaman sekarang! Tetapi dengan bekal ilmu dan amal sholih serta doa yang kuat in sya Allah anak-anak kita bisa kita selamatkan. Aamiin

Pertanyaan HA M16

1. Sebagai orang tua yang jauh dari anak bagaimana cara kita mendidik aqidah dan akhlaq anak dari jarak jauh selama ini hanya bisa memotivasi lewat suara tanpa bisa memberikan contoh secara langsung?
Jawab
Kasih sayang orang tua kepada anak adalah sebuah ibadah kepada Allah jika kasih sayang itu diarahkan dalam rangka mendidik anak untuk menjadi hamba yang taat kepadaNya. Jika kasih sayang kepada anak itu tidak merujuk pada niat dan tujuan seperti diatas maka orangtua itu siap-siap saja menuai anak yang jauh dari agama dan tidak taat kepada dirinya. Ini adalah musibah besar tentunya yang harus kita sadari dan kita waspadai. Oleh karena itu orangtua harus pandai-pandai menyiapkan strategi dan skebario bagaimana mendidik anak-anaknya dan memberikan kasih sayang yang benar.


Memenuhi segala yang diminta anak belum tentu kita sebagai orang tua telah memberikan kasih sayang kepada anaknya. Tetapi memberikan kasih sayang yang mendidik adalah kwajiban bagi orang tua. Dan jika mendidikpun hanya berorientasi pada untuk bekal kehidupan mereka di dunia maka ini adalah didikan yang justru akan menjerumuskan anak pada kebinasaan nantinya. Kecuali sudah mendahului dengan didikan Agama. Mengenalkan Allah kepada dirinya. Mengenalkan sosok Nabi Muhamad Shlallahu 'alaihi wassalam sebagai contoh terbaik bagi dirinya yang layak untuk ditaati dan diikuti dan dicintainya. Mengajarkan pula bagaimana menjalankan hak-hak Nabi saw yang harus dipenuhinya. Lantas tadi pertanyaan nya jika anak sudah terlanjur besar dan jauh? Tetap berusaha sekuat tenaga untuk mendidiknya agar dimanapun tetap menjaga Agamanya. Jika mereka suskes dengan pendidikan dan karirnya ini bukanlah jaminan keselamatan mereka kelak di akhirat. Jika mereka jauh dari agama dan tidak mejalankan teqwaan kepada Allah dan memahami serta mengamalkan Al Qur'an maka betapa ruginya kondisi seperti ini jika tidak segera diperbaiki. Orangtua perbanyaklah istighfar karena bisa jadi banyak kelalaian kita dalam mendidiknya ketika mereka masih kecil.

Waallahu a'laam bishowwab.

2. Assalamuallaikum warahmatullahi wabaraqatuh...

Saya baru Menikah 5 bulan dan belum hamil. (#minta.do'a. Ustzh) umi saya selalu mewanti-wanti nanti kalo punya anak ga bole lalai ngurusnya, soalnya nanti ada pertanggungjawabannya sama Allah. Kondisi ini kontras banget dengan apa yang saya dapati di lingkungan kerja saya, mereka para ibu bekerja, anak-anak mereka ada yang di titip, Bahkan ada yang di tinggal di kampung (rantau). Yang menjadi pertanyaan saya bagaimana pertanggungjawabannya ya?
Jawab
Kelak di akhirat manusia yang pernah memiliki anak akan dimintai pertanggunjawaban atas anak-anaknya. Bukan guru mereka. Bukan neneknya. Apalagi para pembantunya.. Lalu bagaimana bisa kita menyerahkan pendidikan anak-anak kita kepada mereka sementara kitalah yang menerimah amanah menjadi madrasah yang utama bagi anak-anak kita ?


Penutup
Do'a kafaratul majelis: 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum...