Ketik Materi yang anda cari !!

Sirah Nabawiyah

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, December 9, 2014

Rekap materi Hamba الله nanda 118
Hari, tanggal: Selasa, 9 Desember 2014
Narasumber: Ust Hepi Andi Bastoni
Tema: Sirah Nabawiyah
Notulen: ka arin
Editor : Ira Wahyudiyanti

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya kirim ttg tema sirah nabawiyah.
Masih mukaddimah...
1. Bagaimanakah awal penulisan sirah?
Jawab:
Berbeda dengan al-Qur’an yang sejak awal memang sudah ditulis, maka hadits dan sirah belum terdokumentasi. Saat itu kaum Muslimin hanya mengenal hadits dan sirah dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabat Nabi saw dan tabiin.

Secara umum belum ada yang berinisiatif mengumpulkan hadits. Hal ini bisa dipahami karena terdapat hadits yang memang menegaskan pelarangan itu. “Janganlah menulis sesuatu pun dariku selain al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain al-Qur’an hendaklah ia menghapusnya,” (HR Muslim). Hikmah pelarang itu amat jelas, agar tidak tercampur antara al-Qur’an dan hadits pada masa awal turunnya wahyu.

Demikianlah kondisinya hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Abdus Salam Harun dalam Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibni Hisyam mengisahkan, Umar bin Abdul Aziz sempat shalat istikharah selama 40 hari sebelum memerintahkan untuk mengumpulkan hadits Nabi. Akhirnya, Allah membukakan pintu hatinya. Umar meminta Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Hazm untuk menyalin hadits. Saat itu, ulama yang wafat pada 120 H ini sedang menjabat Qadhi dan Walikota Madinah. Umar bin Abdul Aziz juga meminta Muhammad bin Muslim az-Zuhri, guru Imam Malik untuk menyalin hadits Rasulullah saw.

Setelah itu kaum Muslimin berbondong-bondong menyalin hadits. Mereka membuatnya dalam berbagai format. Ada yang menulis kitab khusus dalam bab tertentu. Di antara mereka ada yang mulai menulis khusus tentang sejarah hidup Rasulullah saw. Pada masa tabiin ini beberapa ulama mulai menulis buku sirah. Di antara mereka terdapat Urwah bin Zubair bin Awwam (wafat 93 H), Aban bin Utsman bin Affan (wafat 105 H), Wahab bin Munabbih (wafat 110 H), Syuhrabil bin Saad (wafat 123 H), Ibnu Syihab az-Zuhri (wafat 124 H) dan Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm (wafat 135 H).

Namun sangat disayangkan sirah nabawiyah yang mereka tulis itu lenyap tak terdokumentasi. Tak ada yang tersisa kecuali beberapa bagian yang sempat diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari. Beberapa bagian kitab yang ditulis oleh Wahab bin Munabbih masih tersimpan di Kota Heidelburg Jerman. 1

Setelah itu muncul generasi penulis sirah berikutnya seperti Ma’mar bin Rasyid (wafat 150 H), Muhammad bin Ishaq (wafat 151 H) dan Ziyad bin Abdullah al-Bakkai (wafat 183 H).

Para ulama sepakat, apa yang ditulis Ibnu Ishaq adalah data yang paling terpercaya tentang sirah Nabawiyah. Ibnu Ishaq menulis buku sirah itu pada masa awal pemerintahan Bani Abbasiyah. Kala itu ia diminta oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur untuk menulis buku sejarah mulai dari manusia diciptakan hingga hari itu. Ibnu Ishaq pun melakukan permintaan sang Khalifah. Setelah selesai Khalifah al-Manshur berkata, “Buku ini terlalu panjang.” Dan, buku besar itu pun disimpan dalam arsip sang Khalifah. Namun sangat disayangkan bukunya yang berjudul al-Maghazi itu hilang musnah.

Namun patut disyukuri, Abu Muhammad Abdul Malik yang terkenal dengan Ibnu Hisyam sempat meriwayatkan sebagian besar karya Ibnu Ishaq. Periwayatannya itu dikumpulkan dalam karyanya yang kita kenal sekarang dengan Sirah Ibnu Hisyam. Karenanya tak heran kalau dalam buku Sirah Ibnu Hisyam ini selalu terdapat kalimat, “Ibnu Ishaq berkata,....”

Ibnu Khalqan berkata, “Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun sirah Rasulullah saw dari buku al-Maghazi dan as-Siyar karangan Ibnu Ishaq. Ibnu Hisyam menyempurnakan kedua buku itu dan meringkasnya. Buku itulah yang ada sekarang dan lebih terkenal dengan Sirah Ibnu Hisyam,” (Wafayatul A’yan Ibnu Khalqan).

Karena itu, para penulis sirah nyaris tak bisa menuliskan sejarah hidup Rasulullah saw jika tidak merujuk kepada buku Sirah Ibnu Hisyam ini. Lalu setelah itu lahir buku-buku sirah lainnya seperti Dalailun Nubuwah karya al-Ashfahani, asy-Syamil karya Imam Tirmidzi dan Zaadul Maad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah serta buku-buku lainnya.

Rekap Tanya Jawab

Tanya
ustadz, apa hikmah dari lenyapnya kitab2 yg ditulis ulama trdahulu itu?
dan knapa bbrapa kitab yg ditulis wahab bin munabbih tiba2 ada di jerman?
Jawab
Wahhab bin munabbih adalah penulis sirah di era tabiin. Era umar bin abdul aziz.
Bbrp karya ulama dulu banyak yg hilang, antara lain akibat serbuan tentara Mongol di pengujung pemerintahan bani abbasiyah di bagdad.
Namun ada bbrp yg bisa diselamatkan.
Pada PD 1, saat Barat menguasai sebagian wilayah Timteng, bbrp karya yg selamat, diangkut ke Eropa.
Di antaranya lembaran tulisan Wahhab bin Munabbih.
Hingga kini msh ada

Tanya:
ustadz, apakah memang hadits tsb (larangan menulis dari Rasulullah selain al-Qur'an) hanya brlaku ktika Rasulullah masih hidup saja?
Jawab
Ttg penulisan hadits, justru skrg boleh. Buktinya kita temukan banyak kitab hadits.

 Afwan...saya undur diri dulu. Sudah kelamaan di sarang akhwat...😄
  السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment