Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

SYEKH ABDULQADIR JAILANI

Kajian Online Telegram Hamba الله Ta'ala

Hari / Tanggal : Kamis,  11 Desember 2014
Narasumber  :.Ustad Ruly
Notulen : Nduk is
Editor : Ana Trienta

Kajian penting untuk hari ini, silakan disimak:
1. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Pertama: Perbedaan Amalan)

2. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Kedua: Perbedaan Rukun Islam)

3. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Ketiga: Rukun Iman)

4. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Keempat: Rukun Iman)

5. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Kelima: Rukun Iman, Qadha dn Qadar)

6. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Keenam: Penyebaran Dan Modus Operandi)

7. Bahaya Penyebaran Syiah di Negara-negara Sunni (Bagian Ketujuh: Penolakan Syiah Di Negara-Negara Islam)

By: Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni

Saya ingin kasih materi mengenal dan menyikapi kedudukan Syekh Abdulqadir Jailani.
Tentu banyak kaum muslimin yang tak asing dengna nama beliau. Ada  baiknya kita kenal lebih dalam dan bagaimana menyikapinya dengan tepat.

Beliau adalah Syekh Abdulqadir Abu Muhammad bin Abu Shaleh AbdullahAl-Jily, Al-Hambali. Dilahirkan pada tahun 470 H (1077 M) di Jailan, sebuah perkampungan sekitar 40 km sebelah selatan dari kota Baghdad. Nama daerah inilah yang dinisbatkan pada namanya sehingga dia lebih dikenal dengan sebutan Abdul Qadir Jailani. Kadang ‘Jailani’ disebut juga dengan istilah ‘Kailani’, kadang juga disebut ‘Al-Jiily’

Lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang taat beragama. Bapaknya, Abu Shalih dikenal sebagai orang yang zuhud. Masa kecil dilalui dengan gemar menuntut ilmu. Beranjak dewasa, di usia 18 tahun, pada tahun 188 H, beliau pergi ke Baghdad untuk memperdalam ilmu agama. Maka beliau menimba ilmu dari sejumlah ulama di Baghdad.

Guru yang paling berpengaruh baginya adalah Abu Sa’ad Al-Mukharimi. Darinya Syekh Abdul Qadir mendalami fiqih mazhab Hambali sehingga mengantarkannya di kemudian hari sebagai salah seorang ulama terpandang dalam mazhab Hambali. Bahkan buah dari ketekunannya dan kepadaiannya, kurang lebih 30 tahun kemudian, syekhnya; Abu Saad Al-Mukharrimi menyerahkan madrasah yang dikelolanya kepada beliau untuk melanjutkannya. Maka sejak saat itu, jadilah beliau pengajar di madrasah yang didirikan oleh gurunya.

Setelah diamanahkan melanjutkan pengajian dimadarasah yang dirintis oleh gurunya, jadilah Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai ulama terpandang di tengah masyarakat kota Baghdad. Banyak murid-murid yang berdatangan dan menuntut ilmu darinya. Di antara muridnya yang terkenal adalah Muwaffaquddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Qudamah, pengarang kitab Al-Mughni yang menjadi salah satu rujukan utama fiqih dalam mazhab Hambali.

Selain dikenal dengan kedalaman ilmunya, SyekhAbdul Qadir Jailani juga dikenal dengan kemampuannya berbicara dan memberikan nasehat yang sangat menyentuh hati. Hal itu ditambah dengan kepribadiannya yang dikenal sebagai orang yang zuhud dan tak banyak cakap. Maka wajar jika lambat laun semakin banyak orang yang menghadiri pengajiannya. Banyak orang bertaubat dan masuk Islam setelah mendengarkan pengajiannya.

Satu hal lagi yang sangat khas dari riwayat hidup Syekh Abdul Qadir Jailani adalah kisah-kisah tentang karomahnya. Ibnu Qudamah mengatakan, “Aku belum pernah mendengar orang yang banyak dikisahkan karomahnya selain beliau.” Abdul Iz bin Abdussalam, ulama dalam mazhab Syafii mengatakan, “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kami tentang karomah seseorang yang disampaikan secara mutawatir selain Syekh Abdul Qadir Jailani.” Akan tetapi, menurut Adz-Dzahaby, penyusun kitab bioghrafi para ulama; Siyar A’lam An-Nubala, “Syekh Abdul Qadir Jailani adalah orang yang paling sering diceritakan karomahnya, namun banyak di antara cerita tersebut yang tidak benar.”

Di antara kisah menarik yang dikutip oleh Azzahaby dari  Ibnu Najjar dari Abu Bakar Abdillah At-Taimi, dia mendengar Syekh Abduul Qadir Jailani berkata,
“Aku pernah mengalami masa yang sangat sulit, sehingga beberapa hari tidak makan. Sehingga aku mencari bekas-bekas makanan, itu pun sering kalah cepat dari orang miskin lainnya. Sehingga ketika merasa aku sudah tak kuat lagi, maka aku berlindung ke masjid, seakan menunggu kematian. Tak lama kemudian masuklah pemuda asing membawa roti dan daging, lalu dia mulai makan. Setiap kali dia hendak menyuap, mulutku pun terbuka. Lalu dia menoleh kepadaku dan memberikan makanannya. Aku menolak, tapi dia memaksa. Akhirnya dengan rasa menyesal aku memakannya. Lalu dia bertanya,
“Apa pekerjaanmu?”
“Sedang belajar ilmu agama?’
“Aku dari kampung Jailan. Apakah engkau kenal pemuda yang bernama Abduul Qadir yang dikenal cucu Abu Abdullah Ash-Shaumai yang zuhud itu?”
“Akulah orangnya.”
Orang itu sangat terkejut… lalu berkata,
“Demi Allah wahai saudaraku, aku tiba di Baghdad dan aku membawa ongkos dari uangku sendiri. Aku tanya kesana kemari tentang engkau, namun tidak ada seorang pun yang memberitahu. Akhirnya uangku habis, aku bertahan hingga tiga hari, tidak ada biaya makan ku kecuali dari hartamu.  Maka setelah hari keempat, aku berkata bahwa kini telah halal bangkai bagiku. Maka aku gunakan uang titipan milikmu untuk membeli roti dan daging ini. Makanlah, ini milikmu, sekarang aku yang menjadi tamumu.”
Aku bertanya, “Bagaimana ini?”
“Ibumu menitipkan uang 8 dinar kepadaku untukmu, demi Allah, aku tidak pernah khianat kepadamu hingga hari ini.”
Maka akhirnya aku sambut dia, aku tenangkan pikirannya dan aku berikan sebagian uangnya kepadanya.

Berdasarkan semua itu wajar kalau banyak murid-muridnya yang sangat mencintainya. Sebagian pada taraf berlebih-lebihan. Dari sinilah muncul beberapa sikap melampaui batas terhadap Syekh Abdul QadirJailani dalam bentuk keyakinan-keyakinan yang tidak dibenarkan oleh syariat danbeliau sendiri tidak membenarkannya. Karena beliau adalah orang yang sangat memperhatikan ketentuan syariat, khususnya dalam masalah halal dan haram.

Dikisahkan bahwa suatu hari Syekh Abdul QadirJailani suatu saat sangat kehausan. Tiba-tiba datang awan kepadanya dan menurunkan hujan gerimis, sehingga dia dapat minum dan hilang dahaganya, lalu dibalik awan itu muncul seruan: “Wahai fulan, aku adalah Tuhanmu, dan Aku telah menghalalkan bagimu segala sesuatu yang diharamkan.” Maka dia segera berucap:  “Enyahlah engkau wahai laknat!”, kemudian dengan serta merta awan itu sirna. Ketika ditanya kepadanya dari mana dia tahu bahwa itu adalah Iblis?!, beliau menjawab: “Dari ucapannya: Telah aku halalkan apa yang diharamkan.”

Di usia tuanya, Syekh Abdulkadir Jailani lebih suka menyendiri di padang pasir dan menerapkan kehidupan zuhud. Beliau hidup hingga berusia 90 tahun. Wafat tahun 561 tahun, dimakamkan di sekolahnya, di Baghdad.
Demikian kisah singkat tentang beliau...
Sumber: 
- Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi
- Karomatul Auliya’illah, Al-Laalika’i

Berikutnya, bagaimana kita menyikapi kedudukan beliau?

1. Syekh Abdulqadir Jailani adalah seorang ulama besar pada masanya. Jasanya dalam dunia keilmuan dan dakwah diakui para ulama. Sebagai seorang muslim selayaknya kita menghormatinya dan memuliakannya, sebagaimana hal tersebut kita berikan kepada para ulama  pada umumnya.

2. Betapapun kemuliiaan yang dimiliki oleh Syekh Abduqadir Jailani, beliau tetaplah manusia biasa yang tidak memiliki sifat-sifat khusus di luar kemanusiaannya. Maka tidak boleh bagi kita memberinya sifat-sifat diluar kemanusiaannya, apalagi jika diberikan kepadanyasifat-sifat ketuhanan, seperti meyakini dia mengetahui perkara gaib, atau meyakini  dia dapat mengatur nasib manusia atau alam ini, atau memohon doa kepadanya, dll. Ini adalah keyakinan syirik yang tidak boleh dimiliki seorang muslim. Jika terhadap Rasulullah saw saja yang jauh lebih mulia darinya, atau terhadap para shahabat lainnya, atau terhadap ulama yang lebih mulia darinya, hal seperti ini tidak boleh diyakini, apalagi terhadap beliau

3. Terkait dengan karomah yang beliau miliki, maka karomah adalah salah satu tanda kesalehan seseorang di hadapan Allah Ta’ala dan bahwa dia waliAllah. Namun karomah bukan syarat seseorang disebut saleh atau wali. Karena standar hal itu adalah keimanan dan istiqamah dalam ketakwaan kepada Allahselama hidupnya. Firman Allah Ta’ala,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌعَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ  .  الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُون

َ“Ingatlah, sesungguhnya wali-waliAllah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula merekabersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yunus 62-63)

4. Betapapun syekh Abdulqadir Jailani kita muliakan, dan bahwa diamemiliki karomah serta layak disebut sebagai wali Allah, namun pandangan dan perkataan yang dinisbatkan kepadanya tetap ditimbang menurut Alquran dan Sunah berdasarkan pemahaman para ulama yang terpercaya. Kalau sesuai Alquran dan Sunah berdasarkan pandangan para ulama, maka hal itu kita terima. Namun jikabertentangan, maka kita tolak tanpa mengurangi penghormatan kita kepada beliau.Dalam hal ini, semestinya kita merujuk kepada pendapat para ulama terpercaya. Perlu juga diketahui, tidak semua apa yang dinisbatkan kepada beliau atau tentang beliau, benar-benar berasal dari dirinya atau benar terjadi padanya. Boleh jadi itu adalah karangan orang lain yang dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada beliau agar orang mudah percaya, atau daripara pengikutnya yang mencintainya berlebihan, sebagaimana biasanya pengikut setia selalu menambah-nambahkan cerita terkait orang yang sangat dia kagumi. Sedangkan beliau sendiri bebas atau tidak mengetahui sejumlah keyakinan menyimpang yang dinisbatkan kepada dirinya, jika memang ada.

5. Terkait dengan apa yang dikenal sebagai “Manaqib Syekh Abdulqadir Jailani” yang sering dibaca pada moment-moment tertentu. Perlu diketahui bahwa manaqib (مناقب) dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘manqabah’ (منقبة) artinya adalah sifat terpuji atau perkaraistimewa yang dimiliki seseorang. Bolehlah disebut sebagai biografi orang-orangmulia.

Biasanya memang para ulama terkemuka dibuatkan manaqib oleh muridnyaatau siapa saja yang ingin membukukan kebaikan dan keutamaan-keutamaannya. Seperti Imam Syafii, ada kitab Manaqib Asy- Syafii yang dikarang oleh Al-Baihaqi, salah seorang ulama besar dalam mazhab Syafii, berisi tentang riwayat hidupnya dan perkataan-perkataannya. 

Maka, sedikit cuplikan yang telah kami sebutkan pada tulisan sebelumnya tentang siapa Syekh Abdulqadir Jailani, boleh dibilang sebagai manaqibnya. Memang ada anjuran agar kita suka menyebut-nyebut kebaikan orang-orang saleh serta mengenal riwayat hidupnya. Hal ini bersumber dari hadits Rasulullah saw,
“Sebutlah kebaikan-kebaikan orang yang telah wafat di antara kalian, dan tahanlah ucapan kalian dari membicarakan keburukan mereka.” (HR. Abu Daud, dll)
Meskipun hadits ini didhaifkan oleh sejumlah ulama, namun dari segi pengamalan, hal itu dianggap baik dan umum dipraktekkan. Namun tentu saja, tujuan dari hal ini adalah agar kita dapat mengambil pelajaran dan meneladaninya serta tumbuh rasa cinta kita kepadan orang-orang saleh.

Adapun membacanya sekedar dibaca untukmendapatkan barokah darinya, sebagaimana umumnya dilakukan sebagian masyarakat pada moment-moment tertentu, apalagi kadang tanpa diketahui artinya, makasetahu kami hal ini tidak diajarkan dan dianjurkan dalam Islam. Apalagi, jika nyata-nyata di dalamnya terdapat permohonan atau memanjatkan doa  kepada beliau, maka dia jelas-jelas merupakan perbuatan terlarang yang dapat merusak keimanan. Wallahu a’lam.

Sampai disini kajian yang dapat saya sampaikan....mohon maaf kalau kepanjangan atau kependekan.

PENUTUP
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa'atubu ilaika 

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Tirmidzi, Shahih).