Home » , , » TAUHID – SYAKHSIYATUL ISLAM

TAUHID – SYAKHSIYATUL ISLAM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, December 6, 2014

Kajian Online Hamba الله SWT

Rabu, 19 November 2014
Narasumber : Ustadz Cipto
Rekapan Grup Nanda 101-102 (Tari/Dewi/Emy)
Tema : Syakhsiyatul Islam
Editor : Herniza MR / Rini Ismayanti

TAUHID – SYAKHSIYATUL ISLAM

Bismillah…
Assalamu'alaykum wr.wb.

Baiklah insya Allah kita akan lanjut diskusi dan sharing tema syaksiyah islamiyyah kita. Kali ini ana coba sampaikan bahan diskusi kita dengan judul "Diterimanya Ibadah (قبول العبادة)". Pada pekan lalu kita sudah diskusi tentang hakikat dari ibadah selanjutnya kita bahas tentang diterimanya ibadah. Dalam kajian-kajian dan pembelajaran dasar keislaman kita mengetahui bahwa ibadah terbagi kedalam:
1.      Ibadah mahdoh
2.      Ibadah ghoir mahdoh
Ibadah dgn seluruh dimensinya kita laksanakan tentunya dengan harapan bahwa ibadah kita akan bernilai amal yang akan mengantarkan kita kepada ke ridhoan Allah sehingga beroleh balasan yang terbaik. Namun sering kali kita melupakan hal-hal penting yang menjadi syarat diterimanya amal tersebut. Adapun pra syarat sebelum syarat diterimanya amal adalah beriman

مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S An-Nahl : 97)

Selanjutnya setelah pra syarat utama yakni keimanan berikut kita bahas tentang 2 macam ibadah di atas dan beberapa dalil tentangnya serta syarat diterimanya ibadah tersebut:
1.      Ibadah Mahdah Atau Ibadah Khusus Atau Murni
Yakni ibadah utama dan murni yang dilakukan langsung oleh orang beriman kepada Allah SWT.
قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Q.S. Az-Zumar : 11)

وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ ۚ وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Q.S. Al-Bayyinah : 5)

2.      Ibadah ghoiru mahdoh atau ibadah umum
Yakni ibadah selain dari ibadah khusus dimana hubungannya dengan sesama makhluq Allah selain juga berhubungan dengan Allah. Adapun syarat diterimanya ibadah umum ini adalah:
a.       Bernilai amal sholeh atau kebaikan
وعن أبي العباس عبد الله بن عباس بن عبد المطلب رضي الله عنهما عن رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً  متفق عليه
Abul Abbas, Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib RA berkata bahwa Rasulullah SAW meriwayatkan dari Tuhannya SWT, “Sesungguhnya, Allah mencatat kebaikan dan keburukan.” Kemudian Allah menjelaskan, “Barangsiapa yang bermaksud mengerjakan kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia bermaksud untuk melakukan kebaikan lalu dilakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat, bahkan berlipat-lipat. Namun, jika ia bermaksud untuk melakukan kejelekan, lalu tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia bermaksud untuk mengerjakan keburukan lalu dikerjakan, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (Muttafaq ‘alaih).

  1. Mengikuti petunjuk (ittiba)
Adapun juga dalam tata pelaksanaanya harus ittiba (mengikuti ajaran) dari rasulullah SAW
Al-A'raf : 157
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِىَّ الْأُمِّىَّ الَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلٰلَ الَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.



Hadits 1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini(urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).

Hadits 2
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Selain niat yang ikhlas juga ibadah tersebut diperintahkan
Al-Hasyr : 7
مَّآ أَفَآءَ اللَّهُ عَلٰى رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ الْقُرٰى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ الْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتٰىكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Tentang diterimanya ibadah mahdah ini adalah dilandasi oleh niat yang ikhlas sebagaimana hadist
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan) tergantung niatnya). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).
Baiklah demikian bahan diskusi kita tafadol.. Kalau ada pertanyaan dapat disampaikan mohon bantuan bunda admin untuk mengumpulkan dulu


TANYA JAWAB
1.      Saya mau nanya ustadz, misalnya kita berniat membantu seseorang tanpa diketahui orang tersebut dengan niat menolong demi mendapat ridho Allah. Tapi malah orang tersebut mengira kita ini adem ayem saja seolah-olah kita tidak peduli dengan maslah yang dia hadapi malah dia mengucapkan sesuatu yang gak enak untuk didenger. Bagaimana menyikapi orang yang seperti itu? Sedangkan ada yang bilang suatu kebaikan itu tidak perlu diungkapkan? Jadinya ya sakitnya tuh disini (hati). Minta saran ya ustadz.
Jawab:
Ikhlas itu pra, saat dan pasca... Komunikasi dalam hal tersebut juga penting....jika ia datang dan meminta tolong sebaiknya sepatutnya dibantu.. Adapun menolong orang yang secara umum diketahui oanrg banyak kesulitannya sebaiknya didekati personal dan dibantu lansung agar tidak terjadi zhon.

2.      Afwan, mau tanya ustadz. Bagaimana caranya menjaga keikhlasan dalam stiap amalan?  Karena kadangkala hal ini cukup sulit. Bagaimana ketika seseorang beramal, dalam hatinya ia merasakan ikhlas atau juga mengatakan "saya ikhlas kok". Apakah ini termasuk belum ikhlas ya? Jazakallah ustadz.
Jawab:
Ikhlas itu seperti, maaf  buang air kalau dalam hal muamalah.  Kalau ibadah mahdoh syarat dan ketentuannya berlaku ya. Ada satu kaidah jangan ingat-ingat amalmu tapi ingatlah dosa-dosamu

3.      Bagaimana menghadirkan "rasa" dalam setiap ibadah? Karena kadang ibadah yang sudah jadi rutinitas jadi kurang berasa
Jawab:
Jumud/bosan umumnya menjadi kendala utama rutinitas. Variasi menjadi salah satu cara tuk menyegarkannya hanya ingat tuk ibadah variasi harus sesuai ketentuan yang berlaku ya.

4.      Ustadz apa kiat-kiat nya supaya kita khusyu’ beribadah?
Jawab:
Kiat-kiat tuk khusyu sederhana menghadirkan hati dalam ibadah diantaranya memahami ilmunya.

5.      Bagaimana caranya ustadz ibadah sunnah yang biasanya rutin kita lakukan lebih meningkat lagi bukan malah jadi berkurang atau tidak sama sekali sehingga kita tidak jadi orang merugi? Masalahnya saya sering seperti itu
Jawab:
Sabar karena istiqomah itu sulit, dawam atau istimror (berkelanjutan) yang penting.

6.      Bagaimana dengan cara agar ibadah tetap rutin dilakukan walau dalam keadaan sibuk. Misal jika tidak sibuk ibadahnya di khusyukkan tapi kalau sedang sibuk ibadahnya cepat-cepat. Bagaimana ya ustadz?
Jawab:
Prioritaskan.... dahulukan... .ada rukhsah sih tapi jangan mudah mengambilnya.

7.      Kalau seseorang sudah melaksanakan semua ibadahnya... baik khusus ataupun umum.. tetapi sayang, dia tidak menggunakan hijab, itu bagaimana? Sedangkan yang menggunakan hijab, melakukan ibadahnya masih belum penuh.
Jawab:
Satu hal yang perlu difahami antara hijab dengan pelaksanaan ibadah lain keterkaitannya tidak langsung. Kembali kepada tingkat keimanan, ilmu dan hidayah. Memang pemakai hijab itu sudah punya 1 nilai lebih dalam menjalankan perintah Allah namun tidak kemudian otomatis ia bisa langsung faham ilmu dan jadi "paling" bertaqwa.... tantangannya jadi lebih berat memang

8.      Sama dengan pertanyaan sebelumnya, sudah berhijab dan sudah melaksanakan kewajiban, namun saat ada orang yang bertanya mengenai suatu hukum (fiqih) terkadang tidak bisa menjawab itu bagaimana Ustadz? Karena tidak hafal hadits dan ayat-ayat Qurannya.
Jawab:
Jawabannya sama seperti pertanyaan sebelumnya

9.      Ibadah yang kita lakukan sudah maksimal tapi do'a yang kita inginkan belum di kabulkan. Hal ini kenapa ya ustadz? Bagaimana agar kita tetap bisa istiqomah dengan do'a kita jangan sampai ada pakiran menggerutu... Jazakallah ustadz.
Jawab:
Fenomena doa ini memang unik الله berfirman
Al-Mu'min : 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
Namun pengabulan doa khan hak prerogatif الله. Yang kemudian perlu difahami bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Sebagaimana firman الله .
Pengabulan doa:
a.       Langsung dikabulkan
b.      Ditunda
c.       Digantikan dengan yang lain
Karena Allah lebih tahu yang terbaik bagi hambaNya.

10.  Ustadz mau tanya tentang ibadah mahdah....  sholat masuk kan ustadz?
Jawab:
Naam sholat adalah ibadah mahdah
11.  Tentang gerakan sholat yang menggoyangkan jari telunjuk kanan saat duduk tasyahud, yang sesuai sunnah rasul itu bagaimana? Terlalu banyak versi jadi bingung.
Jawab:
Dalam kitab sifat sholat nabi. Banyak dalilnya ada yang sejak duduk tasyahud sudah bergoyang, atau saat membaca syahadat baru menunjuk atau bergoyang. Semua ada dalilnya.. Jadi tak perlu dibuat pusing silahkan yang paling meyakinkan hati yang diambil. Dengan dasar hadist yang rajih/yang paling kuat akan lebih meyakinkan.

12.  Ustadz, saat shalat Rasul SAW pernah menggendong cucunya. Bukankah maksimal gerakan di luar gerakan shalat itu 3 kali?
Jawab:
Pernah. Karena kondisinya tidak memungkinkan seperti tidak ada yang menjaga. Tidak ada dalam nashnya yang saya fahami batas gerakan itu 3 kali bahkan sekali sudah membatalkan. Namun islam itu mudah dan fiqhnya bisa menyesuaikan. Ada rukhsah namanya

13.  Ustadz, ada juga kan yang masih pegang mushaf saat sholat. Nah itu bagaimana ustadz?
Jawab:
Ya saat baca surat dibuka dan dibaca setelah surat selesai ditutup lalu di letakkan atau tetap di pegang lalu lanjut ruku. Dicontohkan juga oleh beberapa ulama...



Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....
Demikian kajian kita hari ini. Kita tutup dengan membaca hamdalah, istighfar 3x, dan doa kafaratul majelis.
Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr wb.


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT