Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

AL WALA’ WAL BARA’ (LOYALITAS AKIDAH SEORANG MUSLIM)

Kajian Online Hamba الله SWT

Jum’at, 9 Januari 2015
Narasumber : Ustadzah Ira Wahyudianti
Rekapan Grup Nanda M110 (Shofie)
Tema : Syakhyatul Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


AL WALA’ WAL BARA’ (LOYALITAS AKIDAH SEORANG MUSLIM) part1

Pengertian Al Wala’ wal Bara’

Al Wala’ wal Bara’ bagi seorang Muslim merupakan satu pembahasan penting dalam masalah akidah dan diantara bukitai keimanan. Namun permasalahan Al Wala’ wal Bara’ seringkali tidak mendapat perhatian serius di kalangan Umat Islam. Al Wala’ secara bahasa berarti pertolongan, dukungan, kasih sayang dan seterusnya. Didefinisikan dengan cinta kepada Allah, Rasul, para Sahabat serta orang-orang mukmin dan menolong mereka. Adapun Al Bara’ secara bahasa adalah bersih, anti, bebas dan seterusnya.  Didefinisikan dengan benci kepada siapa yang menentang Allah, Rasul, para Sahabat dan orang-orang mukmin, baik ia orang kafir, musyrik, munafik dan fasik.  Al Wala’ wal Bara’ mendorong seorang muslim untuk lebih mencintai dan ridha terhadap muslim, ketimbang kepada siapa yang menyalahi dan menentang agama dan aturan Allah dan RasulNya.
Al Wala wal Bara’ adalah ikatan iman yang sangat kokoh, sebagaimana merupakan ibadah hati yang direalisasikan dalam perkataan dan perbuatan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.(Attaubah: 71). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menghalangi karena Allah, maka ia telah menyempurnakan keimanannya. (HR. Abu Dawud).

Urgensi dan Kedudukan Al Wala’ wal Bara’

Al Wala’ wal Bara’memiliki kedudukan dan perhatian yang begitu tinggi dalam islam. Ia adalah kewajiban berakidah seorang Muslim dan penjaga identitas keislaman Umat Islam. Al Qur’an berulangkali mengangkat perhatian terhadap kewajiban Al Wala’ wal Bara’. Sesekali Al Qur’an menyebut Al’Wala’ wal Bara’ sebagai ikatan iman yang menghimpun orang-orang mukmin untuk melakukan kebaikan dan amal saleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(At-Taubah: 71).

Sesekali Al Qur’an memperingatkan sikap bersekutu dengan kafir dan meninggalkan yang muslim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena [siasat] memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri [siksa]-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali [mu].”(Ali Imran: 28).
Sesekali Al Qur’an menyebutkan bahwa alwala’ walbara’ sebagai bagian dari jati diri seorang mukmin, dimana ia tidak akan melanggar tuntutan dan konskuensi dari Al’Wala’ wal Bara’ . Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap [limpahan rahmat]-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Al Mujadilah: 22).

Perhatian penting terhadap Al Wala’ wal Bara’ sebagaimana yang dipaparkan Al Qur’an menuntut Muslim untuk tidak meremehkan bentuk-bentuk dan prilaku dan implementasi dari alWala’ walBara’ dalam kehidupan. Karena diantara kaedah upaya mengamalkan Al Qur’an sebagaimana yang disampaikan oleh DARI. Yusuf Al Qaradhawi: “Kita memberikan porsi perhatian terhadap masalah sebagaimana Al Qur’an memberikan perhatiannya.” Jika perhatian Al Qur’an besar terhadap satu hal, maka itu berarti umat Islam dituntut untuk memberikan perhatian besar terhadap hal tersebut.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, kedudukan alWala’ walBara’ dalam Islam bisa dilihat dari beberapa poin berikut:
1.      Al Wala’ wal Bara’adalah syarat keimanan seorang muslim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir [musyrik]. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi [Musa] dan kepada apa yang diturunkan kepadanya [Nabi], niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”(Al Maidah: 80-81).
2.      Al Wala’ wal Bara’merupakan ikatan keimanan yang kokoh. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ikatan iman yang paling kokoh adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Muslim).
3.      Tidak adanya Al Wala’ wal Bara’ dalam diri seorang muslim bisa mengantarkannya kepada kekufuran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin [mu]; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(Al Maidah: 51).
4.      Seringkali diangkatnya pembahasan tentang alWala’ walBara’ dalam Al Qur’an dan sunah menunjukkan demikian besar urgensinya.

Bentuk Al Wala’ yang Diharuskan dan Diharamkan:
Diantara bentuk Al Wala’ dasar yang harus dimiliki Muslim sebagai berikut:
1.      Al Wala’ kasih sayang kepada sesama muslim. Muslim harus memberikan kasih sayangnya kepada saudara seakidah, tidak boleh menzaliminya. Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Perumpamaan mukmin dalam kasih sayang dan cinta sebagaimana satu tubuh, jika satu bagiannya merintih sakit maka bagian yang lain merasa panas dan demam. (HR. Muslim).
2.      Al Wala’pertolongan dan dukungan kepada sesama Muslim. Anas bin Malik berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “tolonglah saudaramu ketika ia berbuat zalim atau dizalimi.” Para Sahabat bertanya: “wahai Rasul, menolongnya ketika dizalimi. Bagaimana menolongnya ketika ia berbuat zalim?” Rasul menjawab: “kamu mencegahnya dari berbuat zalim.” (HR. Bukhari).

Adapun diantara bentuk Al Wala’ yang dilarang atau harus melakukan Al Bara’ sebagai berikut:
1.      Al Wala’cinta dan sayang kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menafikan keimanan dari diri siapa yang mencintai orang-orang kafir, mencintai mereka tanpa menganggap masalah terkait agama dan keyakinan yang mereka anut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolonganyang datang daripada-Nya.”(Al Mujadilah: 22).
2.      Al Wala’pertolongan dan dukungan kepada orang kafir atas muslim. Adalah sebuah dosa jika seorang Muslim bersekongkol dengan kafir untuk memusuhi dan menciderai Muslim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali [6] dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah [untuk menyiksamu]?(An-Nisaa: 144).” “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi [Musa] dan kepada apa yang diturunkan kepadanya [Nabi], niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”(Al-maidah: 81).
3.      Mendukung orang-orang kafir untuk menjadi pemimpin yang menguasai orang-orang Mukmin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”(An-Nisaa’: 141).
Wallahu a’lam.

TANYA JAWAB

Q : Alhamdulillah sehat ustadzah.. Ustadzah mau nanya.. Definisi Dari AL bara' tadi kan kita harus membenci orang yang menentang Allah dalam artian non Muslim ya ust? Trus klo gitu lingkungn saya kan ada teman non Muslim nya juga dan justru Teman yang non Muslim itu ust perilakunya ke sy lebih baik dari Teman sy yang Muslim, itu gimana ya ust sy menyikapi ny? Apakah harus pilih-pilih Teman gitu? Sementara kita kan ga boleh pilih-pilih Teman.. Ma'af bnyk pertanyaan ny ust ..
A : Yang harus d benci bukan orangnya, tapi kekufuran/kekafiran mereka yang kita benci, dalam arti bersikap menolak aqidah yang terkadang mereka sebarkan melalui upaya tersembunyi (ingat kasus car free day) dan berbagai selipan-selipan agama mereka baik dalam lagu, penampilan, dll

Q : No.3 Ustadzah mw nanya.. gimana batasan kita muslimah bergaul sama perempuan non muslim? Padahal non muslim nya baik.
A : a. Bergaul sewajarnya saja, jangan berikan wala’ (kedekatan, loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :
لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab, pemimpin, pelindung, penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (Qs. Ali Imran : 28)
b. Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir Muharib / Harbi (orang kafir yang memerangi kaum Muslimin). Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)
c. Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar, memberi minum jika haus, mengobatinya jika sakit, menyelamatkannya dari kebinasaan dan tidak mengganggunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas langit akan mengasihi kamu. (HR. At-Tirmidzi, no. 1924)
d. Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya
e. Tidak mendahului orang kafir dalam mengucap salam. Jika orang kafir tersebut mengucapkan salam terlebih dahulu, maka cukup dijawab dengan ”Wa ‘Alaikum”.
f.  Kaum muslimin harus menyelisihi kebiasaan orang kafir dan tidak boleh melakukan tasyabbuh (menyerupai atau meniru) mereka. Tasyabbuh dengan orang kafir yang terlarang adalah meniru atau menyerupai orang kafir dalam masalah keyakinan, ibadah, kebiasaan atau model-model perilaku yang merupakan ciri khas mereka.

Q : Ustadiz.. baru-baru ini ada kejadian penembakan oleh muslim kepada orng non muslim yang mengolok-olok  Nabi Muhammad saw di prancis... menurut ustadiz.. apakah.. bentuk kemarahan kita kepada yang menghina nabi kita itu boleh membunuh seperti itu? Atau ada cara yang lebih baik?
A : Itu d lakukan oleh jamaah-jamaah yang salah / berlebihan/ kurang tepat dalam menafsirkan ayat ttg makana jihad. sebenarkan protes keras kan bisa kita lakukan dulu, dgn petisi, demo dan sarana hukum yang lain, karena kan ada hukum internasional juga yang berlaku.

Q : No.5 Pengampunan (At-Tawbah):111 - Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Ustadz... bantu saya menafsirkan surat ini...
A : Pernyataan ayat: “mereka berperang di jalan Allah “, menunjukkan bahwa orang yang beriman siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, untuk menepati perjanjiannya dengan Allah. Seluruh hidupnya merupakan realisasi menepati perjanjian ini. Konsekuensinya, mu’min dan mu’minah tidak lagi memiliki kebebasan untuk menolak beban tugas yang Allah berikan kepadanya. Dengan demikian ia menjadikan hidupnya untuk berjihad di jalan Allah dan cita-cita tertingginya adalah syahid fi sabilillah. Untuk itu, Allah pasti akan membayar harganya yaitu syurga dan segala keni’matan di dalamnya.
Hakikat Perdagangan
Seorang penjual yang baik tentu akan menjual produk dagangan yang berkualiti. Sehingga semakin tinggi kualiti dagangannya semakin mahal harganya. Karena yang dijual orang yang beriman kepada Allah adalah harta dan dirinya dalam bentuk kerja, maka semua yang dimiliki dan dilakukan mu’min wajib diniatkan untuk Allah. Itulah jalan untuk memperoleh nilai pembelian yang tinggi di sisi Allah.
Dengan jual beli di atas, dalam menjalani hidupnya hendakanya seorang mu’min bersungguh-sungguh untuk mengislamisasikan dirinya dalam hal: keyakinan, cara berfikir, perasaan, maupun perbuatannya. Setelah itu, dia pun wajib menegakkan Islam di dalam rumah tangganya, masyarakat dan bangsanya.
no. 6 Al Wala’pertolongan dan dukungan kepada orang kafir atas muslim. Adalah sebuah dosa jika seorang Muslim bersekongkol dengan kafir untuk memusuhi dan menciderai Muslim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali [6] dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah [untuk menyiksamu]?(An-Nisaa: 144).” “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi [Musa] dan kepada apa yang diturunkan kepadanya [Nabi], niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”(Al-maidah: 81).

Q : Fenoma yang sekarang terjadi di negeri ini ustadzh bagaimana sikap kita?
Q : No.7 Ustadzah, mau tanya tentang poin 3. Kan skarang banyak pemimpin yang nonis, trus tidak menutup kemungkinan juga pendukung mereka ada yang muslim. Bgaimana pandangan Ustadzah tentang hal ini?
A : Ayatnya sudah jelas sekali ya, mengenai larangan mengambil non islam sebagai pemimpin, kemarin bangsa kita tidak sadar sedang d giring agar Jakarta bisa d kuasai non muslim, hal ini terjadi karena kurangnya ilmu dan pemahaman agama dalam masyarakat, sehingga terjadi seperti ini, nah jd tugas kita bertahan dan terus berdakwah dalam keluarga d tekankan masalah jugan sampai memilih non muslim atau membiarkan negeri kita ke depan tambah d kuasai oleh non muslim dgn bersikap apatis terhadap politik krn telah terbukitai mereka pun menguasai kita lewat politik.


Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan
kita tutup kajiannya ya..

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ