Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HADIST TENTANG CINTA KARENA ALLAH

Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Jum'at, 09 Januari 2015
Narasumber : Ustadz Khalid Syamhudi Al Bantani Lc

Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

In sya Allah pelajaran akan dimulai.
Ana coba sampaikan hadits tentang cinta karena Allah
Tentang 4 amalan menggapai cinta Ilahi

عَنْ مُعَاذ بْنِ جَبَلٍ رَِضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ الله صلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ  وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْْمُتَوَاصِلِين فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ  ;الْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَ الصِّدِّيْقُوْنَ وَ الشُّهَدَاءُ .

"Dari Mu’adz bin jabal –Radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata: Telah bersabda Rasulullah: Allah berfirman : Orang yang saling mencintai karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku, orang yang saling menyambung kekerabatannya karena-Ku pasti diberikan cintaKu dan orang yang saling menasehati karena-Ku pasti diberikan cintaKu serta orang yang saling berkorban karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku. Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku (nanti di akherat) berada di mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi, shiddiqin dan orang-=orang yang mati syahid merasa iri dengan kedudukan mereka ini. (Riwayat imam Ahmad dalam kitab al-Musnad dan dishahihkan al-Albani dalam kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir no. 4198).


Semua orang merasa mencintai Allah, tidak terkecuali pengikut agama Yahudi ataupun Nashrani. Semua merasa telah mencintai Allah dan beragamapun karena ingin mencintai Allah. Orang yang  beragama Kristen ingin menciptakan kecintaan kepada Allah kadang ada dengan sesuai kehendak Allah dan bisa juga menyelisihi kehendak Allah. Orang yahudi mencintai Allah dan muslimin yang jahil juga mencintai Allah namun mereka tidak dicintai Allah kecuali bila mereka berada diatas perkataan dan amalan yang membuat Allah cinta dan ridha kepadanya.

Sebagian salaf menyatakan: yang penting bukan mencintai namun yang sangat penting sekali adalah bagaimana dicintai. Kalau demikian, seorang akan berusaha mencapai dan mendapat kecintaan Allah. Kecintaan Allah kepada manusia adalah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Namun hal ini hanya dapat tercapai dengan semangat mencari ilmu dan mengenal amalan dan perkataan yang Allah cintai dan ridhai. Sebab bila kamu mengetahui bagaimana Allah mencintai hambanya atau mengetahui sebab-sebab Allah mencitai hambaNya maka akan muncul usaha untuk mendapatkan kecintaan Allah.

Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan amalan yang dapat mendatangkan kecintaan dari Allah Ta'ala  yang langsung dengan ungkapan firman Allah Ta'ala . Hadits demikian dinamakan para ulama dengan hadits qudsi. Dalam hadits qudsi ini Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mewujudkan empat hal yang menjadi sebab kita menjadi hambaNya yang dicintai.

a. Perintah saling mencintai karena Allah
b. Perintah saling menasehati karena Allah
c. Perintah saling menyambung persaudaraan karena Allah
d. Perintah saling berkorban karena Allah.

Demikianlah Allah tunjukkan kepada kita empat amalan menggapai kecintaan ilahi. Diantara langkah-langkah mewujudkannya adalah:
  • Memperbaiki aqidah dan iman kita menjadi sempurna
  • Mengingat keempat amalan ini dicintai dan diridhai Allah
  • Menelaah benar siroh (sejarah kehidupan) Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan para salaf ash-shalih dan mempraktekkannya. Caranya dengan mengetahui konsep dan tuntunan ajaran mereka sehingga akan muncul keinginan dan kecintaan untuk meniti dan mengikuti jejak langkah mereka.
  • Mengingat akibat baik dan pahala yang didapatkan dari empat amaklan ini.

Semoga kita dapat mewujudkannya.

Beberapa Pelajaran dari Hadits ini.
  1. Saling mencintai, menasehati, menyambung persaudaraan dan berkorban karena Allah adalah 4 amalan menggapai cinta ilahi
  2. Urgensi empat amalan ini  yang akan memperkokoh barisan, menyatukan langkah dan mempertautkan hati.
Wallahu a’lam

TAMBAHAN

Tentang umur dunia ada tulisan Abu Ubaidah as-Sidawi, saya nukilkan disini: Umur Dunia
Hadits:

الدُنْيَا كُلُّها سَبْعَةُ أَيَّامٍ مِنْ أَيَّام الآخرَة, وَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dunia itu semuanya tujuh hari dari hari-hari akhirat, itulah firman Allah, “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. Al-Hajj: 47)

MAUDHU’ (PALSU). Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam Ar-Ruba’iyyat (I/172), As-Suhamy dalam Taarikh Jurjan (no.99), dan Ad-Dailamy (II/149): dari Umar bin Yahya bin Nafi’, dari Ala’ bin Zaidal, dari Anas secara marfu’.

Hadits ini maudhu’, sebab Ala bin Zaidal adalah pemalsu hadits sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Ibn Al-Madiny. Adapun Umar bin Yahya bin Nafi’, saya tidak mengetahui perihalnya. Hadits ini dicantumkan oleh Ibnul Jauzy dalam kitab Al-Maudhuu’aat, lalu berkomentar, “Hadits ini maudhu’ (palsu), yang tertuduh adalah Ala bin Zaidal.”

As-Sakhawy mengatakan, “Ibnu Katsir menegaskan bahwa hadits ini tidak shahih.” Katanya juga, “Demikian pula hadits-hadits tentang pembatasan hari Kiamat secara pasti, semuanya tidak shahih sanadnya.”( Al-Ajwibah Al-Mardhiyyah, Muhammad bin Ibrahim As-Sakhawy, III/1-96. Lihat pula An-Nihaayah fi Al-Fitan wa Al-Malaahim, Abu Al-Fida ibn Katsir, I/15.)

Dari segi matan, hadits ini juga bathil. Karena kenyataan telah membuktikan kebathilan hadits-hadits yang berkaitan tentang penentuan umur umat yang dihitung dengan hitungan tahun. Bagaimana mungkin bagi manusia untuk menentukan dengan waktu seperti ini yang berkonekuensi penentuan waktu tibanya hari Kiamat??!!

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Termasuk tanda-tanda hadits palsu adalah menyelisihi ketegasan Al-Qur’an seperti hadits tentang umur dunia. Ini jelas termasuk kedustaaan yang amat nyata! Sebab, seandainya shahih, berarti setiap orang bisa tahu tentang kapan terjadinya Kiamat, padahal Allah telah berfirman,

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةًۭ ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِىٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".” (Q.S. Al-A’raaf: 187) Al-Manaar Al-Muniif fi Ash-Shahiih wa Adh-Dha’iif, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal 80.

Ibnu Katsir berkata, “Apa yang terdapat dalam kitab-kitab Israiliyyiin dan Ahli Kitab tentang ketentuan umur dunia dengan ribuan dan ratusan tahun telah ditegaskan oleh sejumlah ulama tentang kesalahan mereka.” An-Nihaayah, I/15

An-Nawawy juga berkata, “Barangsiapa menganggap bahwa umur dunia adalah 70.000 tahun dan tersisa 63 tahun, maka itu adalah anggapan yang bathil. Ath-Thukhy menceritakannya dalam Asbaab At-Tanziil dari sebagian ahli astronomi dan ahli perhitungan. Dan barangsiapa menganggap bahwa umur dunia adalah 70.000 tahun, maka ini menerobos ilmu ghaib. Tidak halal meyakininya.” Syarh Arba’iin, hal 31, dari al-Jaami’ fi Syarh Al-Arba’iin, Abu Abdillah Muhammad Yusri, I/135-136

Oleh karenanya juga, tatkala Al-Hafidz As-Suyuthy (w. 917 H) tergelincir dalam masalah ini sehingga beliau menulis karya anehnya, Al-Kasyf An Mujaawazah Hadzihi Ummah Al-Alf,maka para ulama pun bangkit mengkritiknya, di antaranya Al-Allaamah Shiddiq Hasan Khaan, beliau berkata, “Sekarang sudah lebih dari 1300 tahun, namun Imam Mahdi belum juga keluar! Nabi Isa belum turun! Dajjal juga belum datang! Semua ini menunjukkan bahwa prediksi ini tidaklah benar!” Al-Idzaa’ah, hal. 184

Syaikh Masyhur bin Hasan berkata, “Hendaklah pembaca mewaspadai kitab ini, sebab penulisnya banyak menjadikan berita-berita Israiliyyat sebagai sandaran yang dipercaya begitu saja  dan menggambarkan keterkaitan antara beberapa kejadian yang terdapat dalam hadits dari pikirannya sendiri.” (Al-Iraq fii Ahaadiits wa Aatsaar, I/438)

Demikian juga Syaikh Dr. Muhammad bin Isma’il Al-Muqaddim mengkritik buku ini dalam kitabnya Fiqh Asyraath As-Saa’ah, hal. 171-177. Beliau juga menukil ucapan Syaikh Mar’I Al-Karmy tatkala membantah prediksi As-Suyuthy di atas, “Pendapat ini tertolak, karena setiap orang yang berbicara tentang hal itu hanyalah prasangka dan dugaan belaka, tidak ada bukti kongkritnya.” Al-Idzaa’ah, hal. 187

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha juga membantah pendapat As-Suyuthy ini secara luas dalam Tafsiir Al-Manaar (IX/470-482), katanya, “Sepertinya, buku beliau dibangun di atas dua hadits palsu dan dusta.”. Masalah ini penting untuk dibahas karena beberapa tahun lalu ramai diperbincangkan tentang Kiamat tahun 2012. Semuanya berangkat dari ramalan suku Maya, bagian dari bangsa Indian yang mengatakan akan adanya siklus akhir kehidupan. Akhir kehidupan itu kalau dikonversikan jatuh pada tanggal 21 Desember 2012. Tidak sedikit yang termakan berita kontroversi tersebut. Seakan-akan dengan peradabannya yang tinggi mereka bisa meramal akhir dunia. Tidak kurang selusin buku ditulis untuk mengupas ramalan tersebut, apalagi masalah ini menyangkut aqidah. Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala membantah ahli filsafat dan ahli Astronomi, “Pemikiran-pemikiran ini dan semisalnya adalah keluar dari agama Islam, wajib diingkari, dan bagi setiap orang yang memiliki kemampuan ilmu, keterangan, tangan dan lidah, hendaknya mereka melarang kaum Muslimin dari pemikiran tersebut, karena hal itu termasuk kewajiban utama dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka adalah para musuh Rasul.” (Majmuu’ Al-Fataawa, XXXV/189-190)

Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa waktu Kiamat adalah rahasia Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali hanya Allah semata, meskipun seorang Nabi atau Malaikat yang paling dekat dengan Allah. Al-Barzanky dalam kitabnya Al-Isyaa’ah li Asyraath As-Saa’ah, hal. 3, berpendapat bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengetahui kapan waktunya hari Kiamat. Tetapi beliau dilarang memberitakannya. Sungguh, ini termasuk ketergelincirannya yang sangat parah. Alangkah mantapnya ucapan Ibnul Qayyim tatkala berkata, “Telah terang-terangan dalam kedustaan orang yang dianggap berilmu pada zaman kita padahal ia Cuma sok alim saja bahwa Rasulullah mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat!!!” (Al-Manaar Al-Muniif, hal. 81)

Oleh karenanya, sekali pun Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering menyebut tentang Kiamat, kedahsyatannya dan tanda-tanda kedatangannya. Sebagaimana tidak ada seorang pun tahu tentang kapan Kiamat tiba, demikian juga tak ada seorang pun tahu kapan akan munculnya tanda-tanda Kiamat. Riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa hal itu akan terjadi tahun ini dan itu, semuanya tidak ada yang shahih, sebab tanggalan tidak ada pada zaman Nabi. Al-Qurthuby berkata, “Apa yang diberitakan oleh Nabi berupa fitnah dan kejadian-kejadian pasti akan terjadi, tetapi penentuan waktunya pada tahun ini atau itu membutuhkan dalil yang shahih. Karena hal itu sama dengan waktu terjadinya kiamat. Maka tak ada seorangpun yang mengetahui tahun berapa dan bulan apa hal itu akan terjadi.” (At-Tadzkirah fi Ahwaal Al-Maut wa Umuur Al-Aakhirah, Al-Qurthuby, hal 628)

Namun ketika manusia bertanya kepada beliau tentang kapan datangnya hari Kiamat, maka beliau mengabarkan pada mereka bahwa hal itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah saja. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

يَسْـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (Q.S. Al-Ahzaab: 63)

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا  فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَىٰهَآ

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?” (Q.S. An-Naaziaat: 42-44)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengabarkan kepada manusia bahwa ilmu tentang waktu kiamat hanya di sisi Allah semata. Tidak ada satu pun penduduk langit dan bumi yang mengetahuinya.

Dalam hadits Jibril yang masyhur, ia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang waktu Kiamat, maka Nabi bersabda:

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih tahu tentangnya daripada yang bertanya.” (H.R. Muslim, no.8)

AL-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbaly berkata, “Maksudnya adalah bahwa ilmu semua makhluk adalah sama. Ini adalah isyarat bahwa Allah merahasiakan ilmunya. Oleh karena itu, dalam hadits Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Ada 5 perkara yang hanya diketahui oleh Allah saja.” Kemudian beliau membaca firman Allah.

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)

Dengan dalil-dalil di atas, dapat kita tegaskan bahwa siapa saja yang mengaku dapat mengetahui kapan terjadinya Kiamat atau membenarkan orang yang mengaku tersebut, maka ia adalah bodoh, sesat dan pendusta!(Jaami’ Al-Uluum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbaly,I/135), sebab ia telah mengaku mengetahui ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala semata, bahkan Malaikat Jibril alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saja sebagai kedua utusan yang paling dekat tidak mengatahuinya, lantas bagaimana dengan selain keduanya?! Tentu lebih utama untuk tidak tahu!!!

Maka hendaknya bagi kita semua untuk tidak mempedulikan ramalan-ramalan tersebut, karena semua itu adalah kebohongan nyata, takalluf (bertele-tele) yang dilarang agama, dan sia-sia belaka. Karena seseorang tetap dituntut untuk beramal sampai maut menjemputnya. Kewajiban bagi kita semua adalah mempersiapkan bekal amal shalih untuk kehidupan setelah Kiamat, bukan menyibukkan diri dengan prediksi Kiamat. Oleh karena itu, tatkala ada seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Nabiyyullah, kapankah Kiamat itu tiba?” Nabi tidak menjawab pertanyaannya, tetapi menunjukkan kepadanya untuk sesuatu yang bermanfaat, beliau bersabda, “Apa yang engkau siapkan untuk Kiamat?” H.R. Bukhary, no.6167, dan Muslim. No. 2639. Lihat Fiqh Asraath As-Saa’ah, Muhammad bin Isma’il Al-Muqaddim, hal 32 dan 163.

“Inilah hikmah utama di balik dirahasiakannya waktu Kiamat dan kematian yaitu agar mendorong seorang hamba untuk tetap aktif beramal ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan selalu khawatir jangan-jangan kematian menjemputnya secara tiba-tiba. (Al-Yaum Al-Aakhir, Shalahuddin Maqbul Ahmad, hal. 5-6).

Sumber: Koreksi Hadits-hadits Dha'if Populer, karya Ust. Abu Ubaidah As-Sidawy

TANYA JAWAB

1. Bagaimana langkah-langkah agar kita mendapat cinta-Nya?
Jawab
Diantaranya dengan ngamalkan isi hadits ini. Masih ada lagi amalan-amalan untuk itu seperti ittiba'.  Ittiba' (mengikuti) maksudnya mencontoh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam semua amalan, perkataan dan itikad atau keyakinannya.

2. Mencintai karena Allah itu seperti apa tadz.? Kan banyak yang pas taaruf bilang mau mencintai karana Allah jadi ndak mau tukeran foto. Tapi pas dah nikah malah nyesel ndak sesuai harapan.
Jawab
Lah, taaruf kok pake foto, liat langsung lah dan itu petunjuk dari Nabi saw, jadi kudu. Pun kalo ga pake foto terus pas ketemuan ga sreg, ya diutarakan gapapa juga. Yang boleh dilihat adalah apa-apa yang boleh dilihat secara umum, yaitu wajah dan telapak tangan
wallahu a'lam

Doa Kafaratul Majelis...

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat