Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

IMAN DAN ISLAM

Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala (Ibnu 203)

Hari/ Tanggal : Senin, 12  Januari 2015
Tema : Definisi Iman dan Islam
Narasumber : ust. Abdulah Haidir
Admin : Muhammad Rasyid Ridho
Editor : Ana Trienta

Assalamu'alaikum..
Makna Iman menurut bahasa 

Iman (الإيمان) menurut bahasa adalah التصديق artinya mempercayai atau membenarkan.

Firman Allah Taala;

وَمَا أَنتَ بِمُؤْمِنٍ لِّنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ سورة يوسف: 17

"Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." (QS. Yusuf: 17)

Ayat ini berbicara tentang kisah saudara-saudara nabi Yusuf alaihissalam yang ingin membunuh Nabi Yusuf as, lalu mereka berbohong kepada bapaknya nabi Ya'kub dengan mengatakan bahwa Nabi Yusuf di makan srigala. Namun di akhir ucapannya mereka merasa bahwa sang bapak tidak akan mempercayai mereka.

Maka kata "mukmin" dalam ayat di atas dipahami dengan makna iman secara bahasa, yaitu mempercayai. Bukan iman menurut syariat.

Iman Menurut Syariat

Adapun menurut syariat, para ulama menyebutnya dengan ungkapan,

التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ، وَاْلإِقْرَارُ بِاللِّسَانِ وَالْعَمَلُ بِالأَرْكَانِ

"Membenarkan dalam hati, menyatakan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan."

Dikatakan beriman kalau memenuhi ketiga unsur ini. Sekedar membenarkan tanpa menyatakan atau mengamalkan, tidak beriman. Atau sebaliknya, mengamalkan, namun tidak membenarkan, juga dianggap tidak beriman.

Adapun menurut syariat

Islam adalah semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, baik ibadah maupun hubungan sosial, baik urusan pribadi, rumah tangga, bermasyarakat hingga bernegara, baik amal hati atau amal zahir. 

Islam menurut bahasa

Dari segi bahasa makna Islam dan semua akar katanya mengandung makna; Menyerah (استسلام)Berserah diri (أسلم), damai (سلام) dan selamat (السلامة).

Seorang ulama mengatakan, jika agama lain biasanya diberi nama dengan nama tokoh atau tempat yang khusus dalam keyakinan mereka, namun Islam diberi nama dengan tujuan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Yaitu, menyerah pasrah, berserah diri, damai dan selamat.

Tanya:
Dari ust. Abdullah Haidir
1. Apakah iman dan Islam berbeda?
2. Apakah agama yang dibawa oleh para Nabi sebelum Rasulullah saw?

Ok saya tunggu jawabnnya sekarang juga....ga bisa ditunda....

Jawab:
> Member 1
1. Berbeda ustdz
2. Yahudi dan nasrani

> Member 2
Wahhhh susah ni ustdz
1. Beda
2. Agama tauhid ust, Rabbaniyin..

>Member 3
1.beda ustd Islam. adalah agama Alloh yang Hak yang d turun kan kepad nabi muhamad 
2. Agama Tauhid yaitu mengesakan Alloh

>Member 4
1. Berbeda
 2. Yahudi dan nasrani tapi ajarannya tetep untuk mentauhidkan Allah

>Member 5
1. Satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana pengertian iman yang harus mencakup amal, itu lah yang tertuang dalam hukum Islam, heheehe..
2. Msh sama, agama tauhid, agamanya tetep sama, walaupun syariatnya berbeda


Jawaban ust Abdullah Haidir
Thayib, jawaban yang ada sebenarnya ga salah2 amat cuma kurang detail, saya coba lengkapi yaa.

Iman dan Islam dapat bermakna beda dan dapat bermakna sama. Dia berbeda kalau disebut secara berbarengan. Misalnya kita katakan iman dan islam. Maka, Iman lebih khusus pada perkara-perkara yang bersifat keyakinan dan batin sedangkan Islam lebih khusus pada perkara yang bersifat  pengamalan dan zahir.

Namun jika iman dan Islam disebut secara sendiri-sendiri atau terpisah, seperti kita katakan kita harus beriman, agama kita adalah Islam. Maka iman adalah Islam, Islam adalah iman. Karena sebagaimana disebutkan di atas, keyakinan (percaya) saja tidak dikatakan iman kalau tidak ada pengamalan. Sebagaimana pengamalan zahir pun tidak dikatakan Islam kalau tidak dilandasi keyakinan.

Adapun agama para nabi adalah Islam, bukan Kristen bukan pula Yahudi. Perhatikan ayat-ayat berikut.

> Allah berbicara tentang Nabi Ibrahim as

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ سورة آل عمران: 61

> Doa nabi Yusuf alaihissalam agar dimatikan sebagai muslim

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ. سورة يوسف: 101

> Seruan Nabi Musa alaihissalam kepada umatnya agar bertawakkal jika mereka adalah orang-orang muslim...

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ. سورة يونس: 84

Artinya tolong cari sendiri yak..

Artinya adalah bahwa pada masa para nabi tersebut, apa yang diajarkan oleh nabi tersebut itulah agama Islam untuk umat pada masa itu. Sedangkan pada masa sekarang adalah masa umat Rasulullah saw, maka Islam adalah apa yang beliau ajarkan. Adapun ajaran nabi-nabi sebelumnya, pada masa sekarang, jika tidak diakui oleh ajaran Rasulullah saw bukan lagi disebut sebagai ajaran Islam.
Wallahu a'lam. 


TANYA JAWAB

Tanya:
Terus apakah dulu ajaran islamnya saama kayak ajaran nabi muhammad ust?

Jawab:
Akh Zul....dalam masalah tauhid, semua nabi sama, memerintahkan ibadah kepada Allah dan melarang syirik. Dalam masalah syariat ada perbedaan.


Tanya:
ana pernah dengar islam baru di turunkan kepada Nabi Muhammad Saw

Jawab:
Akh Gundala, perhatikan ayat-ayat di atas....kosa kata yang dipake adalah muslim.


Tanya:
Syariat yang bagaimana yang berbeda ustdz?

Jawab:
Misalnya zaman nabi Adam boleh menikah dengan saudara, sekarang di larang, sholatnya berbeda, dulu ga ada tayammum sekarang ada tayammum...dll menikah


Tanya:
Di dalam zabur taurat dan injil juga mengajarkan ketauhidan kan ustdz?

Jawab:
Semua kitab para nabi mengajarkan tauhid....cuma diselewengkan kemudian.


walhamdulillahirabbil alamin
Do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”