Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

INSPIRASI DARI SURAT AL FATIHAH

Kajian Online WA Hamba اَللّٰه Ta'ala
(Nanda 104)

Hari/ Tanggal : Kamis 01 Januari 2015
Narasumber : Ustad Faris
Tema : Tafsir
Notulen : Rini & Shofie 

Editor : Ana Trienta

Al-Fatihah adalah surat pembuka yang terletak di awal mushaf, tergolong Makkiyah, dan berjumlah 7 ayat. Namun demikian, letaknya di awal mushaf tak berarti turunnya di awal, karena susunan mushaf bersifat tauqifiy (sesuai kehendak Allah) yang mengandung rahasia dan hikmah tersendiri.

Al-Fatihah disebut juga Ummul Qur’an. Para cendekiawan berpendapat; ada beberapa hikmah kenapa ia digelari Ummul Qur’an [1];

1. Sebagai pembuka yang mengawali Al-Qur’an, laksana induk (Umm)
2. Mencakup maqashid (tujuan-tujuan utama) dari diturunkannya AlQur’an, maqashid tersebut antara lain;

  • Ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan segala kesempurnaan sifatNya yang diungkapnya dengan pujian
  • Perintah dan Larangan, yang terangkum dalam ungkapan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in)
  • Janji Pahala dan Ancaman yang ter-ekpresikan dalam “shiratalladzina an’amta ‘alaihim…”
3. Mencakup ringksan makna dari AlQur’an secara keseluruhan, karena makna AlQur’an secara umum berporos pada dua hal;

  • Hukum-hukum teoritis (aqidah) yang wajib diketahui dan diimani. Dimana dalam surat ini, diisyaratkan dengan pemberitahuan akan Dzat Allah Ta’ala dengan segala kesempurnaan nama dan sifat-sifatNya
  • Hukum-hukum aplikatif (halal-haram) yang wajib diamalkan atau dihindari. Hukum-hukum aplikatif dalam surat ini terklasifikasi menjadi dua; amalan hati dan amal fisik. Amalan fisik diisyaratkan dengan “iyyakana’budu” yang bermakna keharusan benarnya tatacara kita beribadah dan bersyariah. Sedang amalan hati diisyaratkan dengan “iyyaka nasta’in”, yang bermakna totalitas keikhlasan hati dalam mengesakanNya dalam setiap aktivitas.
Syaikh Sa’id Hawwa secara khusus memaknai dua ayat terakhir (6-7) sebagai panduan manhaj hayah (pedoman hidup), yang bermakna tuntunan tentang bagaimana kita menjadikan acuan dan siapa yang dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan [2].

Ma’rifatullah dalam Surat Al-Fatihah

Al-Quran memiliki cara yang khas dalam mengenalkan Dzat dan Sifat Allah (Ma’rifatullah) secara umum ada 2 cara;

  1. Allah menyebutkan Asma ul Husna (nama dan sifat yang luhur & sempurna) yang melekat pada Dzat-Nya.
  2. Meminta kita untuk merenungkan tanda-tandaNya (ayat-ayatNya) yang bersifat kauni.
Penggunaan Asmaul Husna memiliki dua fungsi [3];


  1. Fungsi Retoris : yang brtujuan menciptakan nuansa harmoni dan keindahan, baik pada aspek bunyi & tema, dalam berbagai ayat AlQur’an, inilah mengapa ayat-ayat begitu mudah & indah untuk dihafal & dicerna.
  2. Fungsi Teologis (pengokohan aqidah): tentang hakikat Dzat Allah Ta’ala, bahwa DzatNya pemilik segala kesempurnaan tanpa ada kekurangan & aib sedikitpun. ini menyiratkan bahwa DzatNya melampaui semua dugaan kita; bahwa perspektif apapun tentangNya sedikitpun tidak mendekati hakikat yang sesungguhNya.
Al-Fatihah-scara indah & khusus- mengantar para pembacanya untuk mengenal Allah melalui Asmaul Husna-Nya, yang dibuka dengan ungkapan pujian (Al-Hamd) yang lebih luas daripada sekedar terimakasih (AsSyukr).

Ada beberapa nama & sifat yang diungkapkan dalam rangkaian Al-Fatihah ini [4];

  1. Allah -Azza wa Jalla- ; nama khusus yang mewakili Dzat-Nya, ini adalah namaNya yang paling agung, karena pada nama inilah melekat semua sifat-sifat "Maha Sempuna" yang lain.
  2. Rabb; nama yang bermakna kekuasaan & kepemilikan mutlak atas segala sesuatu, menciptakan semua & mengatur rizkinya. karenanya lafaz ini tak boleh dinisbatkan kepada selain Allah.
  3. Ar-Rahman Ar-Rahim; dua nama yang bergandengan sekaligus, keduanya berakar dari kata Ar-Rahmah (kasih sayang). sebagian cendekiawan/ulama berpendapat; Ar-Rahman lebih luas & istimewa dari ArRahim, karena ArRahman mencakup kasih sayang kepada semua makhluk mukmin ataupun kafir, sedangkan ArRahim khusus pada mukmin saja. Nama ArRahman -lafaz ini- tak boleh menjadi nama makhlukNya namun ArRahim boleh saja dinamai dengannya makhlukNya.
  4. Maaliki yaumiddin; Penguasa hari Ad-Diin (pembalasan), menyiratkan bahwa pada hari itu,dimana tiap makhluk mempertanggungjawabkan, DIA-lah pemilik & penguasa hari itu,tak ada yang lain, disaat para peng-klaim pemilik kuasa di dunia tak lagi bisa berkuasa.
Terkumpulnya nama dan sifat dalam satu rangkaian yang sekilas berbeda kesan (kasih sayang sekaligus pembalasan) menyiratkan pada pembaca bahwa rasa takut (khauf) & harap (raja') kita pada saat yang sama semata menuju kepadaNya,satu-satuNya.

AlQuran –secara unik- dalam rangkaian Al-Fatihah ini, mengenalkan hakikat DzatNya menggunakan perangkat retoris yang disebut Al-Iltifat yang bermakna peralihan perspektif gramatikal.

Pada empat ayat pertama, Allah Ta'ala dinyatakan dalam bentuk ketiga tunggal, yang menyiratkan pesan keagungan & kekuasaanNya atas seluruh makhluk, lalu tiba2 kita dikejutkan pada ayat kelima karena Allah dinyatakan dalam bentuk orang kedua tunggal.

Perubahan ini mengesankan hubungan yang lebih akrab antara Khaliq dengan makhluk-Nya..atau dengan kata lain; Sang Khaliq berkuasa penuh atas seluruh makhlukNya, meski demikian keagunganNya dapat didekati oleh siapapun yang beribadah & berserah diri kepadaNya.
Wallahu A'lam
Riyadh,200513
_________________________________________________________________
[1] Ibn Asyur, AtTahrir wa Tanwir
[2] Sa’id Hawwa, Al-Asas fi Tafsir
[3] Ingrid Mattson, PhD, The Story of The Quran
[4] Ibn Katsir, Tafsir AlQuranil ‘Azhim

Artikel asli disini:
http://faris-jihady.blogspot.com/2013/05/inspirasi-dari-surat-al-fatihah.html?m=1

TANYA JAWAB

1. Ustadz. Pada paragraf kedua terakhir dijelaskan "bahwa Allah dinyatakan dalam bentuk ketiga pada ayat ke 4, dan ayat ke 5 dinyatakan dalam bentuk kedua tggal" itu maksud dari hal tersebut apa tadz?
Jawab
Bentuk kata ganti ketiga adalah "dia". Sdgkan kata ganti kedua "engkau". Coba diperhatikan.


Jadi ada perpindahan gaya bahasa dari ayat 1-5

2. Dalam segala aspek dan doa, surat al fatihah memiliki posisi yang lebih utama seperti dalam shalat. Itu ada hikmah apa dibalik hal tersebut tadz?
Jawab
Bisa jadi hikmahnya, karena ia mengandung pokok-pokok agama, merangkum aqidah, pujian, ibadah, permintaan tolong, dan juga way of life

3. Sebagai way of life. Itu penerapan sesuai dengan kandungan al fatihah seperti apa tadz? Dan bagaimana menyingkronkan amalan hati dengan fisik?
Jawab
Way of life tersirat dalam 2 ayat terakhir. ShiratalMustaqim (jalan yang lurus). Mengikuti jalan petunjuk orang-orang yang diberi nikmat (nabi & orang-orang shaleh), konsisten antara ilmu & amal. Bukan ikut-ikutan cara hidup orang-orang yang dimurkai, (Yahudi) punya ilmu tapi mengingkari kebenaran, atau yang sesat (Nasrani), beragama tanpa ilmu. Kalo berat dibacanya pelan-pelan aja. Bisa dimulai dengan membaca terjemah mushaf.

4. Berbicara masalah ikut-ikutan orang-orang yang dimurkai. Itu seperti perayaan tahun baru tadz ya?
Jawab
Betul

5. Ustdaz mau bertanya..itu d ataskan ada beberapa hikmah kenapa al-fatihah di gelari ummul qur'an, nah yang mau ditanya kan pada no ke.3 makna al-qur'an secara umum,"hukum" teoritis (aqidah) yang wajib diketahui "nah itu maksudnya seperti apa yah ustdz??
Jawab
Hukum teoritis yang dimaksud adalah terkait aqidah yang wajib diketahui & diimani, misalnya; terkait hakikat Allah, malaikat, para Rasul, hari akhir, adanya surga & neraka. Nah di surat Al Fatihah ini menyinggung 2 hal: Tauhidullah & Hari Akhir.

> Tauhidullah it apa ustdz??
Jawab
Mentauhidkan (meng-esa-kan) Allah

6. Kalo misalkan kita dapat undangan untuk makan-makan di malam 1 januari itu piye tadz?
Jawab
Lebih amannya tidak,trutama kalo disertai perayaan/seremoni

7. Ustadz kauni itu apa yah??
Jawab
kauni = alam semesta

8. Ustdaz mengapa tidak blh memakai nama Rahman? dan bagaimana dengan nama" Allah yang lain, apakah boleh?
Jawab
Nama ArRahman adalah nama khusus milik Allah semata, karena mengandung makna Maha Pengasih/Penyayang, Pemilik puncak kasih sayang & kesempurnaan, yg mencakup semua makhluk tanpa batas. Karena itu makhluk tidak boleh dinamai dengan nama tersebut. Amannya; tambahkan kata Abd (hamba) misal jadi Abdurrahman, begitupula nama-nama Allah yang lain.

9. Ustadz,al-iltifat itu bermakna peralihan perspektif gramatikal itu seperti apa?
Jawab
Maksudnya beralihnya kata ganti orang yang diajak bicara dalam sebuah pembicaraan.
Pada ayat 1-4, digunakan kata ganti orang ketiga "DIA" untuk merujuk pada Allah. Sedangkan pada ayat ke 5, tiba-tiba beralih dengan kata ganti orang kedua "ENGKAU", untuk merujuk pada Allah. Coba dilihat dengan seksama terjemahnya. Emang bagusnya belajar tafsir sambil pegang terjemah. karena belajar tafsir adalah belajar makna AlQuran.

10. Begitu ya ustad? Ga boleh pakai nama "rahman" saja tetapi bisa jika ada tambahan lain misal "rahman utomo"?
Jawab
Pada dasarnya secara makna tetap tidak boleh. Namun karena sudah jadi tradisi indonesia, orang kita cenderung tidak peduli/tidak paham makna dalam memberi nama. Kalo pun sudah terlanjur, ya sudah

11. Ustad mau tanya, tata cara bersyariah itu contohnya dalam kehidupan sehari-hari apa ustad?? Makasii..
A : Pertanyaannya panjang×lebar = luas banget
Intinya sderhana saja: Lakukan apa yang Allah perintahkan, jauhi apa yang Allah larang

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat