Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Keikhlasan


Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ SWT
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari tanggal: Senin, 5 Januari 2015
Narasumber: Ustadzah Widya
Judul Kajian : Keikhlasan
No. Grup : M8
Nama Notulen: Farabella & Nury
•••••••••••••••••••••••••••••••••••

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Salamu'laikum w w
Bissmillahirahmanirrahiim ... alhamdulillah wa sholatu wa salamu ala rosulillah wa ala alihi wa ashbihi ajmaiyn .. amma ba'du

Baik kita mulai yaaa... para ummi... kita smua pasti pernah dan setiap hari melakukan aktifitas ini yaitu, afwan : buang air besar ... iyaaa kan benar ???
Nah pada setiap aktifitas ini ketika kita menyiramnya pasti kita tak mau melihatnya lagi.. atau.. kalaupun lihat pasti tidak berlama lama utk melihat kotoran kita... benarr ini tdk??
Apa hikmah yg bisa kita ambil dari kalimat diatas ?? Ada yg tahukah??
Artinya ikhlas itu seperti demikian... tak usah lagi kita lihat apa yg telah kita perbuat utk dirikita, kel, org lain ... karena sangat perlu kita menutupi kebaikan kebaikan kita sebagaimana kita menutupi keburukan2
Ketika kita menolong seseorang yg sdg susah rasanya ingin skl kita ungkit ketika org tsb menjengkelkan hati kita... yaaaa bunda ???
Ada hal besar yg kita lakukan u keluarga kita rasanya ingiiiin dihormati keluarga kita krn perjuangan kita ...
Pekerjaan yg bukan posisi hebat membuat kita malu dan kurang keikhlasan... lalu kita berangan angan yg panjang dan hanya melelahkan fikiran dan jiwa kita saja
Mari kita bahas makna ikhlas makna riya dan ciri2 org yg ikhlas
Makna Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat.
Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.
Jika ada diantara kita merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.
Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang
Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”
Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan maknaakhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu(yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.
Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Buruknya Riya
Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?'” (HR Ahmad).
Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)
Ciri Orang Yang Ikhlas
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu,
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
Jadi mulai skrg mari kita renungkan dan jalankan untuk :
(1) Jangan dipandang remeh sesuatu tugasan walaupun nampak kecil dan ringan. Mungkin kerja yang kecil itulah membuka jalan kepada ampunan dan rahmat Allah bila dilakukan dengan ikhlas.
Semua pekerjaan adalah tugasan dari Allah walaupun kecil dan nampak tidak penting di mata manusia. Biarlah kita seorang office boy atau seorang kerani atau seorang pemandu, itu tugasan yang Allah pilih untuk kita dan apabila kita lakukan dengan ikhlas, ganjaran besar menanti kita di sisi Allah di dunia dan di akhirat.
apa saja yang dilakukan kerana Allah, yang kecil jadi besar disisi-Nya. Itulah kehebatan ikhlas kerana Allah.
Ayuh, jangan kita tunggu lagi… serahkan apa saja yang kita akan lakukan kerana Allah. Tiada kepentingan diri, keluarga atau apa saja.
Semuanya kerana Allah, insyaAllah kita nanti tinggal bersaksikan hebatnya ganjaran yang menanti untuk orang-orang yang ikhlas kerana-Nya. Semoga kita terpilih untuk tergolong di kalangan orang-orang yang mukhlisin (orang-orang yang ikhlas)
Aamiin yaa mujibasa'iliin
Wassalamualaikum.
Sesi Tanya Jawab:
Tanya:
Mau tanya mbak
Sy punya sdr 3. Km berkomunikasi lwt wa. Sy merasa mrk bertiga lbh mendahulukan materi dlm memandang satu hal shngg seringkali jd tdk nyambung, akhirnya sy jd malasvberinteraksi di wa tsb meskipun sy ttp mengikuti percakapan mrk. Sering mrk ngomongin negatifnya sy / kadang sy merasa di bully mrk. Akhirnya stlh ckp lama sy berdiam diri skrng mrk agak baik ( terakhir mrk malu sndr krn br menyadari klu sy tahu semua percakapan mrk) n meminta sy utk meresponnya. Tp smpi skrng sy blm memberi respon krn msh agak trauma, sy lbh nyaman begini. Sy khawatir spt dl, apapun pendapat sy mrk salahkan.
Ini terutama menyangkut perawatan ibu sy. Saat ini ibu ada di rmh sy n sy mencoba tdk mnt bantuan ke mrk walaupun sy sangat membutuhkan. Bgimn menurut ustadzah?
Jawab:
tetaplah sabar karena kesabaran adalah pintu trdekat kpd Allah...
dan ingatlah... ada filosofi mngatkan bahwa "diantara bintang yg bersinar hanya ada satu yg paling terang" seperti itulah perumpaan dlm satu keluarga...
yg paling terang disini bisa dia yg paling buruk perangainya atau sebaliknya dia yg lebih memiliki akhlak yg karimah...
dan tetaplah berhubungan baik dengan saudara dgn sewajarnya tanpa nemutuskan tali silahturahiim...
apalagi yg anti lakukan hal yg mulia yaitu merawat ibunda tercinta..
maka... berbahagialah!!
karena keikhlasan anti akan membuahkan hasil yg sangat indah dan ranum, entah di dunia... dialam kubur... ataukah di hari kedua nanti...
aamiin yaa mujibasa'iliin
in syaa Allah..
Tanya:
Saya berusaha ikhlas memaafkan seseorg yg memfitnah saya.bhkn tdk menjawab salam dan sapaan saya dan suami selama berbulan2.dgn terus menyambung silaturahim dgn sodara2ny...tp lama2 saya dan suami jd agak terpengaruh krn sikap ny yg tdk sadar jg meski suami ny sdh terus2an mengingatkan ny bhkan meminta maaf berkali2 pd kami atas nama istrinya.bagaimana agar kami bisa tetap menyapa ummahat tsb meskipun dia tetap sinis pd kami?
jawab:
anti yg berbahagia, berbahagialah dan berterimakasihlah kpd si pengumpat fitnah yg telah memakan daging bangkai yg tlh dimiliki anti...
artinya anti harus memikirkan sesuatu hal yg sgt mnyenangkan yg pnh anti terima dan anti sangat berterimakasih kdp dia...
dan memang benar ini kenyataan bahwa dosa2 anti, sebagian, atau mungkin seluruhnya sdg dihapus olehnya...
maka berterimakasihlah kpd si penghapus dosa anti..
wallahu'alam, wastaghfirullah
Tanya:
Begini saya sudah menikah 7thn memiliki 1 org putri usia 6thn,dulu waktu saya sedang mengandung 4bln mertua saya bilang ke saya seandainya suami saya tdk menikah dgn saya mgkn hidup nya gak akan susah,pada saat itu kami msh mengonttrak rumah dan saya bekerja juga,bunda tau perasaan saya waktu itu seperti apa takala mendengar paparan mertua saya?saya nangis sejadi jadinya karena sakit hati,dan pada akhirnya saya melahirkan anak saya pada usia kehamilan 27mgg dokter bilang akibat tll stress,bb lahir anak saya hanya 1,6kg..sampai saat ini saya tetap berusaha baik pada mertua saya,tapi knpa dalam hati kecil saya selalu terngiang kata2 itu,sulit banget saya lupa kejadian itu,saya mohon saran.terima kasih ustadzah
jawab:
ummi solehah yg baik hati, ana yakin anti tau mana hal yg trbaik...
rejeki , jodoh, maut pemilik sang SUTRADARA AGUNG YAITU RABBI ALLAH...
siapapun yg mendahului ttg inibdan disampaikan kpd kita, untuk apa bersedih ? karena mereka bukanlah SANG SUTRADARA...
bayangkan sebuah film yg blm selesai.. sudah ada yg menebak hasil akhir film tsb...
semua hal itu diluar pengetahuannya sebagaimana pengetahuan si sutradara...
semua berhak menebak, bicara, dan berasumsi...
karena kita smua manusia...
tetaplah menghormati ibu mertua anti dan jgn lah mngikuti hasutan syaiton yg pd sbnernya anti org yg baik hati sekali...
karena syaiton tau akan hal ini maka dia tak ingin anti memiliki pahala berlipat atas ganjaran yg diberikan olh ALLAH kpd anti karena bersabar dan ikhlas...
usahakanlah agar senantiasa membaca AL QUR'AN setiap hari spt kita makan... 3xsehari... karena itu makanan bagi jiwa jiwa yg lemah...
Tanya:
Saya tahu bahwa kita harus bersikap baik kepada tetangga. Ada tetangga dirumah orangtua saya, kehidupannya pas2an sekali sehingga 2 anaknya yg masih kecil-kecil tidak terurus. Orangtua sayapun iba dan mengganggap anak2nya seperti bagian dari keluarga. Tp terkadang orangtua saya suka mengeluh melihat orangtua anak tersebut yg terkesan bergantung pada orangtua saya. Saya sempat menyarankan untuk memberikan modal usaha tapi ujung2nya setiap hasil usahanya tidak diputar kembali untuk modal justru digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Saya bilang kepada orangtua untuk tetap ikhlas membantu semampunya saja. Kalau menghadapi situasi seperti itu bagaimana baiknya ya Ustz? Bagaimana menyelaraskan ikhlas di mulut dan dihati?
jawab: j
ika msh dibicarakan atau mengungkit pemberian tdk akan membuahkan hasil apapun dari kebaikan yg tlh kita lakukan...
Bahaya Mengungkit Pemberian
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (Al-Baqarah: 264)
Al-Wahidy berkata, “Maksudnya adalah menyebut-nyebut apa yang sudah diberikan.”
Al-Kalby berkata, “Menyebut-nyebut sedekahnya kepada Allah dan menyakiti perasaan orang yang menerimanya.”
Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, serta tidak akan dipandang-Nya, dan tidak pula disucikan-Nya, yaitu orang yang mengulurkan kainnnya, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Dzar al- Ghifari).
Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga; orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, orang yang terus menerus minum arak, dan orang yang suka menungkit-ungkit pemberiannya.”
Dalam hadis lain disebutkan, “Tidak akan masuk surga orang yang memperdaya, orang yang kikir, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.” (HR Ahmad)
Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah mengungkit-ungkit kebaikan, sebab ia akan membatalkan rasa syukur dan menghapuskan pahala.” Lalu Rasulullah membacakan ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).”
Suatu hari Ibnu Sirrin mendengar seseorang berkata kepada temannya, “Aku sudah berbuat baik kepadamu, aku sudah melakukan ini dan itu.” Maka, Ibnu Sirrin menegurnya dan berkata, “Hai diamlah! Tidak ada kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut!”
Sebagian ulama berkata, “Barang siapa mengungkit-ungkit kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur dan barang siapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi terhapus.” Wallahu a’lam bish showab
Dan lebih aman nya "berikan kail lebih baik drpd ikan" saya setuju utk memberikan modal agr mereka berusaha...
Disini ada hadiah yg luar biasa lohhhh ats kbaikan ini....
Wallahualam bishowab wastaghfirullah
Tanya:
Bagaimana memaaf kan orang yg pernah jadi WiL dlm rumah tangga ustadzah,rasanya berat bgt.hampir klo kesebut dlm pembicaraan saja hati tuh rasanya hancur...
jawab:
semua manusia pada dasarnya baik fitrahnya suci hanya syaiton yg byk menghasut kita semua...
jadi perbuatan wanita lain yg tlh mngganggu sbnrnya adlh jelmaan dari iblis yg mnganggu dan mnguji rmh tangga anti...
marahlah kpd syaiton bukan manusianya ..
in syaa Allah tak ada lagi dendam
wallahualam bishowab wastaghfirullah
Kita tutup dengan membaca
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.   
                         
 ​السَّلاَمُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

**********************************************