Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

TARBIYAH


Kajian Hamba اَللّه Ta'ala 
Tanggal: 8 Januari 2015
Narasumber: Ustadzah Runie
Tema: Tarbiyah
Editor: Wanda Vexia H
Admin M105 Nanda: Aya & Dyah
Notulen: Dyah 

Assalamu'alaikum wr. wb.

Adik-adik ku yang di sayang Allah, semoga antuna tetap bersemangat dalam menerima ilmu.

Bismillahhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang memelihara alam. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah, tidak ada siapa pun yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak siapa pun yang dapat memberi hidayah kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Shalawat dan salam teruntuk Muhammad Saw, sahabat dan para umat yg mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.
Ta'riful Qur'an
Seberapa jauhkah kita membutuhkan Al Qur'an?Sesungguhnya Allah tidak lah menurunkan Al Qur'an hanya sekedar untuk mendapatkan berkah dengan membacanya, juga bukan untuk menghiasi dinding dinding dengan ayat ayatnya serta bukan untuk dibacakan saat seremonial semata dengan harapan semoga Allah mengasihi mereka.

Melainkan Allah sesungguhnya hanyalah untuk mengatur dengan hidayahNya perjalanan kehidupan, mengendalikan dengan apa yang diturunkan Allah dari petunjuk dan agama yang benar, menunjuki dengan cahaya-Nya kepada umat manusia kepada jalan yang paling lurus, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

"Maka Al Qur'an tidaklah diturunkan Allah untuk dibacakan atas orang-orang yang hatinya mati melainkan mengendalikan orang-orang yang hidup". [QS. Al-An'am:155]
"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat" [Utsman bin Affan]
"Jika hati seseorang telah bersih dan suci, niscaya ia takkan kenyang merasa untuk terus menerus membaca Al Qur'an" [Hudzaifah ra]
Saat manusia mencoba mengupas keagungan Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah swt.

Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan dalam jiwa manusia, dan berbagai lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.

Bagi manusia yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, maka dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya.

Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan;

“Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya.” Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri
[Abu Syahbah, 1996 : I/312]; “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw. Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw.

Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan;

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir” [QS.Al-Mujadilah: 21]
Definisi Al-Qur’an dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal dari qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih [Al-Qattan, 1995: 20].

Mengenai hal ini, Allah berfirman;

”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” [QS.Al-Qiyamah: 17]
Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, Allah swt. mengatakan;

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” [QS. Fushshilat: 3]
Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunjukan kepada Nabi Muhammad saw., yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.
Keterangan dari definisi itu adalah sebagai berikut:
1. (كلام الله) Kalam Allah Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang Allah ucapkan kepada Rasulullah saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril as. Firman Allah merupakan kalam (perkataan), yang tentu saja tetap berbeda dengan kalam manusia, kalam hewan ataupun kalam para malaikat.

Allah berfirman:

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” [QS.An-Najm: 4]
2. (اَلْمُعْجِز) Mu’jizat Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sudah terbukti dari semejak zaman Rasulullah saw. hingga zaman kita dan hingga akhir zaman kelak. Dari segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan oleh para pakar-pakar bahasa. Dari segi isi kandungannya, Al-Qur’an juga sudah menunjukkan mu’jizat, mencakup bidang ilmu alam, matematika, astronomi bahkan juga ‘prediksi’ (sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Rum mengenai bangsa Romawi yang mendapatkan kemenangan setelah kekalahan), dan sebagainya.

Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-Qur’an sejak diturunkan senantiasa memberikan tantangan kepada umat manusia untuk membuat semisal ‘Al-Qur’an tandingan’, jika mereka memiliki keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah.

Allah swt. berfirman;

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” [QS.Al-Baqarah:23-24]
Bahkan dalam ayat lainnya, Allah menantang mereka-mereka yang ingkar terhadap Al-Qur’an untuk membuat semisal Al-Qur’an, meskipun mereka mengumpulkan seluruh umat manusia dan seluruh bangsa jin sekaligus;

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” [QS.Al-Isra': 88]
3. (اَلْمُنَـزَّلُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah swt. langsung kepada Rasulullah saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” [QS.Asy-Syu’ara: 192-195]
4. (اَلْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ) Diriwayatkan secara mutawatir Setelah Rasulullah saw. mendapatkan wahyu dari Allah swt., beliau langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabatnya. Di antara mereka terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus mendapatkan tugas dari Rasulullah saw. untuk menuliskan wahyu.

Terkadang Al-Qur’an ditulis di pelepah korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan sebagainya. Di antara yang terkenal sebagai penulis Al-Qur’an adalah Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b, dan Zaid bin Tsabit.

Demikianlah, para sahabat yang lain pun banyak yang menulis Al-Qur’an meskipun tidak mendapatkan instruksi secara langsung dari Rasulullah saw. Namun pada masa Rasulullah saw. ini, Al-Qur’an belum terkumpulkan dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada saat ini.

Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam Peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid.

Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah saw. sebelum beliau wafat.

Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. [Al-Qatthan, 1995: 125–126].

Kemudian pada masa Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya.

Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya (Qiraat sab’ah).


Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan.

Pada saat itulah, Hudzaifah bin al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk menyalin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/qiraat yang tetap pada satu huruf.

Utsman memerintahkan (1) Zaid bin Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf.

Dan jika terjadi perbedaan di antara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan. Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain.

Sedangkan satu mushaf tetap disimpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf imam. Kemudian mushaf asli yang diminta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau. Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang sampai pada tangan kita. [Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131]

5. (اَلْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ) Membacanya sebagai ibadah dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca, memiliki nilai ibadah yang tiada terhingga besarnya. Dan inilah keistimewaan Al-Qur’an, yang tidak dimiliki oleh apapun yang ada di muka bumi ini.

Allah berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” [QS.Fathir: 29 – 30]
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. juga pernah mengatakan;

 مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ  

”Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim sebagai satu haruf. Namun Alif merupakan satu huruf, Lam satu huruf dan Mim juga satu huruf” [HR. Tirmidzi].
Kondisi saat Al Quran tidak menjadi petunjuk Interaksi yang dengan Al-Qur’an adalah salah satu ciri dari orang-orang yang bertakwa, sebagaimana dikatakan oleh sebagian Ulama, bahwa esensi daripada takwa yang sesungguhnya adalah senantiasa berupaya untuk mengamalkan Al-Qur’an.

Namun apabila melihat fenomena yang berkembang di masyarakat, ternyata sebagian masyarakat, bahkan kitapun terkadang melakukannya, Al-Qur’an tidak lagi dijadikan sebagai sahabat dalam kesehariannya.

Al-Qur’an tidak lagi dijadikan lagi sebagai teman untuk bercengkrama bersama, Al-Qur’an tidak lagi dijadikan obat kegalauan hatinya, padahal ia adalah sebagai kisah yang menyenangkan, sebagai sya’ir yang indah untuk dinikmati dan sekaligus sebagai acuan dalam hidup dan kehidupan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.

Realita sebagian masyarakat ini, padahal mereka sebagai Muslim, adalah realita yang sangat menyedihkan dan menghawatirkan untuk masa depan umat ini, sekaligus menunjukkan bahwa mereka telah menjauhkan al-Qur’an dari kehidupannya.

AlQur’an hanya dijadikan sebagai pajangan di lemari buku untuk melengkapi buku-buku yang lainnya, atau Al-Qur’an hanya dibuka seminggu sekali setiap malam jum’at, atau bahkan sebagian dari mereka dekat dengan Al-Qur’an hanya ketika ada yang meninggal.

Dan masih banyak lagi realita yang lainnya yang menunjukkan bahwa al-Qur’an sudah benar-benar dijauhkan dari kehidupan mereka. Rasulullah SAW pernah mengadukan keadaan sebagian umatnya yang meninggalkan Al-Qur’an sebagaimana disinyalir dalam firman Allah SWT,

 وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul:

”Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang diacuhkan” [QS. Al-Furqan (25) : 30]
Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kalimat mahjuran dalam ayat tersebut adalah matrukan (ditinggalkan).

Yang termasuk kategori meninggalkan Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam tafsir Ibnu Katsir adalah, tidak mau mendengarkan, tidak membacanya, tidak mau mentadaburi dan tidak mengamalkannya.

Adik-adikku yang ana cintai karena Allah, pemaparan di atas menjadi evaluasi pun untuk ana pribadi, "Sudah berapa banyak harikah yang terlewat tanpa kita bisa mengkhatamkan Al Qur'an?" Jika para sahabat, para salafushalih mentargetkan banyaknya khatam adalah per hari, Sungguh saat kita mengenal Al Qur'an, maka kita akan bisa berusaha dan terus berusaha untuk memposisikan Al Qur'an sebagai kebutuhan yang tak tergantikan.

Dengan berinteraksi terhadap Al-Qur’an yang sesungguhnya yang harus dilakukan oleh umat Islam dengan semangat untuk selalu mendengarkan ayat-ayat Allah, kemudian diikuti dengan upaya keras untuk meningkatkan interaksi tersebut dengan membaca, mentadaburi kemudian mengamalkannya.

Ya Allah, limpahkanlah rizki kepada kami, untuk membaca Al Qur'an di waktu siang dan malam. Dan ijinkanlah ya Allah, bahwa ia kan menjadi hujjah bagi kami di akhirat kelak. Aamiin ya Rabb..

TANYA - JAWAB
1. Kajian tentang tarbiyah hampir sama seperti kajian tadabbur ya bun?
Beda adikku  ...
 
2. Contoh membentuk fikroh islami seperti apa bun?
→ Mbak Dyah yang di sayang Allah, berikut 2 kisah menjadi hasil dari fikroh islami yang terbentuk dalam diri. Dimana Al-Qur'an dan sunah menjadi dasar pembentukannya.

"Agar Jangan Sampai Dikatakan"
Inilah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu.

Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!". Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?" Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin"
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya, "Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini"

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. "Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya. "Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa". Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas, "Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash". "Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar. "Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya. "Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar. "Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin". Ternyata Salman al Farisi yang berkata.. "Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini. Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini". "Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang. Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya. Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. "Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!". Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu... Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.." "Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum. Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap. Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. "Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, "Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".

Semua orang tersentak kaget. "Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.
"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.

"Allahu Akbar!" teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.
Begitupun kita disini, di saat ini.. sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..
"Allahu Akbar..." -------------------------

Adik adikku sayang semoga Allah menguatkan langkah kita dalam keistiqamahan. Semoga menular dan kita sebagai penggeraknya.


"Masjid Peradaban"
Semoga qudwah dalam tulisan ini bisa tertular di masjid lingkungan kita, Tadi sore saya berkesempatan mengunjungi "Masjid Jogokariyan" dan bertemu dengan Ustadz Yazir. dan mendapatkan banyak sekali insight tentang banyak hal.

Ust Yazir, adalah salah satu Ustadz ternama di Jogja. Kalau kita pernah membaca Iqra 1, 2, 3, sampai 6, beliau adalah salah satu perumus metode Iqra tersebut.

Masjid Jogokariyan ini adalah Masjid yg paling "fenomenal" di Indonesia. Ya karena Masjid ini jumlah jamaah sholat Subuhnya sebanyak jumlah jamaah sholat Jum'at, Subhanallah.

Ustadz Yazir bercerita tentang apa yg terjadi di Masjid tersebut. beliau salah satu pengurus Masjid, menjadi pengurus semenjak remaja. Sekarang alumni Remaja Masjid Jogokariyan ini sudah menyebar kemana-mana. Ada yang di TNI, jadi Profesor, Doktor, pejabat, dll

Yang pertama dibangun dari Masjid ini adalah sistem perekonomiannya. Beliau tidak mau membangun Masjid yang mewah, kalau ternyata masih banyak masyarakat sekitar masjid Jogokariyan yang susah makan. Beliau menerapkan Masjid sebagai rumah yang "menghidupi" masyarakat sekitar Jogokariyan. Di bulan Ramadhan, masyarakat yang kurang mampu diberikan nasi sahur. Setiap ba'da Subuh disediakan bekal makan untuk anak-anak sekolah. Bahkan disediakan uang jajan untuk anak-anak.

Setiap tahunnya disediakan 4 tiket umroh untuk 4 jamaah yang paling rajin ke Masjid!
Ust Yazir mengatakan, dana itu tidak hanya bersumber dari uang sedekah masyarakat, tapi juga dari pemberdayaan bisnis yang dikelola oleh manajemen masjid tersebut.

Ternyata di masjid tersebut dibangun juga hotel dan aula yang disewakan untuk memakmurkan masyarakat Jogokariyan.

"Kalau masjid kita semakin mewah sementara masyarakat kita masih ada yang ndak bisa makan, mending kita bongkar masjidnya dan uangnya dikasih ke masyarakat buat makan..", demikian ucap Ustadz Yazir.

Saat bertanya tentang program kepemudaannya, Ustadz menjawab bahwa di Masjid ini setiap jenjang ada aktivitasnya. Untuk kelas 2 SD sampai 2 SMP, masuk ke Hamas Jogokariyan (Himpunan Anak Masjid). SMP ke atas masuk RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan). Kalau sudah pindah, nantinya bergabung ke Alumni RMJ.

Aktivitasnya ternyata sangat mencengangkan! Contohnya saja, aktivitas untuk Hamas. Apa yang terbayang dilakukan di Hamas itu? Belajar mengaji? Bermain di taman? Berolahraga? Menggambar?. Tapi yang tadi Ustadz ceritakan adalah kajian tentang kebijakan BBM dll dan mengundang seorang Profesor dari UGM.

"Orang zaman dulu itu tidak lama masa main-mainnya. Soekarno jadi Presiden 42 tahun. Bung Hatta 37 jadi Wapres. Sutan Sjahrir pernah jadi PM termuda di dunia; usia 27 tahun." Ucapnya.

Beliau menjelaskan, beliau sudah terbiasa membaca buku Madilog sejak SMP Juga buku-buku ideolog " beliau, sangat luar biasa wawasannya. Walaupun "hanya" mengurus Masjid, tapi wawasannya internasional! Beliau bahkan baru diundang oleh Lemhanas RI sebagai salah satu narasumber kajian Indonesia 2045.

Menerawang bagaimana Indonesia di 100 tahun kemerdekaannya. Ingatan sejarahnya juga sangat luar biasa. Bahkan sampai detail-detail tanggal penting sejarah bangsa ini beliau hafal. Dari didikannya itulah lahir seorang anak "Shofwan Albanna, seorang yang sangat kita kenal hari ini.

Mudah-mudahan banyak pesan yang bisa kita dapatkan. Tapi satu yang akhirnya sangat menggelisahkan saya adalah satu term : "Masjid Peradaban". Apa yang bisa kita lakukan untuk itu?

Semoga bermanfaat. Subhanallah itulah hasil dari tarbiyah; dengan mengacu kepada Al Qur'an dan sunah; membuat hal seserhana menjadi besar dan membuat hal besar menjadi luar biasa tentunya semua itu atas Karunia Allah SWT. InsyaAllah hati kita semakin bersinar dlm nikmat iman- hidayah Nya. Jazakumullah khairan katsiran


3. Bagaimana cara yg paling efektif agar keluarga kita yang jarang membaca al qur'an, minimal mau mngenal, mendekat dan membaca al qur'an?.. (kwluarga yang di maksud adalah yang statusnya sudah lebih dewasa dari saya.
Mbak Dewi yang disayang Allah, dari pengalaman ana pribadi meminta dengan lisan biasanya tidak seefektif dengan contoh dan aplikasi dari diri kita pribadi. Luangkan waktu untuk bersama-sama berdoa dengan kakak dan ibu misalnya. InsyaAllah bapak pun akan tersentuh. Juga Kuatkan doa kepada Sang Pemilik Hati


Penutup
Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin.... 

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
 
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” 
  Wassalamu'alaikum...

For more category please visit:
(www.kajianonline-hambaAllah.blogspot.com)