Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

BERTANYA TERHADAP HAL YANG SUDAH DITETAPKAN, BAIK ATAU BURUK??

Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala
(Link Nanda)

Hari / Tanggal : Senin, 02 Februari 2015
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 بسم الله الرحمن الرحيم

Bertanya... Bertanya lagi... Bertanya lagi, terhadap hal yang sama yang sudah ditetapkan. Baikkah...? Atau Burukkah...?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, اللّهُ  memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. اللّهُ  Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”

Jika merupakan pertanyaan terhadap sesuatu yang ghaib, dimaafkan oleh اللّهُ,  atau tidak diharamkan dan tidak pula diwajibkan oleh اللّهُ.

Orang yang bertanya tentang hal itu pada waktu turunnya wahyu dan syari’at, boleh jadi akan menjadi wajib karena pertanyaan tersebut. Maka, masuklah orang yang bertanya sebagai orang yang dicela dalam sabda Rasulullah ﷺ  :

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْماً مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ.

”Sesungguhnya orang Islam yang paling besar kejahatannya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang semula tidak diharamkan, kemudian diharamkan dari sebab pertanyaannya itu”.

Seseorang dilarang bertanya untuk menentang dan mencari-cari kesalahan, serta menanyakan suatu perkara yang tidak penting yang di sisi lain meninggalkan pertanyaan tentang perkara yang lebih penting. Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti ini dan sejenisnya yang dilarang oleh syari’at.

Adapun pertanyaan untuk mencari bimbingan tentang agama, baik ushul maupun furu’-nya atau perkara-perkara ibadah maupun muamalah, maka ini merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh اللّهُ  ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ.  Bahkan hal itu sangat dianjurkan karena merupakan sarana untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan memahami hakekat syari’at ini. اللّهُ  ta’ala telah berfirman :

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

”Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” [QS. Al-Anbiyaa’ : 7].

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

”Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?" [QS. Az-Zukhruf : 45].

Dan ayat-ayat yang lainnya.
Rasulullah ﷺ  telah bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراًَ يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

”Barangsiapa yang اللّهُ  kehendaki dengannya kebaikan, niscaya اللّهُ  akan pahamkan ia dalam ilmu agama”.

Semua itu diperoleh melalui jalan at-tafaqquh fid-diin (memahami ilmu agama), baik melalui penelitian, belajar, maupun bertanya. Rasulullah ﷺ  pernah bersabda :

أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ.

”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya”.

Justru اللّهُ  ta’ala telah memerintahkan kita untuk bersikap lemah-lembut kepada orang yang bertanya dan memberikan apa yang dimintanya dengan tidak menghardiknya; sebagaimana firman-Nya ta’ala :

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ

”Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya” [QS. Adl-Dluha : 10].

Yang dimaksud ”orang yang meminta-minta” dalam ayat ini meliputi orang yang meminta ilmu yang bermanfaat dan kebutuhkan duniawi, harta atau yang lainnya.

Termasuk dalam cakupan (larangan) dalam hadits di awal adalah : Bertanya tentang kaifiyah shifat Al-Baariy (yaitu Allah). Karena masalah shifat ini seluruhnya adalah sebagaimana dikatakan Al-Imam Malik kepada orang yang bertanya kepadanya tentang kaifiyah istiwaa’-nya اللّهُ  ta’ala di atas ’Arsy :

"الاستواء معلوم. والكيف مجهول. والإيمان به واجب. والسؤال عنه بدعة"

”Istiwaa’-nya اللّهُ  itu telah diketahui (maknanya), kaifiyah (bagaimana/hakekat)-nya tidak diketahui, mengimaninya (istiwaa’) adalah wajib, dan mempertanyakannya adalah bid’ah”.

Barangsiapa yang bertanya tentang kaifiyah sifat اللّهُ  atau bagaimana penciptaan dan pengaturan-Nya, maka katakanlah kepadanya : “Sebagaimana Dzat اللّهُ  ta’ala tidak serupa dengan dzat makhluk-makhluk-Nya, maka sifat-Nya juga tidak serupa dengan sifat makhluk-makhluk-Nya”.

Semua makhluk mengenal اللّهُ  melalui pengenalan terhadap sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Adapun kaifiyah tentang itu semua, maka tidak ada yang mengetahui melainkan اللّهُ  ta’ala.

Kemudian, Beliau ﷺ bersabda “Maka apabila aku melarang sesuatu kepada kalian, tinggalkanlah”. Segala sesuatu yang dilarang oleh Nabi ﷺ  baik ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin, maka wajib untuk ditinggalkan dan menahan diri darinya; sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada اللّهُ  dan Rasul-Nya.

Selisihilah Orang Yahudi yang selalu banyak bertanya yang sia-sia.

Mereka bertanya bukan untuk keinginan “mengamalkan pertanyaan yang mereka tanyakan”… hanya saja untuk “sekedar bertanya”… bahkan pertanyaan yang mereka ajukan hanyalah membingungkan orang yang ditanyakan…

Berkata para ulama tafsiir:
“Mereka hanya disuruh menyembelih sapi betina saj tapi mereka banyak bertanya, dan mempersulit diri hingga akhirnya اللّهُ  mempersulit mereka. Seandainya mereka MENCUKUPKAN DIRI dengan perintah tersebut, niscaya Allah tidak akan menambahkan penjelasan terhadap perintahNya tersebut…”

Dikatakan adh Dhahhaak :
“Bahkan mereka hampir saja tidak mengamalkan apa yang mereka tanyakan tersebut. Sesungguhnya penyembelihan itu bukanlah hal yang mereka inginkan, karena mereka memang tidak ingin menyembelihnya… Meskipun telah datang berbagai penjelasan, tanya jawab maka mereka tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah. Ini merupakan celaan atas mereka. Tujuan mereka bertanya itu hanyalah untuk membingungkan Musa semata, oleh karena itu mereka hampir saja tidak menyembelihnya…”

Nabi ﷺ  telah melarang kita untuk mengikuti “sunnah yahudi” ini…

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu.

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering menyelisihi para Nabi mereka.” (HR. Muslim)

Hal ini sebagaimana firman اللّهُ  yang menyebutkan perkataan Musa kepada bani israail:

فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

“maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu (tanpa banyak bertanya lagi tentangnya)” (al Baqarah: 68)

Jadi sudah mengetahui yaaa, mana bertanya yang baik dan mana yang bertanya melanggat syariat. Dan setelah ini... Jangan sampai tidak bertanya karena memahami materi diatas yang setengah setengah.
والله أعلم بالصواب

TANYA JAWAB

Pertanyaan M101

1. Hal yang semula tidak di haramkan kemudian menjadi haram karena ditanyakan seperti apa tad?
Jawab
Kalau ditanya dimanakah اللّهُ ....? Pasti semua sepakat, bahwa اللّهُ Ta'ala ada di Arsy. Sesuai dengan dalil tertinggi yaitu Al Quran. Kalau ada syubhat seperti, dimana اللّهُ sebelum Arsy diciptakan? Pertanyaan ini menjadi contoh banyak bertanya dan hal yang tidak perlu. Dan hal ini menjadi terlarang (haram), jika ditanyakan. والله أعلم بالصواب

2. "Selisihilah yahudi yang bertanya sia-sia."  Selisihilah yang bagaimana kalo dalam zaman sekarang, dan hal-hal seperti apa contohnya tadz yang biasanya mereka hanya bertanya sia-sia?
Jawab
Bisa contoh seperti percakapan nenek dan cucu tadi. Contoh sederhananya lagi. Anggaplah yang bertanya orang dewasa yang belum mengerti :

A : Puasa, ngga boleh makan NASI ya?
B : Iya... Kalau puasa makan dan minum APAPUN itu tidak boleh sampai menjelang maghrib.
A : Kalau makan sayur?
B : Tidak boleh
A : Kalau Kentang
B : Semua makanan tak boleh
A : kan kentang di rebus
B : #€#£^|%. Tak boleh yaa
A : sedikit aja tetep ga boleh....?

Ituh!
Kan udah dijelasin APAPUN tidak boleh, maka pertanyaan berulang pada satu topik akan menjadi hal yang sia sia dan membuang waktu.
Samina wa atona...!!! Bismillah...!!!

Pertanyaan M102 

1. Misal ada pendapat 2 ustadz yang memperbolehkan foto selfie dan tidak memperbolehkannya. Lalu yang baik ambil pendapat yang mana ya tadz?. Jazakallah
Jawab
Harus dilihat dulu pembahasannya mengarah kemana. Jangankan selfie. Pisau saja bisa bermakna positif dan negatif. Tergantung untuk apa kita pergunakan pisau tersebut.

Pertanyaan M103

1. Assalamualaikum ustadz dodi ana mau bertanya.. Ada teman yang mempelajari  sebuah kitab tapi sejatinya dia tak memahami sebelumnya tapi dia memaksakan kapasitasnya untuk mempelajarinya tanpa bimbingan guru.. Itu harusnya gimana yah ustadz.. jazakillah untuk jawabannya
Jawab
Tidak bisa mempelajari Islam secara mandiri. Semua orang butuh guru dan pembimbing. Coba lihat diluar sana, masih banyak dan semakin banyak orang berbondong bondong mencari ilmu dengan ikut kajian offline. Dan memang kita disuruh berkelompok dalam hal ini, bukan individualistis

Pertanyaan M104

1. Jadi terlalu banyak bertanya yang dilarang itu gimana? soalnya kalo kaum yang disuruh mneyembelih sapi betina itu makin mereka bertanya yang seperti apa biar ga salah. apa itu dilarang juga ustad?
Jawab
Justru karena banyak bertanya, maka اللّهُ memberatkan syaratnya. Padahal diawal hanya sapi betina saja (titik), karena tidak taat dan terlalu banyak bertanya, akhirnya اللّهُ menyusahkan dan menyulitkan mereka dengan tambahan warna. Mereka tanya lagi... Akhirnya اللّهُ sulitkan dengan syarat tidak pernah membajak sawah. Mereka tanya lagi... Akhirnya اللّهُ sulitkan dengan tanpa pernah bekerja apapun
Dstny dstnya

Pertanyaan M105

1. Saya masih belum mengerti tentang yang dikatakan oleh Al- Imam Malik kepada orang yang bertanya kepadanya tentag kaifiyah istiwaa'-nya Allah.. mohon dijelas kan ust? Dan apa itu kaifiyah?
Serta istiwaa'-nya Allah SWT ?
Jawab
Tempat bersemayamnya atau berdiamnya اللّهُ Ta'ala

Pertanyaan M106

1. Ustadz saya mau bertanya. Biasanya kalau kita jadi karyawan baru di tempat kerja, pasti banyak hal² yang masih belum kita kuasai dan kita jadi sering bertanya kepada senior atau atasan. Nah tapi ustad, kadang itu kalau kita sering bertanya nanti dikiranya kita cerewet/banyak nanya, tapi kalo ga ditanyakan, kita sendiri juga belum paham. Bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan kalau dalam situasi seperti itu ustadz? Mohon pencerahannya. Syukron
Jawab
Tidak apa dalam hal tersebut. Karena memang harus melakukan adaptasi dan penyesuaian. Jika memang bisa bertanyalah apa yang harus diketahui sambil memegang SOP atau JOBDESC yang dibebankan kepada pekerjaan kita. Karena ini jatuhnya lebih mudah dan cepat, karena semua panca indera bekerja, membaca, mendengar, melihat dan mencatat.

2. Mau bertanya ustadz.,
Bagaimana kalo ada orang yang bertanya kepada kita tentang ilmu ibadah dan kita tau jawabannya serta dasarnya tetapi kita sendiri jarang mengerjakannya tapi disisi lain kita berusaha mengerjakan semua itu? Syukran
Jawab
Kalau tidak mengerjakan semua kewajiban, maka minimal jangan tinggalkan semuanya. Ini juga sebagaimana kaidah:
ما لا يدرك كله لا يترك جله

“apa-apa yang tidak dicapai semuanya, jangan tinggalkan semua”

Misalnya ketika seseorang yang tidak shalat namun ia tahu shalat itu wajib dan ia tahu temannya juga tidak shalat, maka ia di tuntut 2 hal :
(1) Melakukan shalat
(2) Memerintahkan temannya untuk shalat.

Maka dalam kasus ini ia tetap wajib memerintahkan temannya shalat, walaupun ia tidak atau belum shalat. Dengan ini ia menunaikan 1 kewajibannya. Karena jika ia tidak shalat dan tidak memerintahkan temannya untuk shalat, ia melakukan 2 keburukan, sebagaimana kata Syaikh Ibnul Utsaimin, “anda meninggalkan hal yang diperintahkan sekaligus juga melakukan yang dilarang“. Yaitu meningalkan shalat dan meningalkan amar ma’ruf.

Ini dalam kasus kasus tertentu. Dan bukan dijadikan landasan untuk tidak mau menuntut ilmu hanya mau menyampaikan. Jangan jadi mercu suar yang bisa menerangi tempat nun jauh disana. Tetapi dirinya sendiri gelap dan tidak bisa disiniari oleh lampunya sendiri.

3. Assalamu'alaikum ustadz, saya mau tanya.
kalo ada orang kepo /cerewet (ya tanya-tanya terus, gak tau itu memang tanya atau ngeles aja) dalam amal itu gimana nanggepinnya sedangkan dia ceritanya sama kita?
Jawab
 وَ عَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Biarkan sajaaa. Kepo dalam urusan orang dilarang dalam Islam. Ini bisa masuk kategori tajassus

4. Assalamu'alaikum ustadz, mau tanya kalau kita tanya (bener²) tidak tau tapi orang lain menanggapinya seperti ngetes dia, jadi jawabnanyapun tak memuaskan, kalaupun di tanya lebih dalam malah marah² sikap kita bagaimana ya ustadz? Mohon pencerahannya, syukron
Jawab
Sampaikan diawal sebagai kalimat pembuka yang mengatakan bahwa kita benar benar tidak tahu dan membutuhkan jawaban agar kita bisa menentukan dalam mengambil keputusan kedepannyaaa. In sha اللّهُ yang akan menjawab akan mengerti karena ada penekanan diawal yang menyatakan kita tidak tahu.

5. Saya mau tanya, apakah kita sebagai muslim berhak menanyakan keberadaan Allah seperti apa yang dilakukan kaum sufi/orang-orang filsafat? apa hukum dalam islam bagi mereka-mereka yang seperti itu?
Jawab
Keberadaan اللّهُ bagi dakwah sunnah adalah sudah jelas di Arsy. Dan kita cukupkan sampai disana saja. Tidak usah mencari tahu lagi atas apa apa yang tidak diberi petunjuk sama اللّهُ

Pertanyaan M108

1. Ustad contoh pertanyaan yang dilarang oleh syari'at itu seperti apa?? afwan masih belum faham.
Jawab
Saya jawab dengan contoh pertanyaan yang ngeselin yaaa. Ini hanya contoh, artinya kita jangan seperti itu.
Suatu pagi di sebuah desa.
Cucu: "Hai Nek. Nenek lagi apa tuh?"
Nenek: "Nenek lagi nyari daun kelapa nih."

Cucu: "Untuk apa daun kelapa Nek?"
Nenek: "Untuk dibuat ketupat, Sayang."

Cucu: "Trus ketupat untuk apa Nek?"
Nenek: "Untuk dimakan nanti."

Cucu: "Ohh nanti. Kalo sekarang nenek lagi apa?"
Nenek: "Ngambil daun kelapa. Hih!"

Cucu: "Untuk apa?"
Nenek: "Untuk dibuat ketupat. Udah nenek bilang kan tadi?"

Cucu: "Ketupat itu untuk apa nek?"
Nenek: "Ya untuk   dimakanlah. Masa untuk keramas."

Cucu: "Ohh gitu ya, Nek."
Nenek: "Iya. Sudah pergi main sana. Jangan ganggu nenek."

Cucu: "Kenapa?"
Nenek :"Nenek lagi sibuk."

Cucu: "Sibuk ngapain sih Nek?"
Nenek: "Nyari daun kelapa. Kan udah dibilang tadi."

Cucu: "Daun kelapa untuk apa?"
Nenek: "Untuk buat KETUPAT! KETUPAT! KETUPAAAAT!!!"

Cucu: "Nenek bicara sama siapa?"
Nenek:"Sama kamu lah!!"

Cucu: "Kenapa teriak-teriak? Saya kan di dekat nenek."
Nenek: "Karena kamu gak paham-paham. Nggak lihat apa nenek lagi kerja?"

Cucu: "Kerja apa Nek?"
Nenek: "Arrrrrghhhhhhhh!!! NYARI DAUN KELAPAAAA!"

Cucu: "Daun kelapa untuk apa?"
Nenek: "Ya Alloohh... cucu aku Ini. Untuk dimakan!"

Cucu: "Kan ada beras di rumah. Kenapa nenek mau makan daun kelapa?"
Nenek: "Cucu nenek yang paling kiut, lucu, pinter, ganteng... Sebelum nenek dapet stroke, sebaiknya kamu pergi sana, biarkan nenek bekerja. Jangan ganggu ya?"

Cucu: "Kok dapet stroke?! Jadi sebenarnya nenek nyari daun kelapa atau nyari stroke? Stroke itu apa sih Nek? Apa dia hijau juga kayak daun kelapa?"
Nenek: "AdohhHHH.... aku stress! Aku sakit kepala! Aku pusing 7 trenggiling! Aku mau gila! Aku stress stress stress!!!" "

Cucu: "Kalo cari daun kelapa bikin stress, kenapa nenek masih mau nyari juga?"
Nenek: "CUKUP!!! JANGAN TANYA LAGI..!!! BAGUS KAU PULANG KE RUMAH SEKARANG!!!! CEPAT!!"

Cucu: "Iya, Nek. Nenek nggak ikut pulang?"
Nenek: "Enggak! Nenek lagi kerja!"

Cucu: "Kerja apa Nek?"
Nenek: "Cari daun kelapa!"

Cucu: "Daun kelapa untuk apa sih Nek?"
Nenek: "Arrgghhh!!! Tidak!! Tidak!!!! Tidaaaaaak!!!!!!!!"
*cabut pohon kelapa*
*lempar ke udara* (nenek sakti)

Itu pertanyaaan yang super nyeeebbbeeeliiiinnnn

2. Kalau misal seperti orang syiah itu kan katanya percaya Allah dan Nabi Muhammad tapi hanya tidak percaya dengan sahabat-sahabat nabi. Dan mempertanyakan tetang sahabat-sahabat nabi itu. Sehingga khalifah-khalifah di mata mereka tidak baik dan mengganti-ganti ajaran islam tapi tetap percaya Allah. Apakah itu termasuk beriman dengan Allah?
Jawab
Iya dunk.... Kan اللّهُ sudah menjanjikan bahwa para sahabat masuk surga bukan...? Kalau اللّهُ berkata demikian dan kemudian orang syiah tidak percaya sahabat, artinya orang syiah secara tak langsung menistakan اللّهُ donk. Logika berfikir kita harus seperti diatas. Tidak mungkin janji اللّهُ itu meleseeettt barang sedikitpun.

3. Melihat perkembangan ilmu saat ini, terutama ilmu agama. Banyak sekali sekarang orang-orang yang pinter dalam ilmu agama. Saking pinternya, banyak yang menjawab berdasarkan pemahamannya tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat. Akhirnya, masyarakat jadi bingung sendiri mana yang harus di ikuti. Melihat kondisi tersebut, lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orang yang awam? Terimakasih. 
Jawab
Bisa mencari sendiri berdasarkan keilmuan yang kita punyai, tapi ini opsi jarang yang diambil. Meminta referensi berdasarkan teman teman yang solehah, dimanakah kajian kajian yang hanya berbicara berdasarkan DALIL tanpa hawa nafsu nara sumbernya. Datangi dan amati... Lakukan berulang kali... Dan telaah kembali dirumah apa yang dicatat dikajian. Jika ragu minta second opinion. In sha اللّهُ akan terbiasa nantinya.

Kuncinya → Semua harus berdasarkan DALIL, jika ada kajian yang sumbernya adalah "kata ustadz" , "kata habib" atau "kata ulama", maka abaikan dan cari yang lain. Karena manusia tidak terlepas dari kesalahan

Pertanyaan M111 

1. Bagaimana menanggapi pertanyaan dari anak kecil?
Jawab
Silahkan disesuaikan dengan bahasa anak kecil. Gunakan kalimat yang mudah dimengerti oleh mereka. Wajaarrrr. Jika anak kecil bertanya karena rasa keingintahuannya besar. Karena akal yang dimilikinya belum terbentuk maksimal.

2. Bagaimana sikap kita terhadap seseorang yang banyak tanya (bukan anak kecil) padahal pertanyaannya itu sebenarnya gak terlalu penting? Sedangkan sesuai surat Adl-Dluha : 10, bahwa kita tidak boleh menghardiknya.
Jawab
Kalau dalam proses belajar mengajar dipersilahkan. Selama memang belum semuanya dikupas tuntas. Contoh paling gampang saja dalam dunia eksak. Jika 1+1 = 2, maka ini sudah final, dan tidak bisa dirubah apapun juga. Jika ilmu tambah tambahan sudah diajarkan maksimal. Kemudian ada yang bertanya. Kenapa nilainya 2....? Kok ngga 3...? Kan bagus lebih besar dari 2. Naaah. Yang seperti ini yang dilarang.

3. Bagaimana adab bertanya yang benar, tidak menyinggung dan bisa menghormati jawaban?
Jawab
Mau tips yang mudah...?
Bertanyalah jika kita memang tidak tahu dan ingin tahu jawaban yang benaarr. Maka jika jawaban sudah disajikan berdasarkan ilmu yang pasti dan dalil yang shahih, maka terimalah. Jika belum maka silahkan bertanya lagi agar tidak terjadi salah persepi.

4. Bagaimana memberikan gambaran terhadap anak kecil yang mulai bertanya tentang Allah. Misalnya, seperti apa wujud Allah, Allah ada dimana, dsb?
Jawab
Cara menjawab kepada anak tentang dimana  اللّهُ
Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan langit, bintang, bumi, sungai, batu, burung, cicak, kucing, dan semuanya. Tuhan juga menciptakan ayah, ibu, kakak, juga kamu. Tuhan didalam agama kita adalah  اللّهُ , tidak ada Tuhan selain  اللّهُ. Mungkin kamu sering mendengar nama Tuhan-tuhan lain, tapi Tuhan-tuhan yang kamu dengar itu tidak mampu menciptakan seperti  اللّهُ ciptakan. Banyak Tuhan juga yang kamu dengar di agama lain. Tapi Tuhan yang benar adalah cuma 1 diantara yang lain yaitu  اللّهُ. Cuma  اللّهُ lah yang mempunyai kemampuan untuk melihat tingkah laku manusia dimanapun Manusia berada. Maka dari itu ya Nak,  اللّهُ itu diatas. Dia Maha Mengetahui, Dia Maha Melihat dari nun jauh diatas sana atas apa yang kita perbuat sekecil apapun di dunia ini. Bagi yang mencipta pasti berbeda dengan yang diciptakan ya Nak. Seperti kamu membuat mainan LEGO. Pasti lebih sempurnanya kamu sebagai pembuat dibandingkan dengan apa yang kami buat Nak. Demikianlah juga dengan  اللّهُ.  اللّهُ adalah sesuatu yang sangat sempurna yang sulit diucapkan melalui kata-kata.

Pertanyaan M112

1. Assalamualaikum, ustadz saya mau nanya bagaimana kita menghadapi orang yang bertanya bukan karena benar-benar ingin mengetahui hal tersebut namun ada maksud lainnya, sudah tahu masi bertanya, sudah mutlak kebenarannya masih diperdebatkan?
Jawab
Tinggalkan debat kusir jika sudah masuk ke ranah tersebut. Jadi yang penting kita sudah menyampaikan yang sesuai dengan syariat, dan jika masih berdebat, maka serahkan kepada ahlinya atau tinggalkan.

2. Saya mau nanya,  kan dalam agama kita tu ada yang berbeda pendapat tentang hadist misalnya baca Quran. ketika kita sudah lama yakin dengan hadist A ternyata ada hadist B yang berbeda itu gimana ustadz kalau kita mempertanyakan perbedaan pendapat itu untuk lebih meyakinkan diri apakah boleh? mengingat tadi ustadz sampaikan dalam materi kita jangan bertanya untuk mempersulit diri.
Jawab
Boleeehhh. Kan dalam mencari sumber yang paling dekat keshahihannya. Jadi hal ini membuka wacana kita untuk terus belajar belajar dan belajar. Ingat yaaa proses belajar. Bukan untuk berdebat.

Pertanyaan M113

1. Sebentar lagi imlek tahun baru cina kalau mengucapkan selamat apakah tidak boleh? kalau di kasih semisal ampoi dan kue sebaiknya di trima atau di tolak ustad?sukron.
Jawab
Tak boleeeehhh. Karena ada unsur ibadah didalamnya. Penyembahan dewa. Jika kue biasa dan tidak menjadi ciri khas imlek. Maka dipersilahkan. Jika ciri khas, maka tolak saja yaaa

2. Ustadz mau tanya perbedaan salafi sama wahabi itu apa ya? maaf agak menyimpang
Jawab
Sama sama sajaaa. Cuma pelabelan wahabi itu sering dipakai orang orang yang ingin menghancurkan dakwah salafy yang kuat akan pendalilan dan dakwah sunnah. Yang sering menggunakan kata wahabi adalah orang-orang syiah, JIL, Islam Toleran dlsbnya

3 "Jika merupakan pertanyaan terhadap sesuatu yang ghaib, dimaafkan oleh اللّهُ,  atau tidak diharamkan dan tidak pula diwajibkan oleh اللّهُ. "
Bukankah kita justru dilarang mempertanyakan hal-hal ghaib ya? Apakah maksud kalimat ini adalah untuk nyambung dengan kalimat di bawahnya tentang wahyu? asiif, agak kurang paham, takutnya jadi salah persepsi. Mohon diterangkan ust, apa maksud dari kalimat tersebut. syukron
Jawab
Iyaaa. Selama tidak dibahas didalam Al Quran memang kita dilarang membahas yang ghaib ghaib. Sebagai contoh menerangkan bentuk Tangan اللّهُ seperti apa. Ini tidak boleh, karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. Kalimat pertanyaan diatas adalah tidak berdiri sendiri ada Ayat Al Quran sebelumnya dan penjelasan Nabi ﷺ setelahnya. Jadi kalimat itu berdasar pada orang orang dahulu yang bertanya bagaimanakah Al Quran diturunkan atau apapun yang tidak bisa dinalar akal. Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan didalam sabdanya yang ada dimateri diatas.
والله أعلم بالصواب

Pertanyaan M114 

1. Ustadz ana nanya bagaimana jika seorang akhwat yang sudah menikah/single bertanya kepada seorang ustad tetapi malah disitu terlibat obrolan candaan yang tidak penting apakah diperbolehkan/tidak dalam agama?
Jawab
Cluenya TIDAK PENTING diatas, maka menjadi tidak diperbolehkan didalam Islam membuang waktu terhadap hal hal yang tidak bermanfaat.



Pertanyaan M115

1. Apa hukum menggabungkan puasa senin kamis dan puasa ayamul bith yang jatuh tepat pada hari kamis? Atas jawabannya ana ucapkan Jazaakallahu khairan katsira wa Barakallahu fikum
Jawab
Niatya jika dihari kamis, puasa ayamul bith, in sha اللّهُ dapat pahala puasa senin kamis juga

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Penutup
Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat