Home » , , , » HARTA DAN PERAN BANK SYARIAH DARI PERSPEKTIF

HARTA DAN PERAN BANK SYARIAH DARI PERSPEKTIF

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, February 16, 2015

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 2 Februari 2015
Narasumber : Ustadz Ali Sakti
Rekapan Grup Bunda M2 dan M15 (Bd. Ika Apriandini)
Tema : Perbankan syariah
Editor : Rini Ismayanti


HARTA DAN PERAN BANK SYARIAH DARI PERSPEKTIF

Assalamu'alaikum wr wb
Bismillah walhamendulillah
Allahumma shalli ala Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wasallam

Mari kita mulai majelis ilmu ini dengan basmallah..

Ekonomi dalam Islam pada dasarnya ingin memastikan agar harta terdistribusi pada semua manusia. Sehingga tiap manusia terpenuhi kebutuhan pokoknya dan tidak ada alasan secara ekonomi seseorang untuk tidak patuh pada Allah SWT.
Nabi bersabda kefaqiran mendekatkan diri pada kekufuran. Oleh sebab itu memastikan harta terdistribusi dengan perangkat Islam, seperti syariat, akidah dan akhlak menjadi prinsip utama Islam dalam berekonomi ketika juga Allah SWT katakan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, maka sepatutnya tidak ada alasan termasuk alasan ekonomi untuk tidak taat pada Allah SWT tapi ternyata realitanya banyak manusia tidak seperti yang diharapkan, yang kaya asyik dengan kekayaannya, yang miskin tipu-tipu orang kaya untuk dapatkan apa saja untuk hidup. Sementara dalam Islam, kita akan dalami lebih jauh, seperti apa sepatutnya berekonomi dan seperti apa implikasi yang diharapkan.
Menjalankan ekonomi Islam secara syariat artinya menunaikan kewajiban untuk taat pada aturan Tuhan tanpa syarat, seperti memproduksi-mengkonsumsi barang halal, membayar zakat, menjauhi riba dan tidak berjudi. Sedangkan menjalankan ekonomi Islam secara akidah dan akhlak artinya mengamalkan prinsip berakhlak yang mencerminkan tingkat keimanan. bukan hanya sekedar mencari kehalalan tetapi juga kemuliaan, seperti dengan infak, sedekah, hadiah, wakaf dll.
Dengan demikian secara umum harta dapat terdistribusi scara baik dapat dilakukan dengan 2 cara melalui:
1. Menjalankan syariat, membayar zakat, tidak mengambil riba dan tidak bermain judi. Dengan zakat orang mustahik jadi slalu memiliki pendapatannya yang dapat menjaga harga diri mereka dan tanpa praktek riba dan judi, tiap orang yang ingin mendapatkan untung harus beraktifitas ekonomi secara produktif, yaitu berjual-beli atau investasi.
2. Menjalankan akhlak Islam dalam berekonomi, menjadikan harta sebagai alat meninggikan kemuliaan atau kemanfaatan diri, karena Nabi bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dengan meningkatkan keimanan, kezuhudan dan ukhuwah tentu akan membuat mereka yang berharta tidak segan-segan berbagi dengan mereka yang membutuhkan, melalui infak, sedekah, wakaf atau hadiah.
Perlu diingat harta dapat menjadi fitnah atau masalah, bukan hanya bagi orang fakir-miskin tetapi juga bagi orang kaya. Jika Nabi katakan bahwa nanti manusia akan bpenyakit WAHN, yaitu cinta dunia dan takut mati, mungkin penyebab utama adalah kecintaan dan keserakahan kita pada harta yang teramat sangat. Karena Allah juga sudah ingatkan dalam surat Al Israa ayat 100, sungguh kecintaan manusia pada harta itu teramat sangat. Untuk itulah kita dibekali Qur'an dan Hadits untuk taat pada syariat dan berakhlak dalam mencari, mengelola dan membelanjakan harta.
Nah pada masa sekarang ini salah satu ijtihad penting dalam mengoptimalkan harta terdistribusi adalah beroperasinya bank syariah (BS). BS bukan hanya menawarkan pengelolaan harta secara halal, bebas dari riba dan judi, tetapi juga mendorong aktifitas ekonomi produktif dengan meningkatkan ketersediaan modal usaha dan kesempatan berusaha.
Mari tingkatkan kepatuhan kita pada Allah SWT dengan menjalankan syariat dan akhlak Islam dalam berekonomi sehingga tidak perlu lagi ada yang mencari rizki dengan cari menjadi preman, pelacur, penipu, merampok dan lain-lain. Semoga usaha kita ini menjauhkan bala bencana akibat kemurkaan Allah karena dosa pada pengelolaan harta yang tidak diperkenankan Allah SWT. Sebaliknya semoga ketaatan kita ini mengundang keberkahan Allah SWT brupa anak yang shaleh, amal shaleh yang blipat ganda dan menjauhkan musibah
wallahu a'lam bishawab..

Ustad Sayyid Qutub pernah mengatakan jangan biarkan orang kaya asyik dengan kekayaannya, karena suatu saat mereka akan mengajak orang miskin bmaksiat bersama mereka. Sehubungan dengan itu mari kita lihat angka-angka ekonomi sosial kita yang jarang dikaji. Menurut data UNDP, di indonesia terdapat 324 ribu pelacur (baik laki-laki maupun perempuan) dengan rasio pelacur dan pelanggannya 1:37, artinya ada 12 juta pelanggan pelacuran
Astaghfirullah, jumlah pelanggan pelacuran indonesia mengalahkan jumlah pelanggan bank syariah tahun 2013.
Lihat implikasi ekonminya, jika tiap pelanggan menghabiskan 1 juta untuk kemaksiatan ini, maka jumlah transaksinya mencapai 12 triliun perbulan atau 144 triliun pertahun. Tahukah kita berapa nilainya itu? 144 triliun itu setara dengan 32 biji jembatan suramadu di Surabaya. Padahal ini baru nilai transaksi jasa pelacuran, belum termasuk obat-obatan, asesoris, hotel-cafe remang-remang. Lihatlah kerusakan ekonomi hanya karena akhlak yang buruk dalam berharta, jadi jangan remehkan ajakan berakhlak baik para ustad dan ustadzah.

Lihat sektor yang lain, transaksi narkotika menurut BNN mencapai 380 triliun, korupsi (maling uang rakyat) mencapai 1260 triliun, dengan asumsi data litbang media indo yang menyebuntukan angka korupsi sektor perpajakan diperkirakan 140 T, dan setidaknya di indonesia ada 9 sektor yang cukup signifikan angka korupsinya. Nah fakta ini menyadarkan kita betapa pentingnya akhlak dalam memiliki harta. Semakin dekatlah dengan Allah agar kita semakin peka membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, semakin tinggi pula standar keshalehan kita.
Terus berkumpullah dengan orang-orang shaleh atau orang yang berupaya menjadi shaleh sehingga Allah jaga kita dengan tawsiyah sesama teman, tolong menolong diantara kita, dan dengan malu untuk bermaksiat yang dibenamkan Allah dihati kita, baik malu kepada Allah maupun malu pada sesama.
Demikian dulu, terima kasih

TANYA JAWAB

Q : Ustadz,  menanamkan modal dalam saham apakah termasuk judi?
A : Menanam modal di saham ada 2 jenis,
1. Beli saham untuk mendapatkan dividen ini sama dengan mudharabah dalam Islam, boleh
2. Mencari untung dengan jual-beli berharap dari spread harga saham, ini oleh sebagaiian ulama dikategorikan judi. Memang ada perselisihan pendapat, tapi minimal untuk indonesia sudah tersedia jakarta islamic index di BEI.

Q : Assalamualaikum, ustadz bagaimana klo kita terlanjur deposito di bank non syariah...klo seumpama bunga nya disedekahin aja gpp?
A : Akan lebih baik pindah ke deposito bank syariah, karena sedekah atas bunga tidak menghilangkan riba. Apalagi jika sedekah itu jadi makanan untuk orang miskin, kasihan mreka harus makan dari riba.

Q : Ustadz mau tanya ya,hukum pengadaian d Bank sya'riah gimana
A : Di bank syariah memang ada produk gadai syariah, akadnya rahn, sudah ada fatwanya dari dewan syariah nasional

Q : Assalamu'alaikum ustadz ... bagaimana jika kita kepepet untuk meminjam di bank non syariah.
A : Jika memungkinkan segera dipindah ke bank syariah, prosedurnya sederhana kok

Q : Assalamualaikum ustadz, bagimana hukumnya jika kita menabung di bank non syariah
A : Menabung di bank non syariah akan ada kesepakatan bunga, dimana bunga tersebut mrupakan riba nasiah, dan ini jatuhnya haram. Sebaiknya dipindah ke bank syariah.

Q : Assalamualaikum  ustad..Bagaimana dengan hukum asuransi syariah?
A : Asuransi syariah disebut juga takaful, premi yang dibayarkan berakad tabarru dan mudharabah, operasinya mgunakan prinsip tolong menolong ato ta'awun dan bagi hasil. Sudah ada fatwanya dari DSN, juga slalu diawasi oleh dwn pengawas syariah

Q : Ust, saya kebetulan pegawai negeri, dulu waktu saya mau gadaikan SK teman-teman bilang tidak berasa kecuali di bank daerah yang tentunya dia bank konvensional, sampai sekarang SK tergadaikan di sana. Terus terang sampai saat ini saya merasa gelisah dengan itu, bukankah itu termasuk riba? Satu lagi, di kampong ada yang namanya program koperasi PNPM Mandiri, yang nota bene itu uang Negara, tapi harus berlaku tambahan keuntungan, bagaimana hukumnya ustad?
A : Di daerah juga sudah banyak bank daerah syariah, baik BPD atau BPRS, jadi  bisa dialihkan ke bank syariah. Jika tidak mungkin niatkan bahwa itu fasilitas kantor ato negara. Jika memungkinkan segera lunasi dan jangan diulangi lewat bank konven.
Betul PNPM masih menggunakan mekanisme konven, tetapi di daerah juga banyak BMT yang menyediakan fasilitas yang sama. Jika tidak mungkin niatkan bahwa itu fasilitas Negara

Q : Ust..gimana klo kredit ust? Ada yang ngambil untung 50 %. Termasuk riba atau tidak ust??
A : Jika kredit muncul dari kesepakatan jual-beli, maka harga atau margin brapapun sah sepanjang memang disepakati. Nabi katakan tidak ada riba dalam jual-beli.

Q : Ustadz,klo koperasi bagaimana ustadz...? Setiap akhir tahun kita dapat SHU,apakah itu halal...?
A : SHU pada koperasi pada dasarnya adalah dividen ato bagi hasil, seperti akad mudharabah ato investasi, jadi boleh-boleh saja

Q : Ustadz, bagaimana jika sebuah perusahaan meminjamkan uang ke pegawainya misalnya 2 juta maka dicicil 220 rb perbulan, dengan alasan 20 rb nanti akan dikembalikan ke pegawai saat keluar dari perusahaan. Jika banyak pinjaman maka simpanannya juga banyak
A : Itu seperti koperasi ya? Sepanjang pinjaman pegawai tidak ada bunga tidak ada masalah

Q : Berapa margin keuntungan yang dibolehkan dalam muamalah perdagangan yang tidak dianggap riba? Klo dipersentase berapa %. syukron
A : Seperti jawabn saya pada ptanyaan sblmnya, berapapun harga atau margin diperkenankan secara syariat spanjang transaksinya ada jual-beli barang. Tetapi scara akhlak, sbaiknya tidak memberatkan orang lain khususnya untuk barang kebut pokok.
Ukhtifillah, mengapa menghindari riba ini penting
1. Karena memakan riba termasuk dosa besar
2. Dosanya disamakan dengan berzina dengan ibu kandung yang dilakukan disamping ka'bah
Maka sebaiknya kita berhati-hati dengan hal ini. Jika masih belum bisa menghindari, mari terus berupaya, semoga Allah SWT mudahkan bagi kita semua. Allah pasti melihat usaha kita...

Q : Kita menabung di bank ada bunganya...apakah bunganya itu haram..?
A : Bunga simpanan termasuk riba
Q : Jadi di menabungnya di bank syariah aja ya ustadz?
A : Sebaiknya begitu bu

Q : Apakah benar sumber keuangan Bank semua dari BI (Bank Indonesia)? Bukankah BI konvensional?
A : BI adalah lembaga negara yang bertugas mengawasi bank-bank, di dalam BI ada pengawas konven dan ada pengawas syariah. Kalau mengelola dana dari bank-bank, ada pengelolaan syariah dan ada pengelolaan konven.
Saat ini fungsi-fungsi itu sudah dilimpahkan ke OJK (otoritas jasa keuangan)

Q : Saya baca di internet, kalau kredit barang/rumah termasuk juga riba, bagaimana dengan arisan uztadz.....
A : Kredit barang pada dasarnya jual-beli barang yang pembayarannya secara kredit. Hal ini boleh secara syariat, asal harga barang tidak boleh berubah meski jika terjadi kemacetan pembayaran kreditnya. Jika yang dimaksud kredit rumah dengan bank konven bisa dikategorikan riba karena harga jual rumah tidak diketahui, karena yang diketahui hanya uang pokok dan bunga di tahun awal saja, tahun berikutnya tidak jelas sehingga harga jual rumah ato total uang yang dikeluarkan nasabah tidak diketahui.
Arisan pada dasarnya adalah utang (qardh), silakan saja, asal semua anggota menunaikan kewajibannya, dan sbaiknya tercatat.

Q : Ust bagaimana kalau orang pinjam uang ke kita,tapii si peminjam mengembalikan dengan uang haram. Apa setelah ditangan kita uang tersebut masih haram/bgaimana ? Sedangkan kita meminjamkan uang dengan uang halal & berniat menolong.
A : Jika tahu dan sangat yakin uang itu haram sbaiknya tidak diterima, tetapi jika tidak tahu dan tidak yakin tidak mengapa. Kaidah fikih membenarkan hal ini.

Q: Bagaimana jika kita meminjamkan uang.. tapi sama beliau yang meminjam tersebut saya disuruh mengolah kebun atau sawah sebagaiai gadai.. saya mengengolanya sampai beliau bisa mengembalikan uangnya.. apakah saya harus terima atau tidak..tentang mengolah kebun atau sawahnya..
A : Jika ada gadai ato jaminan dari utang berupa sawah, perlu diperjelas, jaminannya sawahnya ato hak kemanfaatan mengolah sawah. Ini dua hal yang berbeda. Jaminan pada bidang sawah jelas ada nilainya, tapi kalo jaminan pada hak mengolah sawah bisa ada untung bisa juga buntung
jadi sebaiknya diperjelas dalam perjanjian yang tercatat jaminannya
Q : O begitu ya ustd.. harus tertulis ya.. supaya jelas.. tapi apa di perbolehkan tentang mengolahnya? saya khawatir
A : Jika jaminannya adalah sawah, maka hasil dari mengolah sawah sebaiknya dibagi dua.
Q : Jika yang punyanya memberikan hak sepenuhnya untuk saya gimana ustdz?
A : Allah anjurkan dalam Al Baqarah untuk mencatat utang piutang. Jika diberikan silakan bu, asal tcatat ya. Mungkin saya pjelas kronologinya:
Utang dengan jaminan sawah, dimana jika tidak mampu membayar maka sawah menjadi milik ibu, dengan asumsi nilai utang sama dengan harga sawah
nah sbelum jatuh tempo pada dasarnya sawah adalah barang jaminan yang dimiliki si penghutang, termasuk kemanfaatannya. Maka adabnya jika diolah sbaiknya dibagi dua. Tetapi jika diserahkan sepenuhnya pada ibu, itu juga boleh-boleh saja dan sbaiknya tercatat ya

Q : Ustadz.....di kantor suami saya gajinya di bayar melalui bank konvensional, gimana tuh ustd?
A : Masih ada pilihan
1. Minta dialihkan ke bank syariah
2. Minta standing instruction ke bank konven-nya, untuk tiap gaji yang masuk langsung ditransfer ke rek bank syariah yang suami punya
Semoga dimudahkan Allah SWT

Q : Kajian yang menarik ustd sakti dari pembahasan yang ustd sampaikan. In shaa Allah garis besar ustd adalah muamalah dan pada aplikasi yang di maksud adalah menciptakan pekerjaan yang halal melalui syari'ah salah satunya adalah perbankkan. Yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana proses perbankkan di Indonesia kita ini apakah sudah memenuhi standar syar'I dan bagaimana perbankkan akan menyentuh semua lapisan masyarakat khusus umat muslim seperti di pedesaan? Afwan ustd. Bila ada kata yang salah dan mohon pencerahannya
A : Bu Melli, insya Allah setiap bank syariah slalu ada Dewan Pengawas Syariah (3 orang pakar) yang memastikan kepatuhan prinsip syariah. Saat ini sudah ada 12 bank umum syariah, 22 unit usaha syariah, 166 bank pembiayaan rakyat syariah, dan pada tingkat mikro ada 6000-an BMT. Untuk bank memang belum sampai semua pelosok terjangkau, tapi mudah-mudahan dengan dukungan smua pihak tidak lama lagi kita bs lihat pkembangannya.

Q : Andaikan kita melakukan pinjaman ke bank syari'ah dalam skala mikro apakah penting adanya agunan dan bagaimana standar survey bank dalam memberikan pinjaman?? Maaf ustd saya buta dengan perbankkan syari'ah
A : Biasanya agunan untuk pembiayaan yang berbasis akad jual-beli di bank syariah tidak ada istilah pinjaman karena tidak boleh mengambil untung dari pinjaman (itu jadi riba). Yang dipakai adalah pembiayaan karena memang akadnya adalah jual beli ato investasi.

Q : Ustadz bisa di jelaskan yang sederhana tak bila sistem pinjam uang yang syariah di bank? Karena bila pinjam uang masih ada dilebihkan tu termasuk riba
A : Pembiayaan di bank syariah (BS) ada dua jenis: pembiayaan berbasis jual beli dan berbasis bagi hasil. Lihat perbedaannya di bawah ini :
·           Di BK kalo anda dapat kredit dari bank anda kena bunga pinjaman, dan bunga tersebut akan tetap wajib dibayar pada jumlah yang tetap berapapun keuntungan bisnis anda atau bahkan rugi sekalipun
·           Di BS kalo anda dapat pembiayaan dengan skema bagi hasil, maka anda dan bank bsepajat nisbah bagi hasil dari keuntungan yang anda dapatkan, mis 60:40. Jadi kalo keuntungan anda kecil ya bagian ke bank jadi kecil, dan kalo rugi, maka berbagi rugi dengan bank
Nah kalau pembiayaan berbasis jual-beli, maka yang dilakukan bank adalah menjual barang yang anda perlukan.
Contoh BK
Anda dapat kredit 100 juta dengan bunga 10%, maka jika anda kelola dana itu menghasilkan untung 0, 10 juta ato 20 juta, pd jatuh tempo anda tetap bayar 110 juta.
Contoh BS
Anda dapat pembiayaan 100 juta dengan nisbah 60% untuk bank dan 40% untuk anda, maka jika anda kelola dana itu menghasilkan untung 0, 10 juta ato 20 juta, pada jatuh tempo anda akan membayar 100 juta (pokoknya saja karena tidak ada keuntungan), 106 juta ato 112 juta beda bukan?

Q : Ustadz kenapa masih ada beberapa pemahaman bahwa bank syariah pun sebenarnya ujung-ujungnya riba? Jadi katanya bank syariahpun belum ada yang 100% bebas riba..
A : Persepsi seperti itu muncul dari orang-orang yang tidak memahami betul operasional, produk dan regulasi perbankan syariah. Biasanya alasan klasiknya misalnya karena BS yang dimiliki oleh BK, padahal meski dimiliki BK tapi aturannya adalah dana mereka tidak boleh bercampur.

Q : Afwan ustad mau bertanya.. tentang kartu kredit bagaimana hukum penggunaannya apabila membeli barang dengan kartu tersebut.. karena tidak ada pilihan membeli selain dengan kartu kredit (biasanya pembelian barang dari luar)?

A : Penggunaan kartu kredit dimungkinkan dapat terkena riba jahiliah, yaitu riba atau tambahan yang muncul jika pinjaman tidak dapat dibayar tepat waktu, sebaiknya ini dihindari. Seingat saya beberapa debit card sudah bisa memenuhi transaksi seperti itu. Saya juga sudah pernah pakai debit card untuk transaksi luar, tidak ada masalah. Penggunaan cc bukan masalah pelunasan tepat waktu, karena masalahnya ketika kontrak cc ditandatangani di dalam kontrak itu ada klausul persetujuan terkena riba jika membayar tidak tepat waktu. Nah banyak ulama menyorotinya seperti ini. Tapi saya menyadari ada kebutuhan bisnis (bukan pribadi) yang sampai saat ini belum ada alternatifnya dari cc, mungkin ini dapat masuk kategori daruroh. Orang yang tidak punya kartu kredit tentu akan menghadapi konsekwensi tidak dapat banyak belanja online luar negeri dll, tapi itulah pjuangan, ada pengorbanan, ada ketidaknyamanan

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Suberhanakallahumma wabihamendika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!