Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MAKNA MUHAMMAD RASULULLAH - SYAKHSYATUL ISLAMIYAH






Kajian WA Hamba الله SWT
Rabu, 28 Januari 2015
Narasumber : Ustadz Ahhaba
Tema : Makna Muhammad Rasulullah
Editor : Wanda Vexia
Notulen : Desy
Grup Umi 32

Assalamualaikum... Bismillah
Semoga Allah menjadikan sebab berkumpulnya kita di majelis ini sebagi pahala kita untuk meraih ridha-Nya.

Kalimat kedua dari syahadat yang menjadi syarat masuknya seseorang dalam Islam adalah “Muhammad Rasulullah”. Mengakui keesaan Allah Swt. Sebagai Illah dan Rabb itu sesungguhnya tidaklah cukup apabila tidak di sempurnakan dengan menyatakan ikrar kalimat yang kedua, yaitu bahwa “Muhammad adalah utusan Allah”.

Ke-Maha besaran Allah menetapkan bahwa diri-Nya tidak membiarkan kehidupan manusia sia-sia tanpa makna. Untuk itu, Allah mengutus kepada mereka (pada setiap kurun waktu) para penyampai risalah, yang bertugas memberikan petunjuk, bimbingan, dan arahan kepada mereka untuk menuju ridha-Nya, serta mengingatkan mereka akan murka-Nya.
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka Kami utus) selaku rasul, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan lagi bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana” (QS: An-Nisaa Ayat: 165)
Tugas para rasul juga meletakkan dasar-dasar ajaran, nilai-nilai, dan standar-standar yang mengarahkan kehidupan masyarakat serta menunjukkan jalan hidup yang lurus. Semua itu dapat dijadikan referensi oleh siapapin jika berselisih, dan bisa dijadikan tempat kembali bila terjadi permusuhan. Dengan begitu, mereka mendapatkan kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kehormatannya.

Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan), agar manusia dapat melaksanakan keadilan…” (QS: Al-Hadiid Ayat: 25)
Inilah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada rasul-Nya, yaitu Al-Quran. Itulah teks-teks wahyu Allah yang bersih dari cacat. Dia menjadi standar nilai dan ketentuan Tuhan yang “dibawa” melalui mekanisme kenabian dengan keteladanannya yang luhur dan nilai keutamaannya, yang “hidup” dibawah naungan Al-Quran.

Seandainya bukan karena para rasul itu, niscaya sesatlah manusia dari jalan yang benar, tidak dapat memahami hakikat Allah dan jalan menuju ridha-Nya. Sebaliknya, mereka membuat cara-cara ibadah sendiri-sendiri dengan metode yang berbeda-beda. Suatu metode yang memecah belah, merusak, dan menyesatkan.

Rasul terakhir adalah Muhammad SAW. Beliau lah penyampai perintah, hukum, dan syariat Allah. Oleh karenanya, kita mengetahui apa-apa yang Allah kehendaki dari kita, apa yang diridhai-Nya, apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya bagi kita. Dengan itulah kita mengenal Tuhan kita, mengenal asal dan tempat akhir kita, mengenal pula jalan yang harus dilalui, yang membentang antara tempat asal hingga titik akhir itu, mengenal halal-haram, dan mengenal kewajiban serta tugas dibebankan. Kalau bukan karena Rasulullah SAW, tentu kita akan hidup dalam kegelapan, tidak tahu jalan, dan tak mengenal tujuan.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari sisi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan"
يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Dengan kitab itulah, Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS: Al-Maidah Ayat: 16)
Dari ayat diatas, dapat diketahui dibalik kehidupan ini masih ada kehidupan lain, manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya dan akan dibalas atas apa yang ia kerjakan selama di dunia. Orang-orang yang berbuat buruk akan dibalas sesuai dengan keburukannya, dan yang berbuat baik juga akan dibalas sesuai dengan kebaikannya.

Dengan begitu, dapat diketahui bahwa di belakang kita ada perhitungan dan timbangan amal, ada pahala dan siksa, serta ada surga dan neraka. Seperti firman Allah SAW:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom) pun, niscaya akan melihat (balasan)-nya". (QS: Az-Zalzalah Ayat: 7)
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula” (QS: Az-Zalzalah Ayat: 8)
Kalimat “Muhammad Rasulullah” merupakan penyempurna dari kalimat “Laa ilaha illallah”. Yang terakhir mengandung makna bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, sedangkan yang awal bermakna bahwa Allah tidak disembah kecuali dengan cara-cara yang disyariatkan dan diwahyukan melalui lisan rasul-Nya.

Oleh karenanya, tidaklah mengherankan apabila ketaatan kita kepada Rasulullah merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Seperti firman Allah SAW:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah…” (QS: An-Nisaa Ayat: 80)
Ittiba’ kita kepada Rasul termasuk selah satu bukti kecintaan kita kepada Allah SWT.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“katakanlah, “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS: Ali Imran Ayat: 31)
Lapang dada menerima hukum dan syariat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada-Nya. Tidaklah termasuk golongan orang yang beriman, orang yang menolak hukum dan perintah yang telah Rasulullah SAW tetapkan, sebagai penjelas dari Al-Quran. Allah SWT telah mengutusnya untuk menjelaskan kepada manusia tentang kitab yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Hal ini telah demikian jelas tertuang dalam Al-Quran. Tidak, dikatakan beriman orang yang berhukum kepada selain Rasulullah, menolak hukumnya ataupun sekadar meragukannya.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapakan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS: Al-Ahzab Ayat: 36)
Demikianlah sikap orang-orang mukmin terhadap Rasulullah Saw., hukum, dan syariatnya. Mereka tidak merasa ragu dan bimbang sedikitpun untuk menerima semua itu, tidak seperti yang dilakukan orang-orang munafik. Prinsip dan semboyan mereka adalah kami mendengar dan kami taat (sami’na wa atha’na).

Ayat-ayat Quran menggambarkan tentang sifat-sifat orang munafik serta sikapnya terhadap hukum Allah dan rasul-Nya.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
“Apabila dikatakan kepada mereka, “marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan kepada Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu” (QS: An-Nisaa Ayat: 61)
Al-Quran juga menafikan (secara tegas) keimanan orang yang tidak mau berhukum kepada Rasulullah SAW selama hidupnya dan tidak mau mengikuti sunahnya setelah wafatnya. Itupun belum cukup, karena masih disyaratkan adanya kerelaan hati dan kepasrahan terhadap hukum tersebut. Inilah karakter keimanan dan buahnya.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“…kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang Kami berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: An-Nisaa Ayat: 65)
Barangsiapa berpaling dari peringatan ini, atau menutup kedua telinga dari ayat-ayat tersebut, atau menerima peraturan-peraturan, perundang-undangan, sistem, dan tradisi selain dari Rasulullah SAW, hati-hati, berarti ia telah menentang Allah, menyatakan permusuhan terhadap Allah dan rasul-Nya.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“…barangsiapa tidak berhukum pada apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir. (QS: Al-Maidah Ayat: 44)
TANYA JAWAB
1. Bagaimana hukum nya bila ada hamba Allah yang keluar dari Islam masuk ke agama tertentu setelah itu pindah lagi ke agama Islam?
JAWAB: Tak sedikit orang yang berpandangan bahwa masuk dan keluar dari suatu agama adalah hak privat yang melekat pada setiap orang. Namun, dalam kasus Islam, soal pindah agama itu bukan perkara sederhana.
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (QS: An-Nahl Ayat: 106)
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS: Al-Baqarah Ayat: 217)
2. Bagaimana jika seorang muslim dengan perilaku yang sangat baik selalu beramal sholeh baik terhadap sesama menjalankan semua kewajiban tapi hanya 1 yang tidak dia lakukan yaitu shalat. Bagaimana dengan amalan-amalan yang dilakukannya, apakah tidak mendapat pahala atau bagaimana? Syukron ustadz
JAWAB:  Bunda, Sungguh banyak keutamaaan orang yang mengerjakan shalat. Dan sungguh merugi orang yang meninggalkannya. Dan hanya orang munafik lah yang lalai dalam shalatnya
"Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya” (HR. Tirmidzi)

3. Ustadz, pimpinan ana di kantor orang nasrani, tapi perilakunya sangat baik, beliau selalu bersedekah, sedekah nggak cuma buat pembangunan gereja, tapi juga buat pembangunan masjid, menyantuni anak yatim nggak cuma dari kalangan mereka, tapi juga yatim muslim, apakah beliau juga dapat pahala di sisi Allah, dan bolehkah jika kita mendoakan agar beliau mendapatkan hidayah Allah dan mau bersyahadat ?
JAWAB: Allah SWT berfirman :
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (QS: Al-Kahfi Ayat: 103)
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya"
(QS: Al-Kahfi Ayat: 104)
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
"Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat"
(QS: Al-Kahfi Ayat: 105)
Islam tidak melarang secara mutlak seorang muslim mendoakan kaum kafir non-muslim. Namun sudah tentu ada syaratnya. Syaratnya ada dua: (a) hendaknya isi doa seorang muslim untuk orang kafir hanya berisi satu permohonan saja kepada Allah ta’aala. Yaitu permohonan agar si kafir mendapat hidayah iman dan Islam. (b) hendaknya seorang muslim mendoakan orang kafir hanya ketika mereka masih hidup. Jangan berfikir untuk mendoakan seorang manusia yang telah meninggal dalam kekafiran. Lihat juga QS At-Taubah ayat 113

4. Bagaimana hukumnya jika orang yang beragama Islam, menjalankan rukun Islam, mengamalkan rukun iman, tetapi dia juga mengamalkan ajaran kejawen?
JAWAB: Dari sumber yang saya baca, kejawen adalah salah satu bentuk kesyirikan. amalannya akan tertolak.
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Hak hukum itu hanyalah milik Allah. Kalian tidaklah diperintahkan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" (QS: Yusuf Ayat: 40)

5. Selain menjalankan semua sunnah-sunnah rasul, apa yang bisa kita lakukan jika tiba-tiba rasa rindu datang teramat  kepada rasulullah?
JAWAB: Bunda, sesungguhnya dari bangun tidur sampai tidur kembali sangat banyak ibadah wajib dan sunnah yang dapat kita lakukan. Jika rasa rindu yang teramat kepada Rasul, sesungguhnya yang harus kita lakukan yang pertama adalah bertanya kepada diri, masih adakah sunnah beliau yang belum kita lakukan? Serta lakukanlah ibadah dengan istiqomah walau sedikit.

6. Selama ini rasulullah selalu ngasih contoh untuk bersedekah dan selalu berbuat baik dengan non muslim, kita berbakti kepada kedua orang tua kita yang non muslim apakah bernilai ibadah atau mendapat pahala dari Allah SWT
JAWAB: Ibadah yang diniatkan untuk Allah dan Rasul akan dibalas oleh Allah walau sebesar zarrah (atom)
Wallahu a'lam
Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya do'a karafatul majelis:
 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

"Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunanMu dan bertaubat kepada-Mu"

Wassalamu'alaikum ...