Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

POLA PEMBELANJAAN KELUARGA ISLAMI

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 10  Februari 2015
Narasumber : Ustadzah Pipit Indrawati
Rekapan Grup Nanda 104 (Ria)
Tema : Syakhsyatul Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


POLA PEMBELANJAAN KELUARGA ISLAMI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَات
Alhamdulillahirabbil 'alamin... Nahmaduhu wanasta'inuhu  wana'udzubika minsuruuri anfusina waminsayyi'ati a'mali na mayyahdhilahu falaa mudhilalahu walaa yudlilhu falaa haadiyalahu...
Asyhadu alla ilaaha ilallah waasyhadu anna muhammadurrasuluhu laa nabiyya ba'da
Alhamdulillahirabbil'alamin, di siang yg basah oleh derai hujan ini kita dipertemukan lg dalam ikhtiar tholabul 'ilmi dan fastabiqul khairaat ya Nanda-nanda...
Hari ini saya terinspirasi oleh materi kuliah salah satu dosen di STIE Yogyakarta Ust.Prof.Muhammad  tentang :

POLA PEMBELANJAAN KELUARGA ISLAMI

Syariat Islam mengajarkan beberapa aturan yang mengatur pembelanjaan keluarga muslim, di antaranya secara garis besar
adalah:
1. PEMENUHAN KEBUTUHAN KELUARGA ADALAH TANGGUNGJAWAB SUAMI
Menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang kewajiban suami terhadap istrinya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Dia memberinya makan ketika dia makan dan memberinya pakaian ketika ia berpakaian, serta janganlah dia meninggalkannya kecuali sekadar pisah ranjang dalam rumah. Ia tidak boleh memukul wajahnya dan menjelek-
jelekkannya.” Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan pernah mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bercerita bahwa Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit, “ia tidak pernah memberiku
dan anak-anakku nafkah secara cukup. Oleh karena itu aku pernah mencuri harta miliknya tanpa sepengetahuannya.” Lalu rasul bersabda: “Ambillah dari hartanya dengan ma’ruf (baik-baik) sebatas apa yang dapat mencukupimu dan anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. WAJIB MENAFKAHI ORANGTUA YG MEMBUTUHKAN
Di antara kewajiban anak adalah memberi nafkah kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia (jompo) sebagai salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua, seperti diisyaratkan Al-Qur’an: “Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra:23). Rasul bersabda:
“Kedua orang tua itu boleh makan dari harta anaknya secara ma’ruf (baik) dan anak tidak boleh memakan harta kedua orang tuanya
tanpa seizin mereka.” (HR. Dailami)
Menurut Ibnu Taimiyah, seorang anak yang kaya wajib menafkahi bapak, ibu dan saudara-saudaranya yang masih kecil. Jika anak itu tidak melaksanakan kewajibannya, berarti ia durhaka terhadap orang tuanya dan berarti telah memutuskan hubungan kekerabatan. Selain itu, suami dan istri harus percaya bahwa memberi nafkah kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban seperti halnya membayar utang kedua orang tua yang bersifat mengikat dan bukan sekadar sukarela. Hal itu tidak sama dengan memberikan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan yang sifatnya kebajikan.

3. ISTRI BOLEH BANTU KEUANGAN SUAMI
Jika seorang suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya karena fakir, istri boleh membantu suaminya dengan cara bekerja atau berdagang. Hal itu merupakan salah satu bentuk ta’awun ‘ala birri wat taqwa (saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) yang dianjurkan Islam. Selain itu, istri pun boleh memberikan zakat hartanya kepada suaminya yang fakir atau memberi pinjaman kepada suami apabila
suami tidak termasuk fakir yang berhak menerima zakat. Pemberian ini di Qur'an diumpamakan dengan Hanii'an Marii'an atau makanan yang manis di lidah lagi mengenyangkan.

4. ISTRI BERTANGGUNGJAWAB ATUR KEUANGAN RUMAHTANGGA
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Istri adalah pengayom bagi rumah tangga suaminya dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas aset rumah tangga yang diayominya…” (HR. Bukhari).

5. SUAMI ISTRI DIANJURKAN HEMAT DAN EKONOMIS
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat”. (HR. Ahmad). Selain itu ia harus realistis menerima apa yang dimilikinya (qana’ah). Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezki cukup dan menerima apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
6. TIDAK SALING MEMBERATKAN
Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya. Ia harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, tidak boros dan konsumtif. (QS. Al-Baqarah:236, 286) Abu bakar pernah berkata: “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.”
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik . Islam juga menganjurkan agar hasil usahanya dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. Keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan, harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) di samping manfaat
(utility) sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat. (QS. Al-Baqarah:172, Al-Maidah:4, Al-A’raf:32)

7. ATUR SKALA PRIORITAS PENGELUARAN (Needs/Perlu Vs Wants/Mau)
a. Kebutuhan primer, yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan dan kehormatan). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan dan pernikahan.
b. Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan untuk memudahkan hidup agar jauh dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berhubungan dengan lima tujuan syariat.
c. Kebutuhan pelengkap. Yaitu kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder dan semuanya berkaitan dengan tujuan syariat.

8. PERTENGAHAN DALAM PEMBELANJAAN
Sikap Boros atau Kikir sama buruknya bagi seorang muslim. Kedua pola ekstrim dalam konsumsi itu memiliki mendekati sifat mubadzir. Firman Allah: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-
tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon :67) “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra:29) “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27) Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad). “Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.” (HR. Ahmad).
Wallahu alam bishowab.

Silakan dibaca-baca dulu ya Nanda. Pertanyaan dikumpulkan dan nanti saya temani diskusi sampai maghrib ya. Setelah itu saya pamit untuk tunaikan hak suami n anak

TANYA JAWAB

Q : Bun mau nanyaa... Kalau misalnya dalam rumah tangga pengeluaran dibagi-bagi gimana? Misal pembagiannya untuk pngeluaran urusan dapur itu mgunakan uang istri, tapi untuk urusan keperluan sekolah pakai uang suami.. Dalam kasus ini suami istri sama-sama bekerja..
A : Tidak mengapa ada kesepakatan pmbagian tanggungjawab keuangan seperti itu jika suami memang masih butuh bantuan untuk memenuhi seluruh kewajiban nafkahnya. Dengan catatan 'Antaraadhimminkum' Ridha sama ridha. Mudah-mudahan pemberian dari istri ini yang merupakan hanii'an marii'an bernilai shadaqah yang akan berbuah manisnya cinta diantara keduanya.

Q : Kalau kaya gitu jadi suami masih memiliki kewajiban memberikan materi/uang ke istrinya? Sementara istrinya kan udah mampu memenuhi kebutuhannya sndiri (pakaian bedak dll ala cewe) hihi
A :  Alhamdulillah di era sekarang ini seiring peningkatan pendidikan dan pemahaman, para muslimah memiliki kemandirian finansial. Namun perlu berstrategi agar potensi finansial ini tdk melemahkan sendi-sendi berkeluarga seperti menurunkan tanggungjawab nafkah suami. Maka ikutilah sunnah Rasul yaitu :
1. Suami yang wajib tanggung nafkah keluarga (dirinya-istri-anak-ibu/ortu yg butuh nafkah).Artinya penghasilan suami halal jika dialokasikan untuj hal-hal tersebut.
2. Istri harus cerdas finansial untuk mengelola harta titipan dari suami untuk bisa penuhi jatah nafkah yang tadi jadi tanggungjawab suami.
3. Jika istri punya kemampuan keuangan bisa bantu lengkapi nafkah yang tadi belum mampu (bukan belum mau  ya) dicukupi oleh suami karena keterbatasannya.
4. Jika suami telah mampu cukupi semua jatah nafkah dan istri punya penghasilan sendiri maka dana milik istri bisa dimanfaatkan untuk shadaqah (adil ya ke keluarga istri dan suami) , untuk tabungan, investasi masa depan dunia dan akhirat (investasi dakwah). Boleh digunakan untuk kesenangan istri (pakaian-perhiasan dll) asal tidak berlebihan atau menyakiti suami karena tabarruj (dandan) berlebihan.
Jadi suami istri bisa saling ridha dan sama-sama meningkatkan kualitas kehidupan keluarga serta umat ya

Q : Bun, mau tanya, entah mengapa belakangan ini saya perhatikan untuk kasus pemasukan dalam rumah tangga, istri dapat membantu keuangan suami, tapi sebaliknya, suami jarang sekali mau membantu tugas-tugas urusan rumah tangga (misal: menyapu, mengepel, dsb.) sehingga ga jarang, istri kelelahan.. Bagaimana solusinya ya Bun? Sedangkan kalau istri mencoba untuk mengomunikasikannya, suami marah-marah.
A :  Secara umum saya amati inilah dampak dari paham liberal 'Feminisme'. Padahal namanya feminin tapi justru upaya penyamarataan hak dan kewajiban pria dan wanita ini membuat para wanita cenderung maskulin (tangguh, berani, tomboi, dingin, cuek, susah diatur dan mengatur, hehehe...) sedangkan para lelakinya jadi agak feminin (pasif, santai, tidak tahan banting, kurang inisiatif). Alangkah baiknya jika kita kembalikan nilai-nilai ini ke psikologi perkembangan Islami. Dimana lelaki menjadi pengayom segala kebutuhan wanita dan wanita jadi penenang kelelahan para pria. Dari curhatan beberapa Bunda dan kawan-kawan kuliah saya mungkin ada baiknya kita para wanita mengembalikan peran ini ke lelaki.
Jangan ambil alih pekerjaan dan ladang potensi pria, jika mereka enggan bergerak kita yg memotivasi. Akhir-akhir ini saya dapati kemampuan psikologis para wanita (istri) untuk memotivasi suaminya kurang diasah. Seolah kita lupa bahwa dibalik laki-laki hebat ada wanita-wanita yg hebat (di ranah kewanitaan) pula. Maka cobalah komunikasikan dengan suami hal-hal yang kita butuhkan bantuannya tanpa membebaninya berlebihan. Dengan lembut, santun dan tidak ada salahnya sedikit bermanja

Q : Bun mau tanya mohon maaf sebelumnya.. Kalau saya mencukupi kebutuhan orang tua atau saudara tanpa sepengetahuan suami apa kah saya berdosa.. Dan kalau saya ingin sedekah apa harus laporan sama suami. Atas jawabannya Syukron bunda
A : Harta istri itu milik istri, harta suami ada hak nafkah anak-istri-ibunya. Suami tidak punya hak atas harta istri. Jika karakter beliau sepertinya tidak akan masalah ya silakan saja. Tapi jika nanti akan jadi duri dalam daging lebih baik dikomunikasikan. Saya lebih suka kita sama-sama terbuka untuk hindari syak wasangka. Apa sih bagian dari diri kita yang suami tidak berhak tahu? Seperti juga apa sih bagian dari suami yang kita rela untuk tidak tahu?

Q : Afwan umy misal suami kita gak ikhlas karena kita membantu saudara um, langkah apa yang perlu dilakukan ...sedangkn dengan kejujuran hasilnya amarah um
A : Berarti suami kita adalah objek dakwah iqtishadiyah (ekonomi) kita Nanda. Coba ditanya baik-baik, "Kenapa marah Abang sayang?"
Mungkin beliau akan jawab "Soalnya ga adil, sodara-sodara Dinda jadi malas usaha dan agak tergantung sama kita"
Nah klo itu faktanya, maka saya setuju untuj berbagi proporsi pemberian secara (cenderung) adil ke sodara-sodara agar kita tidak menciptakan generasi yang malas. Tapi klo memang ada saudara yang kesulitan ekonomi ya ingatkan suami untuk prbanyak shadaqah karena ada hak orang miskin lho di harta kita. Apalagi shadaqah pada saudara juga bernilai pahala silaturahim.  Sabar ya para calon istri shalihat... kelembutan yang dikombinasikan dengan kecerdasan seorang istri insyaAllah akan mampu luluhkan hati suami... Wallahu alam bishowab

Q : Umy bila ada seorang istri ingin berkunjung di rumah mertua si suami nyuruh bawa ini & itu banyak dech intinya sayang ma ibunya. Lha pas giliran si istri ngajak ke rumah ibu kandungnya ngasih ole-ole seadanya  terus gimana umy kan gak adil. Kalau djelaskan suami marah apa karena kurang pengalaman / ada faktor luar umy & adakah jurus jitu buat meluluhkan hati suami?
A :  Macam sinetron aja kisahnya, hehe... Suaminya jealous ya sama mertua? Hayoo diingatkan lagi bahwa setelah menikah sebenarnya orangtua kita bertambah sepasang, perlakukanlah mereka selayaknya krn jika mereka ridho pada bakti kita insyaAllah hidup dunia akhirat akan aman lancar. Jika ada sikap salah satu orangtua kita yg tdak berkenan di hati suami, ingatkan kembali ayat Qur'an ini :
"Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil padanya" (QS. AlMaidah:8)
Apalagi orangtua kita sendiri. Justru dengan kelembutan dan kebaikan yang mengandung hikmah dari kita mudah-mudahan bisa bantu perbaikan pada diri mereka.

Oya sudah adzan maghrib. sesuai dengan komitmen di awal tadi kita sepakati untuk disudahi ya kajian hari ini. Jika masih ada prtanyaan monggo silakan japri dan silakan dishare ke grup kembali
Alhaqq mirabbik falaa takuunanna minal mumtariin...
Berarti sudah sampai disini dulu ya kajian kita. InsyaALLAAH lain waktu disambung lagi. Semoga majelis ini dirahmati...


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ