Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

RAMBU - RAMBU KEHIDUPAN (HADIST)




Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Kamis, 05 Februari 2015
Narasumber : Ustadz Abdullah Haidir Lc
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Assalamualaikum, kaifa haalukum?
Moga hujan menurunkan barokah....
Saya dapat tugas isi materi nih.... materi apa ya?
Thayib....saya akan sampaikan kajian dari sebuah hadits riwayat Bukhari, seputar rambu-rambu kehidupan....

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا ، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang teguh menjalankan ajaran Allah dan tidak melanggar ajaran-ajaran-Nya dengan orang yang terjerumus dalam perbuatan melanggar ajaran Allah, adalah bagaikan satu kaum yang melakukan undian dalam kapal laut. Sebagian mendapat jatah di atas dan sebagian lagi mendapat jatah di bawah. Penumpang yang berada di bawah, jika mereka hendak mengambil air, mereka harus melewati penumpang yang berada di atas. Lalu mereka berkata, “Seandainya kita lobangi saja kapal ini, maka kita dapat mengambil air tanpa mengganggu penumpang di atas." Jika perbuatan mereka itu mereka biarkan, maka semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.” (Shahih Bukhari, no. 2493)

Sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat adalah perkara yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan ini. Tentu dengan segala konsekwensi yang terdapat di dalamnya.; Adanya berbagai problem dalam kehidupan bermaysrakat bukan merupakan alasan bagi seseorang untuk menghindar, lalu menarik diri untuk bergaul di tengah masyrakatnya. Selain hal tersebut dapat dikatagorikan sebagai tindakan yang mengabaikan kebutuhan fitrah manusia, sifat tersebut juga boleh dikatakan sebagai bentuk lari dari tanggung jawab.

Islam mengajarkan umatnya untuk hidup membaur di tengah masyarakatnya dan sabar menghadapi berbagai konseksenwensi yang harus ditanggungnya.

Rasulullalh saw bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ، أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mu’min yang bergaul di tengah masyarakatnya dan sabar terhadap gangguan mereka, lebih baik dari mu’min yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Bihaqi. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 939)

Karenanya ajaran Islam telah banyak membekali kita dengan seperangkat ajaran tentang bagaimana kita menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat. Salah satu hadits yang memberikan pelajaran penting tentang hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di atas. Baik tersurat maupun tersirat, hadits di atas memberikan pelajaran yang sangat berarti kepada kita sebagai bekal untuk memahami posisi dan apa yang seharusnya kita sikapi terhadap persoalan kemasyarakatan. Di antaranya;

1. Hidup ini bagaikan mengarungi samudera bersama-sama dalam perahu besar.

Maka setiap kita memiliki andil dalam menjaga keselamatan bersama. Kebebasan individu hendaknya terbingkai dengan kemaslahatan umum. Karena itu, dalam Islam, kualitas pribadi seseorang sering dikaitkan dengan kualitas sosialnya. Misalnya dalam sebuah hadits yang cukup terkenal Rasulullah saw mengaitkan kualitas keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala dengan kebaikan ucapannya, serta kebaikan terhadap tamu dan tetangganya (Muttafaq alaih). Hal ini pada gilirannya menuntut kita untuk selalu berupaya menjadi unsur positif dalam kehidupan masayarakat setelah kebaikan individu. Istilahnya adalah kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

2. Kebaikan dan Keburukan selalu ada di tengah masyarakat

Selama masyarakat itu terdiri dari manusia, maka kedua hal tersebut merupakan sunnatullah dalam kehiduan ini, kapan saja dan dimana saja. Bahkan pada masa generasi terbaik sekalipun. Khusus mengenai keburukan, saking kuatnya Allah hendak menegaskan perkara ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa jika di suatu kaum tidak ada yang berbuat dosa, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang berbuat dosa. Agar tampak salah satu keagungan Allah Ta’ala sebagai Maha Pengampun.

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi yang jikwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak ada yang berdosa, Allah akan gantikan kalian dengan kaum yang berdosa, lalu mereka bersitghar kepada Allah kemudian Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 7141)

Namun tentu saja penyikapannya harus berbeda. Kebaikan selain merupakan sunnatullah, dia pun merupakan sesuatu yang di sukai-Nya. Berbeda dengan keburukan, meskipun dia merupakan sunnatullah, namun dia tidak disukai-Nya. Karena itu kita harus selalu berusaha berada di pihak kebaikan dan menjadikannya sebagai perkara yang dominan di tengah msyarakat.

Sedangkan keburukan, jika hal tersebut ada pada orang lain, dia adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dengan mengajaknya pada jalan kebaikan. Adapun jika dia ada pada diri kita, itu adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat dan mohon ampunan kepada Allah. Betapa Allah Ta’ala sangat senang dengan hamba-Nya yang suka mengajak kebaikan dan bertaubat kepada-Nya.

Adanya keburukan di tengah masyarakat, sebesar apapun pengaruh-nya, jangan dijadikan sebagai justifikasi (pembenaran) atas keburukan tersebut.
Dah kebanyakan ya? Sampe di sini aje deh.....

TANYA JAWAB

1. Tanya tadz, jika keburukan itu sudah sistematis bahkan memang tersistem dalam aturan negara, bagaimana mengubahnya? Yang berusaha merubah dianggap ghuroba karena melawan arus jadi seolah menjadi salah diantara sesama kaum muslim sendiri.
Jawab
Berdakwahlah secara sistematis, upayakan berhimpun dalam barisan mereka yang benar pemahamannya dan jangan menyerah, sesungguhnya nilai kita ada pada konsistensi kita, bahkan pada berhasil atau tidak....

2. Terkait mengajak kepada kebaikan kepada yang lain ustadz, kadang ngeri dengan peringatan di qs as shaff:3. Penjelasannya gimana ya?
Jawab
Kaidahnya.....

اصلح نفسك وادع غيرك

Perbaiki dirimu, dakwahi orang lain...

Disini berlaku proses, selagi proses itu tetap berjalan, jangan ragu untuk berdakwah. Jika dirasa ada kekurangn diri, sikap yang harus diambil adalah segera perbaiki bukan berhenti berdakwah. Kalau berdakwah menunggu kita suci bersih atau sempurna, takkan ada orang yang mau berdakwah...

3. Kita boleh kan pindah dari lingkungan yang buruk ke lingkungan yang lebih baik?
Jawab
Justru dianjurkan tapi kalau di tempat yang buruk keberadaannya dibutuhkan untuk dakwah dan dia dapat menjaga diri, boleh jadi lebih baik dia tidak pindah.

4. Kalo kita belum bisa mewarnai mereka walau kita sudah mencobanya apakah kita berdosa kalo kita pindah karena khawatir anak-anak kita malah justru terwarnai oleh lingkungan buruk?
Jawab
Tidak in sya Allah....

5. Apa tips nya ustadz supaya kita bisa tetap istiqomah dalam berda'wah?
Jawab
Tips isiqomah dalam dakwah
- Ikhlas
- Terus belajar, baik teoritis atau praltis.
- bertahap.
- Yakini bahwa nilai dakwah ada pada proses, hasil di tangan Allah..
- Dekat ulama.
- Cari lingkungan pergaulan yang suka berdakwah

6. Satu lagi kalau kita hidup berdampingan dengan pengikut syiah tapi kita gak bisa dakwahi apakah kita berdosa?
Jawab
Dakwah secara umum diperintahkan secara khusus orang perorang, dilihat kemungkinannya.

Pamit yaa....sudah maghrib di riyadh, wassalam....

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك


Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ