Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

URGENSI BELAJAR & MENGAJARKAN - SYAKHSYATUL ISLAMIYAH


Kajian WA Hamba الله SWT
Rabu, 28 Januari 2015
Narasumber : Ustadzah Fina
Materi : Urgensi Belajar & Mengajarkan
Editor : Wanda Vexia
Admin Bunda 29-30 : Bd. Rosalin & Bd. Nur Asmi
Notulen : Bd. Saydah

Assalamu’alaikum ... Bismillah
Bagaimana kabar iman  pagi hari ini? Semoga dalam keadaan terbaik, selalu dalam limpahan kasih sayang Allah, limpahan keimanan dan kesehatan, limpahan kenikmatan Islam dan limpahan kenikmatan dapat berkumpul serta duduk dalam majelis ilmu yang InsyaAllah diberkahi Allah dan dinaungi para malaikat pada pagi hari ini. Aamiin...Ya Robbal 'aalamiin

Pada kesempatan kali ini, sedikit ingin mereview atau mengingatkan kembali dan menguatkan diri serta semua yang ada disini, memberi alasan terkuat pada diri kita, kenapa kita berada disini dan bi'idznillah dikumpulkan oleh Allah bersama orang-orang yang sholih dalam grup ini. Semoga senantiasa diberikan keistiqomahan hingga nyawa terlepas dari raga.

Al-Hasan al-Bashri berkata, 
"Dulu, bila seseorang telah mencari ilmu, maka tidak lama kemudian akan terlihat pengaruhnya pada tatapan matanya, kekhusyu’annya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan kezuhudannya.”
Beliau juga berkata,
"Jika seseorang telah memperoleh satu bab dari ilmu, lalu ia mengamalkannya, maka jadilah ilmu itu lebih baik baginya dibanding dunia seisinya, andai ia memiliki dunia itu lalu ia menjadikannya untuk akhirat.” (HR. Darimi, keduanya dengan sanad shahih)
Maka bersyukur sekali dipertemukan Allah dalam kajian online ini sebagai sarana kita untuk menuntut ilmu serta mengajarkan ilmu. Semoga Allah tinggikan derajat disisiNya, disebut-sebut serta dibanggakan dihadapan para malaikatNya setiap saat. Semoga setiap ilmu yang kita dapatkan membuat kita menjadi seseorang yang semakin tinggi derajatnya disisi Allah juga. Semakin tawadhu' dan 'alim. Karena ilmu tidak bisa terlihat dengan nilai diatas kertas. Ilmu hanya dapat terlihat atsarnya dari akhlaq dan amal.

Berhubungan dengan tema kajian kali ini yaitu tentang urgensi belajar dan mengajarkan dalam hal ini penting bagi kita untuk mengetahui apa saja keutamaan dari majelis ilmu.

KEUTAMAAN MAJELIS ILMU :
1. Diampuni dosanya oleh Allah. Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda:
“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.” (Tsabit; HR. ath-Thabrani; terdapat dalam Shahiihul Jami’)

2. Diberikan pahala seperti orang yang mengerjakan haji DENGAN SEMPURNA. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang pergi ke masjid, tidaklah diinginkannya (untuk pergi ke masjid) kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan. Maka baginya pahala seperti orang yang melakukan haji dengan sempurna. (Dikatakan syekh al Albaaniy dalam shahiih at targhiib: “Hasan Shahiih”)

3. Dimudahkan oleh Allah untuk meniti jalan menuju Surga. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga" (HR Muslim dan selainnya)

4. Dikabulkan doa-doa yang dipanjatkan dalam majelis. Beliau juga bersabda:
Allah berfirman, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya'. "
“Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.”
“Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.” (HR. Muslim)

5. Diridhai malaikat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh Para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu” (Shahiih; HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidziy, Ibnu Maajah, dan selainnnya)

6. Disebut-sebut Allah, dan dibanggakanNya dihadapan malaikatNya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain:
"Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian [yang berada di majelis ilmu] di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim)
Betapa Allah begitu meninggikan orang-orang yang senantiasa bersemangat untuk menuntut ilmu. Allah tinggikan derajatnya di dunia, Allah banggakan ia di hadapan malaikatNya dan Allah beri pahala tanpa putus bahkan hingga di yaumil akhir kelak.

Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bersabda:
"Apabila anak Adam (manusia) itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga yaitu: sedekah jariyah,ilmu yang bermanfaat,atau anak sholih yang mendoakannya" (Riwayat Muslim)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah nisyaca Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS: Al-Mujaadilah Ayat: 11)
 kamu Tidak berhenti hanya pada menuntut dan memiliki ilmu namun kemudian kita diingatkan untuk mengamalkan setiap ilmu yang kita dapatkan dan mengiimplementasikannya dalam akhlak, dan kemudia kita diingatkan pula untuk mengajarkan kepada orang lain setiap ilmu yang kita miliki.
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak orang kepada suatu petunjuk (kebaikan) maka ia mendapat pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" (Riwayat Muslim)
dari Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash ra bahwasanya Nabi bersabda:
"Sampaikanlah apa yang kamu dapatkan daripadaku walauppun hanya satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil dengan tiada terbatas. Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya ia bersiap-siap untuk menentukan tempatnya di dalam neraka" (Riwayat Bukhari)
Sebagai hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari makhluk Allah yang bisa jadi tidak lebih mulia dari manusia. Maka semoga kita lebih bersemangat dan bersegera dalam menyampaikan ilmu dan kebenaran.
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya). Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan" (QS: Al-Ahqaaf Ayat: 29)
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ
Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS: Al-Ahqaaf Ayat: 30)
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (QS: Al-Ahqaaf Ayat: 31)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah yagn bersumber dari Ibnu Mas'ud bahwa ketika Nabi saw membaca Al Quran di tengah kebun-kebun kurma, turunlah sembilan jin, diantaranya bernama Zauba'ah, untuk mendengarkan serta mengingatkan kawan-kawannya agar memperhatikan bacaan itu. Ayat tersebut ada pada 3 ayat di atas tadi. 

Bagaimana kemudian adab bangsa jin dalam menuntut ilmu yang khusyuk mereka mendengarkan Rasulullah dan kemudian mengingatkan  temannya tatkala temannya "berisik" saat kajian berlangsung, bahkan tidak hanya itu, ketika mereka selesai dalam menghadiri majelis Rasulullah. Tidak menunggu besok, pekan depan atau bulan depan atau bahkan tahun depan untuk menyampaikan apa yang mereka dapatkan. Namun bersegera mereka setelah keluar dari majelis Rasulullah kemudian kembali kepada kaumnya untuk menyeru kebenaran yang mereka peroleh.

Maka janganlah berbahagia dengan menjadi sholihah individu karena Surga begitu luas untuk dapat membawa kita bersama saudara-saudara yang kita seru untuk turut berbuat kebaikan. Jadilah genereasi terbaik yang Allah nisbatkan dalam Al-Quranul karim. Dan semoga kita semua termasuk di dalam golongan tersebut. Aamiin Ya Rabbal Alamin ...
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" (QS. Ali Imron:79) 
Semoga menjadi generasi Rabbani yang senantiasa tak lelah dan tak putus asa dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Dan semoga manjelis ilmu ini menjadi salah satu sarana bagi jiddiyah kita untuk menjadi generasi terbaik itu. Wallahu'alam bish showab.
 TANYA JAWAB
1. Ustadzah, mengajarkan ilmu selain ilmu agama seperti matematika ipa dan lain-lain? Apa pahalanya juga sama dengan yang mengajarkan ilmu agama? Jazakillah.

Jawab: Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim) 
Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia. Berarti kebaikan yang dimaksudkan bukan hanya termasuk pada kebaikan agama saja.

Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku dalam ilmu yang bermanfaat.

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
"Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun" (HR. Muslim)
Artinya ilmu apapun baik ilmu agama maupun ilmu umum tercatat sebagai ilmu Allah, baik mengajarkan maupun belajar terhitung ibadah, yang ketika kita berjalan memenuhinya oleh Allah dicatat sebagai pahala jihad fi sabilillah.
2. Ustadzah, bagaimanakah sikap kita agar kita bisa menekan hati untuk selalu bisa ikhlas bila ada kesenjangan pemikiran antara  anggota suatu majelis?? Yang saya khawatirkan, saya takut terjerumus dengan penyakit hati karna terlalu sering adanya perbedaan pendapat. Sikap apa yang harus saya ambil agar saya bisa tetap istiqomah menjadi pengurus di majelis tersebut sehingga ilmu yang didapat bisa bermanfaat dan mudah kita amalkan. Syukron...

Jawab: Dengan melihat keutamaan dalam menuntut ilmu, maka ujian keistiqomahan yang menjadi ujian terbesar bagi kita. Ilmu yang berkah sebagaimana yang saya sampaikan di atas maka dia akan menjadikan seseorang semakin khusyu', zuhud dan semakin tawadhu'. Orang yang berilmu akan semakin mulia dan menjadi cahaya bagi setiap orang di dekatnya. Jika pun kemudian ada perbedaan pendapat dan sebagainya, kembalikan segala urusan yang diperdebatkan itu pada quran dan sunnah dan jauhi perdebatan. Karena perdebatan tidak menambah apapun selain kesia-siaan dan mengerasnya hati serta merenggangkan ukhuwah.

Utamakan persamaan dari sebuah perbedaan, terkadang hal yang sifatnya khilafiyah dalam agama lebih mudah memicu pertengkaran dan bahkan membuat sesama muslim menjadi bermusuhan yang pada akhirnya semakin membuat musuh Islam yang nyata merasa puas dan berbahagia. Selama setiap kita memiliki dalil/dasar dalam melakukan sesuatu maka saling menghormati dan menjunjung persamaan adalah yang paling utama. InsyaAllah ilmu semakin berkah,bermanfaat dan Islam sebagai rahmatan lil 'aalamin dapat terwujud.


3. Apa hukumnya wanita yang menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum? Apakah wajib atau gimana? Lalu apakah harus tetap di dampingi mahromnya? Misalnya menempuh pendidikan diluar daerah atau luar negeri? Syukron ustadzah..

Jawab: Menuntut ilmu agama hukumnya wajib 'ain bunda. Sedangkan ilmu umum hukumnya adalah fardhu kifayah. Arti kifayah disini adalah tidak semua ilmu umum harus kita pelajari, Ada yang mempelajari ilmu kedokteran maka ia harus bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya tidak hanya sekedarnya. Ada yang mempelajari matematika, ilmu sosial, ilmu hukum dan sebagainya. Maka setiap bidang ilmu yang dipilih itulah yang diharuskan bagi setiap individunya untuk mempelajari hingga tuntas tidak hanya sekedarnya saja.

Mengenai menempuh pendidikan keluar negeri ada beberapa khilafiyah juga disini. Sama halnya dengan TKW dan sepertinya ini pun juga sudah dibahas oleh beberapa asatidz. Akan saya review sdikit

Mengenai Hukum Safar
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita dan tiada mahramnya (wanita itu) melainkan jika bersamanya seorang wanita bepergian jauh melainkan bersama boleh mahramnya” (HR. Muslim)

لاَ يَخْلُو رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Nabi bersabda kepada Adi, Bukhari dari Adi bin Hatim “Engkau berumur panjang maka engkau pasti akan melihat seorang perempuan yang mengadakan perjalanan jauh dari bertawaf mengelilingi Ka’bah tanpa rasa takut Hirah untuk kecuali hanya kepada Allah dan khawatir dari segala yang memangsa kambingnya”

Definisi aman menurut Nabi SAW:
Maka pendapat yang memperbolehkan wanita safar atau bepergian keluar negeri dengan alasan syar'i maka dipastikan negara/tujuan belajarnya dsb adalah tempat yang aman.
Wallahu a'lam bish showab


4. Ustadzah, dulu sewaktu masih kuliah dan belum nikah, saya aktif ikut kajian-kajian islami di kampus maupun luar kampus. Semenjak menikah dan punya baby, intensitas mengikuti kajian sangat berkurang sekali. Adaaaa aja alasan yang mbuat saya gak jadi untuk berangkat. Mulai dari hujan, anak tidur, kerjaan rumah belum selesai. Nanti kalau kajian ngajak bocil jadi gak fokus karena dia rewel dan lain-lainnya. Sering banyak kegiatan apa aja di luar, saya fokusnya malah ke bocil. Hampir rangkaian acara pun gak bisa saya ikuti degan seksama. Nulis materi pun ga bisa. Apa solusinya ya ustadzah?

Jawab: Teringat cerita tokoh mujahidah, seorang orator dan juru cakap kaum wanita sahabat-sahabat Nabi, seorang perawi hadits, seorang mujahidah yang sangat berani, yang telah membunuh 9 orang tentara Romawi di dalam perang Yarmuk.. Asma binti Yazid bin As-Sakan Al- Anshariyyah radliyallahu ‘anha. Dia dengan keberaniaan dan kecerdasan otak serta kefasihan lidahnya, bersama perasaan dan hati cemburunya terhadap beberapa kelebihan yang diberikan kepada kaum lelaki, telah datang menghadap kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallaam yang sedang dikelilingi oleh para sahabat. Beliau. Dia berkata:

“Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai jaminan. Aku adalah juru cakap (utusan) kaum wanita untuk menghadap kepadamu. Sesungguhnya Allah telah mengutus engkau kepada kaum lelaki dan wanita sekaliannya, lalu kami beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Dan bahwasanya kami ini, adalah kaum wanita yang tidak dapat bergerak bebas, terkurung dan senantiasa berada di rumah-rumahmu untuk melayani keperluan syahwatmu dan mengandung anak-anakmu. Dan bahwasanya adalah kaum lelaki, telah dilebihkan dan dimuliakan atas diri kami dalam shalat jum’at dan jama’ah, melawat orang-orang sakit, menghantar jenazah, mengerjakan satu haji sesudah haji yang lain. Dan yang paling utama dari semua itu ialah: BERJIHAD DI JALAN ALLAH AZZAWAJALLA. Jika salah seorang diantara kamu keluar untuk pergi berhaji atau berjihad maka kamilah yang menjaga hartamu, menjahitkan pakaianmu dan memelihara serta mendidik anak-anakmu. Tidakkah kami dapat berkongsi pahala dengan kamu dalam perkara ini?”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata,

“Pernahkah kamu mendengar pembicaraan seorang wanita yang lebih baik dan lebih pandai mengemukakan masalah-masalah dalam agamanya daripada wanita ini?”

Para sahabat menjawab serentak,

“Kami tidak sangka ada seorang wanita yang dapat mengemukakan permasalahan seperti ini, wahai Rasulullah!”

Rasulullah shalaahu ‘alaihi wassallam lalu menoleh kepada wanita ini seraya berkata,

“Ketahuilah wahai wanita, dan beritahukanlah kepada teman-teman dari kaum wanita yang lain. Bahwasanya penjagaan seorang wanita kepada suaminya dengan melayani (menggauli)nya dengan cara sebaik-baiknya dan taat kepadanya, senantiasa melakukan segala yang disukainya dan mencari keridhaannya adalah menyamai pahala semua itu.”

Segera Asma bangun untuk kembali kepada teman-temannya yang sedang menunggu, sedangkan dia amat gembira sekali akan jawaban yang diberikan oleh Rasulullah tersebut.

Maka semoga pahala yang tak terhingga dengan segala hal yang Allah lebihkan bagi seorang wanita atas seorang laki-laki dalam hal ini. Semoga Allah berikan kekuatan,keihlasan dan kesabaran dalam menjalani amanah-amanah seorang istri yang begitu. Semoga Allah berikan kekuatan,keihlasan dan kesabaran dalam menjalani amanah-amanah seorang istri yang begitu mulia.

Maka yang perlu kita perhatikan adalah kebaikan tak akan bisa dibenturkan dengan kebaikan, Insya Allah dengan manajemen rumah tangga dan strategi yang tepat agar tholabul 'ilmi kita tidak terhalang sangat dibutuhkan. Dan dalam hal ini komunikasi diantara suami istri amat sangat berperan. Sedangkan bagi seorang wanita dimana ia adalah ibu yang menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya. Yang menjadi guru, contoh, teladan dan yang berperan besar dalam pembentukan seorang generasi penerus ummat..mutlak baginya untuk senantiasa mendidik anaknya berdasarkan ilmu tanpa ilmu maka anak akan tumbuh seadanya,dengan akhlak seadanya.

Karakter dan kepribadian yang seadanya bahkan tidak jarang kemudian ia menjadi seseorang yang tidak berguna bagi masyarakat disekitarnya. Nau'udzubillahi mindzalik.

So tetaplah bersemangat untuk menghadiri majelis majelis ilmu,  walaupun mungkin banyak hal yang tak terserap dikarenakan keterbatasan kita dalam menyimak, Namun yakinlah bahwa al 'ilmu nuurun. Ilmu adalah cahaya. Maka ia akan masuk kepada orang-orang yang Allah kehendaki untuk ilmu tertanam dalam dirinya. Dan inipun memberi habbit yang baik untuk anak kita sehingga kelak ia akan mencontoh jiddiyah ibunya dalam menuntut ilmu.

5. Ustadzah, menuntut ilmu saat sudah berkeluarga kan, harus ada izin suami. Nah, kalau misalnya sikon membuat suami tidak memberi izin, bukan menuntut ilmunya yang tidak boleh, tapi keluar rumah yang mau tidak mau terbatasi. Di alternatifnya ikut group di WA seperti ini. Teknisnya kan izin hanya menggunakan hp. Solusinya bagaimana supaya suami tidak membatasi ruang gerak istri untuk menuntut ilmu?


Jawab: Sebagaimana yang telah saya singgung di atas, betapa pentingnya kedudukan seorang ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Maka seakan dunia ilmu dan pengetahuan jika dimungkinkan bisa setidaknya itu dimiliki oleh seorang ibu yang hebat walau gelar pendidikan formal tidak dituntut harus setinggi S3 atau profesor.maka bagaimana kemudian kita membangun komunikasi yang baik dengan suami kita agar ibadah kita dalam menuntut ilmu tidak dihalangi dan didukung oleh suami kita.

Dengan menyampaikan keutamaannya, manfaatnya, dan meyakinkan kepada beliau bahwa ketika kita tholabul 'ilmi ini tidak membuat kita lalai dengan segala amanah dan tanggung jawab kita sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya malah lebih membuat rumah dan keluarganya semakin berkah, sakinah mawaddah warahmah karena ia dibangun atas dasar ilmu. Dan akan sangat membantu dan menjadi sempurna ketika suamipun melakukan hal yang sama. Sama-sama memiliki semangat tholabul 'ilmi yang luar biasa.

Semoga dimudahkan sebagaimana niat mulia kita untuk memenuhi hak menuntut ilmu hingga Allah kemudian mudahkan jalannya menuju surga.. Wallahu a'lam bish howab



Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Amiin....

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum...