ADAB SOPAN SANTUN BAGI PENUNTUT ILMU

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, February 18, 2015


Kajian WA Hamba الله SWT
Rabu, 18 Februari 2015
Ustadzah Ira (Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu)
Editor: Wanda Vexia
Grup Nanda M111 (Sri & Reski)


Bismillahirrahmanirrahim...
Ba'da Tahmid wa sholawat

Adab Sopan Santun Bagi Penuntut Ilmu

Sebaik-baik kegiatan yang dilakukan untuk memanfaatkan waktu adalah menyibukkan diri dengan ilmu syar'i, ilmu Agama, terus mencari dan mendapatkan faidah ilmu, senantiasa mengulang-ulangi pelajaran dan mengajarkannya.

Menuntut ilmu syar'i termasuk pendekatan diri yang paling afdhol dan ketaatan yang paling agung. Oleh karena itu para Ulama sejak dahulu sampai sekarang, banyak yang memberikan perhatian besar dalam menjelaskan adab sopan santun yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu, adab sopan santun tersebut merupakan perhiasan dan sarana menuju kemenangan dan kesuksesan.

Sebagaimana mereka para Ulama telah menjelaskan tentang akhlaq terpuji dan akhlaq tercela dalam menuntut ilmu, dimana dengan mengetahuinya dan mengamalkannya dengan menerapkan akhlaq terpuji dan meninggalkan akhlaq tercela tersebut- merupakan jalan pintas untuk mendapatkan ilmu yang diidam-idamkan serta jalan pintas untuk bisa memetik buah ilmu tersebut.

Adab Sopan Santun Bagi Penuntut Ilmu yang Paling Penting 

* Pertama : Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala

Menuntut ilmu merupakan ketaatan dan ibadah, sementara Ikhlas hanya karena Allah ta'ala itu wajib ada pada seluruh bentuk ibadah dan ketaatan lainnya. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS: Al-Bayyinah Ayat: 5)

Ikhlas dalam menuntut ilmu adalah mengharapkan wajah Allah ketika menuntut ilmu, sehingga apabila keinginan seorang penuntut ilmu hanya untuk memperoleh ijazah, atau menduduki jabatan tertentu untuk mendapatkan manfaat berupa materi saja, maka sesungguhnya dia belumlah ikhlas dalam menuntut ilmu. Dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu, dia berkata, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من تعلّم علماً مما يبتغَى به وجه الله - عز وجل- لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها
"Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari karena mengharapkan wajah Allah Azza Wajalla semata, namun dia tidaklah mencarinya kecuali karena ingin mendapatkan perhiasan dunia dengan ilmu tersebut, maka dia tidak akan mendapatkan "urf Jannah" pada hari kiamat yaitu wangi surga" [HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al hakim dan Annawawi dalam riadhussholihin]


Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam telah memotifasi kita agar senantiasa memiliki Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala semata, sebagaimana dalam hadits Umar Rodhiallohu 'anhu:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung hanya dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan hanya sesuai dengan apa yang dia niatkan" [HR. Muttafaq alaih]

Para Ulama sangat perhatian terhadap hadits Umar Rodhiallohu 'anhu diatas, mereka senantiasa mendahulukan hadits ini dalam kitab-kitab mereka, karena hadits tersebut dibutuhkan secara umum dalam segala perkara, seperti yang telah dikatakan oleh Imam Al Khot-thobi, perhatikan Imam Al Bukhari rahimahullah, beliau memulai kitab Shohihnya dengan hadits ini, para ulama mengatakan : Hadits ini adalah khotbah pembuka kitabnya Imam Al-Bukhari karena beliau tidak menulis muqaddimah apapun, tujuan dari hal tersebut adalah sebagai peringatan bagi para penuntut ilmu agar memperbaiki niatnya dan hanya mengharapkan wajah Allah ta'ala. Imam Annawawi dan Imam Al Baghowi mengikuti metode imam Al Bukhori ini, didalam beberapa kitab mereka berdua, demikian pula para penulis lainnya.

Imam Ahmad berkata :


العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته
"Ilmu itu tidak ada sesuatu pun yang bisa menandinginya, bagi orang yang benar niatnya"
Murid-muridnya lalu bertanya : "Bagaimana orang yang benar niatnya itu?"

Imam Ahmad menjawab :
ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
"Dia berniat untuk mengangkat kejahilan dari dirinya sendiri dan dari orang lain"


*Kedua : Bertaqwa kepada Allah Azza wajalla

Para ulama adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
"Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS: Faathir Ayat: 28)
Dengan taqwa, seorang alim akan bertambah ilmunya dan dengan ilmu orang yang bertaqwa akan bertambah ketaqwaannya, Allah ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِٱلْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ ٱلَّذِى عَلَيْهِ ٱلْحَقُّ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْـًٔا ۚ فَإِن كَانَ ٱلَّذِى عَلَيْهِ ٱلْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُۥ بِٱلْعَدْلِ ۚ وَٱسْتَشْهِدُوا۟ شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَٱمْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ ٱلشُّهَدَآءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَىٰهُمَا ٱلْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ ٱلشُّهَدَآءُ إِذَا مَا دُعُوا۟ ۚ وَلَا تَسْـَٔمُوٓا۟ أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰٓ أَجَلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَٰدَةِ وَأَدْنَىٰٓ أَلَّا تَرْتَابُوٓا۟ ۖ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوٓا۟ إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَآرَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِن تَفْعَلُوا۟ فَإِنَّهُۥ فُسُوقٌۢ بِكُمْ ۗ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mua´amalahmu itu), kecuali jika mua´amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS: Al-Baqarah Ayat: 282)

Allah ta'ala berfirman :

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا۟ ذَوَىْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
"Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar" (QS: Ath-Thalaaq Ayat: 2) 

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" (QS: Ath-Thalaaq Ayat: 3)


Rezki yang paling agung adalah ilmu yang bermanfaat.
Taqwa adalah kumpulan seluruh kebaikan dan wasiat Allah kepada umat terdahulu dan belakangan, seperti firman Allah Ta'ala :

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji" (QS: An-Nisaa Ayat: 131)

Firman Allah Azza wajalla :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar" (QS: Al-Anfaal Ayat: 29)

Dia akan memberikan kepadamu furqaan yaitu memberikan kepadamu sesuatu yang bisa membedakan antara yang haq dan batil, antara yang sehat dan sakit, antara yang bermanfaat dan tak berguna, semua itu hanya ada dengan adanya cahaya dan timbangan ilmu, pelita dan ukuran ilmu. Jadi ilmu itu adalah buah dari buah-buah taqwa, taqwa merupakan jalan untuk memperoleh ilmu, dan ilmu itu mengangkat derajat pemiliknya ke derajat ma'rifatullah yang paling tinggi serta takut ~khos-yah~ kepada Allah.

Hal-hal yang pertama kali masuk dalam bentuk-bentuk taqwa adalah menegakkan syi'ar-syi'ar Islam dan hukum-hukum Islam yang nampak, diantara hal itu adalah menjaga sholat lima waktu di masjid, menyebarkan salam kepada orang-orang tertentu dan kepada kaum muslimin secara umum, amar ma'ruf nahi mungkar, menampakkan sunnah, memadamkan bid'ah, dan menampakkan hukum-hukum Islam lainnya agar supaya dia pantas dijadikan panutan serta terjaga kehormatannya, tidak dilecehkan dan tidak memunculkan persangkaan buruk.

Termasuk juga dalam bentuk ketaqwaan adalah menjaga syari'at-syari'at yang dianjurkan baik dalam bentuk ucapan lisan atau perbuatan anggota badan : diantaranya adalah membaca Al Qur'an Al Karim dengan tafakkur dan tadabbur; memperbanyak dzikir dengan hati dan lisan; senantiasa berdo'a dengan penuh ketundukan disertai dengan keikhlasan dan kejujuran; perhatian terhadap ibadah-ibadah sunnah baik berupa sholat, puasa, sedekah dan haji (umroh) ke Baitullah; serta bersholawat kepada Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, dan ibadah-badah lainnya yang memiliki keutamaan-keutamaan baik berupa perkataan ataupun perbuatan yang dengannya diharapkan semakin bertambahnya ilmu.


TANYA JAWAB


1. Bunda, gimana ngadepin temen yang jumawa alias sombong dengan ilmu yang dimilikinya? Malah kadang suka pamer or show off alias riya yang akhirnya underestimate sama temen yang lain nya. Gimana tuh ngadepin yang kayak gitu bun? Suka pengen toyor aja saya mah.

Jawaban : Ukhti Ayu.. Subhanallah sampe pengen noyor yah. Jangan atuh.. Hadapi dengan sabar, tetap berlaku seperti gelas kosong dan ilmu padi, jika ada orang yang merasa lebih paham, dengarkanlah, jika kita merasa lebih menunduklah, jangan meninggikan diri. Karena yang Maha tinggi dan Maha Berilmu hanya Allah ta'ala, jika ada orang seperti itu, maka do'akan lah saudara kita agar jauh dari kesombongan.

Karena sesungguhnya orang orang seperti itu siksaannya amat pedih yang  seperti terlansir di dalam hadist shahih.


Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata:
لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
"Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya" [HR. Ibnu Majah no. 254. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Terlihat dalam hadist ini terdapat kalimat فَالنَّارُ النَّارُ "neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas" lihat di tegaskan oleh Rasulullah shallallahu 'allaihi wasallam sampai DUA KALI. Maka jagalah diri kita dari hal demikian. Nauzubillahiminzalik..

Maka dari itu sebagai saudari kita sesama muslim wajib bagi kita mengingatkan, dan harus dirangkul serta di do'akan, jangan malah kita menjauh dan mengucilkannya, tapi jika dia masih bersikap demikian, tetaplah bersabar karena sabar itu akan menuai kebaikan untuk diri kita juga. Seperti firman Allah SWT : 

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (QS: Al-Baqarah Ayat: 286)
Wallahua'llam bish showab


2. Bunda, kalau seseorang ilmunya sudah cukup baik dan bisa dibilang cukup menguasai, tapi perbuatannya masih melakukan apa yang dilarang Allah bagaimana bund? Dia bersyiar untuk berbuat kebaikan sesuai perintah Allah, tapi dirinya pribadi masih banyak melakukan perbuatan yang berbanding terbalik dengan ilmu dan syiarnya.


Jawab : Berarti dia siap menerima siksaan di akhirat kelak apabila dia masih demikian sampai akhir hayatnya. Hadist shahih Dari Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
"Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya" [HR. Bukhari dan Muslim]

Kita cukup ambil ilmunya saja, apa yg dia syiarkan apabila memang sesuai dan bersikap amal maruf nahi munkar ya harus kita terapkan dalam kehidupan kita, kalau soal dia melakukannya atau tidak, biarkan itu jadi urusannya dengan Allah , jangan sampai kita demikian ya ukhti. Doakan saudara/saudari kita yang demikian. Wallahu'alam bish showab


3. Ustadzah, katanya yang wajib sopan itu murid kepada guru ya, dan guru tidak wajib sopan kepada murid?

Jawab: Ukhti Reski, walau bagaimana pun guru kita adalah orang tua kita disekolah, dan kita harus bersikap sopan dan hormat kepada mereka. Namun bukan berarti guru berhak semena-mena berlaku tidak sopan terhadap muridnya. Tidak ada yang menyatakan bahwa guru boleh tidak sopan kepada muridnya. Karena dalam pendidikan keguruan, di ajarkan etika dalam mengajar atau di dalam Islam biasa di kenal dengan akhlaq. Mau guru kita bagaimanapun juga, kita harus tunjukkan akhlaq yang baik pada seorang muslimah. Do'a kan guru yang demikian. Wallahua'llam bish showab




Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Amiin....



Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum... 

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Ketik Materi yang anda cari !!