Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , , » ANJURAN MENIKAH DAN LARANGAN MENINGGALKAN NIKAH (HADIST)

ANJURAN MENIKAH DAN LARANGAN MENINGGALKAN NIKAH (HADIST)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, March 19, 2015


Kajian On line Telegram Hamba الله  Ta'ala

Hari / Tanggal : Kamis, 19 Maret 2015
Narasumber :  Ustadz Abdullah Haidir Lc
Tema : Hadist, Munakahat
Notulen :  Selli
Editor : Ana Trienta

Assalamualaikum kaifa haalukum ayyuhal ikhwah...
Kita akan lanjutkan kajian dari kitab Bulughul Maram bab Nikah. Bismillah..

وَعَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ  يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ : تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ . إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ  .رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ، رقم 1263

Dari beliau (Anas bin Malik) dia berkata, "Rasulullah memerintahkan untuk menikah dan sangat mencegah sikap meninggalkan nikah. Beliau bersabda, "Nikahilah (wanita) yang penuh kasih sayang dan (berpotensi) banyak keturunan. Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya kalian di kalangan para nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Makna kalimat

• (الباءة) Sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan hadits sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan (الباءة) adalah kemampuan finansial. Akan tetapi dalam hadits yang dimaksud (الباءة) dalam hadits ini adalah menikah, berdasarkan konteks hadits.

• (التَّبَتُّلِ) secara umum maknanya adalah total dalam beribadah, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Muzammil

وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً

"Dan beribadahlah kepada Tuhanmu dengan penuh ketekunan." (QS. Al-Muzammil: 8).

Akan tetapi yang dimaksud 'tabattul' dalam hadits ini adalah sengaja tidak menikah untuk tujuan beribadah.

• (اَلْوَدُودَ) berasal dari kata (الود) yang bermakna cinta. Diungkapkan dengan wazan (bentukan) فَعُول yang dikenal sebagai salah satu bentukan  yang bermakna 'sangat' (للمبالغة). Maka (الودود) adalah orang yang sangat mencinta.

• (اَلْوَلُودَ) berasal dari kata (الولد), juga dengan wazan فعول. Yang dimaksud adalah orang yang memiliki banyak anak. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah wanita (gadis) yang diperkirakan akan memiliki banyak keturunan dengan memperhatikan kondisi kerabatnya atau faktor lainnya. Jadi yang dimaksud dalam hadits ini bukan wanita (janda) yang telah memiliki banyak anak.

Pelajaran Dalam Hadits:

• Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, dan menikah merupakan fitrah manusia. Mengabaikan perkara fitrah ini bukan hanya melanggar hak manusiawi, tapi juga melanggar aturan syari, walaupun untuk alasan beribadah. Karena itu, pernikahan diperintahkan dan sengaja meninggalkannya dilarang keras.

• Adanya sejumlah orang saleh atau ulama besar yang tidak menikah sepanjang hidupnya, hendaknya dilihat sebagai alasan pribadi. Bukan sebagai dalil dibolehkannya meninggalkan pernikahan. Atau kalaupun mereka memiliki pendapat tentang kebolehannya, maka "Semua ucapan dapat diambil dan ditolak, kecuali ucapan penghuni kubur ini (Rasulullah shallallahu alaihi  wa sallam)."

• Hadits ini merupakan bantahan terhadap bid'ah yang terkandung dalam ajaran rahbaniah (kependetaan) yang  diajarkan para pendeta Nashrani dengan meninggalkan pernikahan sebagai cara untuk fokus beribadah (QS. Al-Hadid: 27).

• Di antara kriteria pasangan yang dianjurkan adalah 'al-wadud' (penuh cinta) dan 'alwaluud' (berpotensi banyak keturunan). Hal ini setidaknya memberikan 2 makna:

-Sebelum menikah, hendaknya seseorang berusaha mengenali 'kualitas' pasangannya. Tentu dengan cara yang dibenarkan syariat. Seperti mencari informasi dari orang yang tsiqah (terpercaya) atau dengan cara lainnya.

- Berkeluarga harus memenuhi dua sisi utama; Kehangatan cinta dan tanggung jawab. Masing-masing pasangan hendaknya dapat mendatangkan suasana kasih sayang dalam berkeluarga, juga siap bertanggung jawab dengan menyambut kelahiran anak serta mendidik dan merawatnya.

• Berbangga-bangga yang dimaksud dalam hadits ini bukan berlatar belakang kesombongan, akan tetapi kecintaan terhadap amal saleh dan agar semakin banyak hamba Allah yang beriman kepada-Nya. Karena, semakin banyak orang yang mengikuti ajarannya, semakin banyak pula kebaikan dan pahala yang didapatkan dari dakwah yang disampaikan.

• Hadits ini juga dijadikan landasan para ulama tentang dilarangnya tindakan pembatasan kelahiran, apalagi jika bersifat permanen, kecuali ada alasan yang sangat mendesak. Karena berdasarkan hadits ini, yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kehendaki adalah jumlah umatnya yang banyak, bukan sedikit.

Adapun mengatur kelahiran anak, dengan pertimbangan agar dapat lebih mudah merawat dan mendidiknya, sepanjang disetujui suami dan dengan cara yang tidak membahayakan sang ibu, maka hal tersebut dibolehkan.
Wallahu a'lam bishshawab...

TANYA JAWAB

1. Ustad kenapa dalam hadits ini pilih wanita yang bisa  atau berpotensi punya keturunan banyak apa hanya wanitanya? Kenapa pria ndak? Apa kalo berumah tangga ndak punya anak yang salah istrinya?
Jawab:
Potensi punya anak atau tidak dapat bersumber dari wanita maupun laki-laki. Namun kenyataannya, pengaruh wanita lebih besar, akan tetapi, kalau Allah takdirkan belum punya anak, masing-masing pihak hendaknya membicarakan secara terbuka, tidak langsung menyalahkan pasangannya. Selebihnya terus berusaha sambil tetap ridha dengan keputusan Allah.

2. Ustadz gimana kalau membatasi kelahiran karena pertimbangan kesehatan ibu yang sudah rawan diatas 40 tahun
Jawab:
Mba Enggal... setiap orang tentu beda-beda kemampuan dan kekuatannya. Jika memang secara pribadi dianggap rawan, maka diatur sedapat mungkin untuk tidak hamil. Adapun di batasi secara permanen saya tidak berani mengatakan boleh, dihindari lebih hati-hati... wallahu a'lam.

3. Ada kasus tadz laki-laki menikahi janda yang sudah punya anak dua. Tapi selama menikah dengan beliau ini yang wanitanya ndak pernah hamil sampai sudah dinyatakan tidak bisa hamil lagi. itu yang salah siapa. Terus kalo suaminya ijin poligami tapi istrinya ndak ijinin, apa istrinya dosa? Alasan suaminya mau punya anak yang kelak doakan beliau. Apa anak tiri dengan anak kandung berbeda tadz? Kan sudah diurusin dari kecil
Jawab:
Kalau yang salah siapa jangan tanya saya mba mae kitapun ga perlu terlalu dalam mengurusi hal itu. Hmm.. masalah poligami nih... saya tidak ingin melakukan pendekatan dosa atau tidak agak riskan masalahnya, sebab bisa jadi konsiderannya banyak. Intinya, jika suami minta poligami dan siap menanggung segala konsekwensinya sesuai kapasitasnya dan sang isteri percaya akan hal itu semestinya diizinkan. Kalaupun isterinya tidak setuju dan merasa tidak siap secara psikologis itupun masih bisa dipahami

4. Jika mengizinkan suami menikah lagi, tapi sang istri meminta cerai apa istri nya berdosa pak ustad?
Jawab:
Hadeeeuuh. Umumnya masalah ini sangat kasuistik jadi sulit dijawab dengan sekedar boleh atau tidak boleh, dosa atau tidak dosa. kaidah-kaidah dasarnya saja yang dipahami. Poligami boleh tapi harus adil seorang isteri pun, jika merasa tidak mampu dipoligami berhak sampaikan kepada suaminya meskipun jika dia setuju dan ridha jika suaminya dpt berlaku adil, itu yang paling ideal.... #ehmmmm

5. Ustad kalo pertanyaan yamg dibalik jika suaminya yang tidak bisa punya anak, apa istri bisa minta cerai? Secara istri juga berhak dapat doa anak sholeh
Jawab:
Mba Mae... naam, jika dipastikan demikian, dia berhak meskipun jika dia ridha sambil terus berusaha, itu lebih utama.

6. Pak ustad, jika suami berbicara sudah tidak ada perasaan cinta dan sayang lagi dan ingin berpisah, apakah itu termasuk talak?
#pertanyaan titipan teman
Jawab:
Talak harus dengan redaksi yang jelas seperti kamu saya talak, kamu saya cerai. Adapun kalau cuma berbicara tidak ada rasa cinta lagi, atau ingin pisah dan semacamnya itu bukan talak

7. Kalau tidak ada rasa cinta lagi, terus mereka tidak jima' selama 2 tahun lebih, bagaimana seharusnya Pak Ustadz...?
Jawab:
Para ulama banyak menyebutkan kewajiban melakukan hubungan badan suami isteri, sebab itu termasuk maqashid (tujuan) pernikahan. Meski mereka berbeda-beda pendapat soal frekwensinya. Tapi kalau sampai dua tahun begitu sedangkan mereka hidup serumah, itu sudah tidak wajar meskipun tidak juga dapat dikatakan talak. Semestinya harus dibicarakan di antara mereka berdua jika ingin melanjutkan pernikahan, lanjutkanlah secara normal kecuali misalnya memang sudah hilang syahwatnya, seperti karena faktor usia atau penyakit... wallahu a'lam. Kalau keduanya ridha dan enjoy-enjoy saja wallahu a'lam, saya rasa tidak masalah.

>Samakah dengan kategori nusyuz Tadz?
Jawab:
Kalau ada penolakan dari isteri, namanya nusyuz kalau ada penolakan dari suami, namanya zalim keduanya dosa

8. Ustad kalo pria kan milih wanita seperti hadits diatas. Nah kalo wanita kita pilih calon suami patokannya apa
Jawab:
Mba Mae seperti hadits nabi kriteria pria, dasarnya adalah agama dan akhlaknya selebihnya kriteria-kriteria ikutan bisa ada bisa tidak. wallahu a'lam.

9. Ustad bolehkah wanita itu mengajukan diri seperti ummu khadijah. Maksudnya perermpuan melamar laki-laki?
Jawab:
Kalau melamar ngga bisa yang bisa melamar hanya laki-laki yang dilakukan khodijah bukan melamar Rasulullah saw tapi menyatakan keinginan agar Rasulullah saw menikahinya lalu Rasulullah saw melamarnya dan menikahinya.  Hal itu boleh-boleh saja tapi hendaknya dengan cara terhormat, sesuai dengan sifat-sifat malu wanita dan kalau ditolak jangan kecewa

10. Tanya tadz, ada kasus laki-laki, PNS , rumah ada, paham agama tapi hingga usia 40+ blm menikah begitu pula dengan wanita, ada  juga, bagaimna hukumnya  tadz?
Jawab:
Pak sugeng kita ngga tau apa latar belakangnya belum menikah, jadi tak dapat kita hukumi selebihnya, point-poinnya ada di uraian di atas. wallahu a'lam.

Saya pamit yak,, wassalam...

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment