Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , » APA SAJA YANG TIDAK TERMASUK IKHTHILAT?

APA SAJA YANG TIDAK TERMASUK IKHTHILAT?

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, March 24, 2015

Kajian Online WA Hamba اَللّٰه Ta'ala
Link 1 Bunda

 بسم الله الرحمن الرحيم

Yang tidak termasuk Ikhthilath apa saja yaaa...? Supaya kita mengetahuinya lebih detail. 
Sebelum masuk kedalam hal hal yang berhubungan dengan hukumnya boleh (mubah), maka perlu diketahui bahwa sesuatu yang boleh/mubah itu tidak harus dikerjakan, juga bukan berarti mustahab (disukai/lebih utama) untuk dikerjakan. Tetapi sekedar boleh untuk dilakukan. Walaupun demikian, jika menimbulkan kerusakan, atau fitnah, atau kemaksiatan, maka haruslah ditinggalkan, karena Allah tidak menyukai kerusakan. Dan sebagaimana sebuah kaidah Ushul Fiqih yang berbunyi:

دَرْأُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَي جَلْبِ الْمَنَافِعِ

"Menolak kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil kebaikan/manfaat".

Maka inilah hal hal yang tidak termasuk dalam ikhtilat tersebut:

1. Wanita mendatangi seorang alim untuk minta fatwa

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي قَالَ وَقَالَ أَبِي ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ حَتَّى يَجِيءَ ذَلِكَ الْوَقْتُ 

"Dari A’isyah dia berkata: “Fathimah binti Abu Hubais datang kepada Nabi lalu berkata: “Saya mengeluarkan darah istihadlah, sehingga saya tidak suci, haruskah aku meninggalkan sholat?” Nabi ﷺ  menjawab: “Tidak, itu hanyalah urat/pembuluh darah (yang luka), bukan haid, jika masa haidmu datang maka tinggalkanlah sholat, jika telah usai maka bersihkanlah darah dari badanmu lalu sholatlah” (Seorang perawi berkata) Bapakku berkata (tambahan di dalam riwayatnya tentang sabda Rasulullah itu): “Berwudlu’lah tiap-tiap sholat ketika telah masuk waktunya”. [Al-Bukhari]

2. Wanita mendatangi laki-laki karena suatu keperluan

أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ تَقُولُ ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ قَالَتْ فَسَلَّمْتُ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ قُلْتُ أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلًا أَجَرْتُهُ فُلَانُ ابْنُ هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَلِكَ ضُحًى

"Abu Murrah maula (bekas budak) Ummu Hani’ binti Abu Thalib menceritakan bahwasanya ia mendengar Ummu Hani’ binti Abu Thalib berkata: “Saya pergi menemui Rasulullah ﷺ  pada tahun Fathu Makkah, saya dapati beliau sedang mandi dan Fathimah menutupinya dengan kain, lalu saya mengucapkan salam”. Rasul menjawab: “Siapakah ini?”. Saya menjawab: “Ummu Hani’ binti Abu Thalib!” Beliau berkata: “Selamat datang Ummu Hani’”. Ketika selesai mandi, beliau berdiri sholat delapan reka’at berselimutkan satu kain. Dan ketika telah selesai sholat, aku berkata: “Wahai Rasulullah, saudara-ku, Ali bin Abu Thalib, ingin membunuh orang yang telah aku lindungi, yaitu Fulan bin Hubairah”. Rasulullah bersabda: “Kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’” Ummu Hani berkata: “Hal itu waktu dhuha" [HSR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa-i]

3. Wanita shalat bermakmum kepada laki-laki dengan shaf tersendiri

Syaikh DR. Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Aba Buthain berkata: “Dan tidaklah larangan ikhthilath itu terbatas antara banyak orang-orang laki-laki dan para wanita saja, namun juga mencakup seorang wanita apabila shalat bersama para laki-laki. (Yaitu jika satu wanita berbaris satu shaf dengan para laki-laki itu termasuk ikhthilath).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

"Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Nabi ﷺ  shalat di rumah Ummu Sulaim, maka aku dan seorang yatim berdiri di belakang beliau, sedangkan Ummu Sulaim di belakang kami". [HR. Bukhari, no:871, 860]

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan lainnya, dengan sanad-sanad mereka dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ  telah bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

"Sebaik-baik shaf (barisan dalam shalat) laki-laki adalah shaf yang pertama, dan shaf yang paling buruk adalah shaf yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir, dan shaf yang paling buruk adalah shaf yang pertama". [Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini: “Hadits Hasan Shahih].

4. Penganten wanita yang melayani para tamu laki-laki, dengan dua syarat: aman dari fitnah dan berpakaian secara Islam

Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: "Tidak mengapa penganten wanita melayani sendiri para (tamu) undangan, apabila dia tertutup (dengan baju yang disyari’atkan) dan aman dari fitnah (perkara yang dapat mendatangkan kemaksiatan/kesesatan), berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d, dia berkata:

لَمَّا عَرَّسَ أَبُو أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ دَعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ فَمَا صَنَعَ لَهُمْ طَعَامًا وَلاَ قَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ إِلاَّ امْرَأَتُهُ أُمُّ أُسَيْدٍ بَلَّتْ (وفي رواية: أنقعت) تَمَرَاتٍ فِي تَوْرٍ مِنْ حِجَارَةٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الطَّعَامِ أَمَاثَتْهُ لَهُ فَسَقَتْهُ تُتْحِفُهُ بِذَلِكَ (فَكَانَتْ امْرَأَتُهُ يَوْمَئِذٍ خَادِمُهُمْ وَهِيَ الْعَرُوْسُ

"Tatkala Abu Usaid As-Sa’idi telah menikah, dia mengundang Nabi ﷺ  dan para sahabat beliau, dia tidak membuat makanan untuk mereka, dan tidak menghidangkan makanan kepada mereka. Akan tetapi istrinya, Ummu Usaid, semenjak malam merendam kurma di dalam bejana dari batu. Maka ketika Nabi ﷺ  telah selesai makan, Ummu Usaid melarutkannya untuk beliau, lalu memberikan minum kepada beliau dengannya, dia mengkhususkan beliau dengan (minuman) itu. Maka pada hari itu istrinya yang menjadi pelayan mereka, padahal dia sebagai penganten wanita".

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya seorang istri melayani suaminya dan orang yang dia undang, tentu saja hal itu adalah jika aman dari fitnah dan dengan menjaga penutup (tubuh) yang wajib atas wanita. Dan dalil bolehnya seorang suami melayani istrinya dalam hal seperti itu.." [Fathul Bari:IX/251]

5. Dua laki-laki shalih atau lebih menemui seorang wanita, karena keperluan

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ دَخَلُوا عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَهِيَ تَحْتَهُ يَوْمَئِذٍ فَرَآهُمْ فَكَرِهَ ذَلِكَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لَمْ أَرَ إِلَّا خَيْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَرَّأَهَا مِنْ ذَلِكَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ لَا يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيبَةٍ إِلَّا وَمَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ

"Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu 'anhu bahwa orang-orang dari Bani Hasyim menemui Asma’ binti ‘Umais, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk –waktu itu Asma’ adalah istri Abu Bakar-, lalu Abu Bakar melihat mereka, maka dia tidak menyukainya. Kemudian dia menyebutkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ  sambil berkata: “Aku tidak melihat kecuali kebaikan”. Maka Rasulullah ﷺ  bersabda: “Setelah hariku ini, janganlah sama sekali seorang laki-laki menemui seorang wanita yang ditingal pergi suaminya kecuali bersamanya ada seorang laki-laki lain atau dua laki-laki". [HSR. Muslim, no:5641]

6. Seorang laki-laki berdiri bersama seorang wanita di jalan yang dilewati orang, untuk memenuhi keperluan wanita tersebut

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ امْرَأَةً كَا نَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا

"Dari Anas, bahwa seorang wanita yang akalnya tidak begitu beres berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki keperluan kepadamu”. Maka beliau menjawab: “Hai Ummu Fulan, lihatlah jalan mana yang engkau sukai, sehingga aku dapat memenuhi keperluanmu”. Maka beliau berkhalwat (menyendiri) bersamanya di sebagian jalan sehingga wanita itu menyelesaikan keperluannya". [HSR. Muslim, Al-Bukhari secara ringkas, dan Abu Dawud]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Perkataan “Maka beliau berkhalwat (menyendiri) bersamanya di sebagian jalan” yaitu berdiri bersamanya di jalan yang dilewati oleh orang, agar beliau dapat memenuhi keperluannya dan memberikan fatwa kepadanya dalam keadaan sendirian/sepi. Dan hal itu tidak termasuk khalwat (menyendiri) dengan wanita asing (bukan mahram), karena hal ini terjadi di tempat lewatnya orang-orang dan mereka dapat melihat beliau dan wanita tersebut, tetapi mereka tidak mendengar perkataan wanita itu, karena pertanyaan wanita itu, tidak dinampakkan dengan terang oleh beliau, wallahu a’lam”. [Syarh Muslim V/180]

Imam An-Nawawi juga berkata: “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang tawadhu’ beliau ﷺ  yaitu dengan berdirinya beliau dengan seorang wanita yang lemah. Inilah, dan Imam Al-Bukhari telah memasukkan hadits ini ke dalam bab: Khalwat seorang laki-laki dan wanita yang dibolehkan di hadapan orang-orang”.

7. Wanita mengucapkan salam kepada laki-laki

Dalilnya hadits Ummu Hani’ yang telah disebutkan di atas, yaitu pada point ke (2). Wanita mendatangi laki-laki karena suatu keperluan.

أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ تَقُولُ ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ قَالَتْ فَسَلَّمْتُ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ قُلْتُ أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلًا أَجَرْتُهُ فُلَانُ ابْنُ هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَلِكَ ضُحًى

"Abu Murrah maula (bekas budak) Ummu Hani’ binti Abu Thalib menceritakan bahwasanya ia mendengar Ummu Hani’ binti Abu Thalib berkata: “Saya pergi menemui Rasulullah ﷺ  pada tahun Fathu Makkah, saya dapati beliau sedang mandi dan Fathimah menutupinya dengan kain, lalu saya mengucapkan salam”. Rasul menjawab: “Siapakah ini?”. Saya menjawab: “Ummu Hani’ binti Abu Thalib!” Beliau berkata: “Selamat datang Ummu Hani’”. Ketika selesai mandi, beliau berdiri sholat delapan reka’at berselimutkan satu kain. Dan ketika telah selesai sholat, aku berkata: “Wahai Rasulullah, saudara-ku, Ali bin Abu Thalib, ingin membunuh orang yang telah aku lindungi, yaitu Fulan bin Hubairah”. Rasulullah bersabda: “Kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’” Ummu Hani berkata: “Hal itu waktu dhuha" [HSR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa-i]

8.Laki-laki mengucapkan salam kepada wanita

عَنْ سَهْلٍ قَالَ:… فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا فَتُقَدِّمُهُ إِلَيْنَا

Dari Sahl, dia berkata: "…Maka jika kami telah shalat jum’ah, kami pulang (dan mampir ke rumah seorang wanita tua) dan kami mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menghidangkan makanan kepada kami." [HSR. Al-Bukhari dan lainnya]

TAMBAHAN :

Inilah sebagian di antara perkara-perkara yang tidak termasuk ikhthilath yang terlarang hukumnya. Dengan keterangan ini, maka definisi ikhthilath di dalam kitab Mas-uliyah Mar’atil Muslimah adalah : “Berkumpulnya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, atau, berkumpulnya banyak orang laki-laki dengan banyak orang wanita yang mereka itu bukan mahram, di satu tempat, yang memungkinkan padanya untuk berhubungan di antara mereka, dengan cara memandang, berisyarat, dan berbicara, sehingga menyepinya seorang laki-laki dengan seorang wanita asing -yang bukan mahramnya- dalam keadaan bagaimanapun juga dianggap termasuk ikhthilath” belum bisa diterima. Karena kalau yang dimaksud ikhthilath adalah demikian, tentulah perkara-perkara di atas tadi termasuk ikhthilath yang terlarang!

Tetapi hal ini, bukan berarti laki-laki boleh memandang wanita yang bukan mahramnya –atau sebaliknya- tanpa adanya keperluan yang diidzinkan syari’at. Karena larangan tentang memandang ini jelas dari Al-Kitab dab As-Sunnah, sebagaimana sebagiannya telah berlalu di atas.

Semoga Bunda dan Nanda semakin jelas ya akan hal ini.
والله أعلم بالصواب

TANYA JAWAB


Pertanyaan M01

1. Bagaimana hukum mata kaki sampai telapak kaki perempuan? Apa itu juga aurot? Karena ada yang pakai kaos kaki saat pergi, tapi  ketika ada tamu laki-laki di rumah, tidak pakai kaos kaki?
Jawab
Mata kaki jelas aurat. Yang menjadi perdebatan ulama adalah tangan. Ada yang bilang tidak ada yang bilang aurat.

2. Ustad kalau saya usaha dirumah dan  yang bantu laki-laki semua karena sudah lama jadi saya sudah anggap keluarga, itu gimana?
Jawab
Tetap saja bukan mahrom


3. Kalo bisa memenuhi seperti diatas gimana tad? tapi selalu brusaha setiap harinya untuk kearah perbaikan...
Jawab
Bagus donk, memang manusia tidak ada yang sempurna. Tetapi banyak yang menuju ke arah sempurna.


4. Batasan jabat tangan perempuan ke laki-laki. Itu kepada siapa saja ya?
Jawab 
Tentunya ya ke Mahromnya.


Pertanyaan M02


1. Assalamu'alaikum ustadz, saya mau tanya bagaimana batasannya  jika kita berikhtilat dengan ipar kita?
Jawab 
sama seperti ke orang lain yaaa. Karena mereka bukan mahrom. Ayah mertua dan keatasnya adalah mahrom. Tetapi kakak atau adik ipar bukan


2. Assalam ust dodi. Bila dijalan sekitar komplek kita/wanita bertemu dengan bapak-bapak wajibkah mngucapkan salam, khawatir nanti kesannya gimana gitu? Biasanya bapak-bapak kalo ketemu suka sapa/senyum? Akhsan nya gimana ya ust?suka risih juga
Jawab 
Boleeehhh. Sekedar salam aja yaaa

3.  Kalo berpose atau berfoto dengan non mahrom bolehkah? seperti foto pra wed begitu?
apakah termasuk ikhtilat? terima kasih atas pencerahannya
Jawab
Foto prewed jelas dunk ikhtilatnya. Kan belum jadi suami

Pertanyaan M03

1. Assalammualaikum ustadz, mau tanya kalo dalam 1 rumah mertua ada beberapa keluarga di dalamnya keluarga suami boleh tidak gak pake hijab? misal di hadapan bapa mertua atau kakak suami yang laki-laki. afwan soalnya tidak tahu, misal sedang berkumpul nonton tivi ramai-ramai atau bapa mertua ingin lihat cucu, itu hukumnya seperti ke ayah atau saudara sendiri kah?misal ada perlu atau beri nasihat kakak ipar.
Jawab
Kalau Bapak mertua mah mahrom. Kalau ipar bukan mahrom 

Pertanyaan M04


1. Assalamu'alaykum ustadz bagaimana batasan kita ber-ikhtilat dengan mertua laki-laki kita? jazakalloh
Jawab
Mertua laki laki kan mahrom.


2. Ustad kalo di rumah saudara ada gadis kost  tentu ini bukan muhrom untuk suami saya, bagaimana hukumnya kalo suami saya berkunjung ke rumah soadara itu dan kamar bersebelahan dengan kamar gadis-gadis tersebut? Mereka tidak berhijab ustad, saya agak kuatir kalo suami berkunjung dan menginap soalnya gadis-gadis itu pekerja SPG rokok yang pakaiannya maaf sangat minim tapi karena sodara kandung dan suami sering berkunjung bagaimana saya memberi pengertiaan ke keluarga?
Jawab
Kita tidak bisa mengontrol lingkungan kita, maka yang kita lakukan adalah kontrol lah diri kita sendiri.

3. Tanya stadz.. apa sebab ada seorang wanita atau seorang pria yang kita tau tergolong sholehah atau sholeh. Dari keluarga baik-baik dapatkan pasangan yang justru bikin kita tarik nafas. Apakah anak perempuan tidak boleh memilih tetap tinggal dengan orang tuanya yang sudah udzur dan tidka berpenghasilan atau ikut suaminya yang dia tau punya tabiat kurang baik dan jarang pulang ke rumah kalo malam hari.
Jawab
Jika sudah menikah wajib ikut kepada suaminya. Nasehati suaminya yaa. Ini ladang dakwah bagi para istri


4. Bagaimana kalo seorang wanita pergi umroh/haji sendirian? Bolehkah?
Jawab
Haji dan Umrohnya sah, cuma terkena hukum safar. 

5. Ada istilah dimahromkan (seolah-olah jadi mahrom) ketika hal tersebut diatas terjadi. Padahal dari sisi hukum islam tidak juga menjadi mahrom, hanya pura-pura saja untuk menutupi syarat yang diminta pemerintah Saudi. Kalo hal tersebut terjadi, sahkah haji wanita tersebut?
Jawab
Tidak boleh. Masa mau ibadah, mulainya pake cara tipu tipu


6. Ustad di kantor saya kami  cuma 5 orang.  3  laki-laki dan 2 perempuan kadang-kadang hanya tinggal berdua. Laki-laki 1 dan perempuan 1. Gimana tuh ustad?
Jawab
Itu jugakan area public yang orang bisa lalu lalang.

7. Ustadz saya mau tanya gimana caranya menolak jambat tangan dengan sepupu laki-laki yang masih sekolah mereka menganggp seperti kaka sendiri tapi kan mereka bukan mahrom kita terus sama anak murid setiap ketemu guru di sekolah selalu di budayakan cium tangan. Jazaakillaahukhoyran ustadz..
Jawab
Gunakan tanda seperti ini 🙏


8. Afwan ustad, jika pertanyaan ini keluar tema. Dalam taaruf dianjurkan untuk mengatakan tentang masalalu masing-masing. Nah kalo ada perempuan yang masalalunya hancur (maaf) perawannya hilang, dan ia sudah bertaubat nasuhah, ketika ia taaruf apakah dia masih tetap menyebutkan tentang masa lalunya tersebut? Sedangkan dalam sebuah ayat, saya lupa persisnya apa, yang isinya, "Allah telah menutup aib kamu, tapi mengapa kamh membuka aib kamu kepda orang lain?" Gimana apakah masih tetap akan menutup aib dengan baik atau tetap membukannya?
Jawab
Jika tidak ditanya, aib masa lalu jangan diumbar yaa. Kalau ditanya, silahkan dibicarakan. 


Pertanyaan M05

1. Bolehkah kita menghadiri acara reuni akbar masa sekolah kita dulu, dimana kita pastinya akan bertemu dengan teman-teman lama kita laki-laki dan perempuan...
Jawab
Tak apeee. Jaga sikap aja yaaa.


Pertanyaan M06


1. Begini, aga keluar sedikit dari tema. Kalo kita mengambil anak asuh. Perempuan sejak bayi lalu kita susui. Setelah besar apakah mahrom bagi suami kita. Terus jika anak itu laki-aki apa mahrom kita nantinya
Jawab
Akan menjadi mahrom jika usianya dibawah 2 tahun dan minimal 5x menyusui dengan kategori KENYANG


Pertanyaan M07


1. Kalau saya masih susah untuk tidak besalaman dengan pihak dari keluarga  suami ust, bagaimana ya  caranya?
Jawab
Iya sih... Pake sarung tangan yang senada dengan kulit

2. Assalamu’alaykum ustadz, afwan mau tanya tentang berkumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan mahrom dalam majelis ilmu, hukumnya bagaimana ustadz? apa termasuk ikhthilath?
Jawab
Tidakk. Asal dikelompokkan yaaa


3. Saya seorang karyawati yang bekerja sebagai staff dimana  di staff tersebut satu-satunya wanita adalah saya. Dalam menjalankan tugas terkadang saya harus ke luarkota atau ke kantor pusat seorang diri tanpa di dampingi makhrom. Tentunya semuanya atas izin suami. Bagaimana menyikapi hal tersebut ustad ?
Jawab
Perlu kita ketahui dulu hukum safar disini. Bahwa wanita dilarang safar tanpa ditemani mahrom. Ajukan saja pindah divisi. Jika mampu pindah bekerja.


4. Assalamualaikum ustadz, bagaimana sikap kita kalo ada temen suami yang datang kerumah dan mengulurkan tangan untuk bersalaman ( laki laki )
Jawab
Pake tanda 🙏


Pertanyaan M08


1. Kalau mendatangi dokter kandungan laki-laki karena di kota ini tidak ada dokter kandungan perempuan kalo bidan banyak. Apa bisa masuk kategori no 2 tidak ya?
Jawab
Boleeehh. Selama memang belum ada yang mampu

2. Kalau naik ojeg, taxi hanya penumpang wanita 1 orang dan sopir nya, ikhtilat tidak?
Jawab
Kalau ojeek sudah dipastikan. Kalau taxi masih ada jarak sih Bun. Walaupun masuk kategori itu.

3. Kalau profesi guru bimbingan konseling SMA, kalau ada murid putra konsultasi di ruangan hanya berdua, ikhtilat tidak?
Jawab
Asalkan ruangannya memang tidak tertutup dan siapa saja bisa lalu lalang disana


4. Ustad saya harus menjemput ibu saya ke bandung, saya dari medan saya janda, apakah harus bermahrom juga?
Jawab
Iyaa


5. Ustadz mau nanya lagi jadi ikhtilat itu hanya berlaku untuk 1 laki-laki dan 1 perempuan bukan mahrom atau berlaku juga untuk banyak laki-laki dan banyak perempuan di satu tempat? misal reunian alumni atau makan siang bersama teman-teman kantor,makan malam bersama ipar?
Jawab
Kalau rame rame dan ada mahromnya tidak apa apa. Coba lihat materi tentang mempelai wanita yang menjamu tamunya.

>karena hal ini sering terjadi di masyarakat. Saya pernah baca hal tersebut juga ikhtilat. Kecuali dalam kondisi pendidikan, kesehatan dan apa ya? saya lupa.
Jawab
Bisa jadi Bunda
Tolong dikoreksi

Pertanyaan M09

1. Ustadz, bagaimana dengn bbm atau whatsapp atau sms antara wanita dan laki-laki bukan muhrim di jalur pribadi?
Jawab
Bertatap muka saja boleh jika ada keperluan, maka chatting juga boleh jika memang ada keperluannya

2. Bagaimana boncengan motor laki-laki dan perempuan yang bukan mahram? misal ojek, atau teman sekantor yang ada keperluan yang kendaraan hanya ada motor..
Jawab
Ini yang harus dihindari siihh, masih banyak alternatif lainnya kan.

3. Bagaimana dengan acara-acara ditelevisi yang sekarang marak bercampurnya laki laki dan perempuan? Apakah tidak ada tindakan tegas dari MUI, ustadz?
Jawab
Contohnya...?


>Misalkan konser ajang pencarian bakat ditelevisi. Yang penontonnya bercampur tidak terpisah antara perempuan dan laki laki.
Jawab
Kalau bercampur baur secara Islam memang tidak diperkenankan. MUI juga tidak bisa berbuat banyak. Karena bukan Negara Agama negara kita

4. Ustadz,  apakah mahram dan muhrim sama artinya?
Jawab
Bedaaa. Selama ini selalu salah bilangnya muhrim, yang benar adalah mahrom. 

5. "Sebaik-baik shaf berisan dalam sholat laki-laki adalah shaf yang pertama, dan shaf yang paling buruk adalah shaf yang terakhir dan sebaik-baiknya shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan shaf yang paling buruk adalah yang pertama (turmidzi berkata setelah meriwayatkan hadist ini: hadists shahih)"
Mohon di jelasin maksud dari hadist itu ustadz untuk shaf wanitanya, kalo belakang lebih baik nanti shaf perempuan didepan bisa kosong dan semuanya pada lari kebelakang..
Jawab 
Ya itu pemahaman sendiri aja kan. Kalau di masjid, biasanya shaf wanita kan dibelakang. Didalam shaf wanita pasti ada tembok dong. Yang paling belakang juga punya batasan dinding kan, jadi ga mungkin juga saling membelakangi terus akhirnya ketinggalan sholat. Yang didepan pastinya sudah mengikuti sholat lebih awal (ini dapat pahala nya juga), yang belakangan dapat pahala hadist diatas). Islam sangat adil kaaann


6. Ustadz kan aurat kita termasuk punggung tangan, apa sebaiknya dikaos tangan?
Jawab
Ada yang berpendapat aurat dan ada yang tidak.

7. Saya punya murid yang belajar di saya dari mereka kelas 4 SD sampai sekarang SMA kadang kalo sholat bareng saya wudhu depan mereka melepas jilbab terkadang sudah seperti anak sendiri.. ndak boleh ya ustdz??
Jawab
tetep nda boleh sih Bun.

8. Ustad bagaimana dengan dokter wanita yang memeriksa pasien laki-laki dengan cara memegang bagian tubuh yang sakit?
Jawab
Sebaiknya menggunakan sarung tangan yaa. Atau memang khusus menerima pasien wanita saja


9. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya wanita yang  jahat untuk laki-laki yang jahat. Namun dalam kehidupan nyata mengapa banyak wanita yang baik dapat jodoh lelaki yang kurang baik akhlaknya dan laki-laki yang baik juga dapat jodoh wanita yang kurang baik akhlaknya? Letak masalahnya dimana ya ustadz? apakah karna salah pilih atau gak pandai menilai pasangan sebelum menikah?
Jawab
Itu akibat tidak memilih pasangan berdasarkan agamanya.

PERTANYAAN EXTRA

1. Assalamualaikum.. Saya ingin bertanya ketika kita sedang mengadakan rapat pasti bercampur antara laki-laki atau perempuan apa itu termasuk ikhtilat?
Jawab
Kan ada banyak laki laki dan perempuan didalam satu ruangan bukan...?

2. Satu lagi di dalam perjalaman memakai angkutan umum juga tidak bisa di hindari antara lelaki dan wanita itu bagaimana hukumnya ustad?
Jawab
sama kayak diatas penjelasannya.

Tutup yaaa
Doa Kafaratul Majelis :


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat


--------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Tema : Muamalah
Notulen : Ana Trienta

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment