Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 1 : AIR LAUT DAN HADISTNYA

SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 1 : AIR LAUT DAN HADISTNYA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, March 13, 2015

Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'alaa

Hari / Tanggal : Jum'at, 13 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc

Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kita mulai kajiannya. Pekan lalu kita sampaikan tentang pengertian kitab thaharoh sekarang kita lanjutkan dengan bab air


 Definisi Bab 


Bab (بَابٌ) dalam bahasa Arab bermakna tempat masuk ke dalam sesuatu. Bab ini ada dua macam: hissiy seperti bab al-bait (pintu rumah) dan maknawi adalah bab pembahasan yang merupakan kumpulan daripada fasal-fasal (sub pokok bahasan) atau kumpulan yang khusus dari ilmu yang secara umum berisi fasal-fasal. Hal  ini dinamakan Bab karena ia menjadi tempat masuk dalam mengenal hukum-hukum tentang air. Segala sesuatu akan baik bila dimasuki lewat pintunya, seperti dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:


وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-baqarah/2:189)

Inilah yang diinginkan imam Ibnu Hajar -rahimahullah- dalam pernyataan beliau di atas.



 Definisi Air (الْمِيَاه)


Al-Miyaah adalah kata dalam bentuk plurals dalam bahasa Arab berasal dari kata (الْمَاء) yang berarti air dan digunakan untuk jumlah air yang sedikit atau banyak. Air sendiri adalah benda yang sudah terkenal dan semua orang selalu membutuhkannya. Air ini beragam ditinjau dari sumbernya; ada air laut, mata air, sungai dan lain-lain. Sehingga Imam Ibnu Hajar di sini menyampaikannya dalam bentuk plurals karena tinjauan jenis-jenisnya.


Syeikh Abdullah al-Fauzan -hafizhahullah- menjelaskan hal ini dengan menyatakan,
“Dibuat dalam bentuk jama’ walaupun isim jenis untuk menunjukkan keanekaragaman jenis air, seperti air laut, sungai dan hujan. Ada juga jenis air yang suci dan yang najis. Sehingga dibuat bentuk jamak karena tinjauan ini”. (Minhatul’alaam Syarhu Bulugh al-Maram 1/22).  

Lalu beliau menyampaikan hadits pertama dalam bab tentang air.

Kesucian Air laut

1. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ. 


1. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   tentang (hukum) air laut: “Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.” 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziy, Nasaa-i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafazhnya, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidziy dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i, dan Ahmad.


Hadits ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:


 Biografi Perawi Hadits


Perawi hadits ini adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Hurairoh”. Beliau masuk Islam pada tahun peristiwa perang Khaibar dan mulazamah (belajar) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga menjadi sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.


Beliau menjadi salah satu ulama besar dan ahli fatwa di kalangan sahabat dan terkenal dengan kewibawaan, ibadah dan sifat rendah hatinya. Imam al-Bukhori menyatakan, beliau memiliki delapan ratus murid atau lebih. Beliau meninggal dunia di kota Madinah pada tahun 57 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi’.


 Takhrij Hadits


Sebelum memulai dengan penjelasan takhrij hadits ini, perlu kiranya disampaikan sedikit tentang pengertian takhrij dan pembagian hadits menurut kreteria diterima atau tidak..

Pengertian Takhrij


Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja ( خَرَجَ ) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj (اْلِإخْرَج ) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj ( المَخْرَج ) artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.


Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. Hadits yang sedang kita bahas ini dikeluarkan oleh Malik di Muwath-tho’nya (I/45 –Tanwiirul Hawalik syarah Muwath-tho’ oleh Suyuthi), as-Syafi’iy di kitabnya Al Umm (I/16), Ahmad di Musnadnya (2/232,361), Abu Dawud dalam sunannya (no: 83), Tirmidziy (no: 69), Nasaa-i dalam sunannya (1/50, 176), Ibnu Majah dalam sunannya (no: 43), Ad Darimi dalam sunnanya (1/186), Ibnul Jaarud dalam al-Muntaqaa’ (no: 43), Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih ibnu Khudzaimah (no: 777), Ibnu Hibban dalam shahihnya (no: 119 –Mawarid), Hakim dalam al-Mustadrak (1/140-141), ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (1/131) dan lain-lain, semuanya dari jalan imam Malik dari Sofwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah (ia berkata, “Sesungguhnya Mughirah bin Abi Burdah telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata:


سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ. 


“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.” 

Hadits ini shahih dan semua perawinya tsiqah (kredibel) dan termasuk para perawi shahih al-Bukhori dan Muslim (asy-Syaikhan), kecuali al-Mughiroh bin Abi Burdah. Beliau ini dihukumi tsiqah oleh imam an-Nasaa’i dan dimasukkan ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqaat.

Hadits ini telah di-shahih-kan oleh jama’ah ahli hadits, di antaranya: 

1. Imam al-Bukhari, ketika ditanya oleh imam at-tirmidzi tentang hadits ini, sebagaimana dalam kitab al-‘Ilal al-Kubra (1/136). Imam at-tirmidzi berkata, “Aku bertanya kepada Muhammad tentang hadits Maalik dari Shafwaan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah bahwasanya al-Mughirah bin Abi Burdah menceritakan kepadanya bahwa beliau mendengar Abu Hurairah berkata: Seorang bertanya…(disampaikan hadits tersebut). Maka imam al-Bukhari menjawab : hadits ini shahih. (lihat juga Syarah al-‘Ilaa karya Ibnu Rajab 2/574 dan Nashbu ar-raayah 1/96). 

2. Imam at-Tirmidziy, seperti yang beliau katakan dalam sunannya 1/100-101: hadits ini hasan shahih.

3. Imam Ibnu Khuzaimah, seperti dalam kitab Shahih ibnu Khuzaimah 91/58-59).

4. Imam Ibnu Hibban seperti disampaikan dalam al-Ihsaan fi Tartib Shahih Ibni Hibban no. 1243..

5. Imam al-Hakim, dinukil penilaian beliau oleh al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib 10/230 pada biografi al-Mughiroh bin Abi Burdah. Al-Haafizh berkata: Hadits beliau tentang air laut dishahihkan oleh ibnu Khuzaimah, ibnu Hibaan, Ibnu al-Mundzir, al-Khathaabi, ath-Thahawi, ibnu Mandah, al-Haakim, ibnu Hazm, al-Baihaqi dan Abdulhaq.

6. Ath-Thahawi, seperti dinukil oleh al-Hafizh di atas. Penukilan penshahihan hadits ini dari ath-Thahawi oleh ibnu Hajar menyelisihi pernyataan beliau di kitab Musykil al-Atsar (10/202 no. 4032) dan Mukhtashar Ikhtilaaf al-Ulama (3/216 no. 1315) yang melemahkan hadits ini. 

7. Al-Baihaqi, beliau sampaikan dalam kitab Ma’rifah as-Sunan (1/152) dengan menyatakan: Hadits shahih sebagaimana dinyatakan Imam al-Bukhari.

8. Ad-Daraquthni, seperti yang beliau katakan di kitab al-‘Ilal (9/13): Riwayat yang benar adalah riwayat Maalik dan yang mengikutinya dari Shofwan bin Sulaim. 

9. Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhied 16/218-219: Hadits ini menurutku shahih, karena para ulama telah menerima hadits ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum. 

10. Ibnul Mundzir, seperti dalam al-Ausaath 1/247, beliau berkata: Telah sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwa beliau bersabda tentang air laut: “Suci airnya dam halal bangkainya”.

11. Ibnu Hazm seperti dinukil oleh al-Haafizh di atas

12. Ibnu Mandah. Seperti disampaikan ibnu Daqiq al-Id dalam al-Imaam (1/99).

13. Al Baghawiy. Seperti dalam Syarhu as-Sunnah 2/55

14. Al-Khathabi seperti dinukil oleh al-Haafizh di atas 

15. Abdulhaq al-Isybili seperti dinukil oleh al-Haafizh di atas

16. An-Nawawi, seperti yang ada di kitab al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 1/127)

17. Ibnu Daqiq al-Id dalam al-Ilmaam 1/181

18. Ibnu Taimiyah

19. Ibnu Katsir.

20. Ibnul Qayyim

21. Adz-Dzahabi 

22. Ibnul Atsir, ia berkata: Ini hadits yang shahih lagi masyhur, telah dikeluarkan oleh para imam di kitab-kitab mereka, dan mereka telah berhujjah dengannya dan rawi-rawinya tsiqaat.

23. Ibnu Hajar

24. Ibnu al-Mulaqqin dalam al-Badrulmunir Fi Takhrij Ahaadits asy-Syarhi al-Kabir 3/354-355).

25. Badruddin al-‘Aini

26. Az-Zaila’i dalam Nashbur Raayah 1/96

27. Ash-Shan’ani dalam Subulussalam 

28. Asy-Syaukani dalam Nail al-Authar

29. Al Albani, beliau menyatakan: ini sanadnya shahih semua perawinya tsiqah (kredibel). (Irwa’ al-Ghalil 1/43)

Namun ada beberapa ulama yang mendhaifkan hadits ini, di antaranya imam asy-Syafi’i, imam ath-Thahawi dan lain-lainnya berdasarkan alasan:

1. Sa’id bin Salamah dan al-mughiroh bin Abi Burdah adalah perawi majhul atau tidak dikenal. 
Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (1/2) berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i berkata: Zhahir al-Qur`an (makna yang langsung terfahami) menunjukkan semua air suci baik air laut atau yang lainnya. Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam satu hadits yang sesuai dengan zhahir al-Qur`an ini dan pada sanadnya ada yang saya tidak mengenalnya. Kemudian beliau sampaikan hadits Abu Hurairoh ini.


Alasan ini dijawab: 


a. Kemajhulan Sa’id bin Salamah. 

Sa’id bin Salamah memiliki murid yang meriwayatkan dari beliau hadits Shofwaan bin Sulaim dan al-Jallaah Abu Katsir. Imam an-Nasa’i menyatakan: Seorang perawi tsiqah (Lihat tahdzib al-Kamaal 10/480) dan ibnu Hibaan memasukkannya ke dalam kitab ats-tsiqah (6/364). Sehingga hilanglah kemajhulannya. 


b. Kemajhulan al-Mughirah bin Abi Burdah

Al-Mughiroh bin Abi Burdah memiliki beberapa murid yang meriwayatkan hadits darinya, seperti Sa’id bin Salamah, Yahya bin Sa’id al-Anshari dan Yazid bin Muhammad al-Qurasyi. Demikian juga al-Aajuri menyampaikan pernyataan Abu Dawud tentang al-Mughiroh: Ma’ruf (sudah terkenal). Sedangkan an-Nasa’i menyatakan : perawi tsiqah (Tahdzib al-Kamaal 10/229) dan ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab ats-Tsiqah (5/410). 

Oleh karena itu, al-Haafizh ibnu Mandah sebagaimana dinukil oleh ibnu Daqiq al-Id dalam al-Imaam (1/99). Sepakatnya Shofwaan dan al-Jallah termasuk yang menunjukkan kemasyhuran Sa’id bin Salamah dan sepakatnya Yahya bin Sa’id dan Sa’id bin Salamah tentang al-Mughiroh bin Abi Burdah termasuk yang menunjukkan kemasyhuran al-Mughirah, sehingga sanadnya ini masyhur.

Ibnu Daqiq al-Id menambahkan dalam kitab al-Ilmaan (1/181) : Hilangnya kemajhulan dari Sa’id dengan riwayat dua orang darinya dan dari al-Mughiroh dengan riwayat tiga orang. Hal ini mencukupkan bagi orang yang tidak memandang harus dalam mengenal keadaan kredibel perawi setelah hilangnya kemajhulan. Walaupun ulama-ulama yang menshahihkan hadits ini telah mengetahui sisi rinciannya, sehingga tidak ada masalah. Kalaupun tidak demikian, maka tidak jauh sandaran mereka kepada kehati-hatian Imam Maalik dan pemilahan para perawi serta ketelitian beliau dalam memilih para guru atau hanya mencukupkan dengan kemasyhurannya. Wallahi a’lam argumen pendapat mereka.
Kemudian ibnu al-Mulaqqin menandaskan: Sudah jelas tsiqahnya Sa’id bin Salamah dan al-Mughiroh bin Abi Burdah secara jelas. Karena imam Abu Abdirrahman an-Nasaa’i menghukumi keduanya dengan tsiqah, sebagaimana dinukil Jamaluddin al-Mizzi dalam tahdzibnya. Demikian juga Abu Hayyan ibnu Hibaan menyebut keduanya dalam kitab ats-Tsiqaat dan al-Ajurri meriwayatkan dari Abu Dawud bahwa beliau berkata: Al-Mughirah bin Abi Burdah ma’ruf (dikenal). Ibnu Yunus telah menjelaskan jelasnya keadaan keduanya. Sehingga dengan ini, hilanglah sifat Majhul haal (ketidak jelasan kredibilitas) dari keduanya dan dengan penjelasan yang lalu, hilang jahalah ‘ain (ketidak jelasan adanya). Ditambah lagi dengan penshahihan para imam besar terdahulu, at-Tirmidzi, al-Bukhori, ibnu al-Mundzir, ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibaan, al-Baihaqi, ibnu Mandah, al-Baghawi dan lain-lainnya. Al-Haakim Abu Abdillah berkata dalam al-Mustadrak: Seperti hadits ini yang diriwayatkan imam Malik dalam awal kitab al-Muwatha’ dan para ahli fikih Islam menggunakannya hingga zaman kita ini tidaklah menjadikan hadits ini tertolak dengan sebab ketidak jelasan kedua perawi ini. (al-Badrul Munir 3/354-355).


2. Adanya perbedaan pendapat tentang nama Sa’id bin Salamah. Ada yang menyatakan namanya Sa’id bin Salamah. Ada yang menyatakan: Abdullah bin Sa’id dan ada yang menyatakan namanya Salamah bin Sa’id.


Alas an ini dijawab:

Yang shahih nama beliau adalah Sa’id bin Salamah, karena inilah yang ada di riwayat imam Maalik dan riwayat imam Maalik rojih karena kepakaran beliau dan juga karena sesuai dengan banyak perawi lain yang meriwayatkan hadits ini. Sedangkan dua nama lainnya adalah dari riwayat Muhammad bin Ishaaq yang marjuh (lemah) karena menyelisihi riwayat imam Maalik tersebut.


3. Hadits ini mursal dan terputus. Imam ath-Thahawi dalam Musykilil Atsar (10/203) berkata setelah menyampaikan riwayat Yahya bin Sa’id dari al-Mughirah bin Abdillah dari bapaknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata: Al-Mughirah bin Abdillah yang disebutkan dalam hadits Hammaad dari Yahya adalah al-Mughiroh bin Abi Burdah dan Yahya telah mengembalikannya kepada bapaknya. Sedangkan Sa’id bin Salamah mengembalikannya kepada Abu Hurairoh. Riwayat Yahya yang menunjukkan terputus dan disandarkan kepada orang yang tidak jelas dan Sa’id menyandarkannya kepada Abu Hurairoh. Sa’id dan Yahya bila berselisih maka Yahya yang benar karena hafalan dan kredibilitasnya juga karena kekurangan dan terbelakangnya Sa’id darinya.

Alasan ini dijawab:

Pernyataan mendahulukan riwayat Yahya atas Sa’id dalam hadits ini adalah lemah, karena adanya perselisihan yang banyak pada Yahya bin Sa’id yang membuat riwayatnya jatuh. (lihat kitab al-Ilal karya ad-Daraquthni (9/11-13). Oleh karena itu, imam ad-Daraquthni dan al-Baihaqi merojihkan riwayat Maalik dari Shofwaan dari Sa’id bin Salamah atas riwayat Yahya bin Sa’id. Ad-Daraquthni setelah menjelaskan perbedaan dalam riwayat Yahya bin Sa’id berkata: Riwayat yang benar adalah riwayat Maalik dan yang mengikutinya dari Shofwan bin Sulaim. (9/13).


Sedangkan al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan (1/231) setelah memaparkan perbedaan atas riwayat Yahya bin Sa’id berkata: Perbedaan ini menunjukkan Yahya tidak menghafalnya dengan semestinya. Imam Maalik bin Anas telah meluruskan sanadnya dari Shofwaan bin Sulaim. Beliau dikuatkan dengan ikutnya al-Laits bin Sa’ad meriwayatkan hadits ini dari Yazid dari al-Jalaah Abu katsir. Kemudian juga Amru bin al-Haarits dari al-Jalaah yang kedua riwayat ini dari Sa’id bin Salamah dari al-Mughiroh bin Abi Burdah dari Abu Hurairoh. Sehingga dengan ini, haditsnya shahih, sebagaimana pendapat al-Bukhari dalam riwayat Abu Isa dari beliau. 


Ibnu Abdilbarr telah melemahkan sanad hadits ini dan merojihkan kemursalannya. Namun beliau menshahihkan isi hadits (matan) dari sisi amalan. Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhied 16/218-219: Hadits ini menurutku shahih, karena para ulama telah menerima hadits ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum.


4. Hadits ini ada keguncangannya (idhthiroob). Orang yang menghukumi hadits ini sebagai hadits mudh-tharib memandang kepada riwayat para perawi dari Yahya bin Sa’id dan Muhammad bin Ishaaq dan memang hadits riwayat keduanya adalah lemah dengan sebab banyaknya pernedaan di sana. (lihat Nashbur Raayah 1/97 dan ‘Ilal ad-Daraquthni 9/11-13). Sehingga imam ibnu Abdilhadi dalam Tanqihut Tahqiiq (1/20) menyatakan: Hadits ini diperselisihkan dalam sanadnya.

Alasan ini dijawab:

Ini hanya melemahkan riwayat Yahya dan Muhammad bin Ishaq saja dan tidak mempengaruhi riwayat Maalik dan para perawi lain dari Shofwan. Wallahu A’lam. Semua alasan yang melemahkan hadits ini terjawab dan tidak bisa diterima. Apalagi hadits di atas pun telah mempunyai beberapa jalan (thuruq) dan juga mempunyai syawaahid dari sejumlah para sahabat, di antaranya: Jabir bin Abdillah, Al Firaasiy, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Amru, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment