Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

DIAM ITU EMAS

Kajian WA Hamba الله SWT
Senin, 16 Februari 2015
Ustadzah Widya (Diam itu emas)
Editor: Wanda Vexia
Grup Ummi M9 (Yanti & Betty)


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...
Bissmillahirahmanirrahiim alhamdulillah wa shalatu wa salamu 'ala rosulillah wa 'ala alihi wa ashbihi wassalaam 'amma ba'du..

Innalhamdalillah namaduhu  wa nasta'inuhu wa nastaghfiruhu wa na'udzubillah ming syarri angfussinaa  wa ming syaiati amaalina mayahdillah wama yudhilfalaahadiyallah...

Asyhadu anla illa ha illallah wa asyhadu anna muhammadan abduhu warusuluh shallahu ala ali wa asyhabihi wassalaam...

Karena setiap jamaah kajian online hamba Allah akan dibentuk memiliki akhlak karimah, dan wawasan yang luas serta ilmu-ilmu syar'i yang bisa dikuasai oleh antum sekalian, Insya Allah seluruh makhluk makin mencintai antum sekalian karena pribadi antum menjadi lebih indah dan terpancar pesona yang sejuk. Insya Allah

DIAM ITU EMAS
Risalah sederhana berikut berisi penjelasan mengenai bahaya lisan. Sehingga berhati-hatilah dengan lisan, jangan sampai digunakan untuk mencemooh, mengejek orang lain, apalagi ditujukan pada seorang muslim yang ingin menjalankan ajaran Islam. Jadi satu kondisi, diam itu emas jika diamnya adalah dari membicarakan orang lain, atau diamnya dari berbicara yang sia-sia atau berbau maksiat.

Perhatikanlah, sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan. Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
"Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مثل الذي يتعلم العلم ثم لا يحدث به كمثل الذي يكنز الكنز فلا ينفق منه
"Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya (membayarkan zakatnya)" [HR. Ath-Thabraniy dalam Al-Ausath no. 689; Shahih]

,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ“
"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,



إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ“
"Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari)

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّم بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
"Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (18/117) tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”Dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.

”Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Tidak ada di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam) Ibnul Mubarok ditanya mengenai nasehat Luqman pada anaknya, lantas beliau berkata, “Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam) Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh yang mengandung maksiat. Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Allah bisa jadi perkara besar. Allah Ta’ala berfirman



وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar" (QS: An-Nuur Ayat: 15)
Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar.

TANYA JAWAB

1. Apakah yang dimaksud dengan 'bahaya' dari lisan sehingga kita di lempar kan ke neraka itu termasuk juga menyakiti hati manusia lain padahal manusia itu sakit hati atas ucapan kita karena salah interpretasi?

Jawab: Saya sudah paparkan penjelasan hadits tersebut mari di baca ulang : Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (18/117) tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucapkan. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”

Dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.


2. "Merenungkan apa yang akan ia ucapkan. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya." Kalau di bbm atau whatsapp kan suka bercanda tuh ngobrol ngalor ngidul tanpa menyakiti siapapun. Istilahnya kita mah biar tambah akrab walau tanpa kopi darat. Gimana tuh ustadzah?

Jawab: Keseringan juga tidak baik karena jadi terlihat kekurangan kita dan bahkan ada satu, dua orang yang terganggu, maka proposional saja dalam chat di medsos. Karena kita harus punya kegiatan offline lainnya yang bermanfaat :-)


3. Saya sering bahkan hampir tiap hari cerewet di beberapa grup dengan niat ingin meramaikan grup. Bercanda sedikit dan kadang juga sharing tentang hidup saya sendiri. Apakah ini termasuk ke dalam "perkataan yang sia-sia ya ustadzah Terkadang juga saya harus merasa canggung dalam bersikap maupun berucap. Takutnya ada perkataan yang mungkin saja tidak saya sadari telah menyakiti lawan bicara saya. Saya juga sering di hina, di cemooh, bahkan di caci sama keluarga sendiri. Seandainya rasa sakit itu masih terasa sampai saat ini, apakah saya berdosakah ustadzah? 

Luka itu sepertinya sudah menjadi borox dalam hati saya. Di tambah lagi tiada kata ma'af sekata pun dari orang yang menyakiti saya. Afwan ustadzah. Mohon pencerahannya agar hati dan lisan ini bisa berjalan menuju keTawadzuan. Jazakillah

Jawab : Selayaknya akhwat lebih indah jika tak banyak bicara tidak banyak bercanda dan pandai menjaga sikap. Untuk memaafkan memang sulit namun jika orang itu mampu membalas dendam tetapi lebih memilih untuk memaafkan maka ganjaran yang lebih berlimpah siap untuk anti :-)

Mengenai takut mnyakiti perasaan orang lain, lebih baik diam atau berkata baik, memang tak mudah menahan lisan, namun dengan mengingat ganjaran yang tak sedikit daro Allah maka Insya Allah mudah.


4. Assalamu'alaikum.. Ustadzah, saya mempunyai seorang teman, yang kalau ngomong  selalu membuat orang sakit hati. Namun temen saya itu tidak pernah menyadari kalau omongannya membuat orang lain tersinggung, karena teman saya menganggapnya sebagai candaan. Gimana cara menghadapi orang seperti ini?

Jawab : Ada baiknya kita memikirkan penciptaan Allah dengan segala makhluk ciptaanNya. Maka  kita akan tahu bahwa orang yang tidurnya bersebelahan saja mimpinya tak bisa sama, maka apalagi kita manusia dengan bentuk wajah, tubuh, sifat berbeda tentu tak bisa kita paksakan untuk memiliki sifat yang sama kepada orang lain. Ada baiknya kawan tersebut dijadikan ladang amal untuk anti sendiri, untuk senantiasa memaafkan dan tentunya anti juga harus berkata baik untuk menegurnya dengan kalimat yang senang diterima contoh "ih kamu mah cantik cantik kalo bicara nyelekit deh... jangan atuh, ntar cantik nya hilang. Tapi saya senang berteman dengan kamu karena kamu asik diajak sharing ana uhibukifillah"
Semangat memanen benih amal kebaikan ya akhwatiy. Tak apa diam tapi bukan berati tak aktif dengan perbuatan amal. Semua tak ada yang abadi memang maka kita pintar-pintar melihat kebaikan kebaikan orang lain. Prinsip nya "Sayangilah apa yang ada di bumi niscaya seluruh penduduk bumi dan langit akan mencintaimu"


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Amiin....

Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
"Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum...