Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , » HIASI DIRI DENGAN SIKAP RELA KEPADA ALLAH

HIASI DIRI DENGAN SIKAP RELA KEPADA ALLAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, March 24, 2015


Kajian Online WA Hamba اَللّٰه Ta'ala
Link Bunda 2

Adakah sekarang sudah siap kajianya. Baik saya mulai share mateinya tema tentang belajar rela kepada Allah

01
Hiasi Diri dengan Sikap Rela Kepada Allah
(by Umar Hidayat, M.Ag)

Hidup memang tidak sempurna, seperti juga kita tapi semua yang terjadi itu yang terbaik untuk kita tapi kita sering mengkhilafinya

Saudaraku yang dirindu surga..
Pernahkah kita memikirkan sejak kapan kerelaan kepada Allah itu menjadi milik kita? Pernahkah kita merenungkan bersebab hilangnya kerelaan kepada Allah menjadikan kegaduhan hati dalam menjalani hidup ini? Belumkah sadar kita bahwa sepanjang hayat masih di kandung badan kerelaan kepada Allah tak bisa kita singkirkan?

Nyatanya kerelaan kita kepada Allah sering terkikis oleh keadaan dan situasi kehidupan kita. Nyatanya kesumpekan jiwa dalam mensikapi hidup masih kita langgengkan. Faktanya hati ini mudah terpengaruh oleh bujuk rayuan syaithan untuk mengunduh berbanyak alasan agar seolah-olah kita tidak perlu lagi rela akan keputusan Allah. Faktanya banyak pesakitan jiwa karena belum ikhlas melepaskan kepasrahan kita hanya kepada Allah. Buktinya sering diantara kita merasa benci, merasa gundah, merasa pingin marah bila ada orang lain yang mendapatkan kesuksesan lebih dari kita. Buktinya kita sering merasa terpuruk dengan apa yang terjadi yang sesungguhnya Allah takdirkan kepada kita. Bahkan jari kita berani menunjuk seraya berucap Allah tidak adil padaku. 

Benarkah semua itu? Ternyata begitu sulit mencintai apa yang harus kita lakoni. Tapi, Saudaraku kita tetap membutuhkan kerelaan kepada Allah agar kita bisa mengarungi hidup ini dengan selamat. Agar kita bisa menikmati hidup ini. Hiasi diri dengan sikap rela kepada Allah adalah sebentuk cara kita mendekatkan diri kepadaNya dan hidup pun menjadi tenang.

02
Sekisah Saad bin abi Waqash ra, suatu hari mengunjungi Makkah. Ketika itu ia sudah dalam kondisi buta. Ia adalah termasuk sederetan orang yang terkenal sebagai orang yang doanya termakbulkan. Mendengar kedatangannya. Tak salah bila orang berduyun-duyun menemuinya untuk meminta didoakan olehnya. Ia pun berdoa untuk mereka. Seperti pengakuan Abdullah bin Saib berkata, Aku pun menemuinya, dan ketika itu aku masih kanak-kanak. Maka aku perkenalkan diri kepadanya dan ternyata ia mengenaliku.

Ia berkata, Engkaukah qari penduduk Makkah yang terkenal itu? Ya, jawabku. Aku katakan kepadanya, Engkau berdoa untuk kebaikan orang lain, andai saja engkau berdoa untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu. Saad hanya tersenyum dan berkata, Anakku, ketetapan Allah atas diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.

Subhanallah. 

Bilakah itu terjadi pada kita mungkinkah kita melakukan persis seperti Saad bin abi Waqash?


Begitupun yang terjadi pada kisah Imran bin Hushain ra, seorang sahabat yang selalu menyertai peperangan bersama Rasulullah. Setelah Rasulullah wafat, ia menderita lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali, sehingga untuk hanya sekedar buang hajat ia dibuatkan lobang di bawah tempat tidurnya. Ia mengalami penderitaan ini selama tigapuluh tahun lamanya. Tak salah bila setiap sahabat yang datang menjenguknya, selalu saja dihiasai air mata. Tapi ia dengan tenang berkata kepada mereka, Kalian menangis tapi aku rela dengan keadaan ini. Aku mencintai apa yang dicintai Allah, dan aku ridhlo apa yang diridhloi Allah. Aku bahagia dengan apa yang dipilihkan Allah untukku, dan aku persaksikan kalian kepada Allah bahwa aku ridhlo. Subhanallah.

Saad bin Abi Waqash dan Imran bin Hushain ra telah membuktikan kecintaannya kepada Allah dengan sepenuhnya, dengan kerelaan menjadi buktinya, dan keyakinan menjadi penguatnya.

Di sinilah tempat membuktikan iman kita. 
Di sinilah tempat membuktikan iman kita. 
Di sinilah tempat membuktikan iman kita. 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan kami beriman kepada Allah? sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al Ankabut;2)



03
Saudaraku yang dirindu surga.

Mari kita belajar rela dari para Sahabat Rasulullah. Kerelaan berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam. Bahkan episode yang menakjubkan terjadi pada para sahabat berebut melindungi Rasulullah dari serangan tombak dan panah yang berhamburan saat perang Uhud terjadi. 


Apakah para sahabat tidak tahu akibat yang akan terjadi atas apa yang mereka lakukan? Sungguh para sahabat bukanlah orang bodoh yang tidak tahu hukum sebab akibat. Tapi mereka melintasi logika sebab akibat untuk menjemput kerelaan kepada Allah atas semua yang bakal terjadi. Dan menukarnya dengan kesiapan diri dan keyakinan bahwa Allah tak mungkin menyia-yiakan hambaNya. Apakah para sahabat tidak belajar rasa takut akan akibat yang secara alamiah akan mereka rasakan sebagaimana yang ditakutkan oleh orang-orang munafik dan musuh-musuh kaum muslimin?  Mereka melintasi rasa takut itu dan menukarkannya dengan kecintaan dan keridloaan kepada Allah dan RasulNya lebih dari segalanya.

Saudaraku yang dirindu surga, memiliki selalu kerelaan kepada Allah memang tidak mudah. Tidak mudah. Sekali lagi tidak mudah..
Begitu sulit belajar rela kepada Allah. Padahal waktu bergulir tanpa bisa menghentikannya. Sejatinya semua kita menginginkannya, tapi enggan menapakinya. Sebagian kita tahu caranya, tapi enggan melakukannya. Sebagiannya lagi sangat ingin bahkan menggebu, tapi tidak paham bagaimana caranya. Bahkan pun ada yang pandai dengan cara melakukannya tapi tidak mengilmuinya. Memang ini perkara yang sulit-sulit gampang. Awalnya sulit akhirnya menjadi gampang di rasakan dan dilakukan.

Teringatlah Umar bin Khattab, bahwa Semua kebaikan itu terkumpul dalam kerelaan. Jika engkau sanggup maka hendaklah engkau rela. Jika tidak, maka bersabarlah. Meski untuk memperoleh rela, ia tidak datang sendiri. Butuh perjuangan untuk belajar dan mencarinya.

04
Saudaraku yang dirindu surga.
Sikap rela itu bermula dari landasan iman yang benar. Menggayuh rasa rela juga haruslah karena iman, bukan karena yang lain. Sehingga kerelaan kita kepada Allah akan istiqomah. Lantaran segala sesuatu jika dilakukan karena Allah ia akan abadi. Ibnu Qoyyim al Jauzi sendiri membagi kerelaan dalam dua bagian; pertama rela dengan Allah dan rela kepada Allah. Rela dengan Allah artinya hati kita rela menerima eksistensi Allah, keberadaan, kekuasaan dan segala konsekuensi atasnya. Sedang rela kepada Allah adalah kerelaan atas segala sesuatu yang Allah berikan.

Ciri-ciri orang yang rela kepada Allah ditandai dengan:

Pertama, ketenangan jiwa atas apa yang menimpanya. Bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti Allah telah mengukurnya dan mustahil bermaksud jelek kepada makhlukNya.  Karenanya orang yang rela kepada Allah ia menerimanya sebagai sesuatu yang terbaik baginya.

Kedua, kerelaan kepada Allah adalah perihal kemampuan seseorang untuk memandang segala sesuatu  pilihan Allah dengan tanpa diikuti perasaan marah terhadapnya.

Ketiga, kerelaan kepada Allah berarti menerima dengan keadaan jiwa, hati dan dada yang lapang terhadap suatu perkara tanpa ada rasa kecewa, penolakan, marah atau merasa tertekan. Bukan kepasrahan. Lantaran kerelaan kepada Allah tetap diikuti ikhtiar untuk mencapai segala sesuatu yang terbaik. Sedang kepasrahan itu penyerahan tanpa usaha.

Keempat, tidak memaksa sebelum keputusan Allah datang, dan tidak kecewa atas datangnya keputusan Allah. Meskipun berat terasa.

Kelima, ketika derita itu menimpa kecintaan kepada Allah tak berkurang adanya. Begitupun dengan amal dan ibadahnya. Ia tetap selalu berbuat baik, dalam kondisi apa pun.
Keenam, tidak menyalahkan dan berprasangka buruk kepada orang lain, melainkan selalu mengembalikan kepadaNya. Sehingga ia pun tak berkata buruk atas takdir Allah, bahkan selalu senyum menghiasi dirinya.


Ketujuh, tidak mudah tergoda oleh dunia seisinya. Sehingga hidupnya serasa selalu ada keberkahan menyelimutinya. Karena ia selalu yakin akan janji Allah kepada hambaNya.


05
Cara menguatkan kerelaan kita kepada Allah dengan;
1) marifatullah, cara pertama dan modal utama agar kita menjadi orang yang memahami iman sebagai landasan kerelaan kita kepada Allah. Tanpa ini pekerjaan berjuang meraih kerelaan kepada Allah hanya sia-sia belaka.

2) riyadhah, yakni memperbanyak penghayatan atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Riyadhah ini semakin banyak dengan kualitas semakin membaik maka akan semakin menguatkan rasa cinta kita kepada Allah. Bersebab kerelaan kepada Allah adalah posisi dimana hati kita sedang mengalami kejernihan yang sangat. Di puncak kedekatan kepada Allah.

3) bercerminlah kepada orang-orang yang penderitaannya lebih berat dari kita. Cara ini akan memberikan motivasi yang baik kepada kita agar tabah dan kuat dalam menjalani semua yang terjadi dengan tidak syuudzan kepada Allah.

4) yakinlah dibalik semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Kepandaian mencari hikmah atas semua peristiwa yang terjadi akan memberikan daya tahan dan daya juang untuk meraih cita dan harapan. Sekaligus dengan belajar dari peristiwa yang terjadi kita tidak mudah terjerumus pada kesalahan yang sama.

Saudaraku yang dirindu surga.
Kerelaan kepada Allah itu bukan sekedar soal logika, atau persepsi. Karena itulah kerelaan kepada Allah adalah pekerjaan yang paling membutuhkan perjuangan untuk menaklukan diri sendiri. Jika marah bisa kita redam. Jika syahwat bisa kita taklukan. Jika benci bisa kita redakan. Jika kita sakit hati bisa kita obati. Tetapi kerelaan kepada Allah butuh lebih dari sekedar sederat semua sikap itu. Sebab untuk menaklukan diri sendiri menjadi orang yang rela kepada Allah tidak bisa kita paksakan. Sebab paksaan itu sendiri bertentangan dengan kerelaan. Menjadi orang yang rela membutuhkan jalan yang panjang. Sepanjang umur kita. Barangsiapa yang telah meraihnya berarti ia telah sampai pada puncak ketinggian, lantaran setelahnya tidak ada lagi yang harus ditaklukan.

Seperti fudail bin Iyyadh pernah mengatakan, bila seseorang telah sampai pada derajat rela, tidak ada lagi yang diharapkan di atas itu. Begitupun Imam Tirmidzi meriwayatkan abda Nabi, Jika engkau sanggup bertindak dengan kerelaan dan keyakinan maka lakukanlah. Tetapi jika jika engkau tidak sanggup, maka sesungguhnya dalam kesabaran pada apa yang tidak disukai jiwa, tersimpan kebaikan yang banyak. Subhanallah.

06
Saat Harapan Hati Beralaskan Kepedihan
Saudaraku yang dirindu surga. 

Apa yang harus kita lakukan saat harapan hati tak berkunjung, bahkan berbalik menjadi kepedihan. Inilah ujian kerelaan makin menggenapkan jiwa kita. Akankah benar-benar menjadi sholihin sholihat yang rela kepada Allah ataumalah sebaliknya?


Seperti diisyaratkan Ibnu Majah yang menceritakan Sabda Rasulullah, Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.   

Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

 Kata sabar ini didalam Al Quran lebih dari seratus kali disebutkan. Begitu pentingnya makna sabar. Ia merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Sabar ini selalu menjadi asas atau landasaannya orang beriman.
Mungkin bisa kita memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT. Biasanya orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus-asaan tapi merupakan optimisme yang terukur.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Qs. Al Ahzab 35.

Ingatlah para shohabiyah yang tangguh di jalan dakwah. Dialah Sumayyah, istri Ammar bin Yasir. Perempuan mantan budak yang dengan gagah beraninya menentang Abu Jahal sedang ia terus dihujani cambuk yang tiada henti. Segala usaha pun dilakukan oleh Abu Jahal agar ia mau melepaskan keimananya. Sumayyah sahid dalam keimananya  keadaan dadanya dihujani tombak oleh Abu Jahal.

Perempuan-prempuan tangguh juga turut berperang bersama Rasulullah.   Diriwayatkan istri-istri Rasulullah dalam perang Uhud ikut berperang. Rasul menempatkan mereka di di benteng Hassan. Ketika pertempuran di mulai, mereka menyediakan air untuk para mujahid. Ummu Sulaim beserta beberapa perempuan Anshar bertugas menyediakan air dan mengobati mujahidin yang terluka. Perjuangan merebut al-Aqsha di Palestina juga melibatkan kaum perempuan seperti Wafa Idrisi, Darin Abu Aisyah, Ayat al-Akhros, Andaleb Khalel Teqatibah, dan Elham el Dasuqi. 

Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya, Mekkah. Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya, bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Medinah menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun asal negerinya, Mekah. Beliau dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun. Ia menjadi pahlawan yang menyejarah.

07
Sejarah membuktikan Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk. Apa yang beliau lakukan setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad Dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang terpukau,syair-syair beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang termasyhur.

Begitupun bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya. Yakinlah bahwa “Asaa antakrahuu syaiaan, wahuwa khairullakum”. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah ada kebaikan untukmu. Begitupun sebaliknya. Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga.

Selalu ada jalan keluar, Kata Syaikh DR. Aidh Bin Abdullah Al Qarni. Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk menerima kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Betapa pun kesedihan menimpa kita, tapi permudahlah urusanmu dan lapangkanlah pikiranmu. Bukankah firman Allah SWT mengingatkan kita" Alam nasyrah laka sadrak...." (Bukankah kami lapangkan dadamu). Tidakah engkau perhatikan sesungguhnya dalam diri Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Bukankah api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Dan lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia). Rasulullah Al Mukhtar (yang Terpilih) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, "Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran." Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, "Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita. Allah pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguh ada kemudahan akan Allah berikan setelah kesulitan? Disebutkan QS. An Nasyr: 5-6 ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.

Bukankah Allah Taala berfirman, Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. Ath Tholaq: 7). Nah, Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi At Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi At Tafasir.) Ibnu Katsir mengatakan, Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya. (Al Quran Al Azhim, Ibnu Katsir, 8/154,) Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Bersama kesulitan, ada kemudahan. (HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini? Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya (QS. Ath Tholaq: 3). (Jaamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238). Inilah rahasia tawakkallah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

08
Tips menghadapi masalah dalam kehidupan:
1. Kita harus siap. Dalam hidup ini kita harus siap menerima sesuatu kenyataan yang sesuai dengan harapan kita, serta kita juga harus siap menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Dalam kehidupan ini, kita memang diharuskan memiliki harapan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar. Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Ketahuilah kita punya rencana, Allah SWT pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT.

2. Kita harus Ridho. Yups..setelah siap menghadapi berbagai kenyataan yang terjadi baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan harapan. Maka selanjutnya kita harus Ridho dengan kenyataan yang terjadi itu. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan, kecewa berat tetap saja kenyataan sudah terjadi. Jadi ridho tidak ridho kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik hati kita ridho. Ridho itu hanya amalan hati kita menerima kenyataan yang ada sesuai dengan apa yang Allah SWT berikan. Hati yang ridho ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu.

3. Kita jangan mempersulit diri. Saudaraku, andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisir dan mempersulit diri, sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri, selain tidak pada tempatnya, juga pasti membuat masalah akan menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam menyelesaikannya. Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jangan hanyut dan tenggelam dalam pikiran yang salah, kita harus tenang, menguasai diri, renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah SWT, dan bukanlah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yang kita perkirakan sebelumnya.

4. Kita harus meng-Evaluasi Diri. Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan suara itu pulalah yang akan kembali pada kita, artinya segala apa yang terjadi pada diri kita adalah bisa jadi buah dari apa yang kita lakukan baik disadari maupun yang tidak disadari. Evaluasilah.

5. Kita harus menjadikan Hanya Allah-lah Satu-satunya Penolong. Andaikata kita sadar dan meyakini bahwa bekal yang sangat kokoh untuk mengarungi hidup ini sehingga kita tidak gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita sebenarnya Allah SWT, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuan-Nya. (Bersumber dari materi pelatihan Manajemen Qalbu Daarut Tauhiid Training Center (DTTC) Bandung,http://dewiyana.cybermq.com).

Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki, sebagaimana seekor burung diberi rizki; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (Hr. Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Selamat berjuang. Selama kita mau belajar pasti Allah akan memberi petunjuk kepada kita sekalian. Aamiin. Demikian materi yang bisa saya share semoga bermanfaat.

TANYA JAWAB

Pertanyaan M15

1. Ustadz relaaa itu beraaat ya ustadz? ketika kita berusaha untuk melakukan sesuatu semampu kita ketika realita tak seindah idealita dan ketika tuduhan itu ditujukan pada kita. Apa kita harus rela ustadz? Apa kita harus diam? 

Membaca materi diatas akhirnya saya menyadari, menyadari sekali, iman masih sangat lemah
Jawab
Kerelaan butuh perjuangan bunda tapi tuduhan itu bisa bermakna dua : ia nasehat pada kita sebagai buah dari kesadaran atas kekhilafan yang kita lakukan, meski berat mengakui kesalahan itu  atau tuduhan itu fitnah. Jika ia fitnah artinya tuduhan yang tidak benar maka Islam mengajarkan kita agar ada tabayun (crosscech; menjelaskan ulang duduk perkaranya) kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Caranya bisa langsung pada ybs itu lebih baik, atau melalui media orang ketiga yang dipecaya atau ada pihak yang memediasi antara keduanya. Maka tak boleh tinggal diam bila itu fitnah. Jika setelah ditabayuni ko tetap saja bermasalah pasrahkan saja pada Allah. Dialah pemilik segalanya. Inilah kerelaan dalam bentuk yg lain.

2. Yang ingin ditanyakan ustadz setiap pergi ke tempat kerja itu rasanya ana orang yang paling belum tau apa-apa. Apa yang di lakukan terasa belum maksimal di pandangan orang lain jadi ana merasa rendah nggak bisa apa-apa. Gimana ya?
Jawab

Merasa memiliki kekurangan dan selalu ingin menjadi lebih baik lagi itu bagus. tetapi merasa kekurangan lalu menjadi terpuruk karena perasaan itu, ini adalah kemubadziran. Terlalu mahal hidup yang hanya sekali tetapi hanya diisi penyesalan, keluh kesah dan putus asa. Ikhlaskan dan relakan kondisi yang ada sambil bangkit menjadi lebih baik. Sebentuk kerelaan kita kepada Allah dalam hal ini kita sendiri tidak membiarkan keterpurukan menghampiri kita. Sapalah dan bergabunglah dengan orang-orang sholih yang saling menasehati dalam kebaikan. In sya Allah akan lebih termotivasi. Ukuran pandangan orang lain untuk evaluasi itu bagus tapi akan lebih bagus lagi sandaran ukuran kebaikan itu di mata Allah swt. Jika di mata Allah baik maka baiklah di hadapan seluruh makhlukNya. Jurus yang lain; lihatlah realitas di luar sana masih terlalu banyak orang ga lebih menderita dari kita. Bersyukurlah dan bersabarlah. Semoga Allah memudahkan urusannya.

3. Tanya ustadz. Saat sudah berdoa ya Allah berikanlah yang terbaik menurut Engkau bagi hamba tapi saat result/hasil terkadang masih belum sreg di hati dan berfikir ini bukan/belum yang terbaik. Gimana cara menyikapinya ya ustadz? Syukron
Jawab

Bunda, Allah tahu betul apa yang ada di hati dan pikiran kita bahkan semuanya. Termasuk Allah belum mengabulkan doa kita boleh jadi ini juga sebentuk kasih sayang Allah dalam bentuk yang lain. Allah tahu jika doa ini dikabulkan kita belum siap menerimanya atau malah akan membuat kita jauh dariNya, membuat kita hina. Maka husnudzan kita adalah bersikap apa pun yang terjadi itulah yang terbaik dari Allah. Jadi terhadap doa-doa kita butuh kesiapan dan persiapan menyambutnya. Kesiapan adalah sikap mental kita, dan persiapan adalah segala sarana yang sudah kita tempuh.

4. Assalamu alaikum saya masih sering bertanya-tanya. Saya ingin lebih banyak mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai kegiatan yang bisa menambah pengetahuan, diantaranya yang lagi banyak di media sosial termasuk kajian seperti ini tapi waktu terasa jadi singkat dan akhirnya urusan rumah tangga ada yang tidak beres padahal saya pernah mendengar kata-kata bahwa kalau kita dekat kepadaNya maka Allah akan mengurus/memudahkan urusan kita. Apa saya salah pengertian ya?
Jawab
betul bunda, sudah betul bunda

Pertanyaan M17

1. Apakah ujian menghampiri diri kita hanya akan berakhir ketika ajal menjemput. Kadangkala hati berteriak betapa Allah memberikan ujian yang begitu  berat rasanya. Bagaimana treatmentnya yaaa ustadz? mohon solusinya
Jawab
Bunda sesholih para Nabi dan Rasul saja masih saja Allah turunkan ujian baginya. bahkan makin memberat. Sudah sunatullahNya semakin berat ujian yang dijalani ini berarti semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah. Maka yakinlah sesungguhnya ujian itu sebentuk kasih sayangNya kepada kita. Allah pasti tak akan dholim pada hambaNya, Dia sudah tahu kemampuan kita. Bersabarlah, jalani dan nikmati. Cintai apa yang harus dijalani meski memberat.


2. Ustadz kalau hidup kita jalannya lurus saja. Sepertinya tidak ada masalah besar.  Apakah itu bentuk ujian juga?
Jawab

Ya. ujian itu yang paling kentara berbentuk kesulitan, penderitaan, kekurangan dkk. Tapi ingat Allah juga menguji kita dengan jalan yang lurus. Gembira dan senang bahkan hidup dan mati itu sendiri juga ujian agar Allah melihat siapa diantara kita yang paling baik amalnya (Qs. Al Mulk 1-3).


3. Secara teori kita tau bahwa sabar itu tak berbatas dan keikhlasan itu kunci kebahagiaan. Tapi kadang sering ada rasa sakit hati. Apa yang harus dilakukan agar rasa sakit itu ga berubah jadi dendam?
Jawab
Bunda, relakanlah. Sudahlah masih banyak kebaikan lain yang bisa kita lakukan. karena jika tidak rela akan menjadi penyakit di hati kita. Buat apa menyimpan penyakit di hati kita yang sungguh hanya akan menambah deretan kesusahan, kepedihan, bahkan dosa. Relakanlah, bunda maka hati akan tenang pikiran menjadi jernih tenaga pulih dan banyak keberkahan yang bisa kita raih. Memang kerelaan itu juga butuh perjuangan bunda.



Pertanyaan M19

1. Boleh ga kalo kita berpikir kalo ujian yang Allah berikan adalah hukuman atas dosa-dosa kita yang begitu sangat besar dan terus berfikiran seperti itu. Gimana ustad
Jawab

Ya bunda maka dosa itu. Bersabarlah bunda

2. Ustazd, saya bingung. Saya paling sering di jadikan tempat curhat sama teman-teman yang punya masalah hidup. Padahal saya yakin seandainya saya diposisi mereka belon tentu mampu menghadapinya. Gimana tipsnya ustadz agar saya gak cuma pintar ngomong, tapi ketika masalah menimpa saya juga bisa menghadapinya dengan ikhlas.
Jawab

Bunda sudah jauh lebih baik dari mereka. In sya Allah akan bertambah mantap tinggal satu langkah lagi: yakni kita juga mengamalkan apa yang kita tuturkan. warna, ujian dan tahapan hidup setiap kita mungkin berbeda. Tapi yakinlah semua tak masalah bila Allah membersamai kita. bila semua kita sandarkan kepadaNya.
bunda kalo ada kata "belum tentu mampu" berarti belum rela bun. Jika mereka sanggup tegar menghadapi hidup, maka tak salah bila aku juga bisa lebih tegar dari mereka. kuncinya simpati, empati dan keteladanan bunda. In sya Allah mampu..Allahu akbar.

Semoga semua ini menjadi saksi di hadapanNya kelak bahwa kita semua ini sedang berjuang bisa menghiasi diri dengan sikap rela kepadaNya sehingga bisa menikmati dan menjalani hidup ini.
mohon maaf banyak salahnya. jazakumullahu khairan kastira..

-------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Umar Hidayat
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment