Ketik Materi yang anda cari !!

HIDAYAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, March 10, 2015


Kajian Online WA Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal :  Selasa, 10 Maret 2015
Narasumber : Ustadzah Lillah

Tema :
Notulen : Ana Trienta

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah atas limpahan nikmat yang tak berbilang atas kita semua, semoga di pagi nan cerah ini Allah jaga dan lindungi kita selalu.

Berbicara nikmat maka ada satu nikmat luar biasa yang alhamdulillah kita dapatkan di kehidupan ini, yakni nikmat hidayah. Nikmat yang tidak sembarang Allah beri kepada ummatNya

Hidayah itu memang hak prerogatif Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya dan dia pula yang ’menyesatkan’ siapa saja yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 4, QS Al-Nahl : 93, QS Faathir : 8). Dia tidak akan dan tidak perlu ditanya atas apa yang Dia perbuat tetapi manusialah yang akan Dia tanya atas apa yang telah diperbuatnya (QS Al-Anbiya’ : 23).

Akan tetapi, kehendak Allah atas hidayah dan kesesatan tersebut bergantung kepada manusia itu sendiri. Allah telah memberikan segala potensi kepada manusia untuk bisa mendapatkan hidayah : fithrah, akal, perasaan, ayat-ayat kauniyah, diutusnya para rasul, ayat-ayat qauliyah, dan sebagainya. Allah telah memberikan kepada setiap hati manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk (QS Al-Syams : 8). Sehingga, manusialah yang kemudian akan menentukan dirinya sendiri apakah ia akan taat kepada Allah (jalan hidayah) ataukah ia akan ingkar kepada-Nya (jalan kesesatan). Manusia bebas memilih tetapi ia pasti akan menerima akibat dari pilihannya tersebut.


Jadi, hidayah itu memiliki dua sisi. Di satu sisi hidayah adalah hak prerogatif Allah, sementara di sisi yang lain hidayah itu tergantung pada kemauan dan usaha manusia. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berdoa agar Allah memberikan taufiq kepada kita, yakni kita senantiasa berkemauan untuk senantiasa berada di jalan hidayah dan Allah pun membimbing kita di jalan hidayah tersebut. Setidak-tidaknya tujuh belas kali setiap hari kita berdoa untuk itu : Ihdinash shirathal mustaqim (Tetapkanlah kami – ya Allah - agar senantiasa berada di jalan yang lurus). Allah mengajarkan doa kepada kita : Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa …”Wahai Rabb kami, janganlah engkau sesatkan hati kami sesudah engkau memberi petunjuk kepada kami ...”. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita suatu doa : Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika”Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hati kami diatas agama ini. Yaa Musharrifal Quluub, sharrif qalbii ilaa thaa’atika “Wahai Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami untuk senantiasa taat kepada-Mu”.

Hidayah itu Mahal
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Pernahkan terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.mKita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekedar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudaraku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jalan-Nya yang lurus. Dalam Tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat

وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. 

Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf:5)

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am:110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, terlebih selain beliau, dalam ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau 9/340-341)

Saudariku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat al-haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah kepada jalan yang lurus.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudharatan dari dirinya, kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Allah ‘Azza wa Jalla pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk memohon hidayah, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di penghujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari ilmu agama. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah ‘Azza wa Jalla. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang yang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah ‘Azza wa Jalla anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau menjual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullahu, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)

Lalu apa prasangkamu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di atas hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….
Wallahu a’lam bish-shawab.

TANYA JAWAB

1. Assalamwrwb.. ustdzah mo nanya, pada saat kita dapat hidayah dari Allah apakah secara lahiriah kita merasakan hal yang berubah dari diri kita? bagaimana kalo kita berdoa mohon petunjuk agar Allah memberikan hidayah pada anak,orang tua atau suami? bisakah? jazakumulllah khoiron
Jawab
Masyaallah tentu bisa sekali, justru orang terdekat doanya lebih diijabah, orang tua ke anak, istri ke suami dan sebaliknya. Jangan pernah putus memohon hidayah untuk kita dan keluarga. Tentu kita merasakan saat hidayah itu datang. Sampai yang sejak kecil sudah muslim pun, akan merasakan saat-saat indah dalam naungan hidayah Allah. Apa sih yang bisa kita rasakan? Di antaranya tentu nikmat ibadah. Memiliki rasa bangga sebagai seorang muslim. Cemburu melihat kebaikan dalam diri orang dan berharap kita pun memilikinya. Marah jika Islam dihina dll

2. Ustadzah.... bagaimana cara mendapatkan hidayah? apakah itu langsung datang dari Allah ataukah kita yang harus berusaha menggapainya? karena suatu waktu ana bercakap dengan seseorang yang enggan tuk berhijab dengan spontan dia berkata belum dapat hidayah. Bagaimana menurut ustazah?
Jawab
Nah... sebenarnya di materi tadi sudah dibahas, bahwa memang hidayah adalah hak prerogratif Allah, tapi bukan berarti kita tidak menjemputnya. Hidayah mahal dan tidak semua orang mendapatkan. Sementara rizki, Allah sawer buat semua makhluq. Jadi kalau untuk beribadah yang kita sudah tahu hukumnya tidak patut mengatakan tunggu hidayah. Saat kita tahu hukum sesuatu kemudian kita langgar atau abai, maka dosa sudah tercatat.

3. Ustadzah bagaimana cara menjaga agar hidayah tetap dihati gak pergi meninggalkan kita?
Jawab

Bersungguh-sungguh dalam banyak hal, utamanya ibadah. Bergaul dengan orang-orang sholih, upayakan ikut pengajian rutin pekanan. Banyak berdoa minta dikuatkan di atas jalan Allah. Mengajarkan kebaikan/agama pada orang lain. Biasanya lebih ampuh dari sekedar kita hanya belajar.

4. Assalamualaikum ustadzah, ana punya teman jilbaber dalam artian baju gamis dann jilbab lebar pakai kaos kaki setelah menjalani rumah tangganya gagal (cerai) ia berubah drastis dengan penampilannya sekarang lebih suka pakai celana jeans dan baju yang ngepas dibadan yang mini. Apakah seperti itu hatinya sudah tertutup atau apa ustadzah, mohon pencerahannya.syukron
Jawab
Mudah-mudahan tidak tetap husnudzon kepada Allah suatu saat dia akan berubah. Tugas kita justru merangkulnya, mengingatkan dan terpenting mendoakan.

5. Afwan ustadzah bagaimana dengan orang sudah berhijab tetapi masih suka membicarakan orang lain, merasa paling benar dalam beribadah sampai terkadang harus mengikuti nya apakah itu termsuk pemberi hidayah yang terkadang agar orang di sekitar dapat ikut seperti dia?
Jawab
Pemberi hidayah? Aahh... itu hak Allah bunda. Manusia paling hebat levelnya hanya menjadi perantara orang mendapatkan hidayah. Berhijab masih maksiyat? Ingatkan baik-baik. Mereka juga manusia yang tak luput dari salah, maka kenapa Allah meminta kita membudayakan saling menasehati dalam kebenaran, saling menasehati dalam kesabaran (surat al ashr). Disini, saling lho...jadi yang namanya tadzkiroh itu bisa datang dari siapapun.

6. Saya mau tanya teman saya pindah agama ikut suaminya. Saya ingin mendoakan supaya bisa kembali ke jalan Allah (pindah) ke muslim lagi. Saya ingin dia mendapatkan hidayah lagi dari Allah. Jazakumullah khairon katsiro..
Jawab
Doakan bunda karena salah satu doa yang Allah qobul adalah doa seorang teman dari kejauhan. Mudah-mudahan Allah buka kembali pintu hatinya, aamiin

7. Adakah hubungan antara hidayah dengan takdir? Jika seseorang ditakdirkan bukan sebagai muslim,  dapatkah dia mendapatkan hidayah?
Jawab
Tentu ada, namun tahukah kita akan takdir kita sendiri? Tidak ada orang yang tahu, di penghujung hidup kita nanti kita akan seperti apa. Disinilah pentingnya menjemput dan menjaga hidayah. In syaallah seseorang bisa mendapatkan hidayah jika dia mau berusaha. Karena semua bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, orangtuanyalah yang membuatnya menjadi non muslim.

8. Jika ada sodara yang susah dan sudah diajak sholat, puasa, zakat tapi masih nggak dijalankan juga, apa kita masih ikut bertanggung jawab di hadapan Alloh kelak? Karena dia dulu pernah diajar dosennya kalo semua itu nggak perlu dilakukan jika kita tidak berbuat keji, karena menurut nya, sholat itu hanya untuk mencegah perbuatan keji. Boleh kah kita mendiamkan saja perbuatan nya karena sudah jelas beda prinsip? Jazakalloh 
Jawab
Tugas kita meluruskan pemahamannya. Upayakan semaksimal mungkin, dan lengkapi dengan doa. Insyaallah jika sudah maksimal ikhtiar kita, Allah pun tidak akan menuntut kita.

9. Ustadz kalo kita sudah terperosok ke dalam kemaksiatan selama 2 tahun apa yang harus kita lakukan untuk menebus semuanya ustadzah? apa yang harus kita lakukan supaya kembli 100% seperti semula? syukron ustadzah
Jawab
Tugas seorang pendosa adalah bertaubat. Masalah dosa dsb itu hak Allah. Kalau sampai bisa diketahui dosa kita sudah terhapuskan 100%, subhanallah...dimana letak khouf war rojaa? Berusaha saja terus memoles diri dengan kebaikan

10. Bagaimana kita tahu orang itu sudah mendapat hidayah. Ibadah rajin, ikut ta'lim rajin tapi ketika didepannya ada riak air dia mengeluh. Ketika ada duri dia menjerit padahal dia tidak terseret air juga tidak tertusuk duri. Bagaimana ustad?
Jawab
Itulah tabiat manusia, meski dia muslim dan mendapat hidayah, Allah sudah pastikan kita selalu berkeluh kesah dalam kehidupan (QS Al Ma'arij 19-21). Ciri orang yang mdpt hidayah bukan berarti sempurna seperti malaikat, namun dia selalu berusaha bersungguh-sungguh untuk memperbaiki amalannya.

11. Ada ustadz yang kerap isi kajian majlis ta'lim, ujung-ujungnya malah ghibah ngomongin ustadz lain, yang salah dimana yaa Ustadzh?
Jawab


Jika memang begitu kejadiannya, salah ustadznya. Tugas bunda untuk mengingatkan. Jangan hanya dibicarakan, beri solusi untuk sang ustadz.

12. Adakah tingkatan hidayah? Apa tingkatan hidayah yang kita peroleh akan sesuai dengan seberapa kuat kita mencarinya?
Jawab
Setahu saya tidak ada. Cukup bagi kita menjaganya dengan selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah dan memperbaiki dengan banyak belajar.

13. Mempertahankan hidayah itu tidak smudah ketika kita mendapatkan. Yang saya mau tanya bagaimana kiat-kiat menjaga hidayah itu terus hidup dan berkembang dalam diri? Apakah hidayah bisa diambil kembali oleh Alloh? Bagaimana ciri ketika hidayah itu hilang dari diri seseorang? Meskipun sudah sering menghadiri majlis ilmu dll karena lingkungan sekitar misal...
Jawab


Bersungguh-sungguh dalam banyak hal, utamanya ibadah. Bergaul dengan orang sholih, upayakan ikut pengajian rutin pekanan. Banyak berdoa minta dikuatkan di atas jalan Allah. Mengajarkan kebaikan/agama pada orang lain. Biasanya lebih ampuh dari sekedar kita hanya belajar.

14. Ustadz benarkah hidayah bisa hilang dan bisakah hidayah itu datang lagi setelah hilang
Jawab
Bisa jika tidak dijaga. Dan in syaallah bisa hadir lagi sepanjang dia berusaha mencarinya dengan optimal. Maka dalam Al Qur'an dikatakan ada orang yang diberi hidayah kemudian murtad kemudian diberi hidayah kembali, namun jika dia murtad kembali maka tiada lagi ampunan.

15. Ustadzah, adakah doa  khusus untuk saudara kita yang muslim tapi tidak mempraktekan ajaran islam, agar  mendapat hidayah? Contoh orang seperti apakah yang pantas mendapat hidayah Allah?
Jawab
Tidak ada doa khusus, minta saja kepada Allah untuk menggerakkan hatinya agar iman selaras dengan amalan. Tidak ada kriteria khusus orang seperti apa yang pantas mendapat hidayah, saya rasa setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan, hanya kembali kepada orang tersebut sekuat apa dia menjemputnya.

16. Ustad hidayah itukan hak Allah, apakah sekarang ini Allah masih memberikan hidayah atau petunjuk kepada manusia seperti dizaman nabi dulu? misalnya mengetahui tanda-tanda kematian seseorang ataupn hal-hal gaib lainnya karena sekarang banyak orang mengagungkan sosok wali Allah misalnya kiyai ataupun  syekh..
Jawab
Salah jika hidayah diidentikkan dengan hal-hal seperti itu. Anugerah hidayah Allah berikan hingga akhir zaman, kepada siapa yang Allah inginkan dirinya menjadi baik. Sementara hal-hal ghaib, bukan hak manusia dan jin. Hanya Allah yang Maha Tahu, hingga Rasulullah pun tidak. Jadi mohon maaf, jika ada kyai atau ulama yang mengaku bisa mengetahui hal-hal ghaib, maka dia berbohong atau bersekutu dengan jin.

17. Ustadzah.. Ada sepupu yang pindah agama, gimana hubungan keluarganya sekarang dengan saudara-saudara yang lain.Baiknya bagaimana kita bersikap?
Jawab
Perlakukan dengan baik seperti biasa, tidak perlu ada yang berubah. Namun dalam hal-hal yang berkaitan dengan aqidah, harus dipertegas. Jangan sampai menjadi toleransi yang kebablasan seperti turut merayakan ritual agama mereka dll.

18. Ustadzah ijin bertanya mungkin aga diluar topik tapi masih dalam konsep hidayah. Bagaimana dengan hukumnya pernikahan seperti ini : suami masuk Islam (sebelumnya Katholik) menikah secara Islam, tapi setelah menikah suaminya kembali mengikuti misa dan kegiatan agamanya. Apakah bisa dibilang suaminya itu mendapat hidayah?
Jawab


Tidak, berarti hanya pura-pura untuk mendapatkan istrinya

19. Bunda mau tanya, disaat kita mengikuti kajian dari berbagai harokah dan yang saya pahami dari harokah 1 dan harokah lainya tu ada kesamaan dan juga perbedaanya, nah saya merasa harokah yang A ini srek dihati saya tapi saya masih tetep ingin mengikuti kajian dari harokah yang lain, pertanyaan saya apakah saya ini termasuk loncat pagar gitu karna dulunya sebelum saya ngaji diharokah yang A saya ikut diharokah yang B. Dan saya juga berusaha mengajak harokah-harokah yang lainya untuk satu tujuan yaitu memperjuangkan islam karna dirasa sekarang banyak orang yang fanatik dengan golonganya, ya seperti apa yang dijelasin bunda diatas, mereka tidak mau mendengarkan,
Jawab
Dipelajari dengan baik mana yang paling sesuai tuntunan Islam, bukan hanya sekedar sreg di hati. Mereka sama-sama memperjuangkan Islam, tapi caranya berbeda-beda. Hargai perbedaan itu dan jangan pernah merasa benar sendiri. Pada masanya nanti, semua harokah itu pun akan lebur di bawah naungan khalifah Islam kelak.

20. Hidayah itu hak preogratif Allah. pertanyaan pertama bolehkah kita mendoakan anggota keluarga besar yang murtad kembali Islam? kedua, hidayah untuk selamat dari kesyikiran atau mitos, para sesepuh dikeluarga merasa islam bagian dari dirinya tetapi tidak bisa lepas dari ritual turun temurun adat budaya, bolehkah kita mentauzihnya dengan cara yang thoyib sekaligus berdoa hidayah kesadaran untuk tidak syirik?
Jawab
Boleh banget bunda malah harus, karena berarti kita memperjuangkan kebenaran.

21. Adakah doa khusus untuk anak-anak kita agar mendapat hidayah dari اَللّهُ SWT?
Jawab
Tidak ada doa khusus, ambil saja dari doa-doa dalam Al Qur'an maupun yang dicontohkan Rasulullah.
"Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa...dst


"Yaa muqollibal quluub...dst

22. Assalamualaikum ustadz, saya ingin bertanya jika kita telah diberi hidayah oleh Allah SWT kita harus menjaganya dan mengamalkannya dalam diri kita. Bagaimana untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang memang dilingkungan bahkan dengan kawan sendiri pun kita justru dianggap terlalu fanatik dengan agama padahal maksud saya ingin mengajak teman agar mendapat hidayat dari Allah seperti mengajak teman agar berjilbab atau tidak ikutan dalam berghibah ria jika sedang berkumpul..
Jawab
Just be your self. Tetap mengamalkan apa yang memang sudah menjadi rutinitas kita seraya mengingatkan mereka. Gunakan cara yang halus, copas artikel dari sosmed untuk dikirimkan kepada mereka, belikan mereka buku atau bahkan langsung jilbab. Kalau cuma ditolak atau dikatakan sok alim, santai aja

23. Assalamu alaikum. Ustadz jika kita pernah ikut tarbiyah lewat sarana kelompok tertentu dan setelah 10 tahun berhenti. Kemudian tetap mengkaji ilmu lewat sarana online seperti ini, odoj, odoa dll. Tapi dalam hati selalu merasa bersalah, merasa menjadi bagian yang berguguran di jalan dakwah. Bagaimana solusinya ustadz apakah tetap harus memaksakan diri untuk ikut tarbiyah seperti dulu? Jazakumullah


Jawab
Ikut kajian online, baca buku, dengar radio, nonton tausiyah di televisi adalah ragam media kita belajar. Tapi dalam tarbiyah yang utama bukan sekedar cari ilmu, namun bagaimana kita belajar berjama'ah, mengaplikasikan ukhuwwah, saling menasehati, saling memberi solusi dan berkumpulnya kita bersama orang sholih menjadi salah satu benteng dalam menjaga hidayah

24. Apakah sama antara keimanan dengan hidayah itu?
Jawab


Ya tentunya hidayah yang Allah berikan bentuk kongkritnya adalah nikmat iman Islam

25. ‬Mau tanya ustadz, saya kenal seseorang yang bukan islam, orang luar, tapi baik sekali ingin sekali beliau masuk islam kadang dalam doa suka saya selipkan doa agar beliau dapat hidayah. Kira-kira apa yang dapat saya lakukan lagi ya terhadap teman saya itu? terima kasih ustadz...
Jawab


Ajak diskusi, beri dia buku, share keindahan Islam (sekarang banyak berseliweran artikel bagus di wa)

26. Pada bulan 4 tahun 2014 kemarin tepatny pada tanggal 16 suami saya telah terlebih dahulu dipanggil Allah secara tiba-tiba. Tapi perasaan bukan suami yang diambil. Tapi jiwa saya. Serasa saya tidak lagi hidup didunia. Langsung saya takut apa amal yang harus saya pertanggung jawabkan kelak. Mulai saat itu pandangan hidup selama ini berobah total. Takut kalo amal saya tidak sanggup menjaga saya kelak. In sya allah sekarang lebih tenang dengan selalu menjaga hati, kehidupan dan memperbanyak amal agar diridai Allah seandainya tiba giliran saya. Yang mau saya tanyakan apakah ini salah satu bentuk hidayah dari Allah?
Jawab
Mudah-mudahan iya.. terkadang hidayah hadir dari peristiwa yang tidak kita duga. Tetap istiqomah ya bu...

27. Apa bedanya taufik dan hidayah? Saya salah satu hamba Alloh yang beruntung yang pernah diberi hidayah, saya mau tanya, bagaimana mempertahankan hidayah yang sudah diberikan Alloh?
Jawab
Taufik itu keridhoan Allah dengan kita. Bersungguh-sungguh dalam banyak hal, utamanya ibadah. Bergaul dengna orang-orang sholih, upayakan ikut pengajian rutin pekanan. Banyak berdoa minta dikuatkan di atas jalan Allah. Mengajarkan kebaikan/agama pada orang lain. Biasanya lebih ampuh dari sekedar kita hanya belajar.

28. Tanya ustadz, bagaimana menyikapi orang yang sering kali tidak melaksanakan syariat berdalih belum mendapat hidayah,  misalnya belum pake hijab karena belum dapat hidayah?
Jawab
Sebagaimana layaknya muslim bersaudara, maka harus terus diingatkan, dengan cara yang ihsan tentunya. Banyak cara dalam menasehati, langsung dan tidak langsung. Ingatkan bahwa hidayah harus dijemput.

29. Saya mau tanya ustadz, jika seseorang pendosa di berikan hidayah oleh allah dan iya segera bertaubat, lalu bagaimanakah dengan dosa-dosanya di masa lalu ustadz, bukankah Allah sendiri berfirman bahwa kesalahan sekecil biji zara  pun nntinya akan diperhitungkan?
Jawab
Dosa-dosanya akan terhapuskan oleh amal baiknya berikutnya. Itulah hebatnya taubatan nashuha, taubat sebenarnya.

Dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment