Ketik Materi yang anda cari !!

MALU (AL - HAYAA')

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, February 24, 2015


Kajian WA Hamba الله SWT
Selasa, 24 Feb 2015 jam 09.30 WIB
Ustadzah Fitri (Malu / Al-hayaa')
Editor: Wanda Vexia
Grup Nanda M111


A. Pengertian Malu

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 “Malu berasal dari katahayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kataal-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhur. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna”

Al-Junaid rahimahullah berkata:
 "Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkansuatu kondisi yangdisebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yangmemotivasi untuk meninggalkankeburukandan mencegah sikap menyia-nyiakanhak pemiliknya”

Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.


B. Keutamaan Malu

1. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍَﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ ﻻَ ﻳَﺄْﺗِﻲْ ﺇِﻻَّ ﺑِﺨَﻴْـﺮٍ
"Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata” [HR. Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

ﺍَﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻛُﻠُّﻪُ
“Malu itu kebaikan seluruhnya”

Malu adalah akhlakpara Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam yanglebih pemalu daripada gadis yangsedang dipingit.

2. Malu Adalah Cabang Keimanan

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

َﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺃَﻭْ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮْﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ، ﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ، ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍْﻷَﺫَﻯ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳْﻖِ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ ﻣِﻦَ َ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkanduri (gangguan)dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman”

3. Allah Azza Wa Jalla Cinta Kepada Orang-Orang Yang Malu.

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺣَﻴِﻲٌّ ﺳِﺘِّﻴْﺮٌ ﻳُـﺤِﺐُّ ﺍﻟْـﺤَﻴَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟﺴِّﺘْﺮَ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻏْﺘَﺴَﻞَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺘِﺮْ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri”

4. Malu Adalah Akhlak Para Malaikat

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻻَ ﺃَﺳْﺘَﺤْﻲِ ﻣِﻦْ ﺭُﺟُﻞٍ ﺗَﺴْﺘَﺤْﻲِ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟْـﻤَﻼَ ﺋِﻜَﺔُ
“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya”

5. Malu Adalah Akhlak Islam

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩِﻳْﻦٍ ﺧُﻠُﻘًﺎ ﻭَﺧَﻠُﻖُ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu”

6. Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahuanhu yangmengecamsaudaranyadalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺩَﻋْﻪُ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْـﺤَﻴَﺎﺀَ ﻣِﻦَ ﺍﻹﻳْﻤَـﺎﻥِ
“Biarkan dia, karenamalu termasuk iman”

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâhberkata:
“Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karenarasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegahantara dia dengan perbuatan maksiat”

7. Malu Senantiasa Seiring DenganIman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah Yang Lainnya

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍَﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ ﻭَ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﻗُﺮِﻧَﺎ ﺟَﻤِـﻴْﻌًﺎ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭُﻓِﻊَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺭُﻓِﻊَ ﺍْﻻَ ﺧَﺮُ
“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya”

8. Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍَﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ ﻭَ َ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﻓِـﻲ ﺍﻟْـﺠَﻨَّﺔِ ، ﻭَﺍﻟْﺒَﺬَﺍﺀُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْـﺠَﻔَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْـﺠَﻔَﺎﺀُ ﻓِـﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka”

C. Malu Adalah Warisan Para Nabi Terdahulu

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalimat kenabian terdahulu…"

Maksudnya, ini sebagai hikmah kenabian yang sangat agung, yang mengajak kepada rasa malu, yang merupakan satu perkara yang diwariskan oleh para Nabi kepada manusia generasi demi generasi hingga kepada generasi awal umat Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam. Di antara perkara yang didakwahkan oleh para Nabi terdahulu kepada hamba Allah Azza wa Jalla adalah berakhlak malu.

Sesungguhnya sifat malu ini senantiasa terpuji, dianggap baik, dan diperintahkan serta tidak dihapus dari syari’at-syari’at para nabi terdahulu.

D. Rasulullah Shallallahu‘Alaihi Wa Sallam Adalah Sosok Pribadi Yang Sangat Pemalu

Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah" (QS: Al-Ahzab Ayat: 53)



Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahuanhu berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺷَﺪَّ ﺣَﻴَﺎﺀً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺬْﺭَﺍﺀِ ﻓِـﻲْ ﺧِﺪْﺭِﻫَﺎ 
“Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam lebih pemalu dari pada gadis yang dipingit di kamarnya"
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
“Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharizah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi memiliki dua jenis malu ini, akan tetapi sifat tabiat beliau lebih malu dari pada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi"

E. Makna Perintah Untuk Malu Dalam Hadits Ini

Sabda Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam:
“Jika engkautidak merasa malu, berbuatlah sesukamu”


Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran dari perintah dalam hadits ini, di antaranya:

1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Peringatan Dan Ancaman

Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Seperti firmanAllah Azza wa Jalla :

لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
"Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji" (QS: Fushshilat Ayat: 42)


2. Perintah Tersebut Mengandung Arti Penjelasan

Maksudnya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu.

Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam :

ﻣَﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ 
“Barang siapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka"
Sabda beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam di atas bentuknya berupa perintah, namunmaknanya adalah penjelasan bahwa barangsiapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.

3. Perintah Tersebut Mengandung Arti Pembolehan

Imam an-Nawawi rahimahullâhberkata:
“Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakans esuatu yang menjadikane ngkau tidak merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak, maka tinggalkanlah"

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat jumhur ulama.

F. Malu Itu Ada Dua Jenis

1. Malu Yang Merupakan Tabiat Dan Watak Bawaan

Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍَﻟْـﺤَﻴَﺎﺀُ ﻻَ ﻳَﺄْﺗِﻲْ ﺇﻻَّ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ 
“Malu tidak mendatangkansesuatu kecuali kebaikan"

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. 

Al-Jarrâh bin ‘Abdullâh al-Hakami berkata:
“Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karenamalu, kemudian aku mendapatkansifat wara’ (takwa)"

2. Malu Yang Timbul Karena Adanya Usaha

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman.

Siapa saja yangtidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yan gberjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.


Perkara-Perkara yang Dapat Meningkatkan Rasa Malu

* Muraqabatullaah (merasa terus diawasi Allah)
Kapan saja seorang hamba itu merasa Allah sedang melihat kepadanya dan berada dekat dengannya, ia akan mendapatkan ilmu ini (muraqabatullaah) karena rasa malunya kepada Allah.

Mensyukuri nikmat Allah
Sifat malu akan muncul dengan memikirkan nikmat Allah yang tidak terbatas, pada hakikatnya orang yang berakal akan merasa malu untuk menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat kepadanya.

Perkara-Perkara yang Tidak Termasuk Malu

Tidak berkata atau tidak terang-terangan dalam kebenaran,
Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah" (QS: Al-Ahzab Ayat: 53)


Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari (I/52) berkata, “Tidak boleh dikatakan bahwa bisa jadi malu itu menjadi penghalang untuk berkata yang benar, atau mengerjakan kebaikan karena malu yang seperti itu bukan malu yang syar’I (sesuai syariat)”

Imam an-Nawawi rahimahullah, dalam Syahr Shahih Muslim (II/5): “Terjadi masalah pada sebagian orang yaitu orang yang pemalu kadang-kadang merasa malu untuk memberitahukan kebaikan kepada orang yang ia hormati. Akhirnya ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Terkadang sifat malunya membuat ia melalaikan sebagian apa yang menjadi haknya dan hal-hal lain yang biasa terjadi dalam kebiasaan sehari-hari”

Malu dalam mencari ilmu

Aisyah berkata:
“Sebaik-baik wanita adalah para wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama”

Imam Mujahid rahimahullah berkata:
“Tidak akan bisa mencari ilmu (dengan benar) orang yang malu mencarinya dan orang-orang yang sombong”

TANYA JAWAB

1. Ustadzah, bagaimana cara membedakan antara rasa malu dan minder? Kemudian bagaimana cara menyikapinya?

Jawab: Rasa malu lahir dari perasaan hati karena sesuatu yang membuatnya malu. Malu tidak sama dengan minder atau rendah diri atau tidak pede.

Al haya' adalah bentuk ketenangan yaitu pengendalian diri dan pengurungan bicara karena malu kepada seseorang. Al haya' adalah kebiasaaan terpuji selama tidak berasal dari kelemahan dan ketidakberdayaan.

Caranya adalah:
Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata:
“Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain"

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup.


2. Ustadzah, bagaimana agar kita tak malu membenarkan hal yang benar, kepada orang yang dihormati?

Jawab: ketika kita merasa bahwa orang tersbut melakukan kesalahan, tetaplah memakai etika dan bahasa yang santun dalam menyampaikannya. Bedakan sekali lagi, bahwa malu tidak sama dengan minder / tidak percaya diri.

Caranya dengan lemah lembut tidak seperti menggurui. Karena bisa jd menimbulkan rasa malu bagi orang lain. Tapi ketika kita yang tahu bahwa kita ingin membenarkan sesuatu, Insya Allah itu bukan malu, tapi karena kurang percaya diri.


3. Minta nasehatnya terhadap orang yang sampai berbuat semaunya, seperti sudah hilang rasa malunya padaha memiliki pribadi yang baik sebelumnya. Namun setelah diberi ujian materi dia jadi bertingkah diluar batas. Dan bagaimana sikap kita kepadanya?

Jawab: Ketika ada tetangga atau kerabat kita yang mengalami penurunan ruhiyah, sebaiknya memang harus kita sampaikan dengan kata yang santun dan membimbingnya dengan kesabaran yang sangat luar biasa.

Ada lima tanda kerugian, yaitu kekerasan hati, mata membeku, sedikit rasa malu, cinta dunia dan panjang angan-angan.

Ada seorang penyair yang mengatakan :
Jika ujung malam tidak kau takuti, rasa malu tidak kau miliki, maka lakukan apa yang kau kehendaki. Demi Allah, keindahan hidup tak akan pernah lagi ada. Tidak pula indah dunia. Ketika malu telah tiada, seseorang akan hidup dgn terhormat. Jika malu masih terawat seperti batang kayu tetap kuat. Ketika kulitnya masih melekat.


4. Mata membeku disini maknanya apa ustadzah?

Jawab: Mata membeku. Insya Allah adalah mata yang tidak gemar melihat kebaikan. Malas tilawah atau malas membaca buku yang menyajikan ilmu-ilmu kebaikan. Tidak bertambah ilmu atau gitu-gitu aja jadinya.

5. Bagaimana kalau misalnya diri kita sendiri yang merasa sudah agak menurun dalam berbuat kebaikan ustadzah? Apakh itu sudah berarti rasa malu juga sudah berkurang?


Jawab: Hidupkanlah rasa malu dengan duduk disisi orang yang kamu malu padanya. Ramaikanlah hati dengan wibawa dan malu. Ketika keduanya pergi meningglkn hati maka tidak ada lagi kebaikan disana.

Ibnu Abdir Barr menuturkan de Nabi Sulaiman AS, malu adalah struktur iman karena jika strukturnya berantakan, akan hilang semua isinya. Pakaian taqwa adalah malu.


6. Kalau kita malu bermaksiat kepada Allah karena takut nikmat dari-Nya dicabut, apa gapapa ya ustadzah? Apa gak terkesan ada maunya?

Jawab: Hasan Al Bashri mengatakan empat hal yang jika dimiliki seseorang maka ia akan sempurna dan jika salah satunya dipegang maka ia akan menjadi yang terbaik di kaumnya.

Ke empat itu adalah  Agama yang membimbingnya. Akhlaq yang meluruskannya. Status sosial yang menjaganya, dan malu yang menuntunnya.


7. Ustadzah, kalau ternyata rasa malunya datang terlambat kita harus bagaimana?

Jawab: Kalau malu datang terlambat, sesekali mah wajar dan malu. Tapi kalau sering, jatuhnya ke arah kedisiplinan. Bersyukurlah ketika kita memiliki rasa malu. Seperti yang saya ungkapkan diatas beberapa manfaat  malu.

Manfaat Malu

Pilar Iman dan kesempurnaan Islam
Menjauhkan diri dari maksiat
Memotivasi untuk selalu patuh kepada Allah karena cinta
Pokok dari seluruh cabang iman
Memberikan pakaian kematangan
Bukti kemuliaan diri dan mutu pertumbuhan
* Satu dari sifat para nabi, sahabat dan tabiin
* Orang yang memiliki sifat malu akan dicatat dalam barisan orang-orang yang dicintai Allah.

Heheh hayoooo kenapa datang terlambat? Rasa Malu yang datang terlambat. Al asyaji berkata, Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya kamu memliki dua hal yang dicintai. Apa itu
Rasulullah SAW menjawab. Al hilmu (tidak cepat menghukum) dan rasa malu" Aku bertanya lagi, keduanya sudah lama atau baru? Nabi menjwab: "Sudah lama" Aku mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang memberikan kepadaku dua hal yang disukai"

Ibnul Qayyim mengatakan:
Rasa malu adalah ciri manusia. Barang siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka ia telah kehilangan kemanusiaannya. Sesungguhnya manusia mempunyai pendorong dan pencegah dari sudut rasa malu. Jika ia mengikutinya  ia akan mengendalikan dari semua yang menjadi keinginannya.


8. Ustadzah, kadang kan kalau lagi selesai sholat, ana suka merenung sejenak. Ana kadang merasa malu sama Allah akan tumpukan dosa-dosa. Kadang gak terasa ampe netes air mata karena ana tau bahwa Allah maha melihat. Tapi kadang nama nya manusia suka khilaf terkadang mengulangi kesalahan nya lagi. Nah harus dengan cara seperti apakah agar kita gak terjebak bisikan syetan? Kadang suka malu sama Allah.

Jawab: Rasa malu yang di sebabkan  karena teringat akan dosa-dosa kita, kesalahan atau ke alfaan diri, tentunya membuat berderai airmata. Tapi besoknya tanpa kita  mngulanginya kembali.

Allah tidak pernah mengabsen melihat hamba-hambaNya. Namun sebaliknya pandangan hati dan perhatian hambaNya yang sering absen kepada Allah.

Jika hati sering absen dalam memandang Allah dan sedikit memperhatikan Allah, maka akan melahirkan hati yang sedikit rasa malunya, bahkan kadang terkikis hingga habis


9. Ustadzah, maksudnya terkikis hingga habis apa ya?

Jawab: Maksdnya, rasa malu. Kalau sekiranya kita ga bagus interaksinya dengan Allah, maka akan terkikis.


10. Ustadzah, gimana kalau ada teman yang tidak punya rasa malu, trus dianya kita bilangin eh dia malah balik marahin kita. Padahal kita bilanginnya secara baik-baik.

Jawab: Naaah.. ini hampir sama dengan jawaban diatas ya sayang. Kedekatan kita kepada Allah adalah kedekatan secara khusus. Lewat ibadah, doa, pujian dan sanjungan kita kepada Allah akan membuat hati dan jiwa kita lebih peka. Tapi kalau interaksi kita sangat jauh maka jauh juga kepekaan kita. 

Dikasih tau dengan cara yang baik pun tidak mempan. Walau masalah hati Allah lah yang punya. Kita hanya mampu bersih dan berdoa.


11. Nah ustadzah, bagaimana dengan orang hati nya gak mempunyai rasa malu? Baik sama diri sendiri atau kepada Allah ? Apakah orang tersebut sudah tertutup hati nya ? Nah bagaimana cara menasehatinya? Walau kita udah berusaha menasehati agar berubah

Jawab: Ibnul Qayyim mengatakan.
Di antara hukuman maksiat adalah hilangnya rasa malu yang merupakan dinamika hati, dan dasar semua kebaikan serta hilangnya kebaikan secara keseluruhan.

Maksudnya dosa-dosa akan melumpuhkan rasa malu pada seseorang sampai rasa malu tercabut semuanya. Sehingga ia tidak terpengaruh oleh pengetahuan tentang keburukan dirinya. Bahkan menceritakan keburukannya yang di perbuat. Cara menasehatinya. Dengan dialok atau komunikasi yang rutin. Ajak perlahan secara santun. Perbanyak istighfar dan mengajak merenungkan apa yang telah ia kerjakan. Dan itu butuh suatu proses.


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Amiin....


Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:



 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum... 

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru