Ketik Materi yang anda cari !!

MENFAATKAN WAKTU

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, March 9, 2015


Kajian Online WA Hamba الله Ta'ala
(Link 1 Nanda)

Hari / Tanggal : Senin, 09 Maret 2015
Narasumber : Ustadzah Rochma Yulika
Materi : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Bismillahirrahmanirrahim
Semoga yang stay dan nyimak dan ambil pelajaran Allah muliakan kedudukannya di dunia dan akhirat

Hidup Ini Adalah Hari Ini dan Saat Ini
Oleh: Rochma Yulika

Sahabat Surgaku...
Sungguh kita kadang tak menyadari tentang tabiat kehidupan. Ada kehidupan bagitu juga ada kematian. Kita terlahir bukan kemauan kita begitu pula jadwal kematianpun tak mampu kita memintanya. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Sahabat Surgaku...
Mari kita Renungkan bersama tentang rentetan perjalanan manusia.
"Hidup dan Kehidupan selayaknya deretan kata yang terangkai dalam kalimat yang indah dan terkadang kita butuh koma (,) untuk menjeda dari segala aktivitas kita, merehatkan perjalanan kita, kadang terbersit tanda tanya (?) Di saat kita kehilangan arah dan tersesat dalam MELANGKAH. Namun terkadang sesekali kita perlu menghadirkan tanda seru (!) Kala kenyataan tak lagi berpihak kepada kita. Harapan dan impian tak kunjung menjelma. Namun perlu kita sadar bahwa perjalanan kita butuh petunjuk atau catatan dalam menyelesaikannya.

Terkadang kita pun harus  membuka ulang PETUNJUK itu karena keterbatasan ingatan kita. Dari deretan kata itu kan berakhir pada tanda titik (.) Sebagai akhir dari kalimat kehidupan yang bisa kita baca. Berhenti, bukan lagi sejenak, tetapi berhenti selamanya.

Tak ada yang mengetahui sampai dimana umur kita. Apakah kita yakin bila pagi datang akankah perjalanan kita sampai pada senja yang mulai temaram. Begitu pula kala malam tiba, gulita pun seakan memenjara jiwa akankan yakin fajar kan kita jumpa.

Sahabat Surgaku...
Sedemikian kenyataan takdir manusia, sayangnya kadang kita alpa. Bahwa semua kan berbatas. Bisa jadi kita menunda kebaikan lantaran sangat yakin nyawa kan tetap dikandung badan. Padahal, satu menit ke depan hanya sekedar sebuah harapan.

Hidup yang kita miliki adalah saat ini. Bukan kemarin apalagi nanti. Kemarin hanya mampu kita jadikan cermin untuk memperbaiki perjalanan ke depan. Maka pada hari yang nafas masih kita hela, diri mampu berkarya, maka tunaikan apa yang menjadi kewajiban dengan segera.

Sahabat Surgaku...
Apakah kita masih menunda-nunda ibadah, menunda tilawah, menunda segala kebaikan? Katakan pada hati kita. 

"Hidupku adalah hari ini. Bukan nanti apalagi esok hari."


Apakah kita tak pernah merasa takut??? Atau terlalu yakin dengan bekal yang sudah dipersiapkan??? Atau tak pernah peduli dengan datangnya berita kematian dan akhirnya kita yang sampai pada giliran untuk diberitakan. Astaghfirullah..


Ketahuilah setiap tarikan dan desahan nafas kita, saat kita menjalani waktu demi waktu, adalah merupakan langkah menuju kubur. Dan waktu yang kita jalani hidup di dunia ini, sebenarnya sangat singkat, karena itu sangat ruginya kita apabila kita menjalaninya dengan sesuatu yang tidak berharga. Kita sia-sia kan waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan dunia akhirat kita.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:  
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59] : 18)
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ashr (103) ayat 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan amal baik.

Rasulullah SAW bersabda, 
”Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori). 
Hadits ini menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya.

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Khuluqul Muslim menerangkan waktu adalah kehidupan. Maka memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.

Hasan Al Basri menasihati kita,"Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan."

WAKTU kita sangatlah sedikit. 
Di dunia yang sangat sempit. 
Waktu hidup kita sangatlah singkat. 
Maka hati-hatilah dari berbuat maksiat.

USIA kita tak bisa terukur
Tak pernah tau kapan saatnya tersungkur di dalam kubur. 
Dan bila telah tiba MASA
Sampailah kita di alam baka.

Bukan HARTA benda yang kita bawa
Amal dan kebaikan yg kan temani perjalanan kita. 
Namun hanya amal kebaikan yang bisa turut serta

Jauhkan HATI dari cinta dunia yang fana
Tuk bersegera dekatkan diri dengan kebersamaan dengan  NYA
Tetap semangat meski perjalanan ini terasa berat
Semoga kelak bernilai di akhirat

Dalam pepatah Arab disebutkan ”Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.” Karena itu jangan sia-siakan waktu, manfaatkanlah segera :
Waktu muda sebelum datangnya tua. 
Waktu sehat sebelum datang sakit.
Waktu kaya sebelum datangnya miskin. 
Waktu luang sebelum datangnya sempit. 
Waktu hidup sebelum datangnya mati.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad)


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Barzah, bahwa Rasulullah SAW  bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara : Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ilmunya, apa yang diamalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, sebelum terlambat, sebelum kematian mendatangi kita, marilah kita memanfaatkan waktu yang tersisa dari umur kita ini untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Marilah kita perbanyak berbuat kebaikan, jangan menunda-nunda amal kebaikan, karena belum tentu besok kita masih punya waktu untuk melaksanakannya. Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput kita. Dan alangkah sangat menyesalnya kita, apabila dalam hidup kita yang singkat, lebih banyak kita lewati dengan melakukan hal-hal yang akan kita sesali di akhirat. Karena waktu yang sudah lewat, tidak akan pernah bisa kembali meski sesaat.

Jazakumullah khairan katsira....
Mohon maaf jika khilaf
Wassalamualaikum wr wb


TANYA JAWAB

Pertanyaan M103

1. Terkadang kebiasaan buruk itu selalu berulang dan berulang terus. Kalau mau berubah ke arah yang lebih baik rasa capek sedikit jadi lari ke kebiasaan lama atau aku udah bikin jadwal malah dilanggar sendiri. gimana optimalinnya?Jawa
Gantilah kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik. Sesungguhnya di artikel di atas sangat jelas. Kita tak akan mudah mengeluh capek karena perjalanan yang panjang dan melelahkNan sejatinya bukan di dunia tapi di akhirat. Seseorang yang melakukan dosa beberapa kali dan ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya. Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits lainnya, dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.” 

An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu. An Nawawi mengatakan, ”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.”

Allah tak pernah capek melihat tingkah polah kita yang jauh dari ingatan akan akhirat. Kenapa kita mudah capek? Move on

2. Tak sedikit dari kita ilmu yang dipelajari dan pekerjaan yang digeluti itu berbeda. Misalnya kuliah dbidang Teknik banting setir menjadi wirausaha. Apakah ilmu ketika kuliah yang dipelajari nanti akan dihisab juga? sementara pekerjaannya ga sesuai kan? Jadi ga mengaplikasian ilmu yang di dapat di bangku kuliah. itu bagaimana umm??
Jawab
Tugas kita adalah bagaimana punya kontribusi bagi agama dan tentunya bekerja untuk memenuhi kehidupan. Ilmu yang wajib diamalkan itu ilmu agama.

3. Kalo misalkan kita ada di lingkungan yang tidak menghidupkan sunah dan tidak syar'i. Ingin mengajak kepada kebaikan. Cuma kadang disalahartikan. Jadi  cuma bisa diam aja. CAra menyikapi bagaimana?
Jawab
"ud'u ila sabili rabbika bilhikmah wal mau'idzatil hasanah" Ajaklah mereka menuju jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Tugas kita menyampaikan kebenaran dengan nasihat dan keteladanan. Jika tak mampu nasihat mempengaruhi mereka ya tinggal tugas kita menunjukkan kebaikan dengan kebaikan yang kita amalkan.

4. Tentang masa muda akan diminta LPJ (laporan pertanggung Jawaban)Pamanfaatan masa muda yang bagaimana yang di maksudkan & jika ad orang yang telah lanjut usia baru ia mnyadari dulu masa mudanya terbuang sia-sia tak ada pemanfaatnnya. Bagaimana ustadzah? Apa yang harus orang itu lakukan? Dengan usianya yang sudah tua. Apa yang harus kita sampaikan?
Jawab
Dengan taubat yang tulus kepada Allah in sya Allah akan menghapus segala kesalahan dimasa muda. Masih lebih baik menyadari kesalahan di masa tua dari pada lalai hingga ujung usia. Ada yang masa muda baik masa tua tak baik nah itu orang yang merugi sementara orang yang beruntung adalah orang yang hari esoknya lebih baik.

Pertanyaan M106

1. Assalamu'laikum wr wb, syukron materinya ummi. Ana mau tanya taubat itu ada berapa macamnya ya, kan terkadang orang itu ada yang tobat ngulang kesalahan lagi, tobat lagi terus ada yang bener-bener taubat, jazakillah
Jawab
Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa. Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah dilakukan. Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat. 

Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat  dosa. Karena Allah berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31) (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah, tentang pembahasan isi khutbatul hajah).

Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Quran bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha Penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hambaNya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman,

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa': 27)

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau biasa membaca doa berikut:

«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

"Ya Allah, ampunilah kesalahanku, ketidak tahuanku dan sikapku yang berlebihan dalam urusan-urusanku, serta dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, ampunilah dosa yang aku lakukan dalam kondisi bersungguh-sungguh dan kondisi bersendau gurau, kekeliruanku dan kesengajaanku dan semua kesalahan itu berasal dari diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah aku lakukan pada masa lalu dan dosa yang aku lakukan pada masa belakangan, dosa yang aku sembunyikan dan dosa yang aku lakukan secara terang-terangan, serta dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau Maha Mendahulukan dan Engkau Maha Mengakhirkan, dan Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu"  (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719)

2. Bunda, bagaimana dengan niat kita jika kita berniat besok atau hari akan datang jika kalau aku udah dikampung dirumah bersama orang tua, keluarga saudara aku akan begini dan begini tentu itu hal positif yang kita rencanakan akan tetapi umur kita tak sampai kesana hari ini adalah terakhir bagi kita. Apakah itu adalah kerugian besar bagi kita karna tak langsung melaksanakan niat kita itu? Afwan bunda karena saya berada jauh dari keluarga. Mohon penjelasan nya?
Jawab
Makanya ada kata yang harus mengikuti apa yang kita rencakan seperti in sya Allah. Biidznillah yakni dengan seijin Allah. Tapi yang namanya rencana ya sebatas rencana dan ikuti dengan memperbanyak doa agar sampe pada kesempatan tersebut. Allah tau apa yang pas untuk hambaNya. Rencana kita mungkin sudah baik tapi rencana Allah yang terbaik.

3. Ana mau tanya. Bagaimana cara kita agar bisa terus memupuk semangat untuk terus berbuat baik? Karena kita sebagai manusia mungkin pernah berada di satu titik yang rasanya capek dan ingin rehat dulu dari semuanya
Jawab
Sangat manusiawi rasa lelah, jenuh. Memaksa sebuah keadaan yang baik untuk bisa beramal baik itu memang terkesan dipaksakan. Namun lebih baik dipaksa dalam keadaan seperti itu dari pada tetap menuruti kemalasan. Apa ketika kita ga mood sholat lantas tidak sholat? Tentu tidakkan. Lebih baik dipaksa masuk surga dari pad masuk neraka dengan sukarela. Carilah komunitas kebaikan yang di dalamnya ada saling mengingatkan untuk lebih baik. Bercerminlah dari saudara-saudara di Sekitar kita. Terus ingatlah kematian pemusnah segala kenikmatan. Ingat pula sesaat menjelang ternyata kita telah tiada. Bersihkan hati kita dengan banyak tilawah dan dzikrullah.

Pertanyaan M108

1. Untuk bisa hidup sesuai aturan Allah dan selalu ingat bahwa dunia ini tempat persinggahan saja otomatis kan kita harus tau ilmunya ya bun, selain al quran dan hadist kan perlu mempelajari kitab yang lain sebagai pendukung. Nah biasanya belajar kitab bisa lewat  majelis ilmu. Namun seringkali kita dalam aktivitas sehari-hari di dunia tentang apapun itu kadang ragu mau ini itu mau aktivitas ini takutnya Allah ga suka, takut salah dll. Nah dalam hal ini untuk orang yang gak pernah mondok atau nyantri seperti saya merasa  kadang butuh guru semacam guru spiritual yang bsi adidatangi kapanpun ga cukup hanya belajar sendiri lewat al quran, hadis atau majelis. Menurut bunda apakah adanya guru spiritual atau misal ada ustadzah tempat kita berguru tentang agama Allah, apakah sangat berpengaruh dalam hal ini?
Jawab
Anda memang tinggal dimana ya? 

Jika dirasa cukup saya pamit dulu
Jazakumullah kk
Wassalamualaikum wr wb

Dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment