Ketik Materi yang anda cari !!

MUJAHADATUL LINAFSIHI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, March 9, 2015

Kajian Online WA Hamba اَللّه  Taala
(Ayah 304 & 305)

Hari / Tanggal : Senin, 09 Maret 2015
Narasumber : Muhamad Arfian
Admin : Muhammad Rifa'i & Fuad Adi N
Editor : Ana Trienta

Assalamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu, alhamdulillah senang sekali dapat bertemu kembali dengan ikhwati fillah di grup 304 & 305 ini. Semoga kita selalu dalam rahmat dan hidayah Allah SWT.

Wasshalatu wassalaamu 'alaa Muhammadin wa alaa wa aliihi wa shahbihi ajma'in Pada kesempatan malam hari ini tema kita adalah Mujahadatul Linafsihi, berjuang/bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, salah satu kepribadian muslim yang perlu dimiliki oleh seorang muslim.

utiba'ul hawa (mengikuti hawanafsu). Seperti firman Allah terhadap Dawud AS,

وَلَا تَتَّبِعِ الۡهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ‌ ؕ

Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (Shaad: 26)

Jatuhnya Derajat Manusia

Allah telah menciptakan manusia sebagai ahsanu taqwim (makhluk yang paling baik). Maka manusia pun dilengkapi dengan berbagai keutamaan yang dapat mengangkat dirinya ke derajat yang mulia. Namun, bila ia terus menerus mengikuti hawa nafsu dan terjerumus dalam perangkat syahwat, dengan mudah ia dapat jatuh ke derajat yang serendah-rendahnya.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ‏ ﴿۴﴾  ثُمَّ رَدَدۡنٰهُ اَسۡفَلَ سَافِلِيۡنَۙ‏

Sesungguhnya telah Kami  ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami jatuhkan dia ke dalam derajat yang serendah-rendahnya". (At Tiin: 5-6)

Berbagai kejadian di masa lampau maupun sekarang menunjukkan banyak orang yang terseret pada perbuatan dosa dan nista disebabkan memperturutkan hawa nafsu. Fir'aun dengan kekuasaannya menjadi sombong dan akhirnya runtuhlah kekuasaannya itu. Demikian pula Qarun sang konglomerat yang menjadi pailit akibat terlalu mengikuti hawa nafsu. Mereka tidak mau lagi mengikuti hal-hal yang wajar dalam hidup ini dengan tidak memperdulikan akibatnya.

Hawa nafsu yang diperturutkan akan menjadi ganas dan memangsa tuannya di kemudian hari. Rasulullah shollallahu Alaihi Wa Sallam telah mensinyalir,

Sesungguhnya akan keluar dari kalangan ummatku kaum yang berlari bersama hawa nafsunya seperti anjing bersama tuannya". (HR. Abu Dawud)

Orang yang di dalam dirinya mempunyai hafsu yang diperturutkan memiliki ciri sebagai berikut:

1. Tidak tunduk kepada peringatan Allah dalam Al Qur-an atau pun wejangan Rasulullah  dari sunnah Rasulullah. Ketika membaca Al Qur-an, ia tidak memperoleh sesuatu pun kecuali rasa letih. Ia tidak merasakan kelezatan beraudiensi dengan Allah melalui Al Qur-an dan ibadah lainnya. Karena itu ciri utamanya adalah jauh dari bimbingan Al Qur-an dan Sunnah Rasul.

2. Enggan mendengarkan nasihat dan peringatan, dari kawan atau pun orang yang dikenalnya. Dia merasa bahwa perbuatan maksiatnya merupakan tindakan pribadi sehingga sering kali berkata kepada orang yang menasihatinya, "Apa pedulimu dengan apa yang kulakukan. Aku bebas berbuat semauku!". Padahal tak ada satu perbuatan maksiat pun melainkan akan berdampak pada orang di sekitarnya.

3. Tak mampu menarik pelajaran dari perjalanan hidupnya. Ia bertindak bagaikan robot dari keinginannya sendiri. Tidak berupaya melakukan perbaikan sikap hidup atau meningkatkan kualitas kepribadiannya. Semua dilakukan dengan pertimbangan dan kemauan sendiri, tanpa konsultasi dengan siapa pun.

Bila tiga ciri itu di atas terdapat di dalam diri anda, maka waspadailah. Sudah saatnya anda bertaubat dan memohon ampunan Allah. Sesungguhnya kita dapat kembali mengikuti kebenaran dan berjalan dalam garis Islam.

Meredam Hawa Nafsu

Sehubungan manusia selalu diuji dengan hawa nafsu, tidak seperti hewan dan setiap saat ia mengalami berbagai macam gejolak, maka ia harus memiliki dua peredam, yaitu akal sehat dan agama. Maka diperintahkan untuk mengangkat seluruh hawa nafsu kepada agama dan akal sehat. Dan hendaknya ia selalu mematuhi keputusan kedua peredam tersebut.

Lalu bagaimana solusi bagi orang yang sudah terjerat dari hawa nafsu agar terlepas dari jeratannya? Ia bisa terlepas dari jeratan hawa nafsu dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya melalui terapi berikut:

1.Tekad membara yang membakar kecemburuannya terhadap dirinya.

2.Seteguk kesabaran untuk memotivasi dirinya agar bersabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu.

3.Kekuatan jiwa untuk menumbuhkan keberaniaannya meminum seteguk kesabaran tersebut. Karena hakikat keberanian tersebut adalah sabar barang sesaat! sebaik-baik bekal dalam hidup seseorang hamba adalah sabar!.

4.Selalu memeperhatikan hasil yang baik dan kesembuhan yang didapat dari seteguk kesabaran.

5.Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan daripada kelezatan menuruti kehendak hawa nafsu.

6.Kedudukan dan martabatnya di sisi Allah dan di hati para hamba-Nya lebih baik dan berguna daripada kelezatan mengikuti tuntutan hawa nafsu.

7.Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lezatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaanya daripada kelezatan kemaksiatan.

8.Hendaklah bergembira dapat mengalahkan musuhnya, membuat musuhnya merana dengan membawa kemarahan, kedukaan dan kesedihan! Karena gagal meraih apa yang diinginkannya. Allah azza wa jalla suka kepada hamba yang dapat memperdaya musuhnya dan membuatnya marah (kesal). Allah berfirman : 
"Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan demikian itu suatu amal shaleh." (At-Taubah:120). 
Dan salah satu tanda cinta yang benar adalah membuat kemarahan musuh kekasih yang dicintainya dan menaklukannya (musuh kekasih tersebut).

9.Senantiasa berpikir bahwa ia diciptakan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu namun ia diciptakan untuk sebuah perkara yang besar, yaitu beribadah kepada Allah pencipta dirinya. Perkara tersebut tidak dapat diraihnya kecuali dengan menyelisihi hawa nafsu.

Janganlah sampai hewan ternak lebih baik keadaannya daripada dirimu! Sebab dengan tabiat yang dimilikinya, hewan tahu mana yang berguna dan mana yang berbahaya bagi dirinya. Hewan ternak lebih mendahulukan hal-hal yang berguna daripada hal-hal yang membahayakan. Manusia telah diberi akal untuk membedakannya, jika ia tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang berbahaya atau mengetahui tetapi lebih mendahulukan yang membahayakan dirinya maka jelas hewan ternak lebih baik dari pada dirinya.
(Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Asbaabut Takhallush minal Hawaa oleh Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)

Karena itu ketika menyampaikan salah satu kepribadian seorang muslim, maka Imam Syahid Hasan Al-Banna menekankan pentingnya membangun kesungguhan untuk melawan hawa nafsu, sehingga dengan kondisi mampu mengalahkan hawa nafsunya, seorang Muslim dapat mewujudkan kepribadian-kepribadian lain (salimul aqidah, shahihul ibadah, matinul khulq, mutsaqqaful fikr dan lainnya) sebagai modal dasar untuk istiqamah di jalan Allah SWT.

Semoga kita semua dapat membangun kesungguhan melawan hawa nafsu ini di dalam diri kita dan mendapatkan kekuatan dari Allah SWT sehingga dapat menunjukkan derajat kita yang tinggi sebagai manusia kepada makhluk-makhluk lain di dunia ini.
Wallahu a’lam bisshawab

Tanya Jawab

GRUP 304

1. Kenapa orang suka marah ya?  Penyebab dan tips tadz?
jawab :
Kenapa orang suka marah? Buya Hamka membagi marah pada 3 jenis:
Pertama, marah terpuji. Dijelaskan Buya Hamka, marah tipologi ini termasuk ghirah li al-sharaf (marah demi menjaga kehormatan). Ketika Islam dilecehkan, orang beriman wajib marah. Juga ketika istri atau suami kita diselingkuhi orang. Orang yang tidak marah melihat kondisi demikian dikatakan sebagai dayus alias hina budinya. Sebab kehadiran Islam sendiri sejatinya melindungi lima hal prinsip: agama, jiwa, akal, kehormatan, harta. Aisyah berkisah,“Rasulullah tidak pernah marah karena urusan diri pribadi, kecuali jika batasan syariat Allah dilanggar, maka beliau akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah.”  [HR Bukhari dan Muslim].

Kedua, marah tercela. Inilah kemarahan yang semata termotivasi dorongan nafsu. Kendati tidak dilarang, kemarahan tipologi ini harus dihindari. Islam mengajarkan sikap sabar. Tetapi sabar adalah ketika sesuatu yang menjengkelkan itu terjadi. Kalau kita marah-marah ketika kehilangan barang, kemudian besoknya setelah kemarahan itu hilang, tiba-tiba kita mengaku bersabar, itu namanya bukan sabar. Rasulullah bersabda, “Kesabaran itu pada goncangan pertama.” [HR Bukhari dan Muslim].

Ketiga, marah terlarang. Kemarahan ini umumnya timbul dari sikap pongah, congkak, dan merasa paling hebat dari yang lain. Tidak ada yang dapat dipetik dari kemarahan tipologi ini kecuali penyesalan. Pelakunya biasa disebut sebagai pemarah. Pemarah tidak pernah dapat mengatasi masalah. Yang terjadi justru berkurangnya kawan, merosotnya martabat, puasnya pendengki, dan bergembiranya musuh. Kata Buya Hamka, ujung dari kemarahan ini adalah penyakit tahawur (berani babi) dan jubun (pengecut).

Tapi seiring dengan bertambahnya umur, juga dapatkan pengetahuan dan pemahaman bahwa marah tidak baik buat kesehatan, sekarang mencoba untuk lebih sabar terhadap kondisi yang tidak bisa kita kendalikan sendiri. Intinya mungkin nrimo, tidak banyak menuntut orang lain atau kondisi bergerak seperti apa yang kita inginkan mungkin ya. Tapi bukan berarti jadi apatis, kehilangan ghirah untuk mengubah yang kurang baik menjadi lebih baik.

2. Tekad membara yang membakar kecemburuannya terhadap dirinya? Maksudnya gimana ya?
Jawab 
Afwan, tadi ada pertanyaan tentang kalimat 'Tekad membara yang membakar kecemburuannya terhadap diri sendiri', setelah dibaca lagi mungkin maksudnya begini: seorang manusia yang mengedepankan hawa nafsunya diibaratkan orang yang cemburu pada dirinya sendiri, dan ingin dirinya/nafsunya dikedepankan daripada hal-hal yang lain (Allah, Rasul dan lainnya).

Untuk meredam hal seperti itu perlu adanya tekad yang membara agar dapat menggerakkan dirinya dari kondisi self oriented tsb, yang artinya dia membakar kecemburuan kepada dirinya sendiri agar tidak mengikuti mau nafsunya itu.

3. afwan ustad, bagaimana jika dikondisikan didunia ini tidak ada syaitan, apakah manusia tetap akan melakukan sesuatu yang buruk dengan mengikuti hawa nafsunya? karena terkadang alasan klise jika manusia melakukan sesuatu yang buruk karena pengaruh / bisikan syaitan...
jawab:
Memang sudah fitrah manusia memiliki kecenderungan baik dan buruk. Kalau dia berada di lingkungan yang baik, maka kecenderungan baiknya akan terangkat dan teroptimalisasi. Begitu juga sebaliknya. Setan yang menggoda itu hanya 1 elemen yang mempengaruhi manusia. Saya sendiri percaya bahwa jika tidak ada setan pun tetap ada yang menuruti hawa nafsunya. Buktinya walaupun di bulan Ramadhan Allah membelenggu setan, tetapi tetap saja ada manusia yang bermaksiat mengedepankan hawa nafsunya. Makanya melalui ibadah shaum Allah SWT menghendaki manusia melatih dirinya agar dapat mengendalikan hawa nafsunya. Intinya manusia tetap harus mengendalikan hawa nafsunya dengan salah satunya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, sehingga dapat mengendalikan hawa nafsunya lebih baik. Wallahu a'lam.

4. Ana pernah dapat artikel yang sedikit membuat tanda tanya. Benarkah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selamat dari godaan syaithan?
jawab:
Memang ada hadits yang diriwayatkan Muslim sbb: Ya Rasulullah, apakah ada setan yang selalu mengiriku?’ ”Ya, benar.” jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ’Apakah setiap manusia, ada setan yang mengiringinya?’ Tanya A’isyah lebih lanjut. ”Ya.” Jawab beliau. ’Termasuk anda, ya Rasulullah?’ tanya A’isyah. ”Ya, namun Allah menolongku untuk menaklukkannya, sehingga dia masuk islam.” (HR. Muslim 2815).

Artinya sekelas Rasulullah SAW pun setan tetap berusaha menggoda manusia sesuai dengan sumpahnya sewaktu dikeluarkan dari surga oleh Allah SWT. Tapi khusus untuk Rasulullah SAW, Allah menaklukkan jin/setan yang menggoda beliau sehingga selamat dari godaan setan. Sedangkan kita tetap harus berdoa dan berusaha agar selamat dari godaan setan.

5.Kemalasan baca quran atau kelambatan mendatangi adzan. Apakah bisa jadi karena syetan yang menghalangi? Benarkah tipu daya dan godaan syetan itu sebenarnya lemah?
jawab 
Kemalasan dan kelambatan seperti itu memang bisa jadi dihalang-halangi setan, tapi bisa juga karena kita kurang berazzam (memiliki motivasi yang kuat) untuk menjalankan ibadah-ibadah tersebut karena berbagai hal. Tipu daya setan itu lemah memang disebutkan dalam Al-Qur'an surat An-nisa ayat 76: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangi­lah kawan-kawan setan itu, karena sesung­guhnya tipu daya setan itu lemah.”

6.Bagaimana caranya agar motivasi keinginan yang kuat senantiasa terjaga.. ya tadz? Karena semangat ini kadang melemah
jawab :
Memang setan bisa menggoda kita untuk bermaksiat, tapi dia tidak dapat memaksa manusia untuk mengikuti kehendaknya. Semua kembali kepada manusianya apakah mau menuruti atau melawan tipu daya setan tsb.

Di sisi lain, hubungan dengan Allah SWT harus terus kita jaga sehingga Allah pun akan menjaga semangat kita untuk terus istiqamah dan berazzam yang kuat dalam beriman kpd-Nya. Wallahu a'lam.

Jika sudah ada rencananya, kita jalankan sambil terus mengecek dan mengevaluasi, kemudian melakukan perbaikan-perbaikan secara kontinyu sehingga kondisi kita dinamis dan tidak stagnan yang menimbulkan kebosanan dan dapat mengurangi motivasi kita.

Agar motivasi bisa kuat dan terjaga, pertama kita harus punya visi dan tujuan hidup yang jelas dan kuat. Misalnya, visi hidup untuk mendptkan ridha Allah atau masuk surga, tentunya berbeda dengan visi hidup agar jadi kaya saja. Kemudian setelah kita miliki visi/tujuan tersebut kita perlu rumuskan rencana/strategi untuk mencapainya, dengan prioritas yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita.

305

1. Apakah benar cara mendekatkan diri atau marifatullah dengan menekan hawa nafsu? Adakah komponen hawa nafsu ini yang diperlukan dalam ibadah?
Jawab
Agar manusia mengenal Allah atau ma'rifatullah dia harus mengetahui jalan yang benar menujunya. Islam telah menunjukkan jalan yang benar untuk mengenal Allah menggunakan prinsip keimanan dan akal pemikiran melalui tanda-tanda ayat-ayat qauliyah (Al-Qur'an dan Al-Hadits) dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta).

Walaupun sudah ada jalannya, ternyata ada juga penghalang dalam mengenal Allah yaitu: sombong, zhalim, dusta, fasiq, ingkar, fasad/dengki, lengah, banyak berbuat durhaka, maupun ragu-ragu, yang kalau kita ada yang lahir hawa nafsu manusia. Karena itu, salah satu cara kita mengenal Allah dan meningkatkan keimanan kita kepada-Nya adalah dengan mengendalikan hawa nafsu agar jangan sampai membuat kita terhalang dari ma'rifatullah.



Hanya saja mungkin ada pemahaman berbeda mengenai tingkat pengendalian hawa nafsu ini, orang-orang sufi mgkn menganggap untuk itu manusia harus melepaskan diri dari seluruh hal yang duniawi, tapi ada juga yang menganggap tidak perlu sampai seperti itu. Kita sendiri saya kira perlu berma'rifatullah dengan cara-cara yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita dan dengan cara yang diajarkan Islam secara proporsional. Wallahu a'lam

Baiklah kita tutup dengan Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”.   

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment