Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , » PENILAIAN NIAT DAN AMALAN SEORANG MUSLIM

PENILAIAN NIAT DAN AMALAN SEORANG MUSLIM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, March 6, 2015


Kajian Online Telegram Akhwat Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Jum'at, 06 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بسم الله الرحمن الرحيم

Mari kita mengetahui, bagaimana cara Penilaian Niat dan Amalan Seorang Muslim

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (6491) dan Imam Muslim (131) dari Abdullah bin Abbas radhiallahu, bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari اللّهُ  tabaraka wa ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya اللّهُ  telah mencatat kebaikan dan kejelekan kemudian menerangkannya. Barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan namun dia tidak melakukannya, maka اللّهُ  menuliskan baginya di sisi-Nya satu (pahala) kebaikan yang sempurna. Jika dia bertekad melakukan suatu kebaikan lalu dia melakukannya, maka اللّهُ  menuliskan baginya di sisi-Nya sepuluh (pahala) kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga lipatan yang banyak. Barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kejelekan namun dia tidak melakukannya, maka اللّهُ  menuliskan baginya di sisi-Nya satu (pahala) kebaikan yang sempurna. Jika dia bertekad melakukan suatu kejelekan lalu dia melakukannya, maka اللّهُ  menuliskan baginya satu (dosa) kejelekan.”


Di dalam hadits ini diterangkan bagaimana cara اللّهُ  menilai dan mencatat niat dan amalan yang dilakukan oleh setiap hamba. Berikut ini adalah perinciannya:

1. Jika melakukan kebaikan, dia mendapatkan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.

Setiap muslim yang melakukan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala dimulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Bahkan اللّهُ  terkadang menambah lebih dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.

Pemberian pahala sebanyak sepuluh kali lipat bagi seorang muslim yang berbuat kebaikan adalah suatu kepastian berdasarkan firman اللّهُ  ta’ala:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa yang membawa suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan (pahala) sepuluh kali lipatnya.” [QS Al An’am: 160]

Adapun pemberian pahala lebih dari sepuluh, maka ini merupakan hak khusus اللّهُ  yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dalilnya adalah firman اللّهُ  ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan اللّهُ  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah itu Wasi’ (Maha Luas karunia-Nya) lagi ‘Alim (Maha mengetahui).” [QS Al Baqarah: 261]

2.  Jika melakukan kejelekan, dia mendapatkan satu dosa.
Setiap muslim yang melakukan suatu kejelekan, maka dia akan mendapatkan satu dosa. Dalilnya adalah firman اللّهُ  ta’ala:

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa yang membawa perbuatan jelek, maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan sesuai dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [QS Al An’am: 160]

3. Jika bertekad melakukan kebaikan tapi tidak jadi dilakukan, dia mendapat satu pahala sempurna.

Setiap muslim yang bertekad untuk untuk melakukan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan satu pahala sempurna meskipun dia tidak jadi melakukannya. Dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda` radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda:

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِى أَنْ يَقُومَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ

“Barangsiapa yang mendatangi tempat tidurnya dan dia berniat bangun untuk melaksanakan shalat di malam hari lalu dia tertidur sampai Subuh, maka akan dituliskan baginya pahala apa yang telah dia niatkan, dan tidurnya itu merupakan sedekah untuknya dari Rabbnya.” [HR Ibnu Majah (1344) dan Al Baihaqi (4911). Hadits shahih.]


4. Jika bertekad melakukan kejelekan tapi tidak jadi dilakukan, dia mendapat satu pahala sempurna.

Hal ini berlaku dengan syarat apabila dia meninggalkan perbuatan jelek tersebut karena semata-mata mengharapkan ridha اللّهُ  ta’ala dan takut kepada-Nya. Adapun jika dia meninggalkan kejelekan tersebut karena takut kepada seseorang, mengharapkan pujian dari orang, ataupun karena terpaksa oleh situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, maka dia tetap mendapatkan dosa.

Dalilnya adalah hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasul ﷺ  bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka si pembunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk ke dalam neraka..” Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, si pembunuh ini (pantas masuk ke neraka), lantas kenapa pula orang yang terbunuh (juga masuk neraka)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya dia (yang terbunuh) telah bertekad untuk membunuh temannya (si pembunuh).” [HR Al Bukhari (31) dan Muslim (2888)]

Di dalam hadits di atas diterangkan bahwa orang yang terbunuh itu juga dihukum di neraka karena sebelum terbunuh dia sudah bertekad untuk membunuh si pembunuh, hanya saja dia tidak berhasil melakukan karena sudah lebih dahulu terbunuh.

Demikianlah cara-cara pencatatan niat dan amalan yang dilakukan oleh seorang muslim sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu di atas.

PERHATIAN YAA...!!!!
1. Ada suatu hal yang berkaitan dengan masalah ini yang harus diketahui, yaitu meskipun satu kejelekan hanya dibalas dengan satu dosa sebagaimana yang disebutkan di nomor dua, akan tetapi dosa itu dapat menjadi besar jika dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, atau oleh pelaku tertentu.

Contohnya adalah melakukan perbuatan dosa pada bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulhijjah, dan Dzulqa’dah) dosanya lebih besar daripada melakukannya pada selain bulan haram. Sebaliknya, melakukan kebaikan pada bulan-bulan haram, maka pahala yang didapatkan juga lebih besar daripada selain bulan haram. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi اللّهُ  adalah dua belas bulan, dalam ketetapan اللّهُ  di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian (dengan berbuat dosa) dalam bulan yang empat itu.” [QS At Taubah: 36]

Contohnya lainnya adalah melakukan perbuatan dosa pada daerah haram (Mekkah dan Madinah) dosanya lebih besar daripada melakukannya pada selain daerah haram. Dalilnya adalah firman اللّهُ  ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Barangsiapa yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya (negeri Mekkah), niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS Al Hajj: 25]

Contoh perbuatan jelek akan menjadi lebih besar dosanya jika dilakukan oleh orang atau kalangan tertentu adalah firman اللّهُ  ta’ala:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

“Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antara kalian yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Demikian itu adalah mudah bagi اللّهُ . Barangsiapa di antara kalian sekalian tetap taat kepada اللّهُ  dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” [QS Al Ahzab: 30-31]

Ayat di atas juga menerangkan bahwa jika para istri Nabi ﷺ  melakukan perkara kebaikan maka mereka akan mendapat pahala yang lebih besar dibandingkan dengan orang-orang selain mereka.

2. Orang kafir yang memiliki niat baik ataupun melakukan suatu perbuatan baik tidak mendapatkan pahala apapun jika dia tetap berada di dalam kekafirannya sampai dia meninggal. Dalilnya adalah firman اللّهُ  ta’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [QS Al Furqan: 23]

Di dalam ayat yang lain اللّهُ  berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan اللّهُ , niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS Al An’am: 88]

والحمد لله رب العالمين


Sumber →  Disadur dengan perubahan seperlunya dari kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam karya Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah.

TANYA JAWAB

1. Pak  apakah  kafir yang di Maksud di atas, kafir yang mensekutukan Allah atau kafir  karena  tidak menjalankan peritah agama? Kan  banyak  yang mengku islam tapi ga sholat ga puasa itu juga di sebut kafir, benarkah pak?
Jawab
Kafir yang diluar dari Islam yaaa. Orang Islam sendiri jangan langsung kita cap kafir jika belum terlihat dengan jelas

2. Pak dody, apa hukumnya kirim al fatihah buat yang sudah meninggal?
Jawab
Anak yang solehah. Berbuat amalan apa saja maka akan mengalir pahala ke orang tuanya. Dia sholat, ayahnda dapat, dia puasa ayahnda dapat dstnya. Jadi bukan main kirim kiriman yaaakk. Disana ngga ada wifi soalnya

>Soalnya waktu yang ceramah akri dibilang masa kaga kirim al fatihah ntar loe ngerasain mati kesepian kaga ada yang kirim. Saya pernah  baca pahala  besar jika kita kirim Alfatihah setiap pagi dan petang
Jawab
Coba ditest yaaa. Apa saja 3 hal yang membuat pahala tetap mengalir kepada sang mayit?

Tanggapan Member
>Amal jariyah, Anak sholeh dan ilmu yang diamalkan

>Anak yang sholeh yang mendoakan, ilmu yang manfaat, amal jariyah

Ustadz
Naaah ntuh pada jagoooo
Jadi kategori Teh Mae yang mana? Yang anak sholeh.aamiin. 

>Berarti semua amalan yang kita tujukan ke orang yang meninggal ndak ada gunanya donk pak, misal kita sedekah terus pahalanya buat yang sudah meninggal.

Jawab
Orang tua bukan? Kalau bukan orang tua ya ngga sampeee

3. Kalo ba'dal haji gimana pak ustadz nyampe ga tuh?

Jawab
Kalau sudah dijanjikan. Boleh saja. Dengan syarat anaknya sudah haji lohhh. Kalau belum anaknya dulu yang haji

4. Kalo anak dari hasil zina ust, nasabnya ke ibu kan? Jadi doanya hanya sampe ke ibu dong ke bapaknya gak?
Jawab
Benaaarrrrrrr. Kerugian Bapaknya tidak mendapatkan anak tersebut apalagi dia solehah

>Berati anak zina amal seutuhnya milik ibu saja ya tad?
Jawab
Betul untuk anak zina

>Afwan tad itu maksudnya anak hasil zina jika bapaknya tidak bertanggung jawab menikahi ibunya terus jika hasil zinanya tapi bapaknya mau menikahi ibunya apa sama hukumnya tad?
Jawab
Sama hukumnya yaa

>Ibunya juga kan zina ust tapi kenapa yang mendapat hukuman cuma bapaknya saja?
Jawab
Kan nasab didalam islam adalah ke ayahnya. Bukan ke ibunya. Dan Islam dalam hal ini cukup adil. Yang susah payah mengandung adalah Ibunya. Jika anak itu menjadi sangat sollleeehhhh dan kaya raya. Maka keuntungan buat si Ibunya.

>Dosa zina ibunya terhapuskan dengan mengandung anaknya ust?

Jawab 
Dosanya mah teteeeeuuupp

5. Afwan   ada titipn  nih. Bagaimana kalo ada kabar keluarga yang meninggal tapi  bukan muslim. Mereka  minta keluarga kami termasuk  saya kesana. Yang meninggal kakak papa saya dan dari keluarga papa saya semua  masih non Muslim. Boleh  kami kesana??

Jawab
Boleeehhh. Asal jangan ikut ritual ibadahnya yaaa. Jangan makan disana yaa. Di Islam saja kita dilarang makan dan minum di keluarga yang sedang berduka. Apalagi di noni

6. Ustad saya pernah denger kalo dosa itu gak da pembagiannya seperti yang sering di dengar ada dosa kecil dan besar, bner gak si tad?
Jawab
Salah donk. Ada dosa kecil dan ada dosa besar. Yang bilang tidak ada pembagian. Jika dosa kecil dilakukan terus menerus ya jadi dosa besar akhirnya. Kalau nda ada penggolongan dosa semuanya dianggap sama. Maka semua orang mau mabuk mabukan dong, mau zina juga dong, mau main judi juga dong. Sama kok nilai dosanya dengan dosa yang kecil kecil

Tak tutup yaa
Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru