Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 3 : FAEDAH HADIST

SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 3 : FAEDAH HADIST

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, March 27, 2015

Indahnya Matahari di waktu pagi 


Sinarnya terang menyengat sekali
Memulai amalan dengan dzikir pagi
Menumbuhkan semangat berlipat kali


Mengayuh biduk lampaui pulau


Menyebrangi samudra dan lautan

Hadapi hidup tanpa rasa galau 
Bila ingat luasnya rahmat ar-Rahman.
Jumat 28 maret 15.


REVIEW HADIST
Kesucian Air laut

1. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ. 

1. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   tentang (hukum) air laut: “Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.” 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziy, Nasaa-i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafazhnya, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidziy dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i, dan Ahmad.

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ. 

“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.” 

In sya Allah mulai dulu dengan dzikir pagi


selesaikan dahulu kita masuk dalam penjelasan faedah yang dapat diambil dari hadits pertama ini.


Pelajaran yang dapat diambil dari Hadits:

1.    Kedudukan hadits ini disampaikan Imam Syafi’i dengan ungkapan: Hadits ini separuh ilmu thaharah. (dinukil al-Hafizh dalam Talkhish al-Habir 1/24). Hal ini – Wallahu a’lam- karena thaharoh (bersuci) ada dua jenis; dengan air dan dengan debu. Hadits ini menjelaskan bersuci dengan air. Atau juga karena bersuci kadang didaratan dan kadang dilautan dan hadits ini menjelaskan bersuci dilautan.  Tidak diragukan lagi, hadits ini adalah hadits yang agung yang berisi kaedah dalam bersuci. Juga ibnu al-Mulaqqin menyatakan: Hadits ini hadits yang agung dan salah satu pokok thaharah berisi banyak sekali hukum dan kaedah penting.

2. Bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui sesuatu masalah agama, sebagai bentuk mengamalkan perintah Allah Ta’ala di dalam Al Quran: 


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ




“Betanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu.( QS an_nahl 43).

Syeikh Prof.DR. Shalaih bin Abdillah alifauzan -hafizhahullah- berkata: Hadits ini berisi kewajiban merujuk kepada ulama ketika ada masalah; karena sahabat tersebut ketika ada masalah pada bewudhu dengan air laut bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ( 1/22) 

3. Semangat sahabat dalam mencari dan menerima ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini nampak dari sebab adanya hadits ini berupa pertanyaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

4.  Bertanya merupakan satu cara mendapatkan ilmu yang sangat penting.

5.  Diambil dari hadits satu cara bertanya yang menunjukkan kepandaian dan kecerdasan penanya sehingga menghasilkan faedah penting yang digunakan manusia hingga akhir zaman nanti. Cara tersebut adalah memulai pertanyaan dengan menyampaikan penjelasan keadaan yaitu mengarungi lautan dengan perahu dan hanya membawa air yang sedikit. Apabila digunakan untuk wudhu maka akan menimbulkan kehausan.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan kasus nyata yang real dialami. Kemudian menjelaskan semua yang berhubungan langsung dengan pertanyaan yang dikhawatirkan mempengaruhi hukum dengan menyatakan: Apakah boleh berwudhu dengan air laut? 

6. Bolehnya seorang menjawab pertanyaan melebihi dari yang ditanyakan, apabila penanya membutuhkannya. Sebab dalam hadits ini, orang yang naik perahu butuh mengenal hukum bangkai hewan laut. Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memberikan fatwa ini karena mereka butuhkan dan mungkin juga selain mereka membutuhkannya. Oleh karena itu seorang mufti bila melihat kebutuhan penanya tentang sesuatu yang belum ditanyakan, maka disyariatkan untuk menambah melebihi pertanyaan. Apabila tidak maka jawaban hendaknya sesuai dengan pertanyaan saja. Oleh karena itu imam al-Bukhori menulis dalam Shahih al-Bukhori: Bab Man Ajaaba as-Saaila Biaktsara mima Sa’alahu (Bab yang menjelaskan bolehnya orang menjawab penanya lebih banyak dari yang ditanyakan). (Shahih al-Bukhori 1/42).

Imam ibnu al-Qayyim -rahimahullah- dalam I’laam al-Muwaqqi’in (4/156-159) menyatakan: diperbolehkan mufti (orang yang berfatwa) untuk menjawab pertanyaan penanya melebihi dari pertanyaannya dan ini termasuk kesempurnaan nasehat, ilmu dan bimbingannya. Siapa yang mencelanya maka itu karena dangkalnya ilmu, sempit dada dan lemahnya sifat nasehat.


Syeikh al-Basaam -rahimahullah- menyatakan: Pentingnya menambah keterangan dalam fatwa atas satu pertanyaan. Hal itu apabila mufti menganggap penanya tidak mengerti hukum tersebut atau ia tertimpa masalah tersebut. Sebagaimana dalam bangkai hewan laut pada orang yang menyeberangi lautan. Ibnul Arabi menyatakan: Itu termasuk nilai-nilai positif fatwa dengan menjawab melebihi pertanyaan untuk menyempurnakan faedahnya dan menyampaikan ilmu yang tidak ditanyakan. Ini akan sangat penting apabila nampak kebutuhan terhadap hukum tersebut. (taudhih al-Ahkaam 1/117).

Para ulama memberikan penjelasan mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menambah jawaban melebihi yang ditanya, karena beberapa faedah di antaranya:

a. Kebutuhan orang tersebut kepada bangkai hewan laut. Karena dia berlayar di lautan dan kadang butuh untuk makan hewan laut seperti ikan. Padahal umumnya hewan laut bila dibawa keperahu akan mati menjadi bangkai. 

b. Diperkirakan dengan hipotesa kuat bahwa penanya tidak tahu hukum bangkai hewan laut, karena kalau tidak tahu hukum kesucian air laut, maka lebih-lebih lagi hukum bangkai hewannya ditambah lagi kaedah yang sudah diketahui semua orang bahwa pada asalnya bangkai itu haram dimakan. 


7. Jawaban “Suci airnya” termasuk jawaami’ al-Kalim, sebab sangat mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan: “Ya” saja, namun beliau tidak menjawab dengan ringkas karena beberapa sebab:


a. Agar tidak terfahami bahwa kebolehan berwudhu dengan air laut hanya dalam keadaan darurat saja, seperti keadaan yang diceritakan penanya.


b. Agar tidak terfahami bolehnya berwudhu dengan air laut saja dan tidak boleh digunakan selainnya.

c. Untuk menjelaskan hukum dengan sebab hukumnya yaitu kesucian air laut. Dengan demikian jelaslah bahwa semua air yang suci mensucikan (thahur) boleh digunakan untuk bersuci.

8.  Ilmu terlebih dahulu sebelum beramal.

9. Hadits ini menunjukkan kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam ilmu, sebagaimana beliau dermawan dalam harta, kedudukan dan jiwanya. 

10. Boleh berlayar mengarungi lautan untuk berdagang atau tujuan mubah meskipun bukan untuk berjihad.

11. Membawa bekal ketika shafar menyalahi perbuatan kaum shufi.

12. Kewajiban memelihara dan menjaga diri dari kebinasaan seperti kelaparan dan kehausan.

13. Dari kaedah ushul: “Menolak kerusakan didahulukan dari mengambil manfaat.”

14. Bahwa syari’at Islam itu sangat mudah bagi mereka yang faham dan ikhlas.

15. Bahwa seseorang tidak dibebani kecuali semampunya.

16. Bahwa syari’at Islam selalu memberikan jalan keluar bagi segala kesulitan.

17. Air laut itu suci dan mensucikan. Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyatakan: Air lau suci mensucikan seluruhnya tanpa pengecualian. (fathuljalal walikram 1/60)

18. Bangkai hewan atau binatang laut halal dimakan mencakup semua hewan yang hidup diair dan bukan hewan darat yang mati di air. 

19. Bangkai binatang laut itu halal dan suci, sebab dalam kaedah dikatakan: Semua yang halal itu suci dan tidak semua yang suci itu halal. Setiap najis itu haram dan tidak semua yang haram itu najis. (Fathuljalal walikram 1/60).

20. Bolehnya berwudlu dengan air yang telah bercampur dengan sesuatu sehingga berubah rasanya, atau baunya atau warnanya selama tidak kemasukan najis, dan selama penamaannya tetap air, bukan yang telah berubah menjadi air teh atau kopi, dan lain-lain.

21. Islam mengatur hidup dan kehidupan manusia, dunia mereka dan akhirat mereka.      

22. Air laut suci mensucikan tidak keluar dari hukum ini sama sekali. Oleh karenanya diperbolehkan bersuci dengan air laut dari hadat kecil atau besar serta najis. 

23. Penjelasan hukum bangkai hewan laut yang tidak hidup kecuali diair.

24. Pengertian hadits ini menunjukkan pengharaman bangkai hewan darat.

25. Kewajiban merujuk kepada ulama ketika ada masalah, karena sahabat ini merujuk 
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  ketika mendapatkan masalah dalam bersuci dengan air laut.

26. Para sahabat tidak bersuci dengan air laut, karena asin bergaram dan baunya amis. Air yang demikian adanya tidak diminum sehingga para sahabat menganggap yang tidak diminum tidak bisa digunakan untuk bersuci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam    tidak menjawab hanya dengan kata “iya” ketika mereka bertanya: “Apakah kami boleh berwudhu dengannya?”, agar kebolehan berwudhu dengannya itu terfahami tidak terikat dengan keadaan darurat semata bahkan utntuk semua keadaan. Juga agar tidak difahami kebolehan tersebut hanya untuk berwudhu semata, namun boleh untuk menghilangkan hadat besar dan mensucikan najis.

Semoga bermanfaat. pekan depan in sya ALlah tentang masalah fikih yang dapat diambil dari hadits ini.

TANYA JAWAB


1.  Ustad  adakah perbedaan dalam berwudhu jika menggunakan gayung atau kran? Khusus  nya buat membasuh tangan dan kaki?
Jawab
Tidak ada bedanya pakai kran atau gayung. Air tidak berubah hukumnya selama tidak tercampur najis dan mengalami perubahan sifat baik bau atau rasa atau warna.

Doa Kafaratul Majelis :



سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat
------------------------------------
Hari / Tanggal : Jum’at, 27 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta



Kajian Online Telegram Hamba اَللّٰه Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment