Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , » SIKAP TERHADAP ORANG TUA YANG MELAKUKAN KEMAKSIATAN ATAU BID'AH

SIKAP TERHADAP ORANG TUA YANG MELAKUKAN KEMAKSIATAN ATAU BID'AH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, March 20, 2015

Kajian Online Telegram Akhwat Hamba اَللّٰه Ta'ala

Hari / Tanggal : Jum'at, 20 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Tema : Birul walidain
Notulen : Ana Trienta

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya poting dulu materinya yaa
Intinya bagaimana kita bersikap sebagai anak jika kita melihat orang tua melakukan kemaksiatan atau beribadah yang non nyunnah.

بسم الله الرحمن الرحيم

Kadang kala kan orang tua berbuat maksiat atau melakukan ibadah yang nda nyunnah. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai anak....?

Terkadang seorang anak harus menghadapi orang tua yang belum mengerti tentang ajaran Islam. Sebagai akibatnya, ia menyaksikan orang yang sangat ia cintai dan hormati melakukan perbuatan maksiat atau menghalang-halangi si anak dari perbuatan amal shaleh.
Ruang Lingkup Pengertian Berbakti Kepada Orang Tua ialah mencurahkan seluruh jenis kebaikan bagi mereka. Syaikh al-'Utsaimîn rahimahullah memaparkannya dalam bentuk-bentuk berikut ini:

1. Berbakti kepada orang tua dalam bentuk ucapan. اللّهُ  Azza wa Jalla berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah" dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [al-Isrâ`/17:23]

Ini perlakuan saat orang tua telah berusia udzur. Biasanya ketika telah memasuki usia senja (pikun), tindak-tanduk orang tua tampak tidak normal di hadapan orang lain. Walaupun demikian, اللّهُ  Azza wa Jalla memerintahkan: (maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah"), maksudnya jangan berbuat seperti itu kepada mereka disebabkan kegusaran atas tindak-tanduk mereka (dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia).

2. Bakti kepada orang tua juga dalam bentuk perbuatan, yaitu dengan cara seorang anak menghinakan diri di hadapan orang tuanya, dan tunduk patuh kepada mereka dengan cara-cara yang dibenarkan syariat dalam rangka menghormati kedudukan mereka. اللّهُ  Azza wa Jalla berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". [al-Isrâ`/17:24]

3. Berbakti juga dapat dilakukan dengan pemberian materi kepada orang tua. Orang tua berhak memperoleh infak dari anaknya. Bahkan ini termasuk bentuk infak yang agung. Sebab Rasulullah ﷺ  bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ ِلأََبِيْكَ

Engkau dan kekayaanmu adalah milik bapakmu [HR. Abu Dâwud no. 3530, Ibnu Mâjah no. 2292]

4. Bentuk bakti kepada orang tua yang lain, dengan melayani mereka dalam menyelesaikan atau membantu urusan maupun pekerjaan mereka. Namun bila meminta tolong dalam perkara yang diharamkan, saat itu tidak boleh bagi anak untuk menyambut permintaan mereka. Justru, penolakannya menjadi cermin bakti anak kepada orang tua, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ  :

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

Tolonglah saudaramu saat berbuat zhalim atau teraniaya. Rasulullah ﷺ  ditanya: "Wahai Rasulullah, kalau menolong orang yang teraniaya kami sudah mengerti, bagaimana dengan menolong saudara yang berbuat zhalim?". Beliau menjawab: "Dengan menghalang-halanginya berbuat zhalim". [HR. al-Bukhâri, Muslim dan Ahmad]

Misalnya, orang tua memerintahkan membeli sesuatu yang diharamkan, kemudian si anak menolaknya. Anak ini tidak disebut sebagai anak durhaka, akan tetapi merupakan putra yang berbakti kepada orang tuanya, karena telah menahan orang tuanya dari berbuat yang haram.

Teladan Yang Baik Dari Nabi Ibrahim Alaihissallam

Allah Azza wa Jalla sudah menyatakan bahwa Nabi Ibrahim Alaihissallam merupakan qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi umat manusia. Salah satunya, dalam kegelisahan beliau yang sangat dalam karena sang bapak Azar , masih bergelut dengan penyembahan berhala dan patung-patung. Tiada kata putus asa bagi Nabi Ibrahim Alaihissallam. Al-Qur`ân telah menceritakan di beberapa surat bagaimana besarnya sopan-santun dan kegigihan beliau mendakwahi orang tua. Yang menarik dan mesti ditiru oleh anak-anak saat menghadapi perbuatan maksiat orang tua mereka adalah tauladan dari Nabi Ibrahim Alaihissallam selalu menghiasi diri dengan sifat al-hilm (bijak dan penuh kelembutan) seperti tertera dalam surat at-Taubah (9:114).

Dimana اللّهُ  Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Beliau mempunyai kasih-sayang terhadap sesama, dan memaafkan perlakuan-perlakuan tidak baik kepadanya yang muncul dari orang-orang lain. Sikap tidak sopan orang lain tidak membuat beliau antipati, tidak menyikapi orang jahat dengan tindakan serupa. Dalam hal ini, sang bapak telah mengancam dengan berkata kepadanya: "Bencikah kamu kepada ilâh-ilâhku, hai Ibrâhîm. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama". Namun Nabi Ibrahim Alaihissallam menyikapinya dengan berkata: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku". [Maryam/19:46-47]".

Syaikh as-Sa'di rahimahullah berkata: Ibrâhîm al-Khalîl Alaihissallam menjawabnya (ancaman si ayah) dengan jawaban yang biasa disampaikan oleh hamba-hamba اللّهُ  Azza wa Jalla (’Ibadurrahman) saat berbicara dengan orang-orang jahilin (orang-orang yang tak berilmu/awam). Beliau tidak mencela sang bapak sedikit pun. Namun tetap bersabar dan tidak membalas (ancaman) bapaknya dengan hal-hal yang tidak baik. Inilah yang beliau ucapkan "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu" yang mengandung pengertian ‘Wahai ayah, engkau tidak akan menghadapi cemoohan, celaan dan perlakuan yang buruk dariku saat aku berbicara denganmu. Justru aku akan senantiasa berdoa kepada اللّهُ  Azza wa Jalla agar memberikan hidayah dan ampunan bagimu.

Bercermin Pada Petunjuk Ulama

Bagaimanapun ketika orang tua berbuat pelanggaran syariat, anak tidak boleh berdiam diri. Ia berkewajiban merubahnya, supaya orang yang ia kasihi tersebut tidak terjerumus dalam kenistaan di jurang maksiat kepada اللّهُ  Azza wa Jalla , namun tidak boleh menempuh cara-cara yang justru langsung memutus tali silaturahmi dengan mereka .

Berikut ini di kutip beberapa keterangan Ulama yang berbicara bagaimana menyikapi orang tua yang berbuat maksiat. Dengan harapan, kita sekalian dapat mengambil langkah yang tepat saat menghadapi persoalan-persoalan serupa:

1. Bapakku Melakukan Pelanggaran Syariat

Syaikh 'Abdul 'Azîz bin Bâz rahimahullah berikut ini menjawab kegamangan seorang anak atas tindakan maksiat yang ia lihat pada bapaknya. Beliau berkata: 

"Semoga اللّهُ  Azza wa Jalla memberi hidayah dan kemauan bertaubat bagi bapakmu. Kami berpesan agar engkau tetap berlaku lembut kepadanya dan menasehatinya dengan cara halus, tidak pernah putus asa dalam rangka menunjukkannya kepada hidayah. اللّهُ  Azza wa Jalla berfirman :
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." [Luqmân/31:14-15]
(Pada ayat di atas) اللّهُ  Azza wa Jalla berwasiat supaya mensyukuri kedua orang tua. Perintah ini ternyata dipadukan dengan perintah bersyukur kepada-Nya. Ayat itu juga memerintahkan anak agar mempergauli mereka di dunia ini dengan cara-cara yang baik, kendatipun mereka memaksa berbuat kufur. Melalui ayat di atas, engkau tahu bahwa sikap yang diperintahkan syariat dalam kondisi ini (memaksa anak berbuat kufur) adalah agar seorang anak tetap menjalin hubungan dengan orang tua dengan cara-cara yang baik, berbuat baik kepada mereka meski mereka berbuat jelek kepadanya, serta gigih mengajak mereka kepada kebenaran. Semoga اللّهُ  Azza wa Jalla memberi hidayah baginya melalui tanganmu. Engkau tidak boleh menaatinya dalam kemaksiatan.

Setelah memohon pertolongan kepada اللّهُ  Azza wa Jalla , supaya engkau juga meminta bantuan orang-orang shaleh dari kalangan kerabatmu dan paman-pamanmu dan pihak lainnya, yaitu orang-orang yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh bapakmu. Mungkin saja, beliau akan lebih mudah menerima nasehat mereka….”.

2. Ibuku Melarangku Mengenakan Hijab (cadar). Seorang Muslimah mengadukan ibunya yang melarang dirinya mengenakan cadar kepada Syaikh Bin Baz rahimahullah. Sebaliknya, justru memerintahkan anak untuk menikmati bioskop dan video. Alasan si ibu, agar rambut putrinya tidak cepat memutih. Demikian pernyataan sang ibu kepada anak perempuannya.
Menanggapi persoalan ini, Syaikh Bin Bâz rahimahullah menjawab: 
Kamu berkewajiban bersikap lembut dengan ibu dan tetap berbuat baik kepada beliau, serta berbicara dengan cara yang terbaik. Sebab, hak ibu sangat besar. Akan tetapi, engkau tidak boleh taat kepadanya dalam perkara-perkara yang tidak baik, berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ  :
“Ketaatan (kepada makhluk) hanya pada perkara-perkara baik saja”
Begitu pula, ayah dan suami, tidak wajib ditaati dalam maksiat kepada اللّهُ  Azza wa Jalla . Akan tetapi, seyogyanya istri atau anak dan lainnya bersikap lembut dan menempuh cara yang baik dalam menyelesaikan masalah. Yaitu dengan menjelaskan dalil-dalil syar'i, wajibnya taat kepada اللّهُ  Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ  , dan kewajiban menghindari maksiat kepada اللّهُ  Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ, dengan tetap teguh berpegangan al-haq dan menampik perintah orang yang menyuruh melanggar al-haq, baik itu suami, ayah, ibu atau lainnya. Sebenarnya tidak masalah menonton acara TV dan video yang tidak mengandung kemungkaran, atau mendengarkan acara-acara ilmiah dan kajian-kajian yang bermanfaat. Yang harus dihindari ialah acara yang mengandung kemungkaran. Menonton film-film pun tidak boleh karena mengandung banyak kebatilan.

3. Ibuku Marah Ketika Aku Ingatkan Dari Kesalahan

Seorang anak menyaksikan ibunya tidak istiqamah. Setiap kali menasehati, kemarahanlah yang muncul dari beliau. Akibatnya selama beberapa hari si ibu enggan berbicara dengan anaknya. Lantas persoalan yang ditanyakan adalah cara menasehati ibu, tanpa menimbulkan amarahnya dan kemurkaan اللّهُ  Azza wa Jalla . Sebab, ternyata sang ibu saking marahnya sempat mendoakan kejelekan bagi putri yang menasehatinya. Apakah dibenarkan ia membiarkan ibunya dalam keadaan demikian, hingga tetap disayang oleh ibu.

Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdur Rahmân al-Jibrîn hafizhahullâh menjawab kegundahan di atas dengan berkata: “Engkau tetap menasehati ibumu terus-menerus, dan menjelaskan dosa dan bahaya akibat perbuatannya. Jika tidak berpengaruh baik, cobalah sampaikan kepada suaminya (bapakmu atau lelaki yang menjadi suaminya karena sudah cerai dari ayah), orang tua ibu atau walinya, agar mereka inilah yang menasehati beliau. Jika perbuatan beliau termasuk dosa besar, tidak mengapa bila engkau menghajr (tidak mengajak bicara) beliau. Sehubungan dengan doa buruk atau komentar miring terhadapmu anak yang durhaka atau memutuskan tali silaturahmi maka hal itu tidak membahayakanmu. Sebab engkau melakukannya (menasehati ibu) karena dorongan rasa tidak suka bila hukum اللّهُ  Azza wa Jalla dilanggar. Namun apabila kesalahan beliau termasuk dosa kecil, engkau tidak boleh melakukan muqâtha’ah (mendiamkan beliau)”

Kesimpulan Dari Fatwa-Fatwa Diatas: 

Beberapa fatwa Ulama di atas telah memberikan petunjuk bagi siapa saja yang ingin menasehati orang tuanya yang berbuat kesalahan. Dari fatwa-fatwa itu, dapat disimpulkan bahwa:

1. Menasehati orang tua harus dengan lemah-lembut.

2. Terkadang diperlukan pihak lain untuk melakukan nahi mungkar.

3. Melarang orang tua dari perbuatan haram atau menolak perintah orang tua yang memerintahkan berbuat haram termasuk bakti kepada orang tua.

4. Tidak boleh putus asa dalam rangka meluruskan orang tua menuju hidayah.

5. Bila diperlukan, tidak mengajak bicara dengan orang tua termasuk langkah untuk menyadarkan orang tua yang berbuat salah .

Semoga اللّهُ  Azza wa Jalla memberikan karunia hidayah dan taufik bagi setiap keluarga Muslim dalam menjalankan aturan اللّهُ  Azza wa Jalla di tengah keluarga. Amin.
والله أعلم بالصواب

TANYA JAWAB

1. Keadaan  yang sulit buat seorang  anak, saat anak sahabat saya di masukan ke pesantren terapi ibunya bergelumung dengan duniawi, kemaksiatan sesekali saya sempat menyinggung kapan bertaubat tetapi dia bilang susah kata nya dan saya juga minta anak nya untuk  menasehati ibu nya tapi anak nya pun bilang sudah ga sanggup. Bagaimana jalan yang terbaik nya pak, agar bisa membuka pintu hati seorang  ibu?
Jawab
Berdoa kepada اللّهُ ﷻ agar dilunakkan hatinya dan terus saja menasehatinya. 

2. Aku mau tanya kalau kita nasehatin orang tuanya dengan baik-baik tapi beliaunya sakit hati sama kita terus dia ngaku mau nanya kita apakah kita jadi dosa ustad?
Jawab
Tidak berdosa. Jangan ikut-ikutan marah yaa. Tetep saja nasehati dengan cara yang bijak.

3. Ustad, jika ibu  kita  bicara nya keras dan selalu marah-marah yang memancing emosi anak bagaimana menyikapi nya? Karena  bila di jawab berarti melawan tapi kalau tidak di jawab tidak berhenti marah nya, bagaimana ustad yang seharusnya saya lakukan?
Jawab
Pada saat marah kita diam saja ya. Dalam hati saja berdoa. Sampaikan maksud saat Ibunda kita berada dalam kondisi senang. Misal saat gajian dari ayah 😁

4. Ana juga mau tanya ustdz, bagaimana jika yang dinasehati itu adalah mertua kita, jika dinasehati untuk shalat beliau   memberi alasan karena kondisinya yang sakit, apakah dosa jika kita membiarkannya demikian ustadz? karena sudah beberapa kali dinasehati ujungnya tidak menerima nasehat kita
Jawab
Terus saja jangan bosaannn. Batu saja bolong dengan titisan air yang konsisten dan terus menerus.

5. Saya pernah baca. Apabila orang tua kita sudah tua renta dan masih dalam kelalaiannya apakah kita sebagai anaknya yang (sudah tau ilmu agama) akan sia sia (dalam kerugian).
Jawab
Tidakk. Justru kalau kita sayang sama Beliau. Dampingi terus, nasehati terus dan sayangi terus.
6. Mau tanya ustadz. Bagaimana menjaga  ucapan bila menginggatkan orang tua yang kalau di bilang pikun nggak tapi masih dapat mendengarkan apa yang kita bicarakan masih dapat melihat dengan baik. Cuma kalau di ingatkan cuma tertawa atau cuma menangis.
Jawab
Ajak ketawa juga sambil langsung ajak beribadah yaa. Siklus mereka sudah kembali seperti anak kecil. Harus dituntun kembali.

7. Gimana ya cara bicara sama orang tua yang pendengarannya dah berkurang kalo teriak-teriak dosa ndak yah?
Jawab
Karena ada alasan diatas maka tidak akan berdosa. Justru kalau suara pelan, khawatir orang tua malah beranggapan kita tidak mendengar perintahnya.

>Padahal bapak saya sayang banget kata mamah sama saya. Kami suka beda pendapat saya ngambek tidur di ubin
Jawab
ini niiih... Jada sarang penyakit suka tidur diubin. Lemaknya jadi dingin dan nempel, nda bisa diolah. Makanya jangan tidur diubin. Dinginnya lantai itu juahaaatt.

>Berarti  ga apa ya pak bicaranya keras dan terkesan bentak tapi kaka saya kadang bentak beneran karena  bapak saya  ga dengar pak?
Jawab
Jangaaaannnnnn. Bentaknya karena Beliau nda denger yaaa. Bukan bentak esmosiiiiiiiii

8. Kalo air yang dibacain doa hukumnya apa ya pak dody? Bos saya baik banget cuma satu yang ndak saya suka beliau itu suka jiarah ke makam-makam dengan anggapan berkah. Saya dah anggap beliau bapak saya sendiri wlaupun usianya baru 40tahun tapi gimana cara ngasih taunya ya?
Jawab
Ziarahya pake safar segala? Kasih tau aja hadistnya. Tidak boleh safar hanya mengkhususkan ziarah

9. Saya mo bertanya, bagaimana menasehati mertua yang merasa benar sendiri, tidak mengizinkan isterinya pergi taklim (ibu ingin pergi), selalu suuzhon dengan orang lain, dan hobby dangdut karena saya khawatir tiap ajak si kecil yang keluar lagu dangdut dan goyang=goyang.
Jawab
Nasehati pelan pelan. Jika tidak mampu dan mempan. Maka belikan saja buku bacaan dan diletakkan ke mertua laki biasa duduk dengerin dangdutan. Semoga اللّهُ mengerakkan hatinya untuk membuka buku tersebut

10. Pak , aku mau tanya. Point ke 5 dari kesimpulan fatwa-fatwa ulama disebutkan   tidak mengajak bicara dengan orang tua. Itu mendiamkannya selama orang tua belum berubah ato gimana? Makasih 
Jawab
Iyaaa. Selama orang tua belum berubah. Maka boleh menghajr nya

Cukup yaa
Doa Kafaratul Majelis :


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru