Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 2 : SYAHID (PENGUAT HADIST YANG BERBEDA) TENTANG HADIST AIR LAUT

SERIAL HADIST KESUCIAN AIR LAUT PART 2 : SYAHID (PENGUAT HADIST YANG BERBEDA) TENTANG HADIST AIR LAUT

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, March 20, 2015

Kajian On line Telegram Hamba الله Ta'ala

Hari / Tanggal : Jumat, 20 Maret 2015
Narasumber :  Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema : Hadist
Notulen :  Selli
Editor : Ana Trienta

Siap-siap buat kajian haditsnya. Masih membahas hadits pertama dari kitab Bulughul maram yang pekan kemarin belom selesai dibahas.

Penjelasan singkat tentang Syahid (penguat hadits dari sahabat yang berbeda). Ada beberapa syahid pada hadits Abu Hurairoh -radhiyallahu ‘anhu- dari sejumlah sahabat, di antaranya:

 Syahid pertama: Hadits Jaabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْبَحْرِ: " هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Dari jabir bin Abdillah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda tentang laut: Suci airnya dan halal bangkainya.

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam al-Musnad 3/373 dan al-Ilal no. 780. Dari jalur riwayat Ahmad dikeluarkan oleh ibnu Maajah dalam sunannya no. 388, ibnu al-Jaarud dalam al-Muntaqa no. 879, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no. 112, ibnu Hibaan dalam Shahihnya no. 1244, ad-Daraquthni dalam sunannya 1/34 dan al-Baihaqi dalam sunan al-Kubra 1/251-252 dari jalan Abul Qaasim bin Abi az-Zinaad dari Ishaaq bin Haazim dari Abi Miqsam Ubaidillah bin Miqsam dari Jabir bin Abdillah secara marfu’.

Sanad hadits ini hasan, karena adanya Ishaaq bin Haazim seorang perowi yang dikatakan al-Haafizh ibnu Hajar dalam at-Taqrib no. 348 : Shaduq (perawi hadits hasan) dicela dalam masalah Qadar.

 Syahid kedua: Hadits ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- yang panjang di antaranya berbunyi:

وَسَأَلَهُ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ: «مَاءُ الْبَحْرِ طَهُورٌ»

Dan bertanya kepadanya tentang air laut, beliau menjawab: Air laut suci mensucikan.

Hadits ini dikeluarkan imam Ahmad dalam Musnadnya 1/279 dari jalan Affan dari Hammad bin Salamah dari Abu at-Tayyah dari Musa bin Salamah dari ibnu Abbas.  Sanad hadits ini shahih mauquf pada Ibnu Abbas. Hadits ini juga dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 5499.

 Syahid ketiga: hadits al-Firaas yang berbunyi:

عَنِ ابْنِ الْفِرَاسِيِّ، قَالَ: كُنْتُ أَصِيدُ، وَكَانَتْ لِي قِرْبَةٌ أَجْعَلُ فِيهَا مَاءً، وَإِنِّي تَوَضَّأْتُ بِمَاءِ الْبَحْرِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»

Dari Ibnu al-Firaasi beliau berkata: Aku berburu ikan dan aku membawa satu kantung air yang aku isi air. Aku berwudhu dengan air laut. Lalu aku sampaikan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau menjawab: Dia suci airnya dan halal bangkainya.

Hadits ini dikeluarkan imam Ibnu Maajah dalam sunannya no. 387 dari jalan Yahya bin Bukair dari al-Laits bin Sa’ad dari Ja’far bin Rabie’ah dari Bakr bin Sawaadah dari Muslim bin Makhsyi dari Ibnu al-Firaasi.

Hadits ini memiliki dua alasan kelemahannya:

a. Muslim bin Makhsyi al-Mudliji tidak ada yang memberikan rekomendasi (tsiqah) keculi Ibnu Hibaan seperti dalam at-Tsiqaat 5/398 dan Ibnu Hajar nyatakan dalam at-Taqrib (no. 6646): Maqbul (diterima bila ada yang menguatkannya dari jalan lain).

b. Hadits ini mursal karena Ibnu al-Firaasi seorang tabi’in dan beliau tidak menyebutkan perantara antaranya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam at-Tirmidzi dalam al-‘Ilal al-Kabir 1/137 berkata: Aku bertanya kepada Muhammad (al-Bukhori) tentang hadits Ibnu al-Firaasi tentang air laut. Beliau menjawab: Itu hadits mursal. Ibnu al-Firaasi tidak menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan al-Firaasi sendiri adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan penulis kitab Mishbaah az-Zujaaj 1/57 berkata: Ini sanad para perawinya tsiqat semua kecuali Muslim yang tidak mendengar dari al-Firaasi, Muslim ini hanya mendengar dari ibnu al-Firasi yang bukan sahabat.

Tampaknya beliau meriwayatkan dari bapaknya tapi tidak disebut dari jalan ini.  Oleh karenanya, ibnu al-Qathan dalam kitab Bayaan al-Wahm wal Ihaam 2/440 menyatakan: Muslim bin Makhsyi hanyalah mendengar dari anaknya (ibnu al-Firaasi) dan riwayat Muslim dari bapaknya (al-Firaasi) adalah terputus (mursal).

Dengan dua alasan ini sanad hadits ini lemah, namun dikuatkan dengan hadits shahih dari Abu Hurairoh dan hadits Hasan dari Jaabir bin Abdillah yang telah lalu. Oleh karenanya, Syeikh al-Albani menghukumi hadits ini dengan Shahih lighairihi, seperti disampaikan dalam shahih sunan Ibnu Maajah.

 Syahid keempat: Hadits Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:

عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ أَبَانَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْبَحْرُ طَهُورٌ مَاؤُهُ وَحَلَالٌ مَيْتَتُهُ».

Dari ats-Tsauri dari Abaan dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”

Hadits ini lemah sekali karena adanya Abaan bin Abi Iyaasy seorang yang matruk.

 Syahid kelima: Hadits Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ:  «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang air laut, beliau menjawab, “Dia suci airnya dan halal bangkainya.”

Hadits ini dikeluarkan Imam ad-Daraquthni dalam sunannya 1/35 dari jalam Muhammad bin al-Husein dari bapaknya dari bapaknya dari kakeknya dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang air laut, beliau menjawab, “Dia suci airnya dan halal bangkainya.”

Demikian juga al-Haakim dalam al-Mustadraknya 1/142-143 dari jalan Ahmad bin al-Husein dari bapaknya dari bapaknya lagi dari kakeknya dari Ali bin Abi Thalib

Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Talkhish al-Habir 1/12 berkata: Ad-Daraquthni dan al-Haakim mengeluarkan hadits ini dari hadits Ali bin Abi Thalib dari jalur ahlil bait dan pada sanadnya ada yang tidak dikenal.

Sanad hadits ini lemah, namun bisa menjadi kuat dengan riwayat sebelumnya.
Syahid keenam: Hadits Abdullah bin Amru -radhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  «مَيْتَةُ الْبَحْرِ حَلَالٌ وَمَاؤُهُ طَهُورٌ»

Sungguh Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bangkai laut halal dan airnya suci mensucikan.

Hadits ini dikeluarkan oleh ad-Daraquthni dalam sunannya 1/35 dan al-Haakim dalam al-Mustadrok 1/143 dari jalan al-Mutsanna bin ash-Shabaah dari Amru bin Syua’ib dari bapaknya dari kakeknya Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda. Sanad hadits ini lemah karena adanya al-Mutsanna seorang perawi dha’if.

 Kesimpulannya: Hadits ini hadits shahih.

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman alibasaam berkata: Hadits ini dishahihkan oleh para ulama di antaranya: al-Bukhori, al-Haakim, ibnu Hibaan, ibnu Mundzir, ath-Thahawi, al-baghawi, al-Khathabi, ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, ibnu Hazm, ibnu Taimiyah, ibnu Daqiqil Ied, ibnu Katsier, ibnu Hajar dan lainnya sampai lebih dari 36 imam. (Taudhih al-Ahkaam, 1/115).

 Pengertian Umum Hadits.

Hadits yang mulia ini merupakan jawaban atas pertanyaan seperti dijelaskan dalam riwayat Imam Maalik bahwa Abu Hurairoh -radhiyallahu ‘anhu- berkata:

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

(Seorang telah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan pertanyaan: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam    menjawab: “Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menjelaskan bahwa air laut suci mensucikan dan bangkainya halal sehingga tidak butuh menyembelih hewan-hewan laut atau air. Masih sisa Faedah hadits yang diambil dari hadits pertama ini dan masalah fikih yang terkandung didalamnya. mudah2an kita sambung di jum'at depan.
silahkan dibaca dulu kajiannya.

TANYA JAWAB

1. Pak ustadz mau tanya dulu yaa, bedanya hadits qudshi, hadits shohe,dan hadits arbain, hadits muslim itu apa, bukanya itu sama hadits, Afwann ustadz masih terlalu awam sayaa
Jawab:
hadits qudsi adalah hadits yang redaksinya pake firman Allah maksdunya Nabi shalalahu alaihi wa sallam menyatakan Allah telah berfirman dst sedangkan hadits shahih adalah hadits yang absah dan dihukumi benar berasal dari Nabi. sehingga hadits qudsi kadang shahih kadang tidak. kalo shahih diterima dan dijadikan dasar dalam beragama, hadits Arba'in itu artinya hadits yang ada dalam kitab arba'in dan hadits Muslim artinya hadits yang ada dalam kitab shaih muslim

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment