Ketik Materi yang anda cari !!

BEKERJA DENGAN PRINSIP LIMA AS

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, March 4, 2015


Saya ndak mengikuti soal 'as', tapi diskusi hari ini terkait itu. Saya akan masukkan bahan diskusinya yaaa.


Bismillahirrohmaanirrohim Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin Ashsholaatu wassalaam 'alaa rasuulillah



"Bekerja itu dengan prinsip lima as," kata beliau. Suaranya jernih. "Pertama, ikhlas. Jadikan semua itu bermuara kepada Allah. Lalu kerja keras. Kita optimalkan seluruh kemampuan fisik kita. Mujahadah. Lalu, cerdas. Kerja harus menggunakan siasat, perencanaan, kemampuan otak. Jangan lupa, kerja harus tuntas. Dan akhirnya, tutup dengan evaluasi, atau mawas." (Ustadzah Yoyoh Yusroh)


Duhai ummahatul mukminin sekalian.. Apapun peran kita saat ini: single mom, working mom, household mom, entrepreneur mom, dan sebagainya.. Kita coba gunakan prinsip kerja ikhlas, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja mawas.


Dalam hal ini, berarti kita menjadi pribadi yang:

itqon – profesional dan

muntijah – menghasilkan apalagi ditambah dengan

berbarokah - penuh keberkahan dari Allah



TERMOTIVASI-LAH

Motivasi adalah semangat yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. 


Ibnu Qayyim berkata,

“Tanda-tanda benarnya keinginan keras adalah jika keinginan dan perhatian seseorang adalah Ridha Rabbnya dan bersiap siaga setiap saat untuk berjumpa dengan-Nya, dia akan menyesal atau gusar apa bila waktu berlalu bukan dalam keridhaan Dia. Segala hal urusannya, kesibukannya adalah dia tidak menaruh perhatian dan harapan kepada selain Allah baik dikala siang atau malam.”


Al-Mutabbi berkata,

“Jika kamu mempunyai kemampuan untuk mengungguli ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Mereka adalah laki-laki biasa, kamu juga seperti mereka (laki-laki biasa). Orang yang hanya duduk-duduk saja tidak mau berusaha meningkatkan kualitas dirinya disebabkan rendahnya semangat dan rendahnya kemauan. Sadarlah kamu berada di tengah-tengah medan kompetisi waktu berjalan begitu cepatnya janganlah kamu terus-terusan bermalas-malasan! Segala hal yang terlepas dan terlewat hanyalah disebabkan kamu ini malas-malasan, segala sesuatu yang kamu gapai itu karena kamu mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Perumpamaan semangat dalam hati seperti gejolak air dalam tungku yang dipanaskan.”


Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing..

Ada yang diuji kesabaran

Ada yang diuji keuangan

Ada yang diuji kekayaan

Ada yang diuji kemarahan

Ada yang diuji dengan lisannya

Ada yang diuji dengan pekerjaannya

Dan sebagainya ..


Bolehkah kita berkeluh? Boleh.. Mengadulah pada Allah. Tapi ingat selalu: Laa yukallifuLlaahu nafsan illaa wus'ahaa..
Be professional, be muntijah, be ikhlas with what you are doing now.. Duhai para bunda..



TANYA - JAWAB

1. Ustadzah,, dalam menghadapi ujian sudah seharusnya kita ikhlas. Namun kadang karena hawa nafsu dan keegoisan serta kurangnya pengetahuan dan tipisnya iman maka kadang kala menyalahkan keadaan Sebenarnya sikap seperti apa yang harus dilakukan agar bisa kuat dan ridho dengan ujian yang Allah berikan ustadzah?


Jawab : Sederhananya: 'selalu sadar'. Menjaga ke'sadar'an ini yang sulit. Diantaranya sadar berupa 'husnudzon (berbaik sangka)' pada Allah.  Ketika kita sedang 'tidak sadar' maka kita membiarkan yang lain menguasai diri kita. Apa saja yang bisa menguasai diri kita? Ada 3 induknya, banyak cabangnya..


Induknya:
-keterikatan hati dengan selain Allah - menyebabkan kesyirikan

-mengikuti emosi - menyebabkan kedzaliman terhadap diri sendiri maupun orang lain

-mengikuti syahwat - menyebabkan zina mata, zina hati, zina pikiran, dan sebagainya.

Jadi, ketika diuji, pastikan diri ini 'sadar', berpikir jernih, husnudzon sama Allah, lalu kembalikan semua pada diri kita: apakah kita bermaksiat sehingga begini sulitnya, apakah kita pernah mendzolimi orang lain sehingga begini rumitnya, dsb. Kemudian perbanyak istighfar.

Semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Wallahu a'lam




2. Lalu untuk "husnudzon" caranya seperti apa ustadzah?


Jawab:  Husnudzon kita sama Allah berarti kita nggak berpikiran bahwa Allah menelantarkan kita, bahwa Allah sangat kejam, bahwa Allah tidak adil.. Nastaghfirullah al 'adziim.. Na'uudzubillah min haadzihil fikroh..




3. Ustadzah, terkadang kalau duji oleh Allah, bisa sja kita lebih dekat, tapi orang-orang disekitar kita bawaannya mengeluh dan uring-uringan. Gimna ya menyadarkan orang-orang disekitar kita agar lebih mendekat diri pada Allah, bukan malah marah pada Allah


Jawab : Sebaliknya kita berpikir bahwa ujian ini adalah bentuk kasih sayang Allah, bahwa Allah ingin menaikkan derajat kita, bahwa bersama kesulitan ini ada kemudahan..

Sulit kalau kita mencoba mengingatkan ketika dia sedang dalam kesulitan sedangkan kondisi imannya juga belum baik. Yang efektif adalah pada kondisi 'sadar'nya. Dengan saling menasihati di kala hepi maupun setelah ujian datang.




4. Ustadzah, benarkah kita tidak bisa mintakan ampun untuk orang lain?
Rasulullah pernah menangis ketika lewat makam ibunya, sahabat bertanya, “kenapa?” Beliau menjawab “ku menangis bukan karena teringat, tapi karena aku minta ijin untuk minta ampun atas ibuku, tapi Allah menolak”


Jawab:

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS: At-Taubah Ayat: 113)

Dari tafsir ibnu katsir surah At-Taubah ayat 113 dijelaskan bahwa ayat ini turun ada 2 sebab: (1) Ketika Rasulullah SAW memintakan ampunan atas paman beliau, Abu Thalib (HR. Bukhari & Muslim); (2) Ketika Rasulullah SAW memintakan ampunan atas ibunda beliau, Aminah (HR. Ahmad).


وَمَا كَانَ ٱسْتِغْفَارُ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٌ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS: At-Taubah Ayat: 114)


Surah Attaubah ayah 113 dan 114 dengan secara eksplisit melarang kita untuk berdoa memintakan ampunan untuk orang-orang musyrik yang sudah meninggal dan berlepas diri dari mereka. Sedangkan memintakan ampunan selama mereka masih hidup, diperbolehkan.



3 pahala yang terus mengalir bahkan setelah kita meninggal: anak shalih yang mendoakan orangtuanya, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat. Meminta ampun untuk orang tua yang beriman dan orang-orang beriman yang sudah meninggal, diperbolehkan. Diantara doanya adalah:

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS: Ibrahim Ayat: 41)



وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS: Al-Hasyr Ayat: 10)

Wallahu a'lam



5. Ustadzah, setiap apapun yang kita lakukan kan harus karena Allah  dan ikhlas. Termasuk bekerja. Yang saya tanyakan bekerja untuk mencari penghasilan, itu bagaimana ? Niat nya yang harus diperbarui ?


Jawab: Seperti yang kita tahu semua..

Innamal a'maalu binniyaat wa innamaa likullimri-in maa nawaa.. “Setiap amal itu tergantung niat-niatnya dan setiap urusan akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”


Contoh sederhana  “Makan”

Niat 1: kenyang

Niat 2: kenyang, sehat

Niat 3: kenyang, sehat, ibadah

Kita akan dapatkan apa yang kita niatkan.

Termasuk bekerja.

Niat: dapat penghasilan - ya dapat

Kalau niatnya dihias lagi, ditambah, diperindah, akan lebih baik.




6. Jadi dari ulasan di atas sebaiknya kalau kita mau ngasih nasehat ke orang lebih saat dia 'sadar'. Mungkin setelah masalah mereda. Terus sebaiknya apa yang kita lakukan saat masalah sedang berkecamuk ustadzah?


Jawab: Kita tetap coba tenangkan. Diminta sabar, ikhlas, Insya Allah akan baik nantinya. Layani curhatannya/konsumsi psikisnya, layani konsumsi fisiknya. Coba sadarkan, jaga emosinya supaya tidak berlebihan. Sepertinya itu.. Tafadhdholy jika ada yang menambahkan..
 

7. Saya pernah mendengar, jika seseorang bersalah kemudian dia menyesali kesalahan nya, Allah akan mengampuni orang tersebut meski tanpa kifarat (penebusan). Di lain sisi ada juga pendapat yang mengatakan, tidak akan meninggal seseorang sebelum menebus semua perbuatan nya. Jika dia berbuat baik maka akan mendapat balasan kebaikan dan jika dia berbuat jahat akan mendapat balasan kejahatan pula.  Gimana ustadzah penjelasannya tentang itu?


Jawab: Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya. An nadamu taubatun - penyesalan adalah taubat. Jadi dengan menyesal saja, tandanya dia sudah bertaubat. Dan ketika ditambah dengan bertekad tidak melakukan lagi serta membenci perbuatan buruk itu, berarti taubat kepada Allahnya semakin lengkap.


Terkait kaffarat dosa.. Wah kalau kita buka-buka haditsnya kita akan sangat tercengang bunda ummu sekalian. Betapa Maha Rahiim Allah. Selain musibah dan sakit yang bisa menjadi kaffarat. Sholat lima waktu kita menjadi penghapus dosa yang dilakukan diantaranya. Puasa kita menjadi penghapus dosa juga. Shodaqoh kita. Dzikir pagi petang kita. MasyaAllah. Betapa luar biasanya Allah. Bahkan ketika kita melakukan kebaikan, bisa menghapus keburukan yang telah kita lakukan.


Dalam sebuah hadits pun kita dikatakan akan pasti masuk surga (aamiiin). Asalkan tidak melakukan kesyirikan. Man laqiyaLlah laa yusyriku bihii syai-an dakholal jannah.


Terkait tidak akan meninggal seseorang sebelum menebus kesalahannya- sepertinya saya perlu mencari referensi tentang ini. Karena ketika dihisab, setiap orang masih memiliki catatan kebaikan dan kesalahan. Dan di sinilah diperlihatkan seberapa bernilai catatan kebaikan kita.




8. Ustadzah, saya pernah dengar dan saya sendiri sering berucap..
Bahwa "Bila kita berbuat baik pada orang lain sekecil apapun itu pasti suatu saat pasti kebaikan itu akan kembali ke diri kita, begitupun sebaliknya, bila kita jahat dan mendholimi orang lain maka hal sama yang akan menimpa kita juga. Benarkah begitu ustadzah?


Jawab: Ya bunda.. Kebaikan sebesar dzarrah ada balasannya, kejahatan sebesar dzarrah pun ada balasannya..



9. Kalau saya terlanjur berbuat jahat dan dholim apa yang harus saya lakukan ustadzah? Selain minta maaf pada yang bersangkutan dan juga taubat pada Allah.


Jawab: Sebenarnya terkait taubat terhadap sesama manusia sudah komplit dengan mengembalikan haknya, seperti yang kita sudah pahami brrsama. Lalu, masih galau? Perbanyak berbuat baik, bun.. Cari tahu dulu bun apa penyebab galaunya.. Lalu selesaikan masalah itu. Apakah masalahnya nyata dan bisa diselesaikan atau karena pengaruh hormonal aja, makanya jadi lebih sensitif.

Kalau galaunya di pikiran saja, banyak bun, obatnya.. Ada Al-Qur’an, dzikir, doa minta sama Allah supaya tidak galau lagi serta  alihkan dengan kegiatan yang positif


---------------------------------

4 Maret 2015

Narasumber : Ustdzah Ahyani

Tema: Bekerja dengan prinsip lima AS

Notulen: Ratih

Editor: Wanda Vexia
Kajian Online Hamba Allah SWT

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment