Ketik Materi yang anda cari !!

Beyond Logic and Rationality

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, April 6, 2015

Bismillahirrahmanirrahim, salam bunda,  Perkenalkan, nama saya Lara Fridani, ibu dari 4 anak, sedang studi di Melbourne, background pendidikan  psikologi. Senang bisa silaturrahim dan berdiskusi dengan para  bunda .

Beyond Logic and Rationalityhttps://denisrahadian.wordpress.com/2013/06/)
Oleh: Lara Fridani

Seorang ibu lansia  merasa gelisah mendengar penuturan anak laki -laki semata wayangnya yang dulu menjadi kebanggaannya. Sejak kecil segala upaya dikerahkan dan biaya dikeluarkan untuk mendidik anaknya agar menjadi cerdas, kritis, teguh pendirian dan memiliki berbagai ketrampilan.  Tak heran, jika kini anaknya tumbuh menjadi pria dewasa yang  sangat percaya diri, terpandang, dan punya karir yang membanggakan. Yang disesalkan sang ibu adalah ‘kelebihan’ yang dimiliki anaknya itu ternyata tidak seiring  dengan meningkatnya keimanannya sebagai seorang muslim. Di usia menjelang 60 tahun barulah sang ibu tersadar untuk segera mendekatkan diri pada agama. Namun  ternyata tidak mudah baginya untuk bisa berbagi ‘spirit’ ini bersama  anaknya. Nasehat agama yang diberikan berkali- kali oleh sang ibu agar anaknya menunaikan kewajiban sholat, berhaji dan sebagainya,  direspon  hanya dengan  logikanya saja.


“Begini ya ma, coba mama lihat…. berapa banyak orang yang rajin sembahyang dan rajin mengaji, tapi kelakuannya tidak berubah kan? Mereka cuma rajin ke  mesjid untuk kepentingan diri sendiri, tapi mana manfaatnya untuk  orang lain?”
“Begini ya ma , mama pernah dengar sendiri kan cerita teman mama saat naik haji, ternyata banyak orang di sana yang egois, berebutan dan sikut menyikut saat beribadah. Belum lagi  aturannya yang  tak masuk di akal ma. Itu lho ma, yang katanya saat ihram, kita  tak boleh pakai pakaian berjahit- lah, gak boleh pakai wewangian- lah. Ini alasannya apa, kita kan tak bisa terima perintah begitu saja ma.”
“Pokoknya begini ya ma,  yang penting kan hati kita  ini baik. Hidup kita gak macam- macamlah,  kita kan juga kasih sedekah  sama orang miskin. ” demikian petuah sang anak panjang lebar.
Sang ibu  terdiam,  tak punya ketrampilan untuk bisa menepis pernyataan anaknya, beliau hanya mengungkapkan ketidaksetujuan di dalam hati, sebagai bentuk selemah-lemahnya iman. Beliau pun tak punya  ide, darimana harus menjelaskan pada anaknya agar mau berlapang dada menerima perintah agama. Beliau hanya bisa berdoa agar anaknya tidak termasuk golongan orang-orang yang hatinya berpenyakit.

Ketika kecerdasan dan ketrampilan hidup yang distimulasi orang tua sejak awal pada anaknya tidak didasarkan pada syariat dan terlepas dari konsep akhlak sebagai muslim, maka tidak mengherankan jika seorang anak ‘tidak hidup’ hatinya, kecuali jika ada hidayah dari Allah SWT. Batasan kecerdasan versi barat dan Islam memang berbeda. Pandangan Islam tentang kecerdasan, lebih mengutamakan sudut pandang ruhiyah di samping lahiriyah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Kecerdasan dalam pandangan islam bukanlah sekedar kemampuan berpikir rasional dengan logika, namun merupakan keterpaduan antara pikiran dan dzikirnya, suatu bentuk kerjasama antara otak dan hati. Ajaran Islam lebih cenderung menggarap hati agar menjadi baik. Aturan sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya adalah sarana untuk melembutkan kualitas hati ini. Dengan demikian kecerdasan dalam pandangan Islam selalu melibatkan kerendahatian dan pikiran  positif terhadap aturan dari sang Pencipta.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)
Memang sulit bagi seseorang untuk menerima apalagi menjalankan sebuah perintah agama yang kadang tidak masuk dalam logika, jika dia  terbiasa dan terlatih dengan nilai-nilai yang mengedepankan  akal saja, kecuali jika Allah SWT berkehendak memberi hidayah padanya.

Guru saya  pernah menjelaskan bahwa akal/logika jika digunakan secara tepat, maka bisa meluruskan pikiran seseorang  untuk mencapai kebenaran. Peran pendidik termasuk orang tua dalam hal ini  sangat besar dalam menjelaskan dan memberi contoh  keterbatasan akal dan panca indera manusia dalam memahami sesuatu, baik ditinjau dari segi pengetahuan sains maupun dari sudut pandang agama. Penanaman  nilai-nilai keimanan juga harus dilatih sejak dini sehingga anak memiliki kesadaran atas keterbatasan dirinya sebagai hamba Allah, sehingga  memudahkannya  untuk mendahulukan kepatuhan dan keikhlasan dalam  menjalankan perintahNya.  Kecerdasan yang  tunduk pada keimanan semacam inilah yang bisa  membawa ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Iman bukanlah sekedar dari sikap menerima dan setuju, tetapi lebih kepada cinta yang kuat yang terhubung erat dengan kepatuhan.  Ketika iman didahulukan, tak akan ada bantahan dan alasan  untuk menghindar dari  perintah Allah SWT. Iman yang stabil akan melembutkan hati, sedangkan iman yang labil akan mendorong logika dan hawa nafsu. Wallahualam.
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2 : 74)

TANYA JAWAB
1.      Terima kasih ustadzah , trus gimana cara bicara ke anak supaya dia tertarik dan cinta untuk mmbaca Al-Qur'an mohon  bimbingan ustadzah.جزك الله خيرا كشيرا
Jawab :Bunda, Sebagai orang tua kita perlu konsisten memberi contoh bahwa kita rajin membaca Qur’an, kita libatkan anak dan biasakan mereka berinteraksi dengan  Al-Qur’an. Tentunya ini proses yang mau memerlukan kesabaran dan ikhtiar kita sebagai Orang tua. Usahakan cara kita  agar bijak salami mengajak anak kita untuk baca Qur’an , bukan dipaksa, bukan dimarahi atau ditakut takuti. Kita perlu tegas, tapi bukan galak ya bunda,
Sekarang sudah banyak cara atau metode yang menyenangkan dan menarik bagi anak untuk belajar Qur’an. Kita pakai cara yang bervariasi sesekali agar anak tak mudah bosan.
2.       Bagaimana cara mengajarkan ke anak untuk mengerjakan sholat tanpa harus kita menyuruh atau memaksanya?

Jawab : Bunda , pada dasarnya prinsipnya sama dengan pertanyaan sebelumnya, bahwa kita harus mulai dari diri sendiri dalam memberi contoh yang baik pada anak. Selain itu tentu saja kita libatkan anak dan initiative to membiasakan mereka untuk sholat. Jika anak kita laki-laki, semoga suami membiasakannya untuk mengajak sholat jamaah ke mesjid. Inshaa Allah contoh tauladan akan efektif bagi anak dibandingkan tanya memberi perintah atau petuah. Wallahualam

3.      Mau tanya ustadzah...
Anak saya dulu waktu umur 4 tahun dia semangat sekali belajar baca Al-Qur’an
Tapi sekarang sudah umur 7 malah tidak mau belajar, gimana ya caranya biar semangat lagi...
Jawab :Ada banyak alasan anak tidak mau Lagi belajar Al-Qur’an, diantaranya karena jenuh ( berarti kita perlu  introspeksi caranya); karena kurang didukung lingkungan atau karna faktor lain yang lebih menarik untuk dilakukan seperti game dll. Kita perlu telusuri sebabnya yg terjadi pada anak kita sehingga bisa ikhtiar untuk perbaikan. Wallahualam
4.      Iya...itu benar Ust. Gimana ya caranya. Sebab anak saya akhir-alhir ini sering mengeluh capek, jadinya telat kholas 1 juz. Mungkin tepatnya bosan ya...tapi gak berani ngomongnya.
Jawab:Jika memang karna bosan, bujuk anak  dan komunikasikan bagaimana menurut dia agar bisa semangat lagi baca Qur’an. Mungkin kita bisa kompromikan caranya dengan anak. Wallahualam

PENUTUP:

Doa Kafaratul Majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


----------------------------------
Senin, 6 April 2015
Ustadzah Lara Fridani (Beyond Logic and Rationality)
Grup M5 Ummi
Notulen : Arsyafa
Editor : Riski Ika Wati

KAJIAN ONLINE HAMBA  اَللّهُ SWT

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment