Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENJAGA LISAN



Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh ..
Kita mulai kajiannya ya... 

Bahaya nya Lisan Bagian 1
Menyambung materi kajian sebelumnya yang dikisahkan dalam buku Mawaidz Ashahabah oleh Syaikh Salih Ahmad Al Syami, seorang laki-laki datang kepada Salman al-Farisi radhiyallalhu ‘anhu seraya berkata, “Berilah nasehat kepadaku.” Ia (Salman radhiyallalhu ‘anhu) berkata, “Janganlah engkau berbicara.” Laki-laki itu menjawab, “Orang yang hidup di tengah masyarakat tidak mampu untuk tidak berbicara.” Ia berkata kembali, “Jika engkau berbicara, berbicaralah dengan benar atau diam.”


Hendaknya berkata baik atau diam ini sudah dilupakan sebagian besar umat islam namun bisa jadi banyak juga diantara kita tidak mengetahuinya. Terkadang atau bahkan sering tanpa sadar ucapan yang keluar dari mulut kita adalah ucapan kotor, buruk, keji, bahkan ucapan kesyirikan. 

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS: Qaaf Ayat: 18)


Ucapan dalam ayat ini bersifat umum. Oleh karena itu, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat oleh malaikat, tetapi termasuk juga kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Tafsir Syaikh Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)

Benar juga ungkapan “memang lidah tak bertulang” kesana kemari bergerak mengeluarkan ucapan-ucapan, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Sehingga jikalau ucapan kotor atau keji merupakan suatu dosa, tentunya ucapan yang baik merupakan keshalihan yang bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS: Al-Israa' Ayat: 53)


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: An-Nahl Ayat: 125)


Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq alaih)

Ibnu Mas'ud berkata :

“Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”

Abu Darda berkata :

“Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara”. 

Sehingga pentingnya kita memahami menjaga dan mengontrol mulut kita dari kejahatan lisan Ucapan. Setidaknya ada dua puluh macam bahaya lisan yang akan kita bahas dalam kajian ini yang diambil dari berbagai sumber, yaitu:

1. Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah SAW bersabda :

“Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan”. (HR. At-Tirmidzi)

Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Bisa jadi ini menjadi kebiasaan bahkan menjadi penyakit yang penyebabnya adalah keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu.

2. Fudhulul-Kalam (Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul” (kelebihan).

Firman Allah : 
لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma´ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS: An-Nisaa Ayat: 114)


Rasulullah SAW bersabda :

“Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya.“ (HR. AlBaghawiy)

Ibrahim At Taymiy berkata :

“Seorang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan”.

3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)

Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma'siyat, seperti menceritakan tentang perempuan, pembicaraan yang menjurus pada syahwat, dan sebagainya, yang tidak terbilang jumlahnya. Pembicaraan seperti ini adalah perbuatan haram, yang akan membuat pelakunya binasa.

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga harikiamat”. (HR. Ibn Majah)

“Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang palingbanyak terlibat dalam pembicaraan batil”. (HR. Ibnu Abiddunya)

Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, mereka menjawab: 
وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ

“dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,” (QS: Al-Muddatstsir Ayat: 45)


4. Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan)
Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerangdan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orangyang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan oranglain agar terlihat kelebihan dirinya.Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu' (rasa tinggi hati)karena kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak akan tersesat suatu kaum setelah merekamendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan”. (HR. At-Tirmidziy)


Imam Malik bin Anas berkata :

“Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”


5. Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalahsikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau hartaorang lain, yang bukan haknya. Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.

Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya orang yangpaling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar”. (HR. Bukhari)

Afatul lisan (bahaya lisan) selanjutnya ada Taqa'ur fil-kalam, La'nat, Ghina', Al Mazah, As Sukhriyyah, dan seterusnya bersambung dan dibahas dikajian berikutnya…
Wallhu ‘alam

TANYA - JAWAB

1. Bagaimana cara menyelesaikan apabila ada perbedaan pendapat diantara saya dan orang lain? Masing-masing merasa pendapat nya benar. Apakah yang harus dilakukan? Apakah diam menghindari perdebatan atau menjelaskan tapi jadi nya berdebat-debat dan ga selesai-selesai.

Jawab:  Ada link bagus bunda semoga berkenan:


2. Bagaimana saat membicarakan kebaikan orang lain (menjadikan contoh atas kebaikannya) apakah ini termasuk ghibah ustadz?
Jawab:   Kalau tidak sadar, ya tidak berdosa.  Tapi segera istighfar ketika kita tahu telah melakukan ghibah.


3. Bagaimana jika kita secara tidak sengaja mendengarkan ghibah ?

Jawab:  Segera istighfar dan sampaikan bahwa itu ghibah atau keluar dari lingkungan pembicaraan.


4. Ustadz, adakah ghibah yang   dosanya paling besar?

Jawab:
“Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan ghibah (menggunjing)  karena dosanya lebih berat dari pada zina”. “Ya Rasulullah apa itu ghibah?”
“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”
“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”
“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memfitnahnya.”

5. Apa yang harus kita lakukan apabila melihat teman kita yang senang menceritakan keburukan orang lain? Sekalipun sudah kita ingatkan tapi tidak mau berubah, kalau kita menghindar dan menjauh apa tidak berdosa ustadz? Karena tidak mengingatkan takut dianggap sok pintar.

Jawab: Mencegah kemungkaran ada dengan 3 cara:
1) Dengan kekuatan / kekuasaan
2) Dengan lisan
3) Dengan doa.
Doakan saja ya bunda.. Insya Allah menjadi kebaikan dan pahala bagi bunda.

---------------------
Rabu, 04 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Tri Satya
Tema : Menjaga lisan
Admin : M8 Nury (Ha 16) dan Ajeng (Ha 15)
Editor: Wanda Vexia
Kajian WA Hamba اَللّه SWT