Ketik Materi yang anda cari !!

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, April 13, 2015

Surat ini turun sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?’. Maka Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini]’(Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, hal 1074).

Isi Surat

1.  Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Inilah prinsip pertama dan tugas utama yang diemban Nabi saw. Beliau pun menyingsingkan lengan baju dan mulai mengajak manusia kepada tauhid dan beribadah kepada Allah yang Esa. Oleh karena itu di dalam surat ini Allah memerintahkan beliau agar mengatakan, "Katakan, 'Dialah Allah yang Esa." Katakan kepada mereka, ya Muhammad, "Berita ini benar karena didukung oleh kejujuran dan bukti yang jelas. Dialah Allah yang Esa. Dzat Allah satu dan tiada berbilang. Sifat-Nya satu dan selain-Nya tidak memiliki sifat yang sama dengan sifat-Nya. Satu perbuatan dan selain-Nya tidak memiliki perbuatan seperti perbuatan-Nya.

Barangkali pengertian kata ganti 'dia' pada awal ayat adalah penegasan di awal tentang beratnya ungkapan berikutnya dan penjelasan tentang suatu bahaya yang membuatmu harus mencari dan menoleh kepadanya. Sebab kata ganti tersebut memaksamu untuk memperhatikan ungkapan berikutnya. Jika kemudian ada tafsir dan penjelasannya jiwa pun merasa tenang. Barangkali anda bertanya, tidakkah sebaiknya dikatakan, "Allah yang Esa" sebagai pengganti dari kata, "Allah itu Esa." Jawabannya, bahwa ungkapan seperti ini adalah untuk mengukuhkan bahwa Allah itu Esa dan tiada berbilang Dzat-Nya.

Kalau dikatakan, "Allah yang Maha Esa," tentu inplikasinya mereka akan meyakini keesaan-Nya namun meragukan eksistensi keesaan itu. Padahal maksudnya adalah meniadakan pembilangan sebagaimana yang mereka yakini. Oleh karena itu Allah berfirman,
"Dia-lah Allah, Dia itu Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."
Artinya tiada sesuatu pun di atas-Nya dan Dia tidak butuh kepada sesuatu pun. Bahkan selain-Nya butuh kepada-Nya. Semua makhluk perlu berlindung kepada-Nya di saat sulit dan krisis mendera. Maha Agung Allah dan penuh berkah semua nikmat-Nya.

Manusia selayaknya hanya menggantungkan menyandarkan dirinya, permasalahannya Ibadahnya hanya kepada Allah semata. Sebagian ulama juga mengatakan ini ayat yang menjelaskan kenapa surat ini dinamai al ikhlas 
"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan"
Ini merupakan pensucian Allah dari mempunyai anak laki-laki, anak perempuan, ayah, atau ibu. Allah tidak mempunyai anak adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah, terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang mengatakan 'Uzair dan Isa anak Allah. Dia juga bukan anak sebagaimana orang-orang Nashrani mengatakan Al-Masih itu anak Allah lalu mereka menyembahnya sebagaimana menyembah ayahnya. Ketidak-mungkinan Allah mempunyai anak karena seorang anak biasanya bagian yang terpisah dari ayahnya. Tentu ini menuntut adanya pembilangan dan munculnya sesuatu yang baru serta serupa dengan makhluk. Allah tidak membutuhkan anak karena Dialah yang menciptakan alam semesta, menciptakan langit dan bumi serta mewarisinya. Sedangkan ketidak-mungkinan Allah sebagai anak, karena sebuah aksioma bahwa anak membutuhkan ayah dan ibu, membutuhkan susu dan yang menyusuinya. Maha Tinggi Allah dari semua itu setinggi-tingginya.
"Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Ya. Selama satu Dzat-Nya dan tidak berbilang, bukan ayah seseorang dan bukan anaknya, maka Dia tidak menyerupai makhuk-Nya. Tiada yang menyerupai-Nya atau sekutu-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.

Meskipun ringkas, surat ini membantah orang-orang musyrik Arab, Nashrani, dan Yahudi. Menggagalkan pemahaman Manaisme (Al-Manawiyah) yang mempercayai tuhan cahaya dan kegelapan, juga terhadap Nashrani yang berpaham trinitas, terhadap agama Shabi'ah yang menyembah bintang-bintang dan galaksi, terhadap orang-orang musyrik Arab yang mengira selain-Nya dapat diandalkan di saat membutuhkan, atau bahwa Allah mempunyai sekutu. Maha Tinggi Allah dari semua itu.

Surat ini dinamakan Al-Ikhlas, karena ia mengukuhkan keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja.

Beberapa Keutamaan Al Ikhlas

Dari Abu Sa’id (Al Khudri) bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ’Qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surat al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al Qur’an”. (HR. Bukhari no. 6643) [Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Ambu Sa’id Al Khudri, sedangkan membaca surat tersebut adalah saudaranya Qotadah bin Nu’man.]

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada seorang budak. Budak ini biasanya di dalam shalat ketika shalat bersama sahabat-sahabatnya sering mengakhiri bacaan suratnya dengan ’Qul huwallahu ahad.’ Tatkala para sahabatnya kembali, mereka menceritakan hal ini pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata,”Tanyakan padanya, kenapa dia melakukan seperti itu?” Mereka pun menanyakannya, dia pun menjawab,”Surat ini berisi sifat Ar Rahman. Oleh karena itu aku senang membacanya.” Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, Kabarkan padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

TANYA JAWAB

Pertanyaan M101

1. Saya mau tanya, lalu bagaimana ya ustadz caranya agar hati selalu berharap padaNya
melakukan segala amal kebaikan hanya karnaNya dan tidak menyekutukanNya ?
Jawab
Ikhlas memang mudah dikatakan namun dalam pelaksanaannya kadang berat. Ini perlu pemahaman,  kesungguhan, latihan. Pemahaman adalah bahwa yang dimaksud ikhlas adalah kita mengerjakan sesuatu termasuk ibadah karena ingin mendapat pahala Allah, mendapat syurga Allah, takut dosa, takut neraka, menjalankan sunah nabi SAW. Kesungguhan artinya berusaha keras menjaga niat ini dan menghilangkan niat niat lainnya terus berusaha menjaganya sampai ajal nanti. Latihan artinya, terus melakukan amal amal sholih, janganlah bisikan bisikan takut tak ikhlas dsbnya menghalangi kita beramal, terus lakukan saja jangan ditunda, jadikan amal itu seakan akhlaq yang sudah mendarah daging. Terakhir tentu, doa agar Allah menerima amal kita, menjaga keikhlasan kita

Pertanyaan M102

1. Assalamu'alaykum ustadz. Ana ingin bertanya. Berkaitankah surat Al-ikhlas ini dengan perasaan ikhlas? Apa hanya sama katanya tapi berbeda makna? Syukron ustadz, jzk khoir.
Jawab
Ya sama, coba di perhatikan lagi di alinea terakhir yang menjelaskan tentang ikhlas. Surat ini dinamakan Al-Ikhlas, karena ia mengukuhkan keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja. Tambahannya adalah: Menggantungkan segalanya hanya kepada Allah, termasuk niat dalam melaksanakan semua kegiatan kita, agar bernilai ibadah dan jauh dari maksiat. Ulama mengatakan, memasukan niat dalam setiap apa yang akan kita lakukan.

2. Saya mau tanya kalau ada yang membaca al ikhlas 1000 kali hajatnya akan bisa  terkabul benarkah begitu?
Jawab
Coba diperhatikan pertanyaan dan jawaban M103 no. 1
Tambahannya : Jika memang ada keterangan dari Nabi SAW berupa hadits yang maqbul, maka itu pasti benar. Namun jika tak ada, ya berarti hal tersebut tidak benar. Saya tidak pernah tahu ada hadits maqbul yang menjelaskan demikian. wallahualam

Pertanyaan M103

1. Setelah tahu uraian di atas. Apa hukumnya orang yang mengistimewakan surat Al-Ikhlas ?
Jawab
Al Ikhlas memang istimewa, namun setiap keistimewaan hanya diketahui melalui dalil. Sehingga amalan amalan yang menyangkut keistimewaan surat atau ayat ayat dalam al quran secara khusus ya harus ada dalilnya, misalnya keutamaan membaca al kahfi pada hari jumat, membaca ayat kursi, al ikhlas, al falaq, an naas saat pagi petang atau menjelang tidur, atau setelah shalat wajib. dll

2. benarkah kalo kita mengamalkan membaca surah al ikhlas ini 10x sama saja dengan kita mengkhatamkan alquran. Mengapa demikian ustadz??
Jawab
Tidak

Pertanyaan M105

1. Fenomena zaman sekarang pas anak sekolahan praktik sholat tidak jarang guru-guru menyuruh anak didiknya untuk tidak menggunakan surat 3 kul termasuk lah al ikhlas ini. Padahal bisa jadi anak didiknya suka membaca surat 3 kul ini karena maknanya yang luar biasa bukan karna ayatnya yang pendek. Kalo dilihat ada juga surat yang hanya 3 ayat. Seperti al ashr. Bagaimana pandangan ustadz?
Jawab
Saya melihat tidak masalah juga guru guru menyuruh surat surat yang memang sudah dihafalkan di sekolah, diluar yang tiga, sebagai bagian dari ujian hafalan digabung dengan shalat. Akan lebih bagus kalau suatu saat nanti syarat lulus sd adalah hafal juz 30 misalnya :-D

Pertanyaan M106 

1. Maaf ustad diluar materi. Jadi sprti ini. Saya pernah menonton acara Dr Zakir naik yang mengenai musik. Musik diharamkan. Saya jadi bingung karena banyak juga yang justru menggunakan musik sebagai media dakwah?
Jawab
Musik menjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama sepanjang sejarah. Namun ada Musik yang sepakat diharamkan oleh ulama :
- Syairnya jorok, cabul, mengandung kekafiran, mengajak maksiat
- Penyanyinya seronok baik laki ataupun wanita
- Menyebabkan kelalaian terhadap kewajiban dan prioritas kehidupan.

Selain itu panjang sekali pembahasan dan perbedaan pendapat ulama. Nampaknya harus materi tersendiri.

2. Bagaimana hukum dengan foto? Memajang foto makhluk hidup/bernyawa diharamkan. Tapi bahkan foto-foto ustadz banyak juga yang dipajang di baliho,TV, dsb
Jawab
Foto adalah masalah kontemporer yang tidak ada di zaman Nabi dan para sahabat ra. Ulama berbeda pandangan terkait hukum foto. Sebagian ada yang mengharamkan secara mutlak. Sebagian lagi membolehkan karena sangat berbeda hakikat lukisan dan foto dan dengan beberapa kondisi, misalnya:
- bukan foto yang dianggap tuhan, (yesus, dewa dll)
- bukan foto orang yang dikultuskan apalagi tokoh kekafiran
- bukan foto yang cabul

Kami sendiri ketika di saudi sempat beli kamera nikon di riyah bebas bebas saja, kemudian foto foto raja, dan tokoh kerajaan juga muncul di banyak tempat. Dalam sidang S2 bidang ushul, teman kami baru kemarin juga muncul foto mereka bersama para masyaikh yang mengujinya. Kami sangat menghormati mereka yang mengharamkan secara mutlak foto dan video, sebagai ijtihad dan pilihan mereka. Namun tidak bisa juga dipungkiri bahwa ulama muktabar yang membolehkan juga bukan sedikit dan bukan juga ulama sembarangan.

Pertanyaan M107

1. Untuk menumbuhkan di hati dan d fikiran kita bahwa kita merasa ada Allah yang mengawasi kita, kadang iya kalau dalam sholat kita bisa focus tapi ketika di pergaulan sehari-hari atau dalam pekerjaan bahwa kita belum merasa di awasi kadang suka lupa, pertanyaan bagaimana agar Allah selalu mengawasi aku?
Jawab
Dalam Islam ada dzikir dzikir tertentu pada momen tertentu yang hikmahnya adalah agar kita selalu ingat akan pengawasan Allah Swt. Misal ; Saat naik mobil, saat bersin, saat melihat yang mengangumkan, saat mau makan, saat mau minum, mau masuk wc, keluar wc dst.

2. Pertanyaan menyimpang ya, apakah pada saat kita bedoa di mesjidil haram doa atau permintaan kita banyak sekali apakah seperti itu adalah wajar?
Jawab
Silakan saja berdoa meminta sebanyak banyaknya, tidak ada larangan, Namun tetap jangan lupa doa doa yang diajarkan dalam quran dan hadits juga jangan ditinggal. Tentu adab berdoa pun sangat penting untuk kita perhatikan.

Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat
----------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 13 April 2015
Narasumber : Ustadz Doli Djanuar Sanusi
Tema : Tafsir
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online WA Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda 1

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment