Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

AJARKAN KEHIDUPAN KEPADA ANAK KITA

Berbicara tentang KEHIDUPAN, mengingatkan diri kita sebagai manusia dewasa dengan berbagai ragam bentuk peristiwa yang harus kita jalani sesuai dengan tuntunan hukum illahi, karena kehidupan tidak bisa kita lalui dengan semau kita, semua ada aturannya. Mengapa? Karena diri kita, hidup kita, kematian kita dan kehidupan kita kembali merupakan sebuah siklus yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah dan berada digenggamanNya. Oleh karena itu beruntunglah manusia yang faham Syariat Islam dan mentaatinnya.

Kesuksesan  seseorang adalah ketika dia sukses menjalani kehidupan ini sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Yang jelas bukanlah sebuah kesuksesan jika dia hanya mampu memperkaya dirinya, sementara hatinya miskin ilmu Agama, juga bukan sebuah kesuksesan jika dia tenar karena kepintarannya atau karena rupanya sementara dia  miskin Ahlaq. Demikianlah sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, bahwa jalan menuju kesuksesan dalam kehidupan yang mencerminkan teraihnya kebahagiaan dan keselamatan hidup baik didunia maupun di akhirat adalah dengan menjalani kehidupan ini melalui Manhaj Islam.

Setelah kita memilih jalan Islam, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita mengisi keislaman kita ini agar sesuai dengan yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri. Tentu jawabannya adalah dengan jalan menuntut ilmu Agama, berbagai Ilmu Syariat terkait kehidupan baik yang vital maupun yang tidak harus memenuhi khasanah hati kita. Dari seluruh ilmu Agama yang telah kita dapatkan harus segera kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga dapat memperbaiki kondisi kehidupan kita dan menjadi rintisan menuju kesholihan dan kedudukan yang mulia dalam hidup kita ini. Karena bagi setiap orang yang berilmu (Agama) maka sedikit atau banyaknya ilmu yang ada pada dirinya dan pengamalan atas ilmu2 tersebut menentukan kedudukan dirinya.

Kepiawiannya dalam mewarnai hidup dengan penuh keselarasan dengan Agama menentukan kemuliaannya baik dimata Allah ta'alaa maupun dihadapan sesama manusia. Jika kita mengingat tentang adanya berbagai ragam bentuk dan tingkatan kedudukan manusia itu dimata Allah subhanahu wa ta'alaa dan kemanfaatnya diantara sesama manusia, maka selayaknya jika kita memikirkan kita bagaimana kelak anak-anak kita ketika mereka sudah dewasa. Tentu mereka akan mempunyai kehidupan sendiri yang bisa jadi sama atau mungkin berbeda dengan keadaan kita saat ini.

Apakah berbeda atau sama, sebenarnya permasalahanya bukan tertumpu disana, hal yang terpenting justru ada pada fokus bagaimana kita bisa mempersiapkan anak-anak kita sebaik mungkin menjadi manusia dewasa yang tepat dalam mengartikan kehidupan ini, mengisinya dan mencari jalan keselamatan bagi dirinya dan keluarganya kelak. Oleh karena itu sangat perlu kita sebagai orang tua, membekali mereka dengan ilmu-ilmu KEHIDUPAN.

Dari sekian banyak jenis-jenis bekal ilmu kehidupan yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita, maka pastikan bahwa ada ilmu yang mengajarkan bagaimana mereka bisa menjadi para penghuni Syurga! Dan ini harus menjadi prioritas utama yang sudah kita siapkan sejak usia dininya. Jika kita mau hasilnya baik dan super, maka segala sesuatu itu harus ditekuni dan beri perhatian yang serius. Demikian juga dengan memberi perbekalan ilmu kehidupan kepada anak-anak kita. Jika perlu buatkan daftar apa saja yang akan menjadi agenda kita.

Beberapa hal yang harus masuk dalam agenda perbekalan untuk anak-anak kita (sesuai urutan prioritas) diantaranya bisa kita klasifikasikan dalam pola kurikulum sebagai berikut:

-1. Ilmu Agama

Bekali anak kita dengan bekal pemahaman Agama yang kuat dan pastikan bekal ini terpatri kuat didalam dirinya. Ilmu agama apa yang harus diberikan oleh orang tua kpd Anak-anaknya :

a. Ilmu Tauhid

>Pemahaman Tauhid sangat bisa diberikan kepada anak sejak usia dininya.
§  Kenalkan siapa dirinya, untuk tujuan apa Allah menciptakannya.
§  Kenalkan siapa Tuhannya, bagaimana sifat-sifat keagunganNya.
§  Kenalkan  Nabi Muhammad, sebagai Rasul dan UtusanNya. Dan juga ceritakan bagaimana sifat-sifat kepribadiannya yang luhur lagi mulia sebagai suri tauladan yang harus kita contoh sepanjang hidup kita. Perintahkan mereka untuk selalu melaksanakan berbagai sunnah Beliau sholallahu 'alaihi wassalam.

>Fahamkan dan tanamkan bahwa dia tidak dibenarkan mencintai segala sesuatu sebelum cinta kepada Allah, kepada Rasulullah dan juga jihad fii sabilillah.
>Kenalkan Al Qur'an sebagai Kitab Sucinya. Jelaskan dan ajarkan tentang hal-hal yang mudah dari Al Qur'an. Seperti membacanya, walaupun mereka bisa jadi ditahap awal pembelajaran akan tampak lambat, tetapi terus ajarkan, jangan pernah putus asa untuk mengajarkan Al Qur'an kepada anak-anak kita. Untuk mengahafalkan pun jangan khawatir anak tidak bisa. Justru ketika masih usia dininya anak-anak akan lebih mudah menghafal Al Qur'an daripada ketika dewasanya.

>Fahamkan dan tanamkan kaidah bahwa :
"Sebaik-baik seorang Muslim adalah yang belajar & mengajarkan Al Qur'an."

>Kemudian juga ajarkan dan latihlah anak-anak kita untuk banyak-banyak BERDZIKIR kepada Allah, selalu merasa diawasi oleh Allah dan selalu tumbuh rasa takut kepadaNya ketika dia hendak melakukan maksiat. Ajarkan anak-anak lafadz-lafadz dzikrullah yang besar keutamaannya, juga syaidul istighfar dan juga doa-doa Mustajab.

>Fahamkan dan tanamkan bahwa Dzikir dan Doa adalah senjata yang sangat hebat bagi dirinya dalam mengarungi badai ujian yang akan ditemui dalam kehidupannya kelak.

b. Ilmu Fiqh

Karena setiap Muslim itu memiliki kewajiban melaksanakan ajaran Syari'at Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, maka sebagai orang tua kita wajib mengajarkan anak-anak kita tata cara beribadah ( Fiqh ).

- Fiqh Thaharroh  ; awali dari cara Wudhu dan mandi Wajib. Kemudian jelaskan pula bahwa tidak hanya jasmani saja yang harus dibersihkan dari najiz dan kotoran. Akan tetapi Hati juga harus selalu disucikan dari penyakit hati seperti Riya' , Iri - dengki , Sombong , Takabur , Ujub dan Dusta.

Fahamkan dan tanamkan bahwa syetan itu berada dialiran darah dia dan selalu membisikkan keburukan sehingga hati kita kotor dan berdosa karena itu harus sering dia bersihkan dengan istiqhfar dan amal sholih yang lain.

- Fiqh Sholat ; Ajarkan anak-anak untuk Sholat Wajib tepat waktu dan sholat berjama'ah di Masjid bagi yang laki-laki. Juga perintahkan untuk membiasakan mengerjakan Sholat Sunnah. Jelaskan mengapa sholat itu harus khusyu'.

Fahamkan dan tanamkan bahwa Sholat itu adalah Hal yang paling penting didunia ini untuk dikerjakan seumur hidupnya. Karena jika tidak dia laksanakan maka celaka hidupnya di dunia maupun diakhirat.

- Fiqh Shaum ; hal yang membatalkan puasa dan aktivitas utama selama bulan Suci Ramadhan.

Fahamkan bahwa puasa adalah selain ibadah fisik juga yang lebih utama adalah sebagai ibadah hati yang kita peruntukkan sebagai bukti cinta dan ketaatan kita kepada Allah. Jadi usahakan menghindari hal-hal yang bisa membatalkannya.

- Fiqh Zakat ; bisa dengan pengenalan wajib menunaikannya.

Fahamkan dan tanamkan bahwa setiap Ibadah Maghdhoh (murni) harus sesuai dengan kaidah-kadah Fiqh yang disyari'atkan. Tidak bisa kita mengarang sendiri tata cara beribadah. Dan jika tetap dilakukan tanpa mengindahkan tata cara yang dituntunkan oleh Agama maka ibadah itu akan tertolak.

c. Akhlaqul Kharimah

- Biirul Walidayin.
- Shodaqoh dan Infaq.

Kedua amal tersebut diatas sangat penting untuk diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Karena Shodaqoh itu menghindarkan dia dari mara bahaya. Sedangkan Infaq akan mengukira amal sholihnya yang berpotensi menjadi sumber pahala jariyahnya. Setiap amal-amal yang berkaitan dengan mengeluarkan sebagian rizki dari dirinya harus kita ajarkan dan latih sejak kecilnya. Agar terbiasa dan ringan dalam melaksanakannya kelak ketika dia dewasa. Karena karakter manusia adalah cinta harta. Jika kita tidak mengajarkan anak-anak kita terbiasa mengeluarkan infaq dan shodaqoh maka bisa jadi mereka tidak akan memiliki kesadaran yang sempurna bahwa pada setiap rizki yang kita terima itu ada sebagian yang bukan hak dia.

Fahamkan dan tanamkan bahwa Tidak akan pernah miskin seorang Muslim yang bershodaqoh. Dan dengan bershodaqoh maka dia akan terlindung dari mara bahaya.

- Bersabar dalam segala urusan.
- Hemat & Berprilaku Sederhana.
- Pandai menghargai Waktu
- Suka membantu, menolong atau meringankan beban orang lain.

Hal-hal yang terkait dengan amalan sosial seperti ini harus diajarkan. Sehingga anak kelak tidak hanya bisa menikmatimya sendiri semua rizki yang telah Allah anugrahkan kepadanya, baik itu berupa harta materi, kesehatan (tenaga), kecerdasan (ilmu) dll. Serta sensitive dengan keadaan orang-orang disekitarnya.

Fahamkan dan tanamkan nilai-nilai ajaran Islam bahwa "Sebaik-baik seorang Muslim adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain." Berprilaku Jujur Dalam Segala Situasi.

d. Adab dalam Bermasyarakat.
§  Ajari beretika dengan teman-teman sekolah dan tetangga sekitar rumah.
§  Ajari bagaimana beretika ketika berada ditempat-tempat umum.
§  Ajari bagaimana turut menjaga kelestarian lingkungan alam dan juga fasilitas umum.

e. Mempersiapkan masa depan dirinya dengan bekal ilmu dan ketrampilan.

f. Merencanakan untuk berkeluarga.
§  Memberi masukan bagaimana menyusun kriteria memilih pasangan hidupnya. Fahamkan bahwa ketika dia sudah saatnya harus memilih siapa pasangan hidup yang akan dinikahnya, maka arahkan pada seseorang yang bisa menolongnya dan anak-anaknya nanti dalam menjaga ketaqwaannya kepada Allah. Pilihan pada calon yang memiliki visi dan misi hidup Qur'an adalah jauh lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya kelak di dunia maupun di akhirat daripada yang hanya memiliki kecakapan rupa dan kemapanan ekonomi dan kedudukan.
§  Memberi perbekalan yang cukup kepada anak saat-anak dia harus mengambil keputusan untuk siap berkeluarga adalah merupakan hal yang sangat penting dan utama bagi orang tua. Baik itu kita punya anak lelaki ataupun perempuan. Berikan pengetahuan tentang hak dan kwajiban mereka sebagai suami/istri. Karena menikah adalah pintu gerbang seorang anak untuk memasuki dunia dewasanya yang penuh kemandirian dan kemungkinan besar mereka akan berjalan sendiri membangun bahtera keluarganya. Baik ketika mereka dekat ataupun jauh dari diri kita, maka anak-anak kita adalah para pejuang-pejuang kehidupan yang harus siap memenangkan pertarungan antara yang haq dan yang bathil.  Antara segala bisikan kejahatan dan amal sholih. Dan disinilah saatnya segala yang pernah kita ajarkan tentang kehidupan benar-benar akan dia praktekkan.

Fahamkan dan Tekankan bahwa sebuah keluarga itu adalah Anugrah dan sekaligus Amanah, baik dia sebagai seorang istri maupun suami harus bisa memimpin dan membina keluarganya dengan penuh tanggungjawab. Kepemimpinan mereka kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di Akhirat. Membina keluarga

-2.Ilmu Sosial

Beri pemahaman bahwa manusia selain diciptakan sebagai seorang mahluk individu dia juga merupakan mahluq sosial. Jadi ilmu bagaimana agar bisa diterima di masyarakat harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan yang harus kita terapkan kepada anak-anak kita. Diantara ilmu yang penting sebagai bekal terjun ke masyarakat adalah :
§  Ringan Tangan ( suka menolong )
§  Rasa Empati
§  Tepo Seliro
§  Menjaga Harga Diri
§  Sifat Sportifitas

-3.Ilmu Keterampilan

Sebagai bekal anak-anak mencari nafkahnya kelak...
§  Ilmu Dagang
§  Ilmu Parenting : Mengenai perlunya memiliki visi keluarga yang akan dibangun.
§  Ilmu Menjadi seorang Istri / Suami. Beri pengenalan tentang hak dan kewajibannya. Agar bisa bisa mengantarkan keluarganya menjadi hamba-hamba yang Taqwa.
§  Ilmu yang berkaitan dengan Olah raga dan Bela Diri. Ilmu ini untuk membentengi dirinya dari gangguan orang lain serta membangun rasa percaya dirinya.

Waallahu a'laam.
Demikian kiranya sharing kita pada siang ini. Saya susun khususnya sebagai acuan bagi diri saya sendiri dan Selebihnya semoga ada yang bisa mengambil manfaat juga darinya.
Billahi Taufiq wal Hidayah

TANYA JAWAB

Pertanyaan M02

1. Banyak orang tua yang mengeluh anak-anaknya dibesarkan dengan didikan yang sama, perlakuan dan asuhan yang sama. Tapi kenapa beberapa orang tua merasa bahwa misalnya anak yang satu berbeda dengan yang lain. Misalnya anak yang pertama begitu taat, cekatan dan disiplin sedangkan anak kedua agak ngeyel, letoy dan susah untuk disiplin. Bingung kan para orang tua. Kenapa bisa sampai berbeda?
Jawab
Setiap anak biasanya sudah dibekali dengan sifat dan karakter sendiri-sendiri oleh Allah. Dari perbedaan yang ada diantara mereka tidak boleh membuat orang tua lantas bersikap tidak adil. Perbedaan sifat dan karakter anak-anak ini adalah bagian dari ujian kita sebagai orang tuanya. In syaAllah masing-masing anak pasti memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Jika ada yang memiliki banyak kelebihan maka bersyukurlah. Dan terhadap yang banyak kekurangannya maka bersabarlah. Doakan kebaikan bagi semua anak-anak kita.

2. Bun mau tanya, apakah semua pemahaman materi diatas diajarkan sekaligus ataukah satu persatu sesuai usia si anak?
Jawab
Tentu secara bertahap bunda sayang. Sesuaikan dengan usianya

Pertanyaan M03

1. Ustadzah saya mau tanya. Anak saya masih TK. Pelajaran pertama yang bagus buat dia apa? saya masih mau mengajari sedekah, untuk perkenalan pada Tuhan nya,dia belum tau apa-apa? apa lagi yang lainnya?
Jawab
Untuk usia segitu insyaAllah sudah banyak yang bisa kita ajarkan bunda. Termasuk Tauhid dan fiqh seserhana, misal doa ketika hendak masuk kamar mandi, doa sebelum tidur, doa hendak bepergian dll. Termasuk juga kita ajarkan Tauhid, dengan melalui dibacakan untuknya cerita para Nabi, cerita tentang Rasulullah saw dan para sahabatnya dlsb. Pendek kata jangan kita menganggap anak seusia itu belum faham. In syaAllah mereka bisa memahami walaupun belum sempurna penangkapannya karena akalnya belum sempurna. Tetapi walapun demikian jika kita diskripsikan bahwa yang namanya Allah itu Tuhan kita , yang telah menciptakan diri kita dll.

2. Metode seperti apa yang mudah agar kita dapat mengajarkan itu semua?
Jawab
Metode yang tepat adalah dengan memberi contoh diri kita agar menjadi model utama bagi anak-anak kita untuk berkaca dan mengambil hal-hal yang baik untuk bekal perhiasan ahlaq dan budi pekertinya. Jika anak sudah mulai tumbuh remaja seringlah ajak untuk berdiskusi masalah kehidupan yang selalu kita kaitkan dengan tuntunan Agama.

Pertanyaan M06

1. Bagaimana mendidik anak yang suka membantah, misalnya  fulan jadi anak yang sholeh pinter bageur, terus si anak menjawab, ga mau pengen jadi anak cengeng aja, umurnya baru 4 tahun sih
Jawab
Untuk kasus semacam ini, saya sarankan agar kedua orang tuanya banyak istighfar dan introspeksi diri. Karena prilaku anak itu berasal dari cerminan pendidiknya, yakni ibunya. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Hal ini harus kita camkan dengan baik agar kita selalu bersemangat dalam meningkatkan kwalitas diri agar bisa menjadi model yang ideal bagi anaknya. Karena anak seusia itu adalah usia yang gemar menirukan perangai orang-orang dewasa disekitarnya.

Pertanyaan M07

1. Ustadz kalo ilmu pengetahuan umum yang dipelajari disekolah itu masuk yang mana? dan bagaimana orang tua memastikan bahwa  ilmu akhirat lebih banyak dipahami anak-anak?
Jawab
Semua ilmu yang bermanfaat itu baik. Tetapi pengertian bermanfaat ini lebih spesifik yakni ilmu yang bisa mengantarkan dirinya menjadi seorang yang Taqwa kepada Tuhannya, maka ilmu inilah yang akan menjadi hujah dalam kehidupannya dewasanya. Adapun ilmu yang harus dipelajari dalam kehidupan ini adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Syariat Islam. Semua cabang ilmu agama yang ada didalamnya in syaAllah akan membawanya kepada kehidupan yang baik dan selamat. Sedangkan bagaimana dengan ilmu umum? Silahkan dipelajari, asal tetap prioritas utama adalah mendahulukan ilmu Agama. Jikalaupun ilmu dunia dipelajari maka niatkan ilmu yang kita berikan kepada anak adalah sebagai sarana dia untuk menjadi manusia yang memiliki ilmu dan ketrampilan sehingga kelak dia bisa gunakan untuk mencari nafkah kehidupan. Adapun untuk memastikan bahwa ilmu akhirat lebih banyak difahami oleh anak kita, perhatikan bagaimana dia mau mengerjakan perintah agama, seperti sholat. Apakah dia enggan, ketika urusan menolong orang lain disekitarnya apakah dia memiliki kepekaan dlsb. Kepahaman seorang anak atas ilmu-ilmu akhirat paling mudah kita deteksi dari ketaatannya kepada ibunya.

2. Ustadzah bagaimana seharusnya sikap orang tua kalau anak laki-lakinya cenderung menyukai ketrampilan perempuan seperti menari, memasak dan membuat kerajinan tangan ( menjahit dll)?
Jawab
Orang tua harus segera melakukan tindakan yang diperlukan, untuk menjaga fitrahnya. Karena bisa jadi hal seperti itu merupakan awal dari penyimpangan fitrah anak. Jika kurang faham konsultasikan kepada ahlinya. Serta segera arahkan anak untuk segera bisa beradaptasi dengan teman-teman lelakinya, jauhkan dari bergaul dengan teman perempuan. Beri stimulasi permainan yang sesuai dengan jenis kelaminya. Dan yang jelas doakan dengan sungguh-sungguh agar Allah menjaganya dari hal-hal yang kurang baik.

Pertanyaan M08

1. Ustadzah, bagaimana contoh konkrit mengajarkan / mengenalkan Alloh sejak dini? Terimakasih
Jawab
Mungkin bisa dimulai dengan cara yang sederhana seperti dengan menunjukkan ciptaan Nya. Disana kita bisa mendiskripsikan tentang sifat-sifat Allah dan Kemaha kuasaannya atas penciptaan sesuatu. Juga dengan melalui pembacaan kisah-kisah dari Shiroh Nabi dalam menjalani kehidupannya bersama para sahabat. Dari sana in syaAllah kita akan bisa dengan mudah muncul ide-ide untuk menjelaskan tentang Allah kepada anak-anak kita.

Pertanyaan M09

1. Ustadzah mulai umur berapa anak sudah diajarkan ilmu ketrampilan (ilmu dagang, parenting, ilmu menjadi suami/istri)?
Jawab
Tergantung situasi dan kondisi. Bisa lebih awal, akan tetapi karena hal ini kita sebagai pembelajaran saja jadi jangan diforsirkan, sifatnya untuk pengenalan saja. Kebetulan saya alhamdulillah sudah menerapkan pendidikan dan pemahaman tentang ketrampilan berdagang sejak anak kelaki saya usia 7 tahun. Dan rupanya saya perhatikan dia cukup kreatif bagaimana untuk membeli mainan baru yang dia inginkan fia berusaha menjual mainan lamanya kepada teman-temannya. Hal ini kembali tergantung pada bakat anak juga. Setidaknya jika anak lelaki memang kita harus didik untuk kreatif dalam memenuhi kebutuhannya. Walaupun hanya dari cara yang sederhana.

Pertanyaan M10

1. Saat kita memberi pemahaman pada anak seperti diatas, kemudian mengamalkannya kita juga harus siap menghadapi sikap tidak sepaham dari lingkungan ato saudara kita. Bagaimana menyikapinya ustazd? Kadang malah jadinya sakit hati mendengar omongan mereka. Padahal niat kita baik menanamkan pendidikan agama pada anak.
Jawab
Dalam setiap melakukan ibadah apa saja memang akan selalu ada kendala baik ringan maupun berat. Termasuk juga ketika kita ingin menerapkan sesuatu yang baik menurut Agama kepada anak kita, maka bisa jadi akan ada masalah yang kita hadapi baik internal maupun eksternal. Internal maksudnya yang berasal dari dalam keluarga kita sendiri misal: dari si anak itu sendiri, atau dari pasangan kita atau dari diri kita juga bisa, karena tidak sabar dll. Sedangkan dar eksternal adalah dari keluarga besar, lingkungan tetangga dlsb.

Baik ... Bagaimana menyikapi semua ini ?

Pertama :
Kita harus fahami bahwa ketika syariat Agama ditegakkan ditengah lingkungan masyarakat yang belum kerkondisi baik penahaman Agamanya. Maka tentu akan banyak terjadi kesan-kesan penolakan atau ketidak sukaan atas sikap kita ini. Karena dalam penerapan Syariat Islam ditengah masyarakat itu pasti akan terjadi pengelompokan level kesetiaan terhadap Rasulullah seperti hadist Beliau shalallahu 'alaihi wassalam, yang terjemahan bebasnya dalam Shohih Bukhari :
"Setiap Nabi mempunyai hawariy (pengikut setia), dan hawariyku adalah Az-Zubair (bin Al-Awwam).”
Pelajaran dari hadist ini :
Ada 3 golongan level orang dalam hal kesetiaannya kepada Rasulullah saw :

a. Kelompok Level Pertama
Sejauh mana diri kita benar-benar siap menjadi pengikut Rasul saw. Pendukung Rasulullah saw pertama itulah yang disebut Khawari (pengikut setia). Di dalam Al Qur'an ada di surat Ali Imron dan As Shaff - orang sudah siap menginfaqkan lahir dan batinnya untuk Agama Allah. Seluruh sahabat Rasul saw adalah Hawary. Penggerak atau otak dari perjuangan perubahan ummat. Dan Abdullah bin Zubair disebut special sebagai Khawari Beliau saw.
Dalil Qur'an tentang Kisah Al Hawarriyun :
Artinya : ”Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)." Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali-Imran : 52-54)
Al-Qur’an juga telah memastikan bahwa Al-Hawariyyun adalah betul-betul sahabat yang setia. Pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka antara lain dengan memerintahkan kepada orang yang beriman agar mengikuti Al-Hawariyyun, sebagaimana dalam potongan ayat yang artinya sebagai berikut:
Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia (Al-Hawariyyun) : "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaaf  : 14)
b. Kelompok Level Kedua
Komitmen untuk meneruskan dakwah Rasul saw. Tetapi tidak sampai menjadi Penggerak / Pencetus Perubahan Umat seperti Al Hawari.

c. Kelompok Level Ketiga :
Adalah golongan orang-orang yang mengaku pengikut Rasulullah saw akan tetapi hanya rajin bicara. Dan apa yg diucapkan hanya sebagai retorika, mereka tidak menerapkan apa yang dia serukan. Lebih banyak melaksanakan yang mubah atau yang dilarang dst.

Kedua :
Jika terjadi gambaran seperti kondisi diatas, maka kita perlu mempersiapkan ilmu dan mental keimanan yang kokoh. Keyakinan yang kuat bahwa apa yang kita lakukan ini adalah sebuah jalan kebenaran. Niat dan penerapan penegakan Pendidikan Islam kepada anak-anak kita adalah merupakan bagian dari Perjuangan Hidup kita sebagai bukti kesetiaan kita kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.

Jika kedua hal diatas kita fahami dengan baik in syaAllah kita akan tahan dengan apa pun ujian yang kita hadapi baik dari dalam maupun dari luar tadi. Waallahu a'lam bishowwab.

Pertanyaan M11

1. Jika kita sudah mengajari hal-hal tersebut, namun ternyata di lingkungan bermainnya misal sekolah teman-temanya mengajarkan hal yang tidak sesuai semisal omongan yang kasar, bagaimana cara kita menyikapinya? Sedangkan saat ini banyak sekali terjadi kekerasan pada anak-anak usia SD?
Jawab :
Jika kita sudah memiliki pola yang sudah bagus maka memang belum tentu serta merta akan menuai hasil seperti yang kita harapkan. Karena dalam prakteknya pendidikan anak itu hasilnya  bagaimana lingkungan membentuknya. Seorang ibu harus pandai menyeleksi pergaulan lingkungan diluar rumah. Tidak perlu kita terlalu protektif akan tetapi memang bekal pendidikan moral dan ahlaq di keluarga harus sudah kuat sebelum kita membiasakan anak bermain diluar rumah. Perlu diperhatikan hal-hal berikut :

  • Amati / perhatikan dengan siapa anak-anak kita bergaul.
  • Jauhkan dengan cara yang tepat dari anak-anak yang terbukti tidak baik.
  • Hindarkan anak dari kegemaran menonton televisi.
  • Tanamkan kebiasaan anak untuk membaca buku-buku Agama bersama kita.
  • Bikin kesibukan yang positif di rumah hingga anak tidak lagi tertarik bermain diluar.



2. Apakah boleh kita mengajari anak terutama berkenaan ilmu agama dengan tegas dan keras? Terkadang dengan cara lembut ga mempan. Anak saya baru MI kelas 1. Namun pemahaman&logika keagamaannya cukup bagus. Tapi ya namanya juga anak-anak. Suka ngeyel
Jawab
Saya rasa boleh saja kita bersikap tegas dan cenderung keras kepada anak asal dalam koridor mendidik ya juga jangan terlalu sering. Jika memang terpakasa diperlukan saja. Dan akan lebih baik kita tetap bersabar dan banyak berdoa agar anak kita dimudahkan dalam menerima hidayah danbimbingan Agama. Mungkin orang tuanya perlu banyak introspeksi diri dan istighfar. Karena anak adalah titipan, ujian dan amanah bagi kita. Waallahu a'laam bishowwab

Pertanyaan M12

1. Apakah yang dimaksud dengan Ujub yang merupakn penyakit hati tadz?  Dan apa yang di maksud dengan biirul walidayin mohon penjelasannya? jazakillah
Jawab :
Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Imam al-Ghazali pernah berkata "Perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah."
Akibat dari ujub sangat bahaya buat kita bunda. Karena itu semoga kita terhindar dari perbuatan Ujub ini. Berikut diatara bahaya atau akibat berbuat Ujub :

a. Membatalkan pahala : Rasulullah s.a.w bersabda:
“Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani)
b. Menyebabkan Murka Allah :  Nabi s.a.w bersabda, 
“Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ‘ujub, maka ia menanti murka Allah.” (HR. Baihaqi)
Perasaan ‘ujub menyebabkan murka Allah, karena ‘ujub telah mengingkari karunia Allah yang seharusnya kita syukuri.

c. Terjerumus ke dalam sikap ghurur (terperdaya) dan takabur.

Orang yang kagum pada diri sendiri akan lupa melakukan instropeksi diri. Bersamaan dengan perjalanan waktu, hal itu akan menjadi penyakit hatinya. Pada akhirnya ia terbiasa meremehkan orang lain atau merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan tidak mau menghormati orang lain. Itulah yang disebut takabur. Nabi s.a.w bersabda,
”Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)
d. Gengsi menerima masukan, sehingga sulit menerima taushiyyah, semakin keras hati dan keras kepala

e. Menyebabkan mengumbar nafsu dan melupakan dosa-dosa

Seseorang yang mempunyai perasaan ‘ujub akan selalu menilai dirinya baik dan tidak pernah menilai dirinya buruk dan serba kekurangan, sehingga ia selalu mengumbar keinginan hawa nafsunya dan tidak merasa kalau dirinya telah berbuat dosa. 
Nabi bersabda, “Andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa sedikitpun, pasti aku khawatir kalau kalian berbuat dosa yang lebih besar, yaitu perasaan ujub.” (HR. Al Bazzar).
f. Menyebabkan orang lain membenci pelakunya.

Pada umumnya, orang tidak suka terhadap orang yang membanggakan diri, mengagumi diri sendiri, dan sombong. Oleh karena itu, orang yang ‘ujub tidak akan banyak temannya, bahkan ia akan dibenci meskipun luas ilmunya dan terpandang kedudukannya.

g. Menyebabkan Su’ul Khotimah dan kerugian di Akherat.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebut-nyebut kembali pemberiannya, seorang yang durhaka, dan pecandu minuman keras.” (HR. Nasa’i)
Orang yang mempunyai sifat Ujub biasanya suka menyebut-nyebut kembali sesuatu yang sudah diberikan.

h. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan

Sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan. Sedangkan kita tahu bunda bahwa sifat sombong itu sangatlah dibenci oleh Allahu ta'aa. Na'udzubillahi mindzalik.
 ----------------------------------------------------------------------------------------------------
Adapun untuk pertanyaan yang kedua adalah tentang Biruul Walidayin. Adalah sikap atau amal ibadah berupa berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Perbuatan baik ini tentu sangat banyak sekali jenisnya, diantaranya adalah :

  • mentaati perintahnya selama tidak bertentangan dengan hukum Allah.
  • bersikap lemah lembut.
  • memenuhi segala kebutuhannya.
  • menjaga kesehatannya.
  • memberikan rasa aman, terntram dan bahagia dlsb.
Adapun dasar dalilnya adalah sbb :
Dasar hukum disyariatkannya untuk berbakti kepada orang tua di dalam Al-Qur'an, adalah firman Allah:
“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (QS. An-Nisa’:36).
“...dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “...dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik saya waktu kecil".” (QS. Al Isra’:23-24)
“...dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS.Luqman: 14)
“Katakan: Marilah kubacakan apa yang telah diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-An’am: 151)
Juga dalam As-Sunnah, rasulullah  bersabda:
“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” [17].
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta)."
Waaallahu a'laam bishowwab.

Pertanyaan M13

1. Mau tanya Ustadz, dalam buku Tarbiyah Aulad Fiil Islam disebutkan bahwa jiwa manusia, dengan segala isinya berupa kecenderungan, tabiat, dan pembawaan. Jika benar demikian, bukankah artinya prilaku manusia itu sudah ditentukan dari sebelum keberadaannya di bumi? Lalu apa sebenarnya perbedaan dari tabiat dan pembawaan itu? Terimakasih. Tabik, Ida Raihan
Jawab
Mungkin yang dimaksud pertanyaan bunda diatas adalah tentang Takdir ya? Kita sering menyatakan atas suatu kejadian: “Ah- itu semuanya adalah Takdir, ketentuan Allah yang tidak bisa dirubah”. Betulkah demikian?
Dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam yang dibagi kedalam dua kelompok besar, yakni TAKDIR MUBROM dan TAKDIR MU’ALLAQ, sebagaimana penjelasan berikut:

a. Ada yang namanya TAKDIR MUBROM atau yang sifatnya TETAP. Yakni :
Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi
Dan yang berikutnya adalah Takdir Dalam Kandungan, yaitu Malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut. Takdir ini sebetulnya termasuk takdir dari Ilmu Alloh seperti yang pertama, yakni telah digariskan dalam tubuh sang jabang bayi. (Dalam ilmu pengetahuan Genetika modern mungkin dapat digambarkan pada unsur DNA?)
Kemudian selanjutnya ada yang namanya :

b. TAKDIR MU’ALLAQ (TAKDIR YANG TERGANTUNG). Takdir ini berada di Lauh Mahfudh.
Jenis Takdir ini ada 2 macam :

>Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah :
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).” (QS. Ar Ra’du : 39)

>Dan yang kedua, Takdir Yang Diikuti Sebab Akibat
Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu DAN HAL- HAL yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan:
“Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia.”
Dalam salah satu hadits lain Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ

“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”

Khalifah Umar bin khattab, suatu ketika, pernah mau berkunjung ke Syam ( Yordania, Palestina, Suriah dan sekitarnya). pada saat itu di Syam sedang berjangkit penyakit menular, lalu Umar membatalkan rencananya tersebut. pembatalan tersebut didengar oleh seorang sahabatnya yang kemudian berkata : “Apakah anda mau lari dari takdir Allah?”. Umar pun menjawab: “Aku lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain yang lebih baik”.

Hal senada itu juga dialami oleh Ali bin Abi Thalib, ketika beliau sedang duduk menyandar pada sebuah tembok yang ternyata rapuh, lalu beliau pindah ke tempat yang lain, sahabatnya bertanya : “Apakah anda mau lari dari takdir Allah?”. Ali menjawab bahwa rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit dan sebagainya adalah hokum dan Sunnatulloh. Maka apabila seseorang tidak menghindarinya maka ia akan mendapatkan bahayanya itu. ITULAH YANG DINAMAKAN TAKDIR. Dan apabila ia berusaha menghindar dan luput dari bahayanya, itu juga disebut dengan TAKDIR. BUKANKAH TUHAN TELAH MENGANUGRAH KAN MANUSIA, kemampuan memilah dan memilih, dan kemampuan berusaha dan berikhtiyar. Kemampuan itu juga takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Bahkan Rasululloh sebagai tauladan tertinggi, saat Hijroh dan dikejar musuh, beliau bersembunyi di gua Tsaur sebagai bentuk Ikhtiyar, bukan karena takut atau lari dari Takdir, dan Allah telah mentakdirkan seekor burung dan seekor laba- laba bersarang disana, dan Alloh pun telah mentaqdirkan beliau akan selamat sampai di Madinah dan telah mentaqdirkan pula Islam sebagai agama dunia.

Oleh karena itu marilah kita banyak berdo’a, bersodaqoh, bersilaturrahmi, birrul Walidain serta mengamalkan kebaikan-kebaikan lainnya serta berusaha dan berikhtiyar tanpa henti, mudah- mudahan ada bagian takdir buruk kita yang bisa dihapuskan dan digantikan Allah tersebab amaliyah- maliyah dan segala ikhtiyar kita tersebut serta menggantinya dengan kebaikan- kebaikan dan keberhasilan.

Termasuk terkait pentanyan diatas mungkin bisa dijelaskan bahwa tentang sifat itu secara genetik memang sudah bawaan dari anugrah Allah ya. Akan tetapi jika terkait dengan tabiat itu adalah merupakan semacam kebiasaan manusia yang terbentuk dari didikan lingkungannya. Sehingga jika seorang berada dalam lingkungan yang baik dan Islami maka kemungkinan kecil sekali sifat dan tabiat dia menyimpang. Demikian sebaliknya.
Waallahu a'laam bishowwab.

Pertanyaan M15

1. Bagaimana cara melakukan biruul walidayin kepada orang tua kandung sedangkan kedudukannya adalah sebagai istri yang wajib taat pada suami dan mengutamakan mertua?
Jawab
Bunda Sholihat,  Mari kita perhatikan bagaimana tuntunan Allah kepada kita tentang bakti kepada orang tua kita :
“...dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS.Luqman: 14)
Dari terjemahan ayat diatas tergambar bagaimana kedudukan amal sholih yang berupa berbakti kepada orang tua itu. Allah hampir mensejajarkan biruul walidayin dengan amal ibadah kesyukuran kepadaNya. Ini menunjukkan makna yang sangat dalam bagi kita betapa kedudukan biruul walidayin itu disisi Allah ta'alaa adalah sangat penting artinya. Sangat utama kemuliaannya. Sehingga dalam beberapa hadist disebutkan bahwa Durhaka kepada Orang Tua adalah merupakan Dosa Besar.

Demikian pemahaman yang harus ada dalam pikiran kita. Sehingga darinya kita bisa segera berkaca bagaimana kondisi kita terhadap orang tua kita. Apakah kita sudah maksimal dalam berbakti ? Jika kita merasa belum maksimal maka nari kita segera memohon ampunan kepada Allah dan kita perbaiki ahlaq kita san kita doakan keduanya. Bakti kepada mertua juga memang harus seimbang dengan orang tua kita karena dalam Agama kedudukan mereka sama. Jika kita telah melebihkan Mertua daripada orang tua kita sendiri maka segera perbaikilah kondisi ini. Beri pemahaman kepada Suami kita, jelaskan bagaimana Allah memerintahkan. Kembali kepada jalan taqwa adalah yang utama sebelum azab Allah datang kepada kita tanpa kita sadari waktunya. Karena biasanya durhaka kepada orang tua itu azabnya tidak menunggu sampai kiamat tiba. Tetapi Allah segerakan di dunia dan juga di akhirat akan lebih dahsyat jika anak juga belum segera bertaubat memohon ampun kepadaNya.

Semoga Allah menerima taubat kita. Mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa kedua orang tua kita serta mengampuni dosa-dosa saudara kita yang bertaubat kepadaNya. Aamiin yaa Robb
Waallahu a'laam bishawwab

Pertanyaan M16

1. Ustadzah, bagaimana membaginya sesuai fase usia anak secara umum?
Jawab :
Setiap ibu memiliki kebijaksanaan pembagian fase pendidikan yang berbeda-beda. Tergantung pada situasi dan kondisi anaknya. Akan tetapi secara umum pembagian fase pendidikan kepada anak secara umum biasanya bisa dimulai dari sejak anak berada didalam kandungan. Yakni dengan ibunda dan ayahandanya menempa dirinya dalam kesholihan yang mantab. Kedekatan ibu hamil dengan Al Qur'an akan sangat mempengaruhi kecerdasan spiritual anak yang akan dilahirkannya. 

Kemudian fase Nol sampai dengan 6 tahun kira bisa banyak memberikan bimbingan yang sifatnya tehnis tetapi dominan sentuhan kasih sayang yang lembut. Pada masa usia ini pendidikan Aqidah sudah mulai bisa ditanamkan melalui cerita-cerita dari sumber yang shohih. Baiknya tidak perlu dikenalkan dengan cerita fiksi. Akan tetapi Shiroh Nabi dan Sahabat insyaAllah akan lebih mendidik dan sangat efektif menjadi landasan pembentukan moral dan karakter pribadi anak. Untuk hasil yang memuaskan ibunda harus konsisten dalam pendidikan masa ini. Pengenalan sekaligus praktek tentang ibadah utama yakni Sholat sudah bisa diterapkan kepada anak usia ini. 

Kemudian anak usia 7 th sd 12 thn - pada usia ini mulailah memberi instruksi yang tegas. Tetap meneruskan pijakan ilmu-ilmu yang kita berikan pada fase pertamanya, hanya saya kita perlu beri ketegasan dan bimbingan agar anak mulai memiliki rasa tanggung jawab terhadap ilmunya untuk dia terapkan dengan ihlas secara bertahap. 

Setelah itu kita bisa mulai memasuki fase berikutnya yakni usia 13 - 16 thn. Pada fase ini ciptakan gaya pendidikan yang bersifat parthnership - atau - persahabatan. Beri kesan bahwa antara diri kita dan dia adalah bagaikan sepasang Sahabat yang saling mendukung dan melengkapi. Usahakan pada fase ini tergali perkembangan emosionalnya secara jelas. Buat agar dia merasa nyaman dan terbuka kepada kita.

Fase terakhir adalah masa usia matang dan dewasa yakni usia 17 thn dst . Sandingkan diri anak sebagai manusia dewasa yang akan bersama-sama kita siap mengarungi kehidupan yang sebenarnya dengan memikul amanah dan tanggung jawab terhadap Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendakNya.
Waallahu a'laam bishawwab

Pertanyaan M18

1. Ustadzah mohon tips dan triknya bagaimana cara menjelaskan ke anak-anak balita tentang keberadaan Allah, Rosulullaah, kiamat, surga dan neraka. Kenapa harus sholat dll dengan bahasa yang sederhana dan mudah di mengerti anak. Saya agak merasa kesusahan menjawab saat anak saya nanya Allah itu ada di mana?
Jawab :
Dibacakan saja bunda dari buku-buku cerita Agama yang bukan fiksi. Saya rasa sekarang ini banyak sekali yang menawarkan ilmu yang dikemas dengan bahasa anak yang sesuai dengan umurnya. Kalo bisa carilah yang terkait kisa kehidupan Nabi-nabi Allah dan juga Shiroh Sahabat.

Pertanyaan M19

1. Assalamu'alaikum ustad saya mau tanya, anak saya selalu saya ajarkan untuk shalat berjamaah dimesjid tapi kendalanya biasa kalau uda ketemu teman-teman sebayanya biasanya ribut dan selalu diingatkan terus untuk tidak ribut dimesjid awalnya mungkin diam tapi lama kelamaan ribut lagi, gimana ya ustad supaya anak tetap diajarkan untuk biasa shalat berjamaah tapi tidak ribut dimesjid?
Jawab :
Sebaiknya memang sebagai orang tua kita jangan ragu untuk mengajarkan anak laki-laki kita untuk sholat di Masjid. Karena bagi laki-laki sholat berjama'ah di masjid adalah suatu kewajiban, sehingga pengenalan orang tua kepada Masjid kepada anak lelakinya menjadi hal yang harus diusahakan, apapun kendalanya. Ketika anak kita masih kecil harus kita tanamkan kebiasaan berada di masjid hingga tumbuh rasa cinta kepada Masjid. Jika kondisi anak kita mendapat gangguan dari anak-anak lain hingga terjadi keributan memang suatu hal yang sangat tidak kita inginkan. Dan hal ini tentu saja ada penyebabnya. Mungkin saja karena pemahaman anak kita tentang adab di masjid belum kita sampaikan kepadanya. Atau bisa juga kita mencari waktu dan proses pengenalan ini dari waktu-waktu yang tidak terlalu banyak anak hadir. Misal waktu Shalat Subuh. Waktu Shubuh memang bisa jadi berat untuk kita mengajak anak ke Masjid. Akan tetapi hal ini bukanlah sebuah kemustahilan. Karena alhamdulillah di keluarga kami kebetulan anak lelaki sudah saya biasakan pergi ke masjid sejak Sholat Subuh nya dari usia 4,5 tahun. Dan sejak usia tersebut anak hingga usia saat ini 9 thn sudah terbiasa sholat 5 waktu di Masjid.


Mengapa harus kita terapkan hal ini sejak dini ? Karena saya ingin menerapkan kedalam image anak bahwa Sholat 5 Waktu di Masjid itu bukan hanya sekedar pilihan dalam hidupnya. Tetapi justru hal itu adalah Habbit utama ( kebiasaan yang sangat penting ) yang harus menjadi bagian dari aktivitas kehidupannya sehari-hari. Demikian mungkin tips ibu harus rela menemani atau memgusahakan anak lelakinya agar mencintai masjid harus menjadi perhatian dalam penerapan pendidikan kepada anak-anaknya.

----------------------------------------
Hari / Tanggal: Selasa, 12 & 19 Mei 2015
Narasumber : Ustadzah Endria Sari Hastuti
Tema : Parenting
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online WA Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda