Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » BERDAKWAH SEJAK SEBELUM DAN SELAMANYA

BERDAKWAH SEJAK SEBELUM DAN SELAMANYA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, April 4, 2015

بسم الله الرحمن الرحيم
Berdakwah adalah amal sholih istimewa yang pahala nya luar biasa banyak dan tidak sebanding dengan amalan nya. Artinya,  pahala yang kita terima jauh lebih banyak, jika dibandingkan dengan amal yang kita kerjakan. Ini, karena pahala dakwah bisa terus berjalan, jika kita ikhlas dan ada hasilnya (seruan kita dilaksanakan oleh orang lain) meskipun kita (si dai) sudah wafat. Masya Allah.

Ini berarti adalah amal sholih yang luar biasa dan tentu nya tidak boleh disia-siakan. Marilah kita baca firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW berikut ini,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fussilat : 33)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئً 
dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR. Muslim)
Itu lah keistimewaan amal sholih dakwah (menyeru manusia kepada Islam dan atau kemanfaatan). Bersama dengan hal demikian, ternyata tidak semua umat Islam mau dan semangat untuk meraih semua peluang ini. Di antara alasan yang selama ini mereka sampaikan, ketika ditanya tentang absen nya dari aktivitas dakwah, adalah bahwa dia belum pantas menjadi dai. Ada juga yang beralasan, bahwa dia nunggu sukses duniawi dulu, baru melakukan Dakwah. Anggapan mereka, dengan sukses duniawi terlebih dahulu, maka dakwah nya akan lebih mudah diterima oleh masyarakat, dan di samping itu, yang lebih penting lagi, adalah bahwa dirinya, akan lebih mudah terbebas dari niatan duniawi dalam dakwah.

Semua itu memanglah alasan-alasan yang baik dan masuk akal. Hanya saja, jika kita mau mencermati lagi, sebenarnya ini bisa juga merupakan  alasan-alasan yang dibuat oleh syaithan untuk menghalangi kita dari mendapatkan pahala yang luar biasa itu.

Oleh karena itu, hendaklah kita memikirkan sekali lagi, jika kita hendak mengabaikan peluang pahala besar dari amal dakwah ini. Apakah  ibadah kita sudah cukup banyak, sehingga menyebabkan kita pantas masuk surga tanpa amal dakwah? Apakah kita sudah tidak punya dosa lagi, sehingga tidak butuh pahala untuk menghapus dosa tersebut? Jika belum, maka justru sebenarnya amal dakwah Islam ini harus kita lakukan, untuk menyempurnakan diri kita, dan bukan malah kita tinggalkan. Amal dakwah ini, seharusnya malah lebih kita giat kan, tatkala diri kita masih belum sempurna dan butuh perbaikan. Harapan nya, dengan amal dakwah tersebut, semoga akhirnya bertambah semakin baik perilaku dan akhlak kita.

Dengan dakwah pula kita berharap Allah SWT mengampuni  dosa kita dan menambah pahala kita. Dengan demikian, akhirnya, kita berharap agar Allah SWT meridhoi kita dan selalu membimbing kita untuk terus berada di jalan Nya yang lurus sampai akhir hayat. Aamiin. Wallahu'alam bish showab

TANYA JAWAB
1. Ustadz, apa perbedaan antara habib dan syekh? Ada pula yang menyebut Al-anbiya'. Mohon penjelasannya ustadz.

Jawab :  Arti secara bahasa :
* Syaikh (orang tua, lanjut usia). Kemudian digunakan untuk memanggil orang yang dituakan di dalam masyarakat Islam. Dan dalam Kampus Bahasa Arab, Syaikh dipakai untuk gelar Prof. Sama dengan gelar al-ustadz (yang artinya juga Prof.)
* Habib (kekasih). Kemudian oleh masyarakat, digunakan untuk menyebut orang yang nasab nya sampai ke Fatimah Binti Muhammad SAW. Biasanya nasab disandarkan ke jalur ayah, tapi setelah sampai di anak nya Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib, anehnya disandarkan kepada Fatimah Binti Muhammad SAW, kemudian disandarkan kepada Muhammad SAW. Dari ini, akhirnya masyarakat menggunakan istilah Habib (bentuk jamak nya habaib) sebagai keturunan Rosulullah SAW.
* Al-anbiya' (bentuk jamak dari Nabi) jadi artinya ya para Nabi.


2. Ustadz, kalau males berdakwah gimana hukumnya? Banyak sekali saat ini organisasi yang mengatas namakan dakwah tapi kenyataannya buat kepentingan pribadi atau golongan.

Jawab: Hukum Berdakwah itu diperselisihkan oleh ulama. Ada yang menilainya wajib ain, ada yang wajib kifayah, dan ada yang sunnah muakkadah. Adapun saya, cenderung memilih yang pertengahan, yakni yang wajib kifayah. Karena itu, jika seluruh umat Islam di suatu wilayah tidak ada yang berdakwah, maka seluruh nya berdosa. Jika sudah ada yang mewakili nya, maka seluruh nya tidak berdosa dan bagi yang mewakili itu mendapatkan pahala. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa ada organisasi dakwah yang orientasinya keliru. Meskipun demikian, ini tidak bisa dijadikan alasan untuk kita meninggalkan amal dakwah. Kita hanya perlu memilih saja kelompok dakwah yang betul, untuk kita dukung. Di samping itu, secara pribadi, kita juga harus terus berdakwah kepada masyarakat, semampu kita.  Dengan begitu, Insya Allah kita berkesempatan meraih pahala besar dan ridho Allah SWT.


3.  Bagaimana kiat meningkatkan kepercayaan diri untuk berdakwah sementara kita merasa ilmu belum seberapa ustadz?

Jawab: Cara nya adalah dengan mengajak kepada kebaikan yang semua orang sudah menyepakati nya, hanya saja masih kurang diterapkan. Utamanya adalah mengajak kepada pemurnian Tauhid dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Kemudian mengajak menjalankan kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Bukan kah ini semua bisa kita kerjakan? Misalnya, cukup lah kita terus menerus mengajak orang yang belum mau solat wajib agar mau sholat wajib, tapi kita tidak perlu tanya ke orang itu tentang tatacara nya, karena itu mungkin tidak semua kita bisa. Biarlah yang bersangkutan nanti nya belajar kepada yang lebih tinggi ilmu nya, setelah dia mau melakukan sholat.


4. Ustadz, terkadang saya berdakwah tapi dasar hukum dalam Qur'an atau bunyi hadistnya sering lupa. Apa kiatnya agar ilmu yang sudah kita terima, melekat dan bisa kita sampaikan pula kepada orang lain?

Jawab: Cara nya, ya terus belajar. Belajar memahami Islam, belajar mengamalkannya, belajar mendiskusikannya, serta belajar mendakwahkannya. Insya Allah dengan demikian, semakin hari semakin bertambah kuat ilmu dan kualitasnya.


5. Ustadz, berdakwah yang utama adalah keluarga baru ke masyarakat. Tuntutan masyarakat menginginkan dakwah tetapi disisi lain keluarga sendiri belum beres. Bagaimana sikap kita ustadz?

Jawab: Kenyataan seperti ini, ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, memang kenyataannya seperti itu. Kedua, boleh jadi karena kita kurang benar dalam mengelola waktu. Untuk kondisi pertama, maka dahulukan keluarga, baru kemudian ke masyarakat. Dan untuk kondisi kedua, kita harus belajar terus tentang manajemen waktu yang tepat dan baik, sehingga diharapkan kita bisa mengerjakan dakwah di keluarga dan masyarakat sekaligus.


6. Ustadz, bagaimana mendakwahi orang tua yang sering emosi? Sebagai anak,  apa yang harus dilakukan?

Jawab: Kurangi materi dakwahnya, cukup ambil dan yang prioritas saja dulu. Terlebih lagi kita tahu bahwa umumnya usia orangtua kita tinggal sedikit, maka jangan sampai, karena salah strategi dakwah dan salah materi, akhirnya menyebabkan orang tua kita meninggal, sedangkan hal dasar yang harus ada padanya masih belum terpenuhi. Yaitu adanya iman dan hilangnya kesyirikan, karena telah ditaubati.

Contohnya, saya pernah menemukan ada anak yang dia aktif di dakwah, tetapi ternyata orangtua nya masih percaya dukun, yang artinya dia masih kafir, dan iman nya masih belum sah. Anehnya, anak yang sholih ini, terlalu menuntut banyak kepada orangtua nya. Dia terlalu menuntut dan memaksa dalam hal yang tidak prioritas. Misalnya, orangtuanya diminta berhenti merokok, diminta sholat jama'ah, dan sebagainya. Ini sebenarnya belum pas. Di saat yang sama, dia malah kurang sabar untuk terus mengupayakan agar orangtua nya terbebas dari kesyirikan dan kekufuran, akhirnya dia cuma sekali atau beberapa kali mengingat kan, lalu sudah begitu aja, sedangkan orang tua nya masih tetap dalam kekufuran.

Jika demikian keadaannya, maka ini berbahaya bagi orang tua kita. Dikhawatirkan, usianya sudah habis, sedangkan kekufuran nya masih belum hilang seluruhnya dari diri nya. Na'udzu billahi min dzalik.


7. Ustadz, apakah Rasullullah tidak punya keturunan laki-laki? Sedangkan beliau mempunyai beberapa istri syukron ustadz. 

Jawab: Rasulullah SAW punya anak laki-laki, bahkan jumlahnya 3. Dari seluruh jumlah anak Beliau SAW, yang jumlahnya 7 orang. Anak laki-laki beliau adalah: Qosim, Abdulloh, dan Ibrahim. Hanya saja, Qodarulloh, semua anak laki-laki Raulullah SAW itu wafat sebelum menikah, sehingga tidak punya keturunan resmi dari jalur nasab yang diakui (jalur laki-laki). Ini sudah takdir Allah SWT atas beliau. Di antara hikmahnya, menurut sebagian ulama adalah: agar tidak ada keturunan beliau yang nantinya mengaku-aku menjadi Nabi, padahal beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, serta Rasul sampai akhir zaman.

Demikian Insya Allah cukup dari saya. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Saya izin pamit. Wassalamu'alaikum wr wb. Mari kita tutup dengan membaca doa kafaratul majelis

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kajian Online Hamba Allah SWT
Senin, 4 April 2015
Narasumber: Ustadz
Faruuq Tri Fauzi M.Pd.I 
Tema: Berdakwah Sejak Sebelum dan Selamanya
Admin: Bd.Saydah & Bd. Nining
Editor: Wanda Vexia

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment