Home » , » Executive Functioning

Executive Functioning

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, May 18, 2015

KAJIAN ONLINE HAMBA اَللّهُSWT UMMI
Hari / Tanggal : Senin  18 Mei 2015
Narasumber    : Ustadz Ivan ahda
Tema : executive functioning
Group : M5
Notulen : Arsyafa 

terima kasih kepada Bunda Ratih karena telah mengadd sy hari ini. Insha Allah malam ini sy akan sharing ringan mengenai satu topik dlm dunia psikologi pendidikan, sedikit banyak berhubungan dengan parenting

baik jika begitu, sy akan sharing mengenai executive functioning..



sblmnya perkenalkan, sy ivan ahda, sy bukan ustadz, sehari2 beraktivitas di Rumah Perubahan Rhenald Kasali, daerah Kranggan. sy akan buka diskusi malam ini dengan catatan mengenai pentingnya melatih executive functioning pada anak
pemicu diskusi malam ini sy ambil dari kajian internal kami mengenai fenomena anak-anak saat ini di abad distraction (penuh dengan gangguan). hasil kajian ini kemudian disebarkan dalam media cetak melalui tulisan Prof. Rhenald
 

*sy mulai dengan paparannya ya, utk tanya jawab, mhn bantuan Bunda Ratih menampung dulu pertanyaannya* Bismillah

Sy mulai kajian malam ini dengan sedikit flashback pada kasus Dul, seorang anak usia SMP (kalo tdk salah), yang pada satu Minggu dini hari, mengantar pacar lewat jalan tol, dan pada akhirnya karena kelalaiannya timbul kecelakaan dengan korbam jiwa. Ini adalah contoh dr realita pedih yang harus kita cermati. Kasus Dul seakan mengkonfirmasi kalo anak-anak saat ini berada pada abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar.


Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah kita termasuk yang (hanya) fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.


Ahli pendidikan, para psikolog era sekarang menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.


Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.
Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.

Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan self-regulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.
Jangan lupa, anak-anak kita sejak lahir sudah hidup dalam peradaban sibuk yang membuat mereka sulit fokus, menerima begitu banyak pesan dengan level kompetisi yang jauh lebih berat daripada kita. Pendidikan pada dasarnya bukanlah menjajarkan “what to think” (seperti huruf, rumus, dan angka), melainkan “how to think”.

Kasihanilah anak-anak kita! Ya, kita sering mengatakan anak-anak perlu pendidikan yang baik, tetapi fondasi dasarnya kita abaikan. Kita beri mereka pengetahuan, bahkan pelatihan-pelatihan dan kesenangan-kesenangan (musik, games, jalan-jalan, dan seterusnya), tetapi kita tidak cukup mengajarkan bagaimana kelak mereka memakai pengetahuan dan keterampilan itu.

Kita menyatakan orangtua yang bercerai adalah sudah menjadi biasa di abad ini dan anak-anak bisa menerimanya. Tetapi tahukah Anda, kejadian itu bisa saja membuat anak-anak menjadi sulit fokus? Ayah dan ibu masing-masing memberi perintah yang tak terkoordinasi, bahkan bertentangan. Sama bertentangannya antara babysitter dengan ibunda, atau ibunda dengan eyang putri.
Belum lagi bila hari-hari kosongnya ia menerima “pesan moral” yang lain lagi isinya dari guru mengaji, sosial media, televisi, guru les, dan seterusnya. Anak-anak sulit fokus. Apalagi bila sekolah hanya sibuk mengejar kurikulum, menyelesaikan paket buku, dan hanya mengacu kecerdasan seperti sebuah standar: umur kronologis.

Sementara orangtua terperangkap hanya dengan urusan “nilai” yang berhasil dicapai anak-anaknya, agar jangan malu dengan ibu-ibu yang biasa menjemput di sekolah, yang juga hanya fokus pada rapor anak-anaknya. Anak-anak itu perlu diperkuat executive function-nya, agar mereka bisa mencapai mimpi-mimpi indah mereka.

Apakah mereka akan berhasil kalau pikirannya tidak bisa fokus, cepat menyerah, sulit mengendalikan diri? Bisakah anak-anak cerdas berhasil kalau mereka tak mampu membuat rencana atau mengeksekusinya? Bisakah mereka berhasil kalau selalu spontan saja berucap? Bagaimana bila mereka terlalu dogmatic dan kabur dalam berpikir?

Istilah executive functioning banyak dipakai para pendidik karena diyakini inilah modal dasar bagi anak-anak untuk memimpin dan menjadikan hidup lebih produktif. Tanpa executive functioning, anak-anak akan berhenti sekolah sebelum selesai, berhenti mendaki sebelum mencapai puncak gunung yang indah.

Executive functioning itu diaktifkan melalui tiga elemen psikologis yang bisa dilatih, yaitu inhibitory control dan self regulation, working memory, dan cognitive flexibility.
Istilahnya terdengar teknis, tetapi sesungguhnya mudah dipahami. Inhibitory control intinya adalah pengendalian diri. Kita perlu melatih anak-anak mengendalikan simpul-simpul syaraf “liarnya” dalam berhubungan dengan orang lain, sehingga tidak menjadi sosok yang asal bicara, main siram dan tendang hingga mereka dewasa.
Artinya, hidup ini bukan membiarkan simpul-simpul liar itu bekerja otomatis, mengalir begitu saja tanpa mempertimbangkan kehadiran anak-anak lain, tempat dan waktu. Anak-anak perlu dilatih mengendalikan egonya, berpikir dulu sebelum bertindak, bukan sebaliknya. Berpikir tentang orang lain, membentuk rasa hormat sehingga terbiasa mengendalikan diri.

Apa yang harus mereka lakukan bukanlah berbalas-balasan (“tit for tat”), saat mainannya dirampas, dirinya diolok-olok, direndahkan, atau diganggu haknya. Sebaliknya, yang tak terlatih akan membiarkan dirinya makan tanpa batas, menguras sesuatu tanpa kesadaran bahaya terhadap hidupnya. Termasuk di dalamnya adalah kemahiran mengendalikan perhatian sehingga mampu fokus.
Saat menyetir mobil, fokuslah terhadap jalan, bukan terhadap hal-hal lain seperti layar TV, SMS atau social media. Anak-anak yang terlatih fokus, akan lebih menikmati “pengalaman”mencapai sesuatu, ketimbang sesuatu itu sendiri (yang telah tercapai).
Mereka kelak bisa membedakan capek fisik sehingga cepat menyerah karena ingin cepat-cepat menikmati secara duniawi, dan menjadi campers (berkemah sebelum puncak) atau bergerak terus, menjadi climbers yang menikmati perjalanan seakan tanpa letih.

Maka itu, melatih anak-anak fokus adalah melatih diri mereka agar terbiasa hidup dalam aturan yang disepakati, yaitu fokus pada kesepakatan, mengabaikan hal-hal yang tidak penting, seperti pada perbedaan, dan tak pulang sebelum selesai dan merapikan mainan.
*demikian pemicu dari saya, mari kita berdiskusi ya, inshaAllah biar saling belajar*


PENUTUP:
Doa Kafaratul Majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!