Home » , , , , » FENOMENA FUTUR & TIDAK ISTIQAMAH

FENOMENA FUTUR & TIDAK ISTIQAMAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, May 22, 2015

Fenomena dan tanda-tanda futur ini sangat banyak, karena tembok imam kita perlu diperbaharui catnya dan hubungan dengan Rabb selalu butuh penguat dan pengokoh.  
Futur ada dua keadaan:

1. Seorang muslim terjerumus kedalam keadaan malas menunaikan ibadah dan berat melaksanakan ibadah-ibadah Sunnah serta merasa bosan dalam menuntut ilmu dan program-program kebaikan. Inginnya santai dan sibuk dengan yang sia-sia. Keadaan ini alami yang kadang menimpa setiap muslim dalam perjalanan hidupnya. Dalam keadaan seperti ini hendaknya seorang muslim harus tenang, percaya diri dan berusaha memberikan perhatian yang utama dan pertama dengan menjaga amalan-amalan wajib dan pokok, kemudian bertahap bangkit menuju peningkatan dengan memperbanyak amalan-amalan Sunnah. Jangan sampai membiarkan dirinya terjun kederajat terrendah.
Ibnul Qayyim berkata: Terjadinya futur pada orang yang beribadah adalah perkara yang mesti terjadi. Siapa yang kefutunnya pada upaya dekat dan benar dan tidak keluar dari perkara wajib serta tidak melanggar hal-hal yang diharamkan, diharapkan akan kembali baik kepada semula. 
2. Turun drastic sampai derajat meninggalkan sebagian kewajiban dan melanggar sebagaian dosa besar dan senang bergaul dengan orang fasiq dan mengeras hatinya. Senang mendengarkan perkataan orang-orang menyimpang dan sesat serta pengikut hawa nafsu. Keadaan ini sudah berbahaya dan wajib seorang mukmin ketika itu untuk mengetahui dia berada dalam bahaya dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya dengan sungguh-sungguh sesegera mungkin. Aoabila tidak, bisa berakhir kehidupan iman dan islamnya. 

Oleh karena itu saya sampaikan sebagian dari fenomena dan tanda futur ini agar kita semua senantiasa merasakan ada atau tidak adanya dalam diri kita.

1. Qaswatul Qalbu (kerasnya hati). 
Qalbu yang keras menjadi penghalang kuat khusu’ kepada Allah, penahan air mata dan getaran kulit kita terhadap Allah. Sehingga Qalbu tidak mengenal setelah ini kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Keringlah mata air kecintaan kepada Allah dan tanduslah kebun rahmat Allah dan mengeringlah kehijauan perasaan di hati. 

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Qsaz-Zumar : 22). 

Qalbu yang keras ini terus mengeras hingga sampai pada derajat kronis yang lebih keras dari batu, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS al-baqarah : 74). 

Keadaan hati yang demikian tentulah jauh dibandingkan dengan qalbu mukmin yang disampaikan dalam firman Allah :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS az-Zumar: 23).

2. Meremehkan dan bermalas-malas berbuat ketaatan, baik itu fardhu atau sunnah, baik itu mudah seperti dzikir atau yang lainnya. 
Apabila seorang melihat dirinya berat menunaikan ibadah, malas mengerjakannya dan enggan melaksanakannya, maka hendaknya ia mengetahui penyakit futur telah merasukinya dan masuk ke jaringan darahnya. Allah telah mencela orang yang berbuat demikian dalam firmanNya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [QS an-Nisaa` : 142]

3. Membenci orang-orang shalih yang menampakkan sunnah, semangat menegakkan syiar-syiar agama dalam diri, keluarga dan masyarakatnya. Apabila kita melihat seseorang menjauhi majlis ilmu dan senang ngobrol tidak karuan. Ketahuilah ia hidup bergelut dengan nafsunya, karena napsunya melawannya untuk menggoyah imannya dan mengajak untuk melalaikannya serta futur. Kholifah Umar bin al-Khathab berkata: 

جالسوا التوابين فإنهم أرق شيء أفئدة 

(duduklah bersama orang-orang yang bertaubat karena mereka orang yang paling gampang tersentuh hatinya).

Sedangkan Abu ad-darda berkata:   

لا تزالون بخير ما أحببتم خياركم 

(kalian senantiasa dalam keadan baik selama kalian mencintai orang terbaik kalian) (atsar riwayat Abu Nu’aim). 

4. Hilangnya perasaan agama dan tidak marah karena Allah; karena seorang melewati hari-harinya dengan fitnah yang banyak dan ujian yang bertubi-tubi. Lihatlah kemungkaran yang bergelombang menghantam manusia hingga hampir menenggelamkannya. Ditambah dengan hinaan dan cemoohan yang menghantamnya disebabkan komitmennya menjalankan sayriat islam. 
Ingat kepada sabda Rasulullah : 

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ ؛ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادٌ كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا ، لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ 

Fitnah-fitnah menghampiri qalbu seperti tikar lipatan demi lipatan. Qalbu mana saja yang menerimanya maka akan tertera satu titik hitam dan Qalbu yang mengingkarinya maka akan tertera titik putih hingga berada pada dua qalbu ; berada pada qalbu yang putih seperti  (HR Muslim).

5. Tidak syukur dengan kebahagian dan tidak sabar dalam kesusuahan. Ini semua datangnya dari kelemahan iman dan futur dalam hubungan antara hamba dengan sang penciptanya. Tidak akan dapat bersukur dalam ujian kenikmatan dan bersabar dari ujian kesulitan kecuali mukmin. Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh hebat perkara seorang mukmin. Sungguh semua perkaranya baik ddan tidaklah ada hal tersebut kecuali pada mukmin. Apabila mendapatkan kemudahan dia bersyukur sehingga itu lebih baik baginya dan bila menimpanya kesusahan ia bersabar shingga itu lebih baik baginya. (HR Muslim).

6. Bangga dengan kemaksiatan dan tidak peduli dengan diketahui orang lain bila ia melakukan kemaksiatan tersebut. Ini termasuk tanda futur yang besar sehingga diperingatkan Rasulullah : 

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku dimaafkan kecuali yang bangga dengan maksiatnya. Sesungguhnya diantara berbangga dengan maksiat adalah seorang beramal dimalam hari kemudian dipagi harinya dalam keadaan Allah tutupi hal tersebut, namun ia menyatakan: Wahai Fulan aku berbuat demikian dan demikian semalam. Ia telah tidur malam itu dalam keadaan Allah tutui dan dipagi harinya membuka penutupan Allah darinya tersebut. (HR Muslim)

In sya ALlah ini dulu. pekan depan kita bahas 12 sebab mengantar seorang kepada futur...dengan izin ALlah

Kita tutup dengan Doa Kafaratul majlis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jum'at, 22 Mei 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!