Home » , , » FIQH DAN ADAB HUTANG PIUTANG

FIQH DAN ADAB HUTANG PIUTANG

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, May 13, 2015

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu,  13 Mei  2015
Narasumber : Ustadzh Abdurrahman Wahid
Rekapan Grup Bunda M3 (Riyanti)
Tema : Ekonomi Islam
Editor : Rini Ismayanti


FIQH DAN ADAB HUTANG PIUTANG

Kehidupan bagai roda yang terus berputar, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Kondisi manusia pun tidak jauh berbeda. Terkadang penuh kelapangan, dan terkadang kekurangan dan membutuhkan bantuan. Karena itulah, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita, hutang piutang tidaklah menjadi sesuatu yang asing. Begitu pula Syariat Islam yang indah juga melihat secara umum, bahwa aktifitas hutang piutang atau pinjam meminjam, sejatinya adalah salah satu bentuk pelaksanaan ajaran tolong menolong antara manusia yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Allah SWT berfirman :  Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan dalam melaksanakan takwa, dan jangan kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan. (QS Al-Maidah : 2)

Pengertian Hutang
Qard sebagai harta yang diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima dengan syarat penerima pinjaman harus mengembalikan besarnya nilai pinjaman pada saat mampu mengembalikannya. (Sayyid Sabiq :Fiqh Sunnah )

Keutamaan Memberi Hutangan
Syariat Islam menjanjikan serangkaian keutamaan bagi mereka yang memberikan pinjaman kepada saudaranya dengan niatan yang tulus penuh keikhlasan.  Seseorang yang mau membantu saudaranya saat ditimpa kesulitan, maka Allah SWT akan membantunya  di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang membebaskan atas diri seorang muslim, satu penderitaan dari penderitaan2 di dunia, maka Allah akan mengangkatnya dari kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan  kesusahan yg ada pada seseorang, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

Keutamaan yang lain adalah, bahwa pahala memberikan hutang atau pinjaman ternyata lebih besar dari seorang yang menyedekahkan hartanya. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW mengatakan : “ Saya melihat pada waktu di-isra’-kan, pada pintu surga tertulis “Pahala shadaqah sepuluh kali lipat dan pahala pemberian utang delapan belas kali lipat” lalu saya bertanya pada Jibril “Wahai Jibril, mengapa pahala pemberian utang lebih besar?” Ia menjawab “Karena peminta-minta sesuatu meminta dari orang yang punya, sedangkan seseorang yang meminjam tidak akan meminjam kecuali ia dalam keadaan sangat membutuhkan”. (HR Ibnu Majah).

Anjuran Menghindari Hutang
Meskipun aktifitas hutang piutang bukanlah hal yang tercela dalam Islam, namun sejak awal syariat kita menganjurkan kepada kita untuk menahan diri agar tidak berhutang kecuali benar-benar terpaksa.  Karena tanpa disadari, seorang yang berhutang akan tersiksa dengan hutangnya secara tidak langsung. Rasulullah SAW pun berdoa untuk terhindar dari lilitan hutang , beliau berdoa : “ Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi." (HR Bukhari).
Bahkan anjuran untuk menghindari hutang ini digambarkan dalam beberapa riwayat, dimana Rasulullah SAW tidak ingin menyolatkan mereka yang meninggal dalam keadaan berhutang, tetapi menyuruh para sahabat untuk mensolatkannya. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW didatangkan jenazah orang yg berhutang, maka beliau bertanya apakah ia meninggalkan harta untuk melunasi hutangnya. Jika diberitakan bahwa ia meninggalkan harta untuk melunasi hutangnya, Rasulullah mensholatinya, jika tidak maka Rasulullah mengatakan kepada kaum muslimin : sholatilah sahabatmu (HR Muslim).

Namun hal di atas tidak berlangsung untuk seterusnya, setelah masa fathu makkah (kemenangan atas makkah ), setiap kali ada yang meninggal Rasulullah SAW senantiasa menegaskan : “ jika ia berhutang dan tidak meninggalkan harta, maka aku adalah walinya, namun jika ia meninggalkan harta yang cukup maka itu untuk ahli warisnya “.

Adab dalam Hutang Piutang
Pertama : Niatan kuat untuk membayar
Seorang yang berhutang hendaknya sejak awal meniatkan untuk membayar dengan segera dan bukan menunda-nunda, apalagi meniatkan untuk tidak membayar, hal tersebut tergolong dalam keburukan yang dicela dalam sabda Rasulullah SAW :

من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه، ومن أخذها يريد إتلافها أتلفه الله ".
barang siapa mengambil pinjaman harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya maka Allah akan menunaikan untuknya, barang siapa yang meminjam dengan niatan tidak mengembalikannya, maka Allah akan memusnahkan harta tersebut” (HR Bukhori)

Kedua : Tidak ada perjanjian kelebihan dalam pengembalian saat akad terjadi
Dalam kaidah dikatakan, “ setiap pinjaman yang mengandung unsur kemanfaatan maka hukumnya masuk kategori riba “. Karenanya, kita perlu berhati-hati saat melakukan aktifitas hutang piutang, jangan sampai mensyaratkan kelebihan atau tambahan saat pengembalian, meskipun kelebihan tadi bukan uang tapi barang misalnya.

Ketiga : Menuliskan pernyataan bagi yang berhutang
Pada saat ini fungsi akuntansi atau pencatatan transaksi sudah menjadi kebutuhan, karena begitu padat dan rumitnya jenis aktifitas ekonomi seseorang. Syariat Islam kita juga menganjurkan kepada kita untuk menaruh perhatian dalam masalah pencatatan hutang piutang tersebut, Allah SWT berfirman :
 “ Dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun “ daripada utangnya.”  (QS Al Baqoroh 282).

Dengan adanya pencatatan hutang piutang, maka hal ini menjadi upaya mencegah terjadinya konflik  dan pertikaian antara pihak-pihak yang melakuan transaksi tersebut.

Keempat : Memperbanyak Doa bagi yang berhutang
Berhutang menumbuhkan perasaan beban dalam hati, selain upaya untuk melunasinya dengan giat bekerja dan berusaha, kita juga dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT agar terbebas dari lilitan hutang. Doa yang penuh kesungguhan juga akan menjadi semacam terapi untuk meringankan beban hutang tersebut. Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus dalam masalah ini :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”(HR Bukhori).

Keenam : Tidak Menunda Pembayaran.
Hendaknya kita berusaha untuk menyegerakan pelunasan hutang, karena itu menjadi bagian dari komitmen seorang muslim yang harus berusaha menepati janji yang keluar dari lisannya. Apalagi jika kondisi benar-benar telah lapang dan mempunyai kemampuan, maka sikap menunda-nunda hanya akan menambah sikap tercela dalam diri kita. Rasulullah SAW bersabda :Menunda-nunda pembayaran hutang oleh orang-orang yang mampu adalah suatu kezhaliman. (HR Abu Daud).

Ketujuh : Menunaikan dengan Sempurna
Meskipun kelebihan pengembalian yang disebutkan di awal akad hutang piutang diharamkan dalam Islam, namun melebihkan pengembalian pinjaman yang benar-benar atas inisiatif yang berhutang - tanpa paksaan dan penuh dengan keridhoan- justru merupakan akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rosululloh telah berhutang hewan, kemudian beliau bayar dengan hewan yang lebih tua umurnya daripada hewan yang yang beliau hutang itu”, dan Rasululloh bersabda, “Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang dapat membayar hutangnya dengan yang lebih baik”. (HR. Ahmad & Tirmidzi).

Kedelapan : Bagi yang menghutangi, hendaknya memberi Tenggang Waktu
Khusus bagi yang menghutangi, adab yang harus dijaga adalah cara penagihan yang ihsan yaitu dengan tetap menjunjung tinggi ukhuwah sesama muslim.  Jika memang kondisi yang berhutang benar-benar tidak memungkinkan, maka anjuran Islam bagi kita adalah memberikan toleransi waktu, Allah SWT berfirman :

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS al Baqoroh 280).


TANYA JAWAB

Q : Kalau saya investasi dan berharap ada imbal hasil boleh atau tidak? Termasuk dalam piutangkah?
A : Jadi boleh mengharap untung namanya juga usaha. Kalau investasi dalam syariah namanya mudharabah, untung sama untung antara pemodal dan pengelola, dan rugi sama-sama rugi.

Q : Kalau ortu meninggal dan meninggalkan hutang yang tidak wajar menurut banyak orang apakah anaknya berkewajiban membayar seluruh hutangnya padahal yang tergerak untuk membayar hutang hanya 1 anak dari 10 anaknya, dan apakah bila sudah dibayarkan hutangnya oleh sianak itu ortu tersebut sudah dijamin baik maksudnya kuburnya sudah dilapangkan? Syukron ustadz
A  : Ketika meninggal orang tua sebelum di bagi warisan maka di bayarkan dulu warisan tersebut untuk hutang. Jika masih ada sisa hutang sebenarnya tidak ada kewajiban anak untuk melunasi hutangnya. tapi sebagai anak yang baik maka berusaha untuk membayar hutang orang tuanya. kalau anak-anak tidak mampu maka meminta di ikhlaskan kepada yang memberikan hutang.
Jika sudah di bayar maka sudah bebas orang tuanya. Jadi anak yang baik tentu tidak akan rela orang tuanya memiliki hutang.
Q : Sita barang karena belum  melunasi hutang melebihi waktu yang telah sepakati  itu bagaimana hukumnya ustad?
A : Boleh sita barang tapi seharga hutang saja jika lebih maka harus dikembalikan sisanya. Makanya dalam Islam di bolehkan ketika meminjam menyimpan jaminan, dengan syarat jaminan tersebut tidak boleh di manfaatkan. Jika di manfaatkan maka itu pemanfaatnya riba.

Q : Ustadz, bagaimana dengan sikap orang yang suka sekali. Tetapi banyak hutangnya yang belum dibayar?
A : Membayar hutang itu wajib, sedangkan shodaqah hukumnya sunnah. Maka harusnya dia mendahulukan membayar hutang dahulu, shodaqahnya insya Allah berpahala tapi melalaikan membayar hutang juga berdosa. Maka bayar hutang dulu baru shodaqah. Kecuali hutang yang tidak jatuh tempo, tapi tetap melunasi hutang dahulu harus di dahulukan.

Q : Ustadz, klo ada orang yang suka berhutang dan susah kalau di suruh bayar, Sementara kalau punya uang malah dibuat beli barang sesukanya. Bagaimana cara mengingatkannya?
A : Ingatkan dengan hadist nabi bahwa nabi tidak mau menyolatkan jenazah yang masih memiliki hutang. Kemudian sampaikan materi di atas tentang doa nabi supaya terhindar dari hutang dan bahayanya orang yang sering berhutang.

Q : Kalau saya punya hutang besar, ratusan juta. Apakah saya tidak boleh bersedekah sebelum hutang saya lunas ustadz?
A : Boleh bunda, tapi membayar hutang harus didahulukan. Kecuali kalau memang hutang yang belum jatuh tempo. Seperti kredit rumah dan lain-lain.

Q : Kalau bagi hasilnya sudah ditetapkan dari awal misal 2% dari nilai investnya termasuk ribakah?
A : Kalau itu mah ga boleh. Kan namanya juga bagi hasil. Rugi sama rugi untung sama untung.
Contoh : Investasi 1 juta, pokoknya saya dapat 2 persen (20 ribu) tidak mau tahu mau untung mau rugi. Maka tidak boleh.
Jadi investasi itu di bagi sesuai keuntungan tiap bulan bisa untung bisa rugi.
Contoh aja keuntungan 60 persen pengelola dan 40 investor. Maka tiap bulan akan beda-beda penghasilannya.

Q : Kalau misal kita kasih hutangan sama orang, lalu dalam tempo yang ditentukan ybs belum bisa membayar (karena tidak ada uang/ usahanya) lalu kita meminta ybs meminjam dari orang lain untuk membayar hutang pada kita, itu boleh tidak? Lalu misal kita cerita sama orang-orang bahwa ybs punya hutang sama kita, misal cerita sama teman kantor, itu boleh tidak?
A : Intinya mah kepada siapa pun hutang harus bayar. Baik pakai pinjaman atau tidak.
Jangan cerita-cerita masalah aib orang. karena hutang itu aib juga.

Q : Nanya lagi Ustadz ya, Kalau misal kita kasi hutangan, dalam jumlah besar, dan sekian lama yg diutangin tidak bayar-bayar, sementara kita 'nampaknya' kurang bisa menyedekahkan pinjaman tersebut, baiknya jalan apa yg di tempuh kedua belah pihak, mengingat hutangan ini juga penopang hidup si pemberi pinjaman?
A : Di tagih sampai bayar. Kalau ada perjanjian maka perjanjian tersebut di laksanakan. Makanya dalam hutang piutang harus ada catatan dan perjanjian yg sesuai syariat.

Q : Ustadz Maaf, Membiayai anak lebih dulu baru membayar hutang. Itu bener tidak? apa langkah yang ditempuh?
A : Tergantung kondisi. Dua-duanya adalah kewajiban.

Q : Ustadz kalau hutang nya ada perjanjian, mengembalikannya ditambah (2% misal) terus uang 2% tadi di bagikan ke pinjam berupa makanan/kue itu bagaimana? Apa halal / haram ?
A : Kalau di syaratkan dari awal maka tidak boleh, baik uang ataupun kue ataupun jasa. Itu namanua riba..

Q : Nanya pak Ustadz, misal kita punya hutang pada seseorang. Setelah kita mau bayar, orangnya pergi ntah kemana, pindahan gitu. Tapi kita tidak tau alamat. Itu kita harus bayar kemana ustadz?
A : Cari info semaksimal mungkin. Kalau sudah maksimal dan tidak ada info, silahkan diinfakkan atas nama orang tersebut. Kalau jumlahnya banyak, lebih baik ada buktinya, biar suatu saat ada masalah bisa disekesaikan.


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!