Home » , , , , » HADIST TENTANG FUTUR : SEBAB DAN TERAPI

HADIST TENTANG FUTUR : SEBAB DAN TERAPI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, May 15, 2015

Seorang mukmin yang bekerja dalam dakwah dan ilmu baik sebagai ulama, ustadz dan penuntut ilmu seharusnya semangat dan antusias di awal keistiqamahan, taubat dan kecenderungan kepada kebaikan. Kemudian terjadi malas dan tidak istiqamah, sehingga melemah dan malas berbuat ketaatan. Kadang kala sampai berhenti dan jauh dari kataatan kepada Allah, seperti yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ اهْتَدَى وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ  رواه ابن أبي عاصم وابن حبان في صحيحه

Setiap amalan ada waktu semangat dan setiap masa semangat ada putusnya. Barang siapa yang masa putusnya itu kepada sunnahku maka telah mendapatkan petunjuk dan siapa yang masa putus (lemah) nya pada selainnya maka telah binasa. (HR ibnu Abi ‘Ashim dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya serta dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Targhib no. 56 dan Shahih al-Jaami’ 2152). 

Rasulullah juga menjelaskan bahwa iman akan hilang kelezatannya dan akan berubah bersama waktu, seperti dijelaskan dalam sabda beliau:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلِقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلِقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

Sesungguhnya iman akan rusak dalam tubuh salah seorang kalian sebagaimana rusaknya pakaian maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian. (HR al-Haakim dan di hasankan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 1590 dan Silsilah ahadits Shahihah no. 1585).

Oleh karena itu seorang muslim jangan merasa aman hanya karena telah selamat dari kemasiatan dan dosa serta mengenal kebenaran dan manhajnya yang haq. Sebab rasa aman tersebut menjadi sasaran empuk syaitan  untuk mengambalikannya kepada kelemahan dan ketidak istiqamahan (futur) .

Apa itu futur?

Futur (tidak istiqamah) adalah penyakit yang menyerang kalbu atau akal seorang muslim secara samar dan bertahap. Penyakit ini tidak seketika datangnya terkadang sangat lama dan tidak terasa gerakannya. Hal ini karena kesabaran syaitan menyesatkan manusia sangat hebat dan tipu dayanyapun beraneka ragam. Akhirnya kita merasa yakin berada dalam kebenaran walaupun sesungguhnya sudah jauh darinya dan berada dalam kesesatan. 

Dewasa ini sangat banyak dan beranekaragam sarana dan bentuk kefuturan dan jadilah masalah ini sebagai sesuatu yang memiliki tempat di kalbu penderitanya dan kadang dia sadar akan hal tersebut, atau biasa mengetahuinya dari pengaruh yang ada dalam dirinya. Bahaya penyakit ini bisa mengakibatkan perubahan keperibadian dan membuat seorang muslim susah, bingung atau ketakutan dan stres. 

Kata “FUTUR” berasal dari bahasa Arab dari kata (فترة)  yang berarti hancur dan lemah. Nampak sekali kata ini menunjukkan sebelum kelemahan ini sudah didahului dengan kekuatan dan semangat yang besar. Oleh karena itu para pakar ilmu bahasa Arab menyatakan: فَتْرٌ أِي سكن بعد حِدة و لان بعد شدة (Futur bermakna diam setelah kesungguhan dan lemah setelah kuat).

Kalau begitu “futur” adalah penyakit yang menyerang orang kuat dan meresap pada semua orang yang punya keinginan mencapai kesempurnaan agamanya. Oleh karena iti, penyakit ini menjadi lebih berbahaya karena tujuan dan obyeknya adalah orang-orang beriman yang akan menyelamatkan umat dan agama ini.

Karena urgensinya masalah ini dan banyaknya saudara-saudara seislam yang tertimpa penyakit ini, maka saya pertama kali ingin membekali diri saya dengan beberapa terapi prefentif melawan penyakit ini yang telah dijelaskan para ulama. Untuk menjaga diri saya kemudian membantu masyarakat kaum muslimin terhindar dari penyakit ini.

Dasar-Dasar Penting Seputar Fenomena Futur

Sebelum kita bicara tentang terapi penyakit ini, perlu diketahui beberapa catatan penting yang dapat menjelaskan hakekat dan oksioma berhubungan dengan lemahnya iman dan ketidak istiqamahannya. Diantaranya:

1. Semua manusia –kecuali yang Allah jaga- memiliki kemungkinan terkena penyakit futur ini dan terjerumus pada dosa dan kemaksiatan. Hal ini sudah dijelaskan Nabi dalam sabdanya;

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ 

Setiap manusia mesti berbuat salah dan sebaik-baiknya yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat (HR Ahmad dan at-tirmidzi dan dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ 4515).

Ketika manusia sudah pasti akan terjerumus dalam kemaksiatan dan kesalahan, maka Rasulullah membimbing kejalan keluarnya yaitu taubat. Siapa yang bertaubat maka ia selamat dan yang tidak bertaubat maka akan celaka. Allah ta’ala disamping memberikan jalan keselamatan juga memberikan keutamaan yang besar kepada orang yang bertaubat ini dengan menggantikan keburukan dengan kebaikan . Allah berfirman yang artinya
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al-Furqaan: 70).
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

"Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa tentulah Allah akan memusnahkan kalian dan akan membangkitkan satu kaum yang berdosa lalu mereka memohon ampunan kepada Allah dan Allah mengampuni mereka." (HR Muslim).

2. Hati seorang walaupun bersih suci dan kokoh iman padanya serta merasakan lezatnya iman tetap saja masih ada peluang untuk rusak dan melemah, kadang menjauh sekali kadang tidak terlalu jauh. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: 

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

Dinamakan qalbu karena bolak baliknya. Permisalan qalbu seperti buku yang tergantung di pokok pohon yang dibolak balik angin. 

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلْيَانًا

Sungguh qalbu bani adam lebih cepat perubahannya dari pada panci bila bergolak air karena mendidih. (HR ibnu Abi Ashim dan dishahihkan al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 226). 

Dzat yang mebolak balikkan hati (kalbu) adalah Allah seperti dijelaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ،كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Sesungguhnya qalbu manusia seluruhnya diantara dua jemari Allah seperti satu qalbu yang dirubah-rubah sesukaNya. Kemudian Beliau berkata lagi: Wahai perubah qalbu rubahlah qalbu kami kepada ketaatan padamu."

3. Ahlussunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa iman tersebut bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan dan dosa. 

4. Konsistensi qalbu pada derajat tertinggi dari keimanan perkara yang sulit terjadi, karena besarnya kesibukan qalbu terhadap amalan dunia dan kelezatannya serta yang menimpanya berupa suka dan duka. Hal ini terjadi pada generasi paling mulia, sebagaimana di sampaikan imam Muslim dalam shahihnya dari sahabat Hanzhalah al-Asadi beliau berkata:

لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه فَقَالَ:كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ ؟ قَالَ قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قَالَ:سُبْحَانَ اللَّهِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ ، فَنَسِينَا كَثِيرًا ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ : فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  ، قُلْتُ : نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  : وَمَا ذَاكَ ؟ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ ، سَاعَةً وَسَاعَةً ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ  .

"Abu bakar menemuiku dan berkata: bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah? Aku menjawab: Hanzhalah telah menjadi munafiq! Abu bakar berkata: Subhanallah! Apa yang kamu katakan? Aku berkata: Kami berada disisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami dengan neraka dan syurga hingga kami seakan-akan melihat langsung. Apabila kami keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kami berkumpul dengan para istri, anak-anak dan urusan dunia lalu kami banyak melupakannya. Abu Bakar pun berkata: Demi Allah kitapun semua merasakan hal tersebut. Lalu aku bersama Abu bakar berangkat hingga menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam . aku berkata: Wahai Rasulullah! Hanzholah telah menjadi munafik. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Ada apa ini? Aku menjawab: Wahai Rasulullah! Kami berada disisi engkau, engkau mengingatkan kami dengan neraka dan syurga hingga kami seakan-akan melihat langsung. Apabila kami keluar dari sisimu, kami berkumpul dengan para istri, anak-anak dan urusan dunia lalu kami banyak melupakannya. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, seandainya kalian konsisten selalu seperti kalian berada disisiku  dan dzikir, tentulah para Malaikat menjabat tangan kalian di pembaringan dan jalan-jalan kalian. Namun wahai Hanzhalah kadang-kadang dan kadang-kadang  (diucapkan tiga kali)."

Kita tutup dengan Doa Kafaratul majlis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jum'at, 15 Mei 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT