Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENGGAPAI CINTA ALLAH DENGAN ZUHUD

Dulu saya sampaikan menggapai cinta ilahi dengan ittiba'  sekarang kita masuk ke bagian kedua " menggapai cinta Allah dengan zuhud"

Cinta Ilahi dapat juga digapai dengan berbuat zuhud didunia, sebagaimana dijelaskan dalam wasiat Nabi yang termaktub dalam hadits Sahl bin Sa’ad yang berbunyi:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ

“Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah no. 4102, dan ini lafazhnya, Ibnu Hibbân dalam Raudhatul ‘Uqalâ` hlm. 128, Ath-Thabarâni dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 5972, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' VII/155, no. 9991, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân no. 10043, Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil III/458, Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ` II/357, dan Al-Hâkim IV/313. Hadits ini dihasankan oleh Imam an-Nawawi, al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalâni, al-Irâqi, al-Haitsami, dan Syaikh al-Albâni rahimahumullâh dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 944 dan Shahîh al-Jâmi’ash Shaghîr no. 922).

Hadits ini menjadi dasar dalam menjelaskan cara seorang memperoleh kecintaan Allah dan Manusia. Juga berisi pertanyaan yang menunjukkan ketinggian semangat para sahabat, karena kecintaan Allah adalah puncak semua cita-cita dan kecintaan manusia kepada seorang memiliki pengertian penunaian hak-hak mereka. Seandainya seorang bersikap zuhud terhadap dunia dan menjadikan dunia ditangannya tidak dikalbunya, niscaya Allah Ta’ala mencintainya. Seandainya seorang tidak pernah meminta kepada orang lain dan tidak menginginkan harta milik mereka serta tidak kepo dan usil dengan orang lain, apakah manusia membencinya atau mencintainya?

Kalau demikian maka sabda beliau diatas :

(ازْهَدْ فِي الدّنْيَا، يُحِبَّكَ اللّهُ. وَازْهَدْ فِيمَا عِنْد النّاسِ، يُحِبّكَ النّاسُ) 

adalah wasiat beliau kepada sahabat yang bertanya : 

(دُلّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبّنِيَ اللّهُ وَأَحَبّنِي النّاسُ)

Hakekat Zuhud

Banyak orang bicara tentang zuhud namun dalam pengertian yang beragam dan terkadang aneh didengarnya. Istilah zuhud sekarang banyak dikonotasikan kepada lusuh, miskin, “jorok” dan sejenisnya. Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wa salam orang yang paling zuhud didunia ini saja tidak demikian. Oleh karena itu perlu pelurusan tentang istilah ini. 

Kata zuhud berasal dari bahasa arab yang berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena tidak memerlukannya. Namun Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud dengan beberapa definisi, diantaranya :

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah sikap lebih mempercayai semua yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu sama antara ketika tertimpa musibah dan tidak . Sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Di sini zuhud ditafsirkan dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati:

1. seorang yang zuhud lebih mempercayai dan meyakini kebenaran semua yang ada di sisi Allah dari yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?” Beliau menjawab, “Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?” Beliau menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”

2. Apabila terkena musibah, maka dia lebih mengharapkan pahala dari musibah tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.

3. Baginya sama saja orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran. Karena baginya akherat lebih agung dan berharga dari segalanya. Bila seorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.

Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Oleh karena itu Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang zuhud dengan berkata, ”Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti.”

Makna dan hakikat zuhud ini juga diungkap Al-Qur’an, misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 yang artinya:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan tentang makna dan hakikat zuhud. Ayat ini menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang kekal. Kemudian menganjurkan orang-orang beriman untuk berlomba meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat. Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia untuk bersikap zuhud.

Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia  dan hakikat akhirat. Kedua hal ini menuntut seorang muslim belajar kembali ajaran agamanya. Hakekat zuhud ini juga di jelaskan Rasulullah yang mendidik para sahabatnya untuk bersikap zuhud. Beliau memberikan panduan seorang muslim menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR Bukhari).

Selanjutnya Rasulullah tidak cukup hanya memerintahkan semata, tapi juga mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Beliau tidak pernah menunda amal kebaikan dan tidak pernah bergantung hatinya kepada harta dan perhiasan dunia. Lihat begitu sederhana dan bersahajanya kehidupan Rasulullah. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah menjelaskan keadaan Rasulullah dalam pernyataan beliau:

نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً فَقَالَ مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Rasulullah tidur di atas kain tikar sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah ! Bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Demikianlah hakekat zuhud yang benar, semoga Allah memberikan kepada kita kemudahan merealisasikannya dalam kehidupan kita. Amien!

Jenis Zuhud

Setelah mengenal definisi dan hakekat zuhud, perlu kita mengenal jenisnya agar dapat melihat sejauh mana sifat zuhud yang kita miliki.

Sebagaimana sifat lainnya, sifat zuhud ini memiliki beberapa jenis, sebagaimana dijelaskan imam ibnulqayyim yang membagi zuhud dalam empat jenis, yaitu.

1. Zuhud dalam perkara haram dengan meninggalkannya, hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim. Zuhud ini dinamakan  zuhud orang awaam

2. Zuhud dalam masalah syubhat, yaitu meninggalkan semua yang meragukan seorang hamba apakah hukumnya halal datau haram, hukumnya sesuai dengan tingkatan syubhat. Apabila syubhatnya kuat maka hukumnya wajib dan bila lemah maka hukumnya sunnah. Zuhud ini dinamakan zuhud orang wara’ (Zuhd al-Warra’in).

3. Zuhud dari hal yang berlebihan dari perkara mubah, yaitu meninggalkan semua yang melebihi ukuran kebutuhan dari makanan, minuman, pakaian dan sebagainya. Ini dinamakan zuhud orang khushus (Zuhud al-Khawaash).

4. Zuhud yang menyatukan ketiga tingkatan diatas, yaitu zuhud dari semua yang melalaikannya dari Allah. Ini dinamakan zuhud al-‘Arifin (zuhud orang-orang yang arif). (Lihat pernyataan ibnul-Qayyim ini dalam al-fawaa`id hlm 118, dan Madarij as-Saalikin 2/15-20.).

Jelaslah bahwa Zuhud terhadap yang haram hukumnya wajib. Orang-orang beriman harus zuhud atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. Seorang yang beriman bukan hanya meninggalkan yang diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Allah berfirman, 
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 3).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
Senada dengan keterangan imam ibnulqayyim diatas pernyataan Imam Ahmad bin Hambah yang mengatakan, ”Zuhud ada tiga bentuk.

Pertama, meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awwam. Kedua, meninggalkan berlebihan terhadap yang halal, ini adalah zuhudnya golong yang khusus.
Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”

Demikianlah jenis zuhud yang dijelaskan para ulama. Namun berkaitan dengan kebenaran zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah), kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu selain Allah.

Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan terhadapnya dan melarang memilikinya. Nabi Daud alaihissalam dan Nabi Sulaiman alaihissalam adalah orang yang paling zuhud di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita, dan kedudukan.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib, semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang terkenal paling zuhud. Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan 21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita.

Setiap orang beriman harus senantiasa meningkatkan kualitas zuhudnya. Itulah yang akan memberinya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta meraih ridha Allah. Orang-orang yang berkerja keras mencari nafkah dengan cara yang halal. Ketika berhasil meraih banyak harta kemudian menunaikan kewajiban atas harta tersebut, seperti zakat, infak, dan lainnya. Dengan berlaku seperti itu, dia termasuk orang zuhud. Orang-orang yang beriman yang memiliki istri lebih dari satu untuk membersihkan dirinya (iffah) adalah termasuk orang yang zuhud.
Demikianlah jenis-jenis zuhud semoga bermanfaat.
Materi 8: 21 Mei 2015
Group Cinta Sunnah Akhwat (CSA).

TANYA JAWAB

Pertanyaan M110

1. Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah mencintai kita atau membenci kita? Jika kita telah melakukan ittiba' bagaimana kita mengetahui bahwa Allaah telah mencintai kita? dan bagaimana dengan yang tidak melakukan ittiba' atau yang masih belajar, baru melakukan sebagian, apakah pantas kita mengatakan jika Allaah tidak mencintainya? bukankah Allaah itu Maha Pengasih Maha Penyayang?
Jawab
Kita mengetahui Allah mencintai kita dengan beberapa tanda berikut:
Pertama, kecintaan orang kepadanya dan mendapatkan penerimaan di bumi. Sebagaimana dalam hadits Bukhori, 3209.

إذا أحبَّ الله العبد نادى جبريل إن الله يحب فلاناً فأحببه فيحبه جبريل فينادي جبريل في أهل السماء إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض "

“Kalau Allah mencintai seorang hamba, Jibril menyeru ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian ditaruh baginya penerimaan di bumi.”

Kedua, apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu dalam hadits Qudsi dari keutamaan-keutamaan nan agung yang didapatkan oleh orang dicintainya.

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ " رواه البخاري 6502

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Saya izinkan kepadanya untuk memeranginya. Dan apa yang (dipersembahkan) hambaKu dengan mendekatkan diri dengan sesuatu yang lebih Saya cintai dari apa yang Saya wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasas mendekatkan diri kepada-Ku dengan (ibadah-ibadah) sunnah sampai Saya mencintainya. Kalau sudah Saya cintai, maka Saya (memberikan taufik) kepada pendengarannya yang digunakan untuk mendengar. Dan penglihatannya yang digunakan untuk melihat. Tangannya yang digunakan untuk memukul. Dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Kalau dia meminta kepadaKu, (pasti) akan Saya beri. Kalau dia meminta perlindungan kepadaKu, pasti akan Saya lindungi. Dan Saya tidak mengakhirkan serta berhenti seperti berhenti keraguan dalam urusan Saya yang melakukannya kecuali ketika mencabut jiwa hambaKu orang mukmin, (Saya berhenti agar mudah dan hatinya condong untuk rindu menggapai jalan orang-orang yang mendekatkan diri di golongan orang-orang tinggi (kedudukannya). Dan Saya tidak ingin menyakitinnya (dengan mencabut nyawanya agar mendapatkan rakmat dan pengampunan dan menikmati kenikmatan surga). HR. Bukhori, 6502.

Hadits Qudsi ini mengandung berbagai macam manfaat terkait kecintaan Allah kepada hambaNya:
a."Pendengarannya yang digunakan untuk mendengar", maksudnya adalah tidak mendengarkan kecuali apa yang dicintai oleh Allah.

b.‘Dan penglihatannya yang digunakan untuk melihat’ yakni tidak melihat kecuali apa yang dicintai oleh Allah

c.‘Tangannya yang digunakan untuk memukul’ yakni tangannya tidak digunakan kecuali apa yang Allah redoi

d.‘Kakinya yang digunakan untuk melangkah’ maka tidak pergi kecuali apa yang Allah cintai

e.‘Kalau dia memintaku, pasti akan Saya berikan’ maka doanya di dengarkan dan permintaannya akan dikabulkan

f.‘Kalau dia meminta perlindunganKu, maka akan Saya lindungi’ dia terjaga dengan penjagaan Allah dari segala kejelekan. Sehingga kita semakin baik dalam ibadah dan akhlak kita. Sebab semuanya telah dijaga Allah Ta’ala.

Apabila kita belum bisa ittiba’ baik maka apabila telah melakukan ittiba maka Allah akan mencintainya sesuai dengan kadar ittiba’nya tersebut.

Pertanyaan M111 

1. Bagaimana cara kita ber'itibba kepada rasulullah yang sesuai dengan yang diajarkan rasulullah. Dimasyarakat sekarang ini banyak organisasi dan aliran yang berbeda. Bagaimana caranya agar kita tau apa yang kita amalkan sesuai dengan yang rasulullah amalkan dan meninggalkan apa yang tidak dilakukan rasulullah?
Jawab
Caranya dengan belajar lagi tentang hadits-hadits Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan bertanya kepada para ulama dalil tentang fatwa dan tata cara ibadah dari al-Qur`an dan Sunnah.

Pertanyaan M115

1. Kecintaan Allah memang sudah ada sejak kita lahir, contoh nafas dan raga yang di ciptakan dengan sempurna itu karena cintanya Allah pada kita. Lalu, musibah atau ujian itu di berikan apa krn Allah cinta atau ingin menguji tingkat keimanan kita?

Jawab
Allah memberikan anugerah nafas dan raga serta kebutuhan lainnya kepada seseorang tidak menunjukkan Allah mencintainya, sebab orang-orang kafir yang Allah benci mendapatkan itu semua, bahkan sebagian mereka melebihi keadaan seorang muslim dalam kekayaannya. Tapi itu semua merupakan rahmat Allah yang luas bagu seluruh hambaNya.  Bedakan kecintaan dengan sekedar rahmat.
Tentang musibah sudah dijawab dalam pertanyaan 116

2. Pertama, yang ku ketahui Bid'ah adalah sesuatu yang bertentangan dengan ittiba', yang kutanyakan apa hukum bid'ah? Dan bgaimana pula dengan puasa yang sering ku dengar dari masyarakat sekitar yaitu puasa hari klahiran, puasa mutih, puasa sehari semalam, dan puasa-puasa yang belum aku temukan dalam hadits rosulullah. Dan menyangkut soal sholat wanita, sebagian besar muslimah mengetahui bahwa ada bagian-bagian gerakan sholat yang berbeda antara wanita dan lelaki, sedangkan dalam hadits disebutkan "shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat (HR.muslim) itu gimana?
Jawab
Bid’ah terlarang, semua jenis puasa tersebut menyelisihi ittiba’ dan pada asalnya gerakan sholat lelaki dan wanita sama hingga ada dalil yang mengkhususkannya.

Pertanyaan M116

1. Bener gak pernyataan kalo semakin banyak ujian yang diterima hambanya itu karena Allah mencintai hambanya. Gimana kalo seseorang yang merasa jarang ditimpa ujian? Apa itu berarti Allah kurang cinta?
Jawab
Ujian, musibah dan cobaan untuk seorang hamba adalah merupakan tanda kecintaan Allah kepadanya. Yang mana ujian ini seperti ibarat obat, meskipun pahit, tetap saja dihidangkan kepada orang yang anda cintai. –Maha suci Allah dari contoh yang agung- dalam hadits yang shohih, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

" إنَّ عِظم الجزاء من عظم البلاء ، وإنَّ الله عز وجل إذا أحب قوماً ابتلاهم ، فمن رضي فله الرضا ، ومن سخط فله السخط " رواه الترمذي ( 2396 ) وابن ماجه ( 4031 )

“Sesungguhnya agungnya balasan dari besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan diujinya. Barangsiapa yang redo, maka dia mendapatkan keredoaan. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapatkan kemurkaan. HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 4031 dan dishohihkan oleh Al-Albany.

Turunnya ujian itu adalah kebaikan untuk orang mukmin daripada disimpan dalam bentuk siksaan di akhirat. Bagaimana tidak, karena di dalamnya dapat meninggikan derajat dan menghapus kesalahan. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

إذا أراد الله بعبده الخير عجَّل له العقوبة في الدنيا ، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبـــه حتى يوافيه به يوم القيامة " رواه الترمذي (2396) و صححه الشيخ الألباني

“Kalau Allah menghendaki kebaikan kedapa hambaNya, maka akan disegerakan hukumannya di dunia, kalau mengingikan kepada hambaNya kejelekan, maka ditahan (siksanya) dikarenkan dosanya sampai terpenuhi nanti di hari kiamat.” HR. Tirmizi, 2396. Dishohihkan oleh Syekh AL-Albny.

Ahli ilmu menjelaskan bahwa siksa yang ditahan adalah untuk orang munafik, karena Allah menahannya di dunia agar ditunaikan secara sempurna dosanya nanti di hari kiamat. Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Anda cintai.

2. Bagaimana cara mengetahui bahwa apa yang kita lakukan diridhoi Allah?
Jawab 
Caranya dengan melihat ada pada amalan tersebut 2 perkara: 1. Ikhlash dan 2. Mencontoh dan mengikuti petunjuk Nabi (ittiba’ Nabi) shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 25 May 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Al Bantani
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online WA Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda 2