Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENGGAPAI CINTA ALLAH TA'ALA DENGAN ITTIBA'

Semua orang merasa mencintai Allah, tidak terkecuali pengikut agama Yahudi ataupun Nashrani. Semua merasa telah mencintai Allah dan beragamapun karena ingin mencintai Allah. Orang yang beragama Kristen ingin menciptakan kecintaan kepada Allah kadang ada dengan sesuai kehendak Allah dan bisa juga menyelisihi kehendak Allah. Orang yahudi mencintai Allah dan muslimin yang jahil juga mencintai Allah namun mereka tidak dicintai Allah kecuali bila mereka berada diatas perkataan dan amalan yang membuat Allah cinta dan ridha kepadanya.

Sebagian salaf menyatakan: Yang penting bukan mencintai namun yang sangat penting sekali adalah bagaimana dicintai. Kalau demikian, seorang akan berusaha mencapai dan mendapat kecintaan Allah. Kecintaan Allah kepada manusia adalah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Namun hal ini hanya dapat tercapai dengan semangat mencari ilmu dan mengenal amalan dan perkataan yang Allah cintai dan ridhai. Sebab bila kamu mengetahui bagaimana Allah mencintai hambanya atau mengetahui sebab-sebab Allah mencitai hambaNya maka akan muncul usaha untuk mendapatkan kecintaan Allah.

Sebab-Sebab memperoleh kecintaan Allah

Banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah Ta’ala tanpa menyadari kalau sesungguhnya Allah tidak suka bahkan murka padanya. Mencintai Allah Ta’ala tidak sekedar hanya ungkapan dan sekedar kata-kata tanpa bukti. Tentulah jawabannya tidak cukup. Memang alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah. Allah akan membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah akan membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan. Sebaliknya, betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah.

Betapa banyak orang sibuk mengerjakan perbuatan-perbuatan tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah Ada diantara manusia yang menyendiri di tengah hutan, jarang makan-minum, bahkan mandi; menjauhi anak-isterinya dan sanak keluarganya. Ia beranggapan bahwa dengan cara ini ia akan mendapatkan kecintaan dari Allah. Kita juga menyaksikan ada diantara manusia yang melakukan ritual-ritual tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah  Ada yang berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus-putus; bahkan ada yang sampai 40 hari 40 malam. Ada pula yang sibuk membaca kalimat-kalimat dzikir, mengunjungi kuburan para nabi dan wali, membaca riwayat hidup Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, dan sebagainya. Akan tetapi, apakah dengan cara-cara seperti itu mereka akan mendapatkan kecintaan dari Allah? Lalu, bagaimana cara kita meraih dan menggapai kecintaan dari Allah ; agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan dan tidak hanya sebatas merasa mencintai Allah , namun Allah sama sekali tidak mencintai kita.

Allah Ta’ala dengan rahmatNya yang luas menjelaskan sebab-sebab meraih cinta Ilahi dalam al-Qur`an dan melalui lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam serta penjelasan para ulama  Rahimahumullah Ta’ala,

Menggapai Cinta Ilahi dengan Ittiba’

Saat kita mencintai sesuatu, betapa senangnya jika bisa melakukan yang terbaik untuknya. Semakin tinggi rasa cinta kita, semakin tinggi pula usaha kita untuk mempersembahkan yang terbaik. Inilah bukti cinta.

Demikian juga mencintai Allah Ta’ala, harus dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam firmanNya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Alimran:31).

Ibnu Taimiyah berkata, “Di antara perkara yang hendaknya dipahami, bahwa Allah berfirman ‘Katakanlah (wahai Rasul), jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintaimu.’ Sebagian salaf berkata, ‘Pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ada suatu kaum yang mengaku-aku bahwa mereka mencintai Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini ‘Katakanlah (wahai Rasul), jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintaimu.’ Allah menjelaskan bahwa kecintaan kepada-Nya menuntut ittiba’ kepada Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ittiba’ kepada Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebabkan kecintaan Allah kepada hamba. Dan ini adalah ujian yang Allah ujikan kepada orang-orang yang mengaku mencintai Allah. Karena di dalam masalah ini telah banyak pengakuan dan kesamaran.” (Al-Fatawa (10/81).)

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menghukumi setiap orang yang mengaku mencintai Allah padahal dia tidak berada di atas jalan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena pada hakikatnya dia adalah orang yang dusta di dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat dan agama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (1/358).)

Ibnul Qayyim berkata, “Firman Allah ‘niscaya Allah akan mencintaimu’ mengisyaratkan kepada bukti kecintaan, hasil dan faidahnya. Maka bukti dan tanda kecintaan adalah ittiba’ kepada Rasul. Sedangkan hasil dan faidahnya adalah kecintaan Mursil (Allah yang mengutus Rasul-Nya) kepada kalian. Maka selama tidak ada mutaba’ah (mengikuti Rasul), berarti tidak ada kecintaan kalian kepada-Nya dan tidak ada kecintaan-Nya kepada kalian.” (Madarijus Salikin (3/22).)

Dan beliau berkata, “Kekokohannya – yakni kecintaan kepada Allah – hanyalah dengan mengikuti Rasul di dalam perbuatan, perkataan dan akhlaq beliau. Maka munculnya kecintaan ini, kekokohan dan kekuatannya, sesuai dengan ittiba’ ini. Dan berkurangnya hal itu sesuai dengan berkurangnya hal ini.” ( Madarijus Salikin (3/37).)

Lalu apakah itu ittiba’?

Ittiba’ adalah meneladani dan mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Dan disertai dengan niat dan kehendak padanya.

Ittiba’ kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keyakinan akan terwujud dengan meyakini apa yang diyakini oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan bagaimana beliau meyakininya – apakah merupakan kewajiban, kebid’ahan ataukah merupakan pondasi dasar agama atau yang membatalkannya atau yang merusak kesempurnaannya… dst – dengan alasan karena beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam meyakininya.

Ittiba’ kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perkataan akan terwujud dengan melaksanakan kandungan dan makna-makna yang ada padanya. Bukan dengan mengulang-ulang lafadz dan nashnya saja. Sebagai contoh sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(( صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ))

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” ( Al-Bukhari no. 631 lihat Fath al-Bari (2/131-132))

Ittiba’ kepadanya adalah dengan melaksanakan shalat seperti shalat beliau.
Sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(( لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا ))

“Janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian berbuat najasy.” Muslim (4/1986) no. 2564

Ittiba’ kepadanya adalah dengan meninggalkan hasad dan najasy.

Sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(( مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ))

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api.”\ At-Tirmidzi (5/29) no. 2649 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi (2/336) no. 2135

Ittiba’ kepadanya adalah dengan menyebarkan ilmu yang shahih dan bermanfaat serta tidak menyembunyikannya.

Sebagaimana ittiba’ kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perbuatan adalah dengan melakukan amalan seperti yang beliau lakukan, sesuai ketentuan yang beliau lakukan dan dengan sebab karena beliau melakukannya.

Kami katakan “seperti yang beliau lakukan” karena meneladani sesuatu tidak akan terwujud jika terdapat perbedaan bentuk dalam tatacara perbuatan.

Makna perkataan kami “sesuai dengan ketentuan yang beliau lakukan” adalah adanya kesamaan di dalam tujuan dan niat perbuatan itu – berupa keikhlasan dan pembatasan terhadap perbuatan itu dari segi wajib atau sunnahnya – karena tidak dapat dikatakan meneladani jika berbeda tujuan dan niatnya meskipun sama bentuk perbuatannya.

Dan kami katakan “dengan sebab karena beliau melakukannya” karena meskipun sama bentuk dan niat perbuatannya, jika maksud melakukannya bukan untuk meneladani dan mencontoh maka tidak akan dikatakan sebagai ittiba’.

Sebagai contoh untuk menjelaskan ittiba’ di dalam perbuatan; Jika kita ingin meneladani Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam puasa beliau maka kita harus berpuasa sebagaimana tatacara puasa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka jika salah seorang di antara kita menahan dirinya hanya dari sebagian perkara yang membatalkan puasa berarti dia belum ittiba’. Sebagaimana jika dia menahan diri pada sebagian waktu saja.

Dan kita juga harus berpuasa sesuai dengan ketentuan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berpuasa dari segi niatnya. Yaitu dengan puasa ini kita mengharapkan wajah Allah dan untuk melaksanakan kewajiban atau sebagai qadha atau sebagai nadzar. Atau meniatkannya sebagai puasa sunnah sesuai dengan alasan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa.

Sebagaimana juga kita melakukan puasa tersebut dengan alasan karena beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya. Oleh karena itu seseorang yang melakukan amalan yang sama bentuk dan tujuannya dengan orang lain – selain Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam – tidaklah dianggap meneladani orang tersebut jika keduanya sama-sama melakukannya dengan niat melaksanakan perintah Allah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi 

Sedangkan ittiba’ kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan adalah dengan meninggalkan perkara-perkara yang beliau tinggalkan, yaitu perkara-perkara yang tidak disyariatkan. Sesuai dengan tatacara dan ketentuan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya. Dan ini adalah batasan yang sama dengan batasan ittiba’ di dalam perbuatan.

Sebagai contoh untuk menjelaskannya; Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan (tidak melakukan) shalat ketika terbit matahari. Maka seorang yang meneladani beliau juga meninggalkan shalat pada waktu itu sesuai dengan ketentuan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya. (Lihat al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/409) dan al-Ihkam karya al-Amidi (1/226, 227))
Semoga bermanfaat.

TANYA JAWAB

Pertanyaan M101

1. Bagaimana cara mengetahui cinta kita di balas sama Allah SWT?
Diantara tanda Allah mencintAi hamba adalah dimudahkan benar dalam setiap tindak tanduknya.

2. Apa tandanya jika Allah meninggalkan hamba Nya? dan bagaimana kita tau jika ibadah kita diterima atau tidak?
Jawab
Untuk ibadah diterima atau tidak kita tidak tahu pasti tapi diantara tanda-tandanya adalah peningkatan iman dan kualitas ibadah

3. Ustadz apa yang harus kita lakukan jika ada teman atau orang di sekitar kita yang tidak percaya adanya Allah atau tuhan. Istilahnya ateis gitu?
Jawab
Didakwahi biar yakin adanya Allah dulu

4. Saya pernah baca sebuah artikel, bahwa shalat harus dilaksanakan dengan benar dan khusuk. Nah, terkadang meraih kekhusukan itu tidak mudah. Apakah jika tidak khusuk meskipun gerakan dan bacaannya benar, tidak diterima?
Jawab
Sholat yang ditunaikan syarat, rukun dan wajibnya dihukumi telah sah, namun pahalanya bergantung juga dengan kekhusyu’an dan keikhlasan yang mengerjakannya.

5. Kita kan diminta meneladani Rasulullah dari berbagai aspek. Nah.. Boleh minta dicontohkan ga, apa yang dilakukan Rasulullah dan sebenarnya itu budaya pada zaman dahulu, namun kadang orang menganggp itu sunnah?
Jawab
Contohnya penggunaan alat makan dizaman Nabi itu semua adalah budaya dan bukan syariat. Juga pakaian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terkadang orang anggap sunnahnya seperti itu padahal itu termasuk budaya yang bila ditiru tanpa menimbulkan masalah maka itu bagus


Pertanyaan M106

1. Kan mengikuti Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam itu tidak selalu yang beliau lakukan tapi yang dilakukan sahabatnya tapi disetujui oleh beliau. Bagaimana kita tau bahwa amalan sahabat itu disetujui oleh Nabi?
Jawab
Diketahui dari kesesuaian amalan dgn hadits. Juga diketahui dgn diamalkan di zaman Nabi.

2. Dalam ushul kan ada istinbat2 yang melahirkan hukum-hukum terhadap hal-hal yang dulu di zaman rasul tidak terjadi, nah terkadang ada yang diqiyas jadi sunnah, haram, makruh, mubah dsb. Bagaimana dengan jika kita melakukan hal tsbt, kan itu juga tuntunya tidak dilakukan rasul dan juga sahabat, syukron
Jawab
Dilihat amalannya. Bila dizaman Nabi tidak ada dan tidak ada juga faktor kebutuhan untuk itu dizaman Nabi. Maka qiyas digunakan.

LINK BUNDA 1
SELASA, 19 MEI 2015


Pertanyaan M9

1. Adakah tanda jika cinta kita dibalas oleh Allah? Atau itu merupakan hal yang ghaib sehingga kita tidak bisa merasakannya?
Jawab
Memang itu masalah ghaib tapi ada tanda-tandanya atau hasil yang dapat dirasakan. Diantara buah yang agung kecintaan Allah kepada hambaNya adalah berikut ini: 
Pertama, kecintaan orang kepadanya dan mendapatkan penerimaan di bumi. Sebagaimana dalam hadits Bukhori, 3209. 

إذا أحبَّ الله العبد نادى جبريل إن الله يحب فلاناً فأحببه فيحبه جبريل فينادي جبريل في أهل السماء إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض "

“Kalau Allah mencintai seorang hamba, Jibril menyeru ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian ditaruh baginya penerimaan di bumi.”

Kedua, apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu dalam hadits Qudsi dari keutamaan-keutamaan nan agung yang didapatkan oleh orang dicintainya. 

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ " رواه البخاري 6502

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Saya izinkan kepadanya untuk memeranginya. Dan apa yang (dipersembahkan) hambaKu dengan mendekatkan diri dengan sesuatu yang lebih Saya cintai dari apa yang Saya wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan (ibadah-ibadah) sunnah sampai Saya mencintainya. Kalau sudah Saya cintai, maka Saya (memberikan taufik) kepada pengdengarannya yang digunakan untuk mendengar. Dan penglihatannya yang digunakan untuk melihat. Tangannya yang digunakan untuk memukul. Dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Kalau dia meminta kepadaKu, (pasti) akan Saya beri. Kalau dia meminta perlindungan kepadaKu, pasati akan Saya lindungi. Dan Saya tidak mengakhirkan serta berhenti seperti berhenti keraguan dalam urusan Saya yang melakukannya kecuali ketika mencabut jiwa hambaKu orang mukmin, (Saya berhenti agar mudah dan hatinya condong untuk rindu menggapai jalan orang-orang yang mendekatkan diri di golongan orang-orang tinggi (kedudukannya). Dan Saya tidak ingin menyakitinnya (dengan mencabut nyawanya agar mendapatkan rakmat dan pengampunan dan menikmati kenikmatan surga). HR. Bukhori, 6502.

Hadits Qudsi ini mengandung berbagai macam manfaat terkait kecintaan Allah kepada hambaNya: 
  • Saya pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, maksudnya adalah tidak mendengarkan kecuali apa yang dicintai oleh Allah.
  • ‘Dan penglihatannya yang digunakan untuk melihat’ yakni tidak melihat kecuali apa yang dicintai oleh Allah
  • ‘Tangannya yang digunakan untuk memukul’ yakni tangannya tidak digunakan kecuali apa yang Allah redoi
  • ‘Kakinya yang digunakan untuk melangkah’ maka tidak pergi kecuali apa yang Allah cintai
  • ‘Kalau dia memintaku, pasti akan Saya berikan’ maka doanya di dengarkan dan permintaannya akan dikabulkan
  • ‘Kalau dia meminta perlindunganKu, maka akan Saya lindungi’ dia terjaga dengan penjagaan Allah dari segala kejelekan.
Kecintaan kepada Allah ada tandanya:

1. Tunduk terhadap orang-orang mukmin dan merasa jaya terhadap orang-orang kafir serta berjihad di jalan Allah dan tidak takut melainkan kepadaNya Subhanahu. Allah telah menyebtkan sifat-sifat ini dalam satu ayat. Allah berfirman: 

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” SQ. Al-Maidah: 54. 

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan sifat-sifat kaum yang dicintai. Sifat pertama adalah tawadhu’ (rendah hati) dan tidak sombong kepada orang Islam. Dan mereka merasa jaya (lebih tinggi) kepada orang-orang kafir. Jangan hina dan merendah kepada mereka. Mereka berjihad di jalan Allah. Berjihad kepada syetan, orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang fasik, jihad pada diri sendiri. Dan mereka tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Ketika telah menunaikan perintah-perintah agamanya, maka tidak terpengaruh siapa yang menghina atau mencelanya. 

2. mencintai, saling mengunjungi, saling memberi dan saling memberi nasehat karena Allah. 
Telah ada sifat-sifat ini dalam satu hadits dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Tuhannya Azza Wa Jalla berfirman: 
“Telah terealisasi kecintaan-Ku untuk orang-orang yang mencintai karena-Ku. Telah terealisasi kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku. Dan telah terealisasi kecintaan-Ku kepada orang yang saling memberi karena-Ku, dan telah terealisasi kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling menyambung karena diri-Ku.’ HR. Ahmad, 4/386. Dan 5/236. Dan ‘Tanasuh karangan Ibnu Hibban, 3/338. Dan dishohehkan kedua hadits Syekh Al-Bany di shoheh At-Targib wa At-Tarhib, 3019, 3020, 3021. 
Makna ‘Al-Mutazawirina fiyya’ yakni berkunjung sebagian kepada sebagian lainnya dikarenakan untukNya, mencari keredoanNya dikarenakan kecintaan kepadaNya atau saling membantu dalam ketaatan-Nya. 

Ungkapan firman tabaroka Wa Ta’ala ‘Wal mutabazilin Fiyya’ yakni mengdermakan dirinya dalam menggapai keredoanNya. Dengan sepakat berjihad kepada musuh-Nya atau selain dari itu dari apa yang diperintahkannya. Selesai dari kitab ‘AL-Muntaqa Syarkh Al-Muwato’ hadits no. 1779. 

3. Adanya ujian, musibah dan cobaan untuk seorang hamba. Ia adalah merupakan tanda kecintaan Allah kepadanya. Yang mana ia seperti obat, meskipun pahit, akan tetapi anda hidangkan kepada pahitnya itu kepada orang yang anda cintai. –Maha suci Allah dari contoh yang agung- dalam hadits shoheh:

" إنَّ عِظم الجزاء من عظم البلاء ، وإنَّ الله عز وجل إذا أحب قوماً ابتلاهم ، فمن رضي فله الرضا ، ومن سخط فله السخط " رواه الترمذي ( 2396 ) وابن ماجه ( 4031 )

“Sesungguhnya agungnya balasan dari besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan diujinya. Barangsiapa yang redo, maka dia mendapatkan keredoaan. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapatkan kemurkaan. HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 4031 dan dishohehkan oleh Al-Albany. 

Turunnya ujian itu kebaikan untuk orang mukmin daripada disimpan untuk siksaan di akhirat. Bagaimana tidak, karena di dalamnya dapat meninggikan derajat dan menghapus kesalahan. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

إذا أراد الله بعبده الخير عجَّل له العقوبة في الدنيا ، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبـــه حتى يوافيه به يوم القيامة " رواه الترمذي (2396) و صححه الشيخ الألباني

“Kalau Allah menghendaki kebaikan kedapa hambaNya, maka akan disegerakan hukumannya di dunia, kalau mengingikan kepada hambaNya kejelekan, maka ditahan (siksanya) dikarenkan dosanya sampai terpenuhi nanti di hari kiamat.” HR. Tirmizi, 2396. Dishohehkan oleh Syekh AL-Albny. 

Ahli ilmu menjelaskan bahwa siksa yang ditahan adalah orang munafik, karena Allah menahannya di dunia agar ditunaikan secara sempurna dosanya nanti di hari kiamat. Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Anda cintai.

Saya tutup yaa..

Kita tutup dengan Doa Kafaratul majlis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin - Selasa, 18 - 19 Mei 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online WA Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda & Bunda