Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

PERBEDAAN MENDIDIK ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 13 Mei 2015
Narasumber : Ustadzah Midha
Rekapan Grup Nanda M116 (Asri)
Tema : Parenting
Editor : Rini Ismayanti


PERBEDAAN MENDIDIK ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama-sama mengikuti kajian online pada malam hari ini.

Alhamdulillah hari ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk dapat bertemu kembali dalam kajian online Nanda HA Semoga semangatnya masih tetap terjaga sholehah

Alhamdulillah hari ini adalah hari yang sangat spesial, hadir ditengah kita ustadzah mida nanti yang akan menyampaikan materi & diskusi bersama dengan kita..

Sebagai pengantar...ada di kalangan masyarakat yang membedakan perlakuan thdp anak.laki laki dan perempuan dengan cara begini:

Pekerjaan yang berkaitan dengan urusan domestik itu bag anak perempuan

Sementara pekerjaan kasar adalah urusan anak laki laki

Namun sejatinya...yang berkaitan dengan keterampilan hidup, anak laki laki dan perempuan harus sama bisa menguasai.

Seperti menjaga kebersihan kamar, rumah, berarti pekerjaan menyapu, memasang seprai, mencuci piring dan pakaian, mengepel, bersih bersih halaman rumah...itu wajib dikuasai kedua jenis kelamin.

TANYA JAWAB

Q :  Terkait dengan mengajarkan memanah apa juga berlaku buat anak perempuan??
A : Kalau mengikuti hadits itu tidak disebutkan anak laki laki atau perempuam. Redaksinya Ajarkanlah anak anakmu berenang berkuda dan memanah. Konteksnya adalah utk kekuatan dan bela diri. Karena pada  masa itu, kaum muslimin dan muslimat mendapat tekanan yang luar biasa dalam melaksanakan keyakinannya.  Jika dilihat dari konteks kekinian, tentu ketiga macam olah raga tadi sudah berkembang dengan berbagai macam pilihan dan sesuai dengan keadaan jenis kelamin. Intinya adalah agar anak tumbuh dengan sempurna dan sehat..ototnya terlatih dan  raganya menjadi kuat.

Q : Begini ustadzah,ada hal yang mengajal di hati saya terkait dosa yang trus mengalir, yang saya ketahui afwan jika slah,dosa anak permpuan yang blum menikah maka masih dtagung ayahnya sampai ia menikah maka menjadi tangungan suami, lalu bgaimana dengan laki-laki? Jika ayahya wafat apakah dosa anaknya mengalir pada almarhum,,dan bagi anak laki-laki sndri apa tangungan dosanya juga akan dipikul sang ayah walapun ia menikah..
A : Dalam Islam tidak dikenal dosa yang diturunkan. Yang perlu dipahami adalah seperti dosa mengajak pada hal yang buruk seperti kasus pembunuhan pertama Qabil...setiap ada pertumpahan darah maka ia terkena dosanya karena ia yang mengajarkan perbuatan keji tersebut. Sementara jika seseorang mengajak pada kebaikan, maka ia mendapat aliran pahala karena orang yang mengamalkan kebajikan tsb.
Seorang ayah atau ibu dikenai tanggung jawab terhadap perilaku anaknya sampai anak.mencapai akil baligh.
Setelah itu, si anaklah yang mulai bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatan dan ibadahnya baik laki laki maupun perempuan. Jadi tidak benar dosanya anak perempuan yang belum menikah ditanggung oleh orang tuanya.
Ada hadits yang menyebutkan bahwa setiap diri kita adalah penggembala. Dan akan ditanyai tentang gembalaannya. Seorang suami akan ditanya tentang kepemimpinannya dalam keluarga dan seorang istri akan ditanyai tentang kepemimpinannya dalam rumah tangga.
Kemungkinan pemahaman yang dituliskan adalah berkaitan dengan berpindahnya tanggung jawab ayah pada suami. Seorang anak perempuan sampai ia menemukan jodohnya (menikah) ia berada di bawah tanggung jawab orang tuanya/ayahnya. Dan apabila menikah, tanggung jawab orang tua tadi (perlindungan, makan dan minum, ketentraman,kebahagiaan) semuanya berpindah kepadaa suami. Oleh karenanya maka seorang istri wajib taat pada suami sebagaimana ia dahulu taat pada kedua orang tuanya.

Q : Oh ya ustadzah,lalu bgaimana dengan peryataan saat anak perempuan melangkah keluar tadiak menutup auratnya berarti mendekatkan ayahnya pada api neraka,, jadi saya kdang takut ustadzah stidaknya meringankan beban mereka,tapi malah membratkan..dan hal ini kelak menjadi intropeksi dri saya,kelak jika allah mengzinkan dan saya punya anak jadi tau apa yang mesti dilakukan
A : Konteks berdosa pada ayah bukan karena berdosa tidak menutup auratnya melainkan berdosa karena tidak mendidik dan menjadikan putrinya menjadi seorang muslimah yang taat pada aturan syariat.
Mengenai putri remaja tadi yang keluar rumah tidak menutup aurat, ia berdosa karena tidak melaksanakan perintah Allah.

Q : Assalamualaikum alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. ustadzah,, persoalan mendidik anak perempuan,, adakah trik trik khusus yang mesti dilakukan agar ia lebih tertarik belajar agama,, lebih menempatkan dirinya sebagai perempuan,, lebih menjaga akhlaknya, lebih menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas... karena melihat kondisi pergaulan saat ini sangat memprihatinkan..,  terima kasih. Wassalam
A : Tentu sj jika mencermati surat at tahrim ayat 6...wahai orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu...adalah ayat perintah secara umum tentang kewajiban ayah/kepala rumah tangga utk menjaga keluarganya dr perbuatan yang melanggar syariat.
Jika ingin meringankan ayah dan ibu dr tuntutan di akhirat...maka pelajarilah Al Quran dan as sunnah lalu amalkan. Ini adalah bentuk bakti seorang anak yang dpt mengantarkan kedua orang tuanya meraih syurga Allah.
Trik termudah adalah dengan keteladanan. Rasulullah saw telah membuktikan bahwa dengan menjadi contoh dalam perbuatan dan ibadah, kaum muslimin lbh mudah diajak serta. Jika Rasulullah saw mengajarkan kejujuran...ternyata beliau sendiri yang lebih dahulu menanamkan kejujuran sehingga beliau digelari al.amin. Banyak hadits yang menyebutkan betapa Rasulullah saw memberi contoh langsung berakhlaq mulia. Jadi jika ingin anak perempuan kita shalihah, maka pastikan dahulu ibu dan ayahnya shalihah dan shalih. Jika kita ingin anak perempuuan kita santun, maka jadikanlah kesantunan itu menghiasi keseharian kita sehingga anak tidak melihat kecuali kesantunan tsb.
Jika anak setiap.hari terpapar hal positif maka secara perlahan akan terbentuk dalam pikirannya, memang haruslah begitu dalam berperilaku.
Trik yang kedua adalah dengan pembiasaan.

Q : Berarti jika ayahnya tak mampu mendidik anaknya dengan baik,maka ia akan dminta pertagungjawabkan di akhirat kelak?
A : Benar...ini adalah tantangan dunia masa kini...keluarga setelah kehilangan sosok ibu, sekarang kehilangan sosok ayah.
Seorang ayah bisa masuk syurga karena anak. Seorang ayah juga bisa masuk neraka karena anak. Seorang suami bisa masuk syurga karena istri. Demikian juga bisa masuk neraka karena istri. Surat at Tahrim.ayat 6 tadi jelas sekali menunjukkan kpada siapa ayat ini ditujukan.
Makanya berat tugas sebagai seorang suami karena ia harus bisa menjadi imam. Ia adalah qowwamnya istri. Baik buruk istri tergantung cara ia mendidiknya.
Jika sudah punya anak, berarti bertambah lagi tanggung jawabnya...mendidik anak agar seperti selamat dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Janji Allah sendiri luar biasa bagi para ayah dan ibu. Barangsiapa yang bisa mengantarkan 3 anak perempuannya hingga ke pernikahan dengan selamat (ngga pake MBA) maka Allah janjikan syurga.

Q : Lalu jika sang ayah blum smpat mendidik anaknya,afwan dipagl allah trlbh dahulu,ini jd bgaimana ustadzh?
A : Doakan saja, Maafkan beliau yang belum sempat mendidik.kita sesuai tuntunan syariat. Lakukan ibadah dan amal shalih. Sambungkan silaturahim yang pernah dilakukan ayah alm semasa hidup dan doakan bahwa itu adalah kebaikan dan pendidikan yang ayah alm berikan pada nanda. Ridhakan hati dengan apa yang ditinggalkan beliau dengan selalu memohon ampunan dan pertolongan Allah bahwa nanda benar benar mencintai ayah dan tidak menuntut beliau saat di yaumil akhir.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ