Ketik Materi yang anda cari !!

TAWAZUN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, April 28, 2015


Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu ala rasulillah. Akhwat fillah, tema Syakhsyatul Islamiyah kita kali ini adalah At Tawazun. Tawazun berarti seimbang. Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan.

ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk : 3)
Hal ini menjadi isyarat bagi manusia untuk hidup dalam keseimbangan pula. Atau bisa dikatakan bahwa keseimbangan adalah fitrah dalam kehidupan manusia. Namun keseimbangan hidup tidak terjadi begitu saja. Hidup seimbang harus diciptakan. Kemampuan itu akan tumbuh dari buah pengetahuan terhadap hakikat kehidupan dan pengetahuan terhadap batasan-batasan, tujuan-tujuan serta manfaat dari kehidupan itu.

Islam mengajarkan hidup yang seimbang, karena Islam sendiri merupakan paket dalam penciptaan Allah untuk manusia, yang sesuai dengan fitrah. Jika keseimbangan adalah fitrah, maka Islam adalah bagian atau bahkan inti dari fitrah tersebut.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum : 30)
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan dengan fitrah, yaitu memiliki naluri beragama, bertauhid. Dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Seandainya pun ada manusia yang tidak beragama tauhid, biasanya diakibatkan pengaruh lingkungan dimana ia tumbuh dan berkembang.
“Tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (Islam), orang tuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
Tiga Potensi Manusia
Allah menciptakan manusia, secara fitrah, berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan memiliki tiga potensi, yaitu al jasad (jasmani), al aql (akal), dan ar ruh (ruhani).

Sesuai fitrah keseimbangan ciptaanNya, Islam mengehendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang), memberikan sesuai haknya tanpa penambahan dan pengurangan. Karena Allah memerintahkan untuk menegakkan neraca keseimbangan.
“Dan Allah telah meninggikan dan Dia meletakkan neraca (keadilan) supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah neraca itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman : 7-9)
1.  Jasmani
Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah, karena itu harus dijaga dengan baik, bukan digunakan seenaknya. Sebagian manusia menganggap dirinya boleh melakukan apa saja terhadap tubuhnya karena merasa ialah pemilik tubuh itu. Padahal tidak, Allah-lah Pemiliknya, dan hendaknya kita mengikuti aturan Pemilik terhadap benda yang kita pinjam.

Menjaga amanah jasad berarti menjaganya agar dalam keadaan baik dan sehat. Di antara kewajiban kita dengan jasad ini adalah beribadah. Dan, beribadah pun ternyata membutuhkan fisik yang kuat. Dalam sebuah hadits dikatakan.
“Mukmin yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim)
Jasmani harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Diantara kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thayyiban (halal dan baik).
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. 'Abasa : 24)
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yagn terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al Baqarah : 168)
“Hai orang-orang yang beriman. makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah : 172)
Kebiasaan makan dan minum yang sehat, tidur dan beristirahat tepat.

“dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Naba’ : 9)
Olahraga, bekerja, beraktivitas, kebutuhan biologis, kebersihan dan kesehatan pribadi.

2. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia  dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal, manusia mampu berpikir untuk menelaah sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek, mencari solusi atas permasalahan, membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam, dan semuanya itu dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardhi (wakil Allah di atas bumi)
“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ (QS. Al Baqarah : 30)
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al Ahzab : 72)
Kebutuhan akal adalah ilmu untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bersaksi” (QS. Ali Imran : 190)

3. Ruh (hati)
Kebutuhan hati adalah dzikrullah.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad : 28)
Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh dan jiwa tetap memiliki semangat hidup. Tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.

Lihatlah bagaimana kisah Ibnu Taimiyyah yang diceritakan muridnya, Ibnu Qayyim. Kebiasaan Ibnu Taimiyah adalah duduk berdzikir setelah shalat subuh. Muridnya, Ibnu Qoyyim menceritakan hal ini,
“Suatu kali saya mendatangi Syaikh Islam Ibnu Taimiyah setelah shalat subuh. Ia duduk berdzikir sampai matahari mulai meninggi, setelah itu ia memangku dan berkata. “Ini sarapanku, apabila akau tidak sarapan (membaca dzikir) niscaya hilang kekuatanku”
Hendaklah kita memohon sebagaimana Nabi  SAW memohon;

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)
Penting untuk kita pahami sebenarnya, Tawazun (keseimbangan) yang kita lakukan adalah keseimbangan yang dikehendaki oleh Allah SWT bukan keseimbangan yang diinginkan oleh manusia.
Manusia yang mengikuti hawa nafsunya merasa ia berada dalam kenikmatan, padahal ada sisi kehidupannya yang kosong. Ia mungkin merasa hidup seimbang dan sempurna, tapi tidak menyadari kerusakan yang ada pada dirinya.
Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
  • Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar)
  • Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani / materi saja.
  • Manusia Pantheis (Kebatinan): bersandar pada hati/ batinnya saja.
Jenis-jenis manusia di atas bisa saja merasakan kepuasan dalam hidupnya, tapi itu semu. Karena kepuasan sesungguhnya hanya bisa didapat dari aturan Khaliq, Pencipta Semesta, bukan makhluq, yang hanya diciptakan dan memiliki banyak keterbatasan. Wallahu a'lam.

TANYA JAWAB
1. Ustadz, Ilmu yang sudah kita pelajari, telah menuntut pengamalan pada kita. Namun, yang namanya belajar tidak ada kata lelah dan menyerah, sampai tua pun harus tetap belajar. Dari materi yang dipelajari dan pengalaman yang dialami.

Ada yang berpendapat "ngapain belajar lama-lama, yang penting beramal. Perempuan mau sekolah tinggi juga ujung-ujungnya nanti di dapur."

Pertanyaannya: Bagaimana sikap kita terhadap orang tersebut dan bagaimana cara kita mengingatkan orang tersebut bahwa menuntut ilmu itu sangatlah penting. Syukron ustadz.

Jawab : Tidak benar kalau dibilang ujung-ujungnya tetap di dapur. Bagaimana dengan interaksi dan dakwah terhadap masyarakat. Bagaimana dengan pendidikan anak dalam akhlaq, agama, maupun yang lainnya? Kalau kita tidak mempersiapkan diri, kita tidak akan bisa menempuh tahap kehidupan selanjutnya dengan lebih baik. Belajar memang tidak harus selalu di sekolah, tapi tarbiyah, menuntut ilmu harus dilakukan sepanjang hayat. Pengalaman juga adalah ilmu sepanjang hayat. Belajar, mengamalkan, mengajarkan, lalu belajar lagi, semuanya dilakukan berulang, Itulah perputaran hidup orang yang tidak merugi.

2. Perlukah kita menasehati ustadz?

Jawab : Saling menasehati adalah ciri orang beriman. Cara menasehati bermacam--macam tergantung karateristik orang yang ingin dinasehati. Yang pasti, diusahakan dengan cara yang baik.


3. Ustadz, apakah berilmu atau tidaknya seseorang itu dipatok dengan nilai akademik? Misalkan Sarjana atau SMA.


Jawab : Tidak. Para ulama, bahkan sahabat nabi adalah orang yang disepakati keilmuannya tanpa gelar.

Alhamdulillah kajian kita berjalan dengan lancar.
Mari kita tutup dengan membaca hamdalah.. 
Alhamdulillahirabbil Alamin ...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 
 
Kajian Online Hamba Allah SWT
Selasa, 28 April 2015
Narasumber: Ustadz. Robin
Tema: At Tawazun
Grup Nanda M112 (Indah & Dhifa)

Editor: Wanda Vexia

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment