Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

24 JAM PUASA RAMADHAN SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH

"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 )
”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan akan ridha-Nya, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lewat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bulan Ramadhan dalam hitungan hari, tidak hanya hari harinya yang berlimpah keberkahan, jam, menit, bahkan detik berlimpah kebaikan dan pahala jika kita bisa mengisinya dengan benar. Tapi bagaimana kita bisa mengisi detik-demi detiknya hingga memperoleh kemuliaan yang tidak ternilai? Syaratnya hanya dua, ikhlas karena Allah dan mencontoh Rasulullah. 

Ikhlas adalah mengesakan Allah, merealisasikannya dengan cara melaksanakan puasa termasuk aktivitas didalamnya secara total dalam mengabdi kepada Allah untuk mengharapkan ridhoNya. Sedangkan puasa dengan mencontoh Rosul adalah semaksimal mungkin mengikuti cara Rosulullah, cara sahabat, dan para salafushalih dalam berpuasa,  dan ini intinya adalah “Disiplin”.

Berikut kami rangkumkan 24 jam berpuasa ala Rasulullah, shahabat, dan para salafushalih, yaitu:

Sepertiga malam menjelang shubuh:

Bangunlah sebelum fajar, sekitar pukul 02.30 atau 03.00 pagi. Ini adalah waktu sepertiga malam terakhir yang istimewa. Lakukan shalat qiyamul lail beberapa rakaat, dzikir, do’a. Jangan lupa bangunkan keluarga untuk bangun malam dan latihlah anak-anak kita untuk itu. 
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat ( yang baik ) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Thoha : 132)
Terkadang karena aktivitas yang berlebihan ketika berbuka, tarawih dan lainnya, umumnya kita lalai, dan melewatkan waktu ini dengan istirahat dan tidur, lalu segera makan sahur. Juga mungkin karena mengganggap ibadah shalat tarawih sudah dilakukan setelah isya. Atau, lebih suka menghilangkan rasa kantuk dengan menyetel tv dan cekikan, tertawa dan cenderung kesia-siaan. Padahal waktu-waktu sepertiga malam seharusnya tetap bisa dihidupkan lebih banyak daripada bulan-bulan lain. Pada waktu inilah disebutkan dalam hadist Rasulullah SAW , 
“Rabb kami turun setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir dan berkata:“Siapa yang berdoa kepadaKu, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepadaKu, Aku ampuni dia.” (HR. Jamaah).
“Barangsiapa  yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Setelah itu kita bisa sahur yang memang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Jangan lupa untuk niat dan mengikhlaskan berpuasa pada pagi hingga sore hari nanti. Lalu bersiap untuk shalat subuh berjama’ah di masjid (wajib bagi laki-laki baligh) dan berangkat lah lebih awal, agar bisa melaksanakan sholat 2 rakaat sebelum shubuh berjama’ah (pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya). Di masjid sibukkanlah diri dengan memperbanyak istigfar. Aktivitas ini disebutkan dalam Al Qur’anul Karim,” … Wal Mustagfiriina bil ashaar… “ (QS. Ali Imran:17).  Pada waktu sahur kita memang dianjurkan banyak berdo’a, karena waktu sahur termasuk waktu diijabahnya do’a seorang hamba. 

Setelah Shubuh :

Berusahalah untuk tidak tidur dalam ruas waktu setelah subuh hingga terbit matahari, karena rasa kantuk pasti datang karena tidak biasanya kita bangun lebih pagi. Para salafusshalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan, “ diantara tidur yang tidak disukai menurut mereka ialah tidur antara shalat subuh dan terbit matahari, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil. Bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehingga seandainya mereka melakukan perjalanan ( kegiatan ) semalam suntuk pun, belum dapat menandinginya.”.

Berzikir setelah subuh hingga matahari terbit adalah sunnah. Dari Abu Umamah Ra dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : 
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah kemudian duduk berzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, kemudian berdiri dan shalat 2 rakaat, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah”. “Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selesai menunaikan shalat subuh, bahwa ia selalu duduk ditempat shalatnya hingga matahari terbit”. ( HR. Muslim )  
Waktu ba’da subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barakah yang seharusnya benar-benar dipelihara oleh setiap mukmin. Peliharalah waktu itu dengan mengisinya melalui tilawatul Qur’an 1 juz dalam satu hari, berzikir atau menghafal.


Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadist dari Anas bin Malik dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda :
“Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat 2 rakaaat ( Dhuha ), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna”. ( Dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Sholat Dhuha :

Sholat Dhuha disebutkan oleh Rasulullah adalah shalatnya orang-orang Awwabin, yakni orang-orang yang kembali pada Allah SWT. Waktunya mulai meningginya matahari sepanjang tombak. Menurut hadist shahih, shalat dhuha dilakukan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 8 rakaat.
“Barang siapa shalat Dhuha 2 rakaat, ia tidak akan termasuk orang-orang yang pelupa / lalai, Barang siapa shalat Dhuha 4 rakaat, ia akan termasuk orang-orang yang bertaubat, Barang siapa shalat Dhuha 6 rakaat, akan dicukupi kebutuhan /diselamatkan hari itu, Barang siapa shalat Dhuha 8 rakaat, ia akan termasuk orang-orang yang patuh, Barang siapa sholat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membangunkannya rumah di Surga; (HR. Tabrani)
Saat bekerja :

Di dalam bulan ramadhan, diantara kita tentunya sebagai suami, istri, atau anak masih ada yang bekerja, berdagang, bertani, sebagai ibu rumah tangga, belajar, dan sebagainya. Selingilah waktu-waktu bekerja dengan berzikir dan tidak meninggalkan shalat dhuhur berjamaah di awal waktu. Teruslah berusaha menambah amal-amal sunnah yang bisa dilakukan di saat bekerja. Mengajak orang lain kepada kebaikan, bersedekah, ikut aktif dalam pelaksanaan kegiatan amal sholih di masjid atau musholah rumah, kantor, ataupun sekolah dan sebagainya.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat.” Allah SWT berkata : ”kecuali ibadah puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Seorang yang berpuasa telah menahan diri dari syahwat, makanan dan minumannya karena Aku semata. Ada dua kegembiraan bagi yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan takkala bertemu dengan Allah. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Pertengahan siang :

Beristirahatlah sekitar 15 hingga 30 menit menjelang atau sesudah waktu shalat zuhur. Istirahat dan tidur pada rentang waktu ini disebut dengan qailullah. Rasulullah SAW dan para salafusshalih biasa melakukan qailullah. Imam Al Ghazali menyebutkan, bahwa qailullah merupakan simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiayamul lail pada hari itu. Waktunya tidak lebih dari setengah jam. Tapi manfaatnya akan terasa saat kita bangun malam.

Waktu ashar :

Shalatlah berjamaah di masjid, dan setelahnya bisa diisi dengan tilawah, zikir, ataupun banyak berdo’a, atau  lakukanlah kajian-kajian keislaman, baik dengan membaca buku, diskusi, mendengarkan ceramah, mendengar kajian melalui tape, hape, radio, atau lainnya. Lakukan hal ini sampai menjelang maghrib untuk bersiap zikir sore dan banyaknlah beristigfar. Segeralah berbuka kemudian shalat maghrib di masjid. Setelah shalat maghrib lanjutkan berbuka puasa ala kadarnya, jangan terlalu kenyang.

Waktu Maghrib / Berbuka puasa :

Bersyukurlah secara lebih mendalam kehadirat Allah SWT. Bahwa kita diberikan karunia untuk bisa menyelesaikan hari dengan berpuasa. Jangan lupa berdo’a dengan khusyuk ketika berbuka. Ada sebuah do’a yang tidak tertolak bagi orang yang berpuasa saat berbuka. Berbukalah dengan tegukan-tegukan air dan beberapa biji kurma atau makanan makanan keringan lainnya diiringi dengan kesyukuran di dalam hati. Sebaiknya kita tidak segera melanjutkan berbuka dengan makanan berat. Tundalah sebentar makanan berbuka kita, untuk menunaikan shalat maghrib berjamaah di masjid. Ingatlah kenapa kita penting mempertahankan ibadah shalat berjamaah di masjid. Usai berjamaah, lanjutkan berbuka dengan memakan makanan lebih berat. Tapi tetap jangan terlalu banyak karena membuat kita malas dan muncul rasa kantuk.

Waktu Isya :

Berusahalah untuk disiplin melakukan shalat isya dan tarawih di masjid, apapun keadaannya. Jika harus terhalangi oleh kegiatan yang mendesak, lakukan shalat tarawih segera setelah kita selesai menunaikan kegiatan tersebut. Setelah itu pulanglah ke rumah untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan keluarga, dan melakukan aktivitas tilawah bersama. Mungkin juga saat itu kita menyimak perkembangan berita namun tidak terlena hingga melewati jam 10 malam. Tidurlah segera, semampunya.

Sebaiknya kita menyempurnakan shalat tarawih bersama imam, agar kita termasuk orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan shalat malam. Rasulullah SAW bersabda : 
”siapa saja yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk”.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Setelah 20 Hari Ramadhan :

Berusahalah untuk meyediakan waktu untuk beri’tikaf karena i’tikaf adalah ibadah yang menghimpun berbagai jenis ibadah lainnya. Baik tilawah Al-Qur’an, shalat, dzikir, do’a, tadabbur dan lain-lain. Rasulullah SAW biasa beri’tikaf 10 hari setiap bulan Ramadhan. Pada tahun beliau wafat, beliau ber’itikaf selama 20 hari (HR. Al-Bukhari).

I’tikaf sangat dianjurkan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan sekaligus untuk meraih malam lailatul qadar. I’tikaf adalah mengurung diri dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah untuk menggapai ridhoNya. Wallahu a’lam.

Semoga disampaikan kepada ramadhan dan kita dikaruniakan Allah SWT termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat-Nya karena bulan yang mulia ini. AAmiin


TANYA JAWAB

1. Kapan sebaiknya dilakukan sholat witir, setelah sholat tarawih atau setelah sholat tahajud?
Jawab
Sholat witir dilakukan setelah sholat tahajud atau tarawih. Tapi apakah setelah witir boleh tahajud lagi?  Boleh, tapi tidak usah witir lagi.

2. Bagi ibu yang punya balita mungkin agak  susah untuk i'tikaf, amalan apa yang bisa dilakukan ya?
Jawab: 
Sama seperti Amalan para suami ketika beriTikaf di masjid. Dan ketika ketika beribadah di rumah  wanita punya kesempatan sama untuk mendapatkan lailatul qadr.

3. Ustadz sebenarnya rakaat sholat tarawih yang paling baik betapa ustadz di tempat saya masih banyak yang 23 dengan witir? 
Jawab
Semua ada dalilnya yang 11 boleh yang 23 boleh, tapi pilihlah yang tumakninah sholatnya dan yang bacaan imamnya baik dan benar.

4. Kalo ibu menyusui umur bayi ramadhan ini belum ada 1 bulan sebaiknya puasa atau tidak ya ? Terus kalo tidak puasa membayar fidyah aja atau puasa di lain hari juga
Jawab
Sebagian besar ulama mengatakan wajib qadha jika sudah mampu tanpa fidyah. Pendapat ini yang lebih kuat.

5. Saya punya hutang puasa yang belum di qodh karena nifas dan menyusui sejak dari anak pertama. Anak saya sekarang 3 orang. Karena banyak dan khawatir gak bisa qadha, sebelum ramadhan tahun lalu sudah saya bayarkan fidyahnya. Apakah tetap harus qodho di lain waktu?
Jawab
Memang Ulama berbeda pendapat tentang puasa ibu hamil dan menyusui. Bagi bumil/busui yang tidak berpuasa, sebagian ulama mencukupkan dengan ganti membayar fidyah, ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sebagian lain tetap mewajibkan ganti puasa, dan tidak bisa dengan fidyah. Sebagian ulama lain menyesuaikan dengan alasan apakah tidak puasanya karena dirinya sendiri atau karena janinnya. Karena sifatnya khilafiyah, silahkan dipilih dari pendapat yang ada. Menyesuaikn kondisi yang sebenarnya, jikalau memang tidak mampu karena masalah kesehatan bayi, atau kondisi janin, tidak wajib mengqada cukup membayar fidyah. Perlu juga bunda membaca bab puasa dari kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, atau karya ulama lain seperti Yusuf al Qardhawy tentang puasa, agar bisa lebih yakin saat memilih salah satu pendapat yang paling kuat.  wallahu a'lam

6. Bagaimana kalo masih punya hutang puasa tahun lalu? Padahal sudah mau puasa tahun berikutnya?
Jawab
Bagi yang punya utang puasa tahun lalu dan tidak bisa terbayar hingga datang ramadan berikutnya, padahal ia punya kesempatan/waktu untuk itu, maka hal itu termasuk kelalaian yang besar. Selain wajib bertaubat, sebagian ulama mensyaratkan agar ia membayar fidyah sejumlah utang puasanya, dan tetap harus segera mengganti utang puasanya dengan berpuasa setelah ramadan berakhir.wallahu a'lam

7. Kalau sholat witir setelah sholat isya boleh tak karna nunggu sholat tahajud takut nya malah ndak sholat ...sukron ustadz
Jawab: 
Boleh dengan syarat khawatir tidak sempat witir, karena kelelahan atau alasan lainnya hingga harus istirahat lebih awal.


8. Gimana niat seorang anak  mengganti puasa orang tuanya yang sudah  meninggal? anaknya misalnya 4 orang apakah boleh puasanya di ganti oleh anak dengan bagi-bagi ke saudara lainnya??
Jawab
Sepanjang yang mengganti ahli warisnya. Anakya.

Dari Aisyah ra.; Rasulullah saw. bersabda: barangsiapa meninggal dunia dan ia meninggalkan kewajiban (qadha) berpuasa, maka ahli warisnya diwajibkan berpuasa untuk menggantikan kewajiban puasanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu Abbas ra.: sesungguhnya ada seorang perempuan telah bertanya kepada Rasulullah saw.: “ Ya Rasulullah saw., sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia meninggalkan kewajiban puasa nadzar yang belum sempat ia tunaikan, apakah aku boleh berpuasa untuk menggantikannya?” Rasulullah saw. menjawab;”Apakah pendapatmu, kalau seandainya ibumu mempunyai hutang, dan kamu membayarnya. Apakah hutangnya terbayarkan?”. Perempuan tadi, menjawab: “ya”. Dan Nabi saw., bersabda: “ Berpuasalah untuk ibumu ”. (HR. Muslim)
Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Rabu, 10 Juni 2015
Narasumber : Ustadz Tri Satya
Tema : Fiqh
Editor : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Grup Bunda M18